
Di hamparan salju tampak sepasang jejak kaki, menuju sebuah pondok kecil di tepi danau.
Beberapa lynx yang merasakan datangnya makhluk lain, telah menghambur menjauhi pondok yang biasanya sunyi itu.
Dengan pelan Duke menurunkan Lui di sofa kemudian segera beranjak menyalakan perapian.
Udara dalam pondok itu nyaris membeku. Duke mungkin tidak terpengaruh, tapi sekali lagi dia tidak ingin mengambil resiko memperburuk keadaan Lui, dia masih sulit mempercayai Sorrel.
"Apa itu?" Lui menunjuk lorong baru di sebelah meja makan yang dulu tidak ada.
"Ruang untuk piano, aku senang mereka langsung menyelesaikannya" kata Duke, sambil melempar beberapa bongkah kayu lagi ke dalam api yang mulai membesar.
Duke meminta tambahan ruangan lagi untuk piano. Dan karena ukuran pondok ini tidak terlalu besar, maka akhirnya satu ruangan ditambah, untuk bisa menampung grand piano milik Duke.
Piano itu kini tertata di sudut ruangan yang dilengkapi dengan jendela kaca besar dan tirai biru yang senada dengan ruangan lain.
"Mengapa kau memindahkannya kesini?"
"Aku ingin tempat ini menjadi tempat kita menikmati hidup santai, tidak akan lengkap tanpa adanya piano. Tapi tentu saja akan lebih sempurna dengan adanya dirimu" kata Duke sambil tersenyum jahil.
Perkataannya itu dihadiahi lemparan bantal dari Lui, tapi tentu saja karena reflek Duke yang sangat sempurna, dia menangkap bantal itu dengan mudah.
"Nah.. tunggulah sebentar disini. Aku akan memasakkan bubur untukmu. Mom akan membunuhku nanti, jika tahu kau belum makan" kata Duke, sambil berjalan ke arah dapur.
Mereka meninggalkan Manor tanpa menunggu makanan Lui datang. Myra pasti akan bertanya tentang hal ini ketika mereka kembali.
Lui dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, bangkit dari sofa. Lui senang tubuhnya jauh lebih kuat dari biasanya, tapi pekerjaan berjalan lebih sulit dari yang dia sangka.
Duke yang menangkap gerakan Lui dari sudut matanya, bergerak mendekat. Tapi Lui mencegahnya dengan acungan telapak tangan.
Duke menurut dan diam dalam rasa cemas, saat melihatnya berjalan beberapa langkah menuju meja makan. Setelah beberapa menit berjuang, akhirnya Lui berhasil duduk sempurna di salah satu kursi.
Duke ikut menghembuskan nafas lega melihatnya
"Tubuhmu jauh lebih kuat dari pada biasanya Bee"
Lui mengangguk, "Memang, dan ini mengherankan" kata Lui, sambil menatap kedua tangannya yang juga tidak terasa lemas.
"Sorrel" jawab Duke pendek.
"Siapa?" tanya Lui bingung.
"Kau melihatnya tadi, rambut pirang panjang dengan tanduk luar biasa"
Duke mengangkat tangannya di atas kepala, menggambarkan tanduk massive milik Sorrel.
"Oh.....Kami belum sempat berkenalan tadi" Lui mengerti.
"Dia elf, salah satu jenis inhumane langka, dan akankah kau percaya jika aku katakan dia adalah kakek buyutmu dari 5 generasi yang lalu?" tanya Duke, sambil mengalihkan perhatian dari masakannya di kompor untuk melihat reaksi Lui.
Selama beberapa saat Lui hanya diam dengan mulut ternganga, otaknya tidak bisa mencerna apa yang baru saja Duke katakan, karena terdengar terlalu ganjil.
"Dia siapa?" tanyanya lagi.
"Your great great great great great grandfather. From your Mom side"
Duke meringis melihat mulut Lui masih terbuka dengan lucu, mendengar penjelasannya.
"Bagaimana bisa? Aku jelas tidak bertanduk" bantah Lui.
"Oh...ha..ha..ha" Duke tertawa terbahak mendengarnya, jawaban polos Lui tidak pernah gagal , membuatnya terhibur.
Sambil terus mengaduk panci, Duke menjelaskan dengan panjang lebar bagaimana Belva, Oscar dan dia adalah keturunan dari Sorrel.
Ketika masakannya matang sempurna, Duke menuangnya pada mangkuk hangat dan membawanya ke hadapan Lui yang masih termangu tak percaya. Menerima jika nenek moyangmu adalah makhluk bertanduk raksasa pasti tidak mudah.
"Aku bukan manusia?!" Lui bergumam pelan.
"Sebagian Bee, Ibumu adalah manusia. Sorrel menjamin itu. Tapi Oscar dan kau adalah kasus langka dimana DNA Sorrel akhirnya muncul setelah beberapa generasi"
Duke meniup pelan sebelum menyuapkan sesendok bubur ke mulut Lui. Dia menerima suapan itu tanpa berpikir karena benaknya masih berada di awang-awang.
Ketika rasa bubur gurih dan hangat mengalir melewati tenggorokan, Lui akhirnya tersadar dan menarik sendok dari tangan Duke.
Dia mampu menyendok makanan sendiri, tanpa perlu disuapi, perhatian Duke kadang sedikit berlebihan.
Duke tersenyum dan melepaskan sendok itu. Dia tadi berharap Lui tidak akan sadar karena sibuk berpikir. Duke melangkah kembali ke kompor karena air yang direbusnya telah mendidih.
Sifat Duke yang satu ini sangat persis dengan Myra. Ingatan Lui yang telah kembali membuatnya sadar tentang hal ini.
Hujan perhatian dan kasih sayang yang diterimanya dari mereka berdua, membuatnya terharu sekarang. Hal itu membuat Lui merasa semakin bodoh karena telah melupakan Duke.
"Maafkan aku" kata Lui menunduk, menyesali perbuatannya selama tujuh bulan ini.
"CK....!"
Duke mendecak kesal, karena lamunan Lui, telah membawanya ke arah yang tidak disukainya.
"Kau tahu, aku mulai bosan mendengar permintaan maafmu, Bee. Harus aku katakan berapa kali, kalau ini bukan salahmu!"
Duke meletakkan secangkir cokelat panas yang mengepul di dekat mangkuk, kemudian duduk di sebelah Lui.
"Aku sudah bersikap kasar, marah, bahkan berteriak ketakutan saat melihatmu pertama kali bertransformasi" kata Lui sambil memandang Duke, dengan mata yang kembali di penuhi air mata.
"Jangan Bee" Duke mendesah putus asa, melihat air mata itu.
"Dengar---- jika sekali lagi aku mendengar kata maaf darimu, maka aku akan menghukummu!" kata Duke, tersenyum kecil sambil menyesap santai kopi panasnya.
Dia tahu cara tepat untuk membuat Lui jera meminta maaf
"Hukuman apa?" Lui menoleh memandangnya dengan bingung.
Duke menarik dagu Lui mendekat, jarak wajah mereka sekarang hanya setipis kertas.
Lui bisa mencium harum kopi dari mulut Duke. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut, jantung Lui mencelos dengan panik saat ini. Dan Duke menikmatinya.
"Aku akan mencium bibir manis ini, setiap kali kau mengucapkan kata maaf padaku. Tidak peduli kita sedang berada dimana" kata Duke pelan dengan suara serak.
Jarinya mengelus lembut bibir Lui yang terlihat sangat menggiurkan di mata Duke.
"Kau tak akan berani" kata Lui, dengan suara mencicit yang tersisa.
"Kalau begitu, coba saja!" tantang Duke dengan senyum menggoda.
Sekali lagi dia mengusap bibir Lui dengan wajah mendamba.
"Aku harus makan" Lui akhirnya tidak tahan dengan 'serangan' Duke dan melepaskan diri.
Dia kembali menekuni mangkuk bubur dengan wajah menyala. Lui ingin berjuang melawan rasa malunya, tapi ternyata gagal.
Duke terkekeh, Lui sudah menjadi miliknya dengan utuh. Mereka akan mempunyai banyak waktu setelah tubuh Lui lebih sehat. Duke akan bersabar.
Selama Lui makan, Duke menjelaskan panjang lebar bagaimana proses Sorrel membangunkannya dari koma. Lui hanya bisa mengangguk-angguk sepanjang cerita. Penjelasan dari Duke terdengar bagai kisah fiksi di telinganya.
"Jadi selama ini Oscar tahu tentang--Sorrel? " Lui ingin menyebut kakek, tapi ingatan tentang wajah mulus Sorrel membuatnya merasa janggal.
Lui tidak terkejut atau marah, jika Oscar memilih untuk merahasiakan hal itu darinya. Ada kemungkinan dirinya tidak akan percaya, jika tidak melihatnya secara langsung. Lui juga menganggap langkah itu masuk akal.
Duke mengangguk, "Dan seharusnya kau adalah manusia normal. Tapi kenyataan berkata lain, kau sekarang adalah inhumane unik dengan campuran darah elf dan Alpha. Kita akan menua bersama Bee, kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal bodoh itu"
Lui selalu mengkhawatirkan hal ini, baik sebelum atau sesudah dia kehilangan ingatan. Ucapan Duke membuatnya tertegun.
"Kau yakin itu?" tanyanya, sambil tersenyum ragu.
"Asumsi ini bukan tanpa bukti Bee. Aku selalu menganggap kau dan Oscar seperti saudara kembar. Dulu aku mengira karena Oscar memang awet muda. Tapi yang terjadi sebenarnya adalah penuaan Oscar telah melambat" jelas Duke meyakinkan
Lui akhirnya tersenyum lega mendengar itu. Dia tahu, Duke tidak pernah mempermasalahkannya. Tapi kegembiraannya sekarang lengkap, dia akan menua bersama Duke.
Hal ini menghilangkan satu porsi besar kekhawatiran yang selama ini dia pendam.
Bubur yang ada di mangkok Lui telah licin tandas.
Lui ingin duduk di sofa untuk mengistirahatkan punggungnya yang mulai pegal. Dengan perlahan Lui memundurkan kursi. Duke mengulurkan tangan menawarkan bantuan pada Lui untuk berdiri, yang kembali di tolak olehnya.
Sambil tertatih, Lui berjalan sendiri menuju sofa di depan perapian yang sudah penuh dengan bara hangat.
Duke mengisi cangkir dengan cokelat dan kopi lagi dan meletakkannya di meja kecil di dekat perapian. Lalu mendahului Lui duduk, memenuhi permukaan sofa, dengan mengangkat seluruh tubuhnya ke atas.
Matanya memandang jahil pada Lui yang masih berjarak beberapa langkah dari sofa itu. Lui tertawa kecil melihat tindakan kekanak-kanakkan itu.
Duke menepuk pelan sisa ruangan di atas sofa -- tepat di depan perutnya-- sebagai tanda agar Lui duduk di sana. Mau tidak mau Lui menurut\, karena kakinya sudah mulai bergetar lelah.
Lui menghempaskan tubuhnya di sofa, dan dengan mudah Duke merengkuh tubuh mungil itu kepelukannya. Lui hanya pasrah tanpa bisa melawan.
"Aku merindukanmu, amat sangat" bisik Duke sambil merapatkan pelukan pada punggung Lui.
Kata-kata yang nyaris mustahil diucapkannya sebelum ini. Kata rindu yang akhirnya terucap. Kata yang telah di pendamnya sejak beberapa bulan kebelakang.
"Aku juga" Lui akhirnya berbisik dengan suara tercekat.
Lui mengusap tangan Duke yang ada di perutnya dengan pelan, meresapi bagaimana hangat tubuh Duke membuatnya nyaman.
Duke seketika membenamkan wajahnya ke leher bagian belakang Lui dengan puas. Dia juga harus menunggu selama berbulan-bulan untuk untuk mendengar jawaban itu dari mulut Lui.
Lui yang kehilangan ingatan tidak akan merindukannya.
Perasaan Duke membuncah penuh dengan kebahagian. Dan kini dia menikmati kebahagian itu dengan lengkap. Tanpa keraguan dan ketakutan.
Sebagai David, Duke dan Pace, Lui telah mengingat semuanya.
"Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kau benar-benar hilang di laut?" tanya Lui, sedari tadi dia melupakan hal yang paling membuatnya penasaran.
Duke mendesah, "Tidak, yang terjadi adalah ayahku" jawab Duke, sambil menggeser posisi tubuhnya yang terbaring miring, menjadi setengah duduk dengan bersandar nyaman pada punggung sofa, dia menarik tubuh Lui agar mengikutinya.
Dengan Lui bergelung hangat di lengannya, Duke memulai kisah panjang.
Dengan lancar, Duke menceritakan semua yang terjadi selama 6 bulan kepergiannya pada Lui, tanpa ada lagi yang disembunyikan. Lui memekik pelan, ketika Duke menceritakan malam saat pengkhianatan Egon terbuka.
"Egon? Egon yang dulu...." Lui kehilangan kata-kata karena terkejut. Duke mengangguk.
"Ya, orang yang separuh perutnya aku ledakkan" kata Duke sambil mengetatkan rahang karena amarahnya yang tiba-tiba muncul.
Lui bergidik mengingat kejadian mengerikan itu.
Duke kembali melanjutkan kisahnya, sampai pada bagian bagaimana akhirnya dia mengetahui siapa jati diri Myra yang sebenarnya.
"Oh.. Astaga..!" Lui berbalik dan memeluk Duke dengan erat, dia tak bisa membayangkan bagaimana kacaunya perasaan Duke saat itu.
"Ya, aku tidak pernah merasa begitu ***** seumur hidupku" kata Duke sambil mengusap rambut Lui.
Lui melepaskan pelukannya dan mengusap pelan pipi Duke, sambil memandang mata hijau yang penuh dengan rasa sesal dan duka akibat kehilangan ayahnya.
"I'm fine now" kata Duke sambil tersenyum kecil.
Lui mengangguk melihat senyum indah itu, dan kemudian kembali ke posisinya semula untuk mendengarkan lanjutan dari cerita itu.
Tidak lupa Duke juga menceritakan kepada Lui soal Dyad. Mata Lui membesar dengan maksimal mendengar semua itu.
"Matamu berubah hijau karena aku? Aku yang melakukannya?" Lui mengulang meyakinkan diri.
"Yup, kau sudah menandaiku sebagai milikmu sejak dulu kala" Duke tersenyum dengan puas.
Dan karena kebingungannya Lui mengabaikan godaan Duke.
"Matamu kembali menjadi cokelat kekuningan ketika kita bertemu di Mansion Delmora" Lui mencoba menyusun ingatannya dengan lebih baik.
"Karena kau telah menghapusku dari ingatanmu" Duke berkata dengan pelan.
Berusaha terdengar tidak peduli, karena tidak ingin membuat Lui kembali merasa bersalah.
Lui meremas pelan tangan Duke saat mendengar hal itu. Kata maaf sudah berada di ujung lidahnya, ketika ingat hukuman yang akan diterimanya, Lui akhirnya hanya bisa mendesah kesal.
"Ketika aku mendengar kabar mengerikan itu, aku merasa seakan ada yang menghempaskan tubuhku ke dalam jurang. Menyakitkan" bisik Lui.
Dibenaknya terbayang jelas bagaimana teriakannya bergema di Mansion, ketika dia melihat berita tentang kematian Duke di televisi. Dunianya kembali luruh menjadi serpihan yang tidak berarti.
Duke adalah matahari yang menerangi hari, ketika kegelapan menyelimuti hatinya. Saat dirinya hancur karena gumpalan di kepalanya, saat dunianya remuk redam karena kepergian ibunya. Duke adalah orang yang membuatnya ingin terbangun dan menikmati hangatnya matahari pagi.
Berita kematiannya adalah lonceng kehancuran bagi Lui, yang berdentang nyaring tanpa henti, menenggelamkan semua harapan dan kehidupannya.
"Maafkan aku" Duke kembali mengeratkan pelukannya.
"Ini juga bukan salahmu, jangan mengulang permintaan maaf itu" sahut Lui, dengan cepat.
Sudah cukup banyak permintaan maaf yang melayang hari ini, tidak perlu tambahan lagi.
Duke terkekeh pelan, mendengar Lui menuntut hal yang sama dengan dirinya, ketika mendengar kata maaf terucap darinya.
"Setidaknya kau tidak perlu mengalami kedukaan itu terlalu lama" kata Duke, dengan getir.
Hilangnya ingatan Lui mungkin membuatnya menderita, tapi juga sekaligus jalan keluar paling mudah saat itu.
"Tapi pikiranku benar-benar kacau. Emosi dan pikiranku kerap tidak stabil. Mimpi buruk, mood swing dan banyak lagi. Beberapa kali aku sempat mempertanyakan kewarasanku, karena aku sering sekali merasa sedih tanpa tahu penyebabnya" jelas Lui.
"Sekarang semua menjadi jelas tentu saja, semua ketidakstabilan itu karena tidak adanya kau, Pace. Aku membuang salah satu hal yang paling berharga dalam hidupku, aku membuang ingatan tentang satu-satunya orang yang aku cintai. Aku merindukanmu tanpa tahu adanya dirimu"
Lui hanya bisa mendesah mengingat semua kebingungannya kala itu. Kebingungan yang telah terjawab dengan Duke kembali ada dalam kehidupannya.
Dibalik semua ketertarikan anehnya pada Zeno, dia sebenarnya sedang mencari sosok Duke yang hilang.
Topeng serigala itu tentu saja mengingatkannya akan wujud werewolf Duke, karena itu jantungnya berdebar tidak terkendali saat melihatnya.
Apalagi setelah itu, dia melihat mata hijau Zeno. Hatinya dengan liar mengenali warna itu, dan jantungnya berdebar setiap kali Zeno memandangnya. Dia menyukai mata hijau itu, karena membawa rasa rindunya pada Duke.
Lui menangis tidak terkendali, saat bertemu Duke pertama kali di Mansion Delmore, karena hatinya mengenali rasa pedih kerinduannya untuk Duke.
Hatinya menuntut keberadaan Duke, tapi pikirannya menolak untuk mewujudkan semua ingatan tentang Duke.
"Kau tidak menyerah? Dengan sodoran fakta aku tidak lagi mengingatmu?" tanya Lui,
Lui bukannya menginginkan Duke menyerah, tapi Duke sudah pasti terluka.
"Bagaimana bisa Bee? Aku sempat goyah, saat melihatmu berbinar riang dalam kehidupanmu yang baru. Tapi aku egois Bee, aku hanya menginginkanmu menjadi milikku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanku akan berjalan tanpamu"
Duke membenamkan wajah kelipatan leher Lui.
"Terima kasih, telah terus ada untukku, walau apapun yang terjadi" bisik Lui dengan suara bergetar, karena air mata haru kembali menggenang.
"Terima kasih, karena kau terus mencintaiku, walau aku tak lagi ada di ingatanmu" Duke berbisik kembali, dengan tidak kalah haru.
Lui berbalik menghadap Duke, dan membenamkan seluruh tubuh dalam pelukannya
"Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana aku akan menjalani hari tanpa dirimu. Hal itulah yang membuatku menerima lamaran pernikahan aneh darimu. Dan aku senang karena memutuskan untuk mengikuti kata hatiku. Keputusan yang tidak akan pernah aku sesali seumur hidup" kata Lui, dengan suara teredam, karena sebagian besar wajahnya terkubur dalam dada Duke.
Duke mengeratkan pelukannya, dengan penuh rasa syukur.
DIa tahu, memerlukan keberanian dan tekad yang luar biasa bagi Lui, untuk mengambil keputusan itu. Menikahi seseorang yang baru kau kenal beberapa minggu, tidak akan pernah ada dalam bayangan Lui, Duke yakin itu.
Selama beberapa saat mereka berdua diam dan tenggelam dalam lamunan masing-masing. Merenungi bagaimana roda takdir membawa kerumitan yang luar biasa dalam hidup mereka.
Duke berharap, takdir tidak lagi membuatnya sengsara setelah ini.
Setelah beberapa menit berada dalam posisi seperti itu, akhirnya Duke menyadari sesuatu. Tubuh mereka berdua menempel dengan ketat sedari tadi.
Duke ingin sekali mengusir pikiran vulgar dalam otaknya.
Tapi dia bisa merasakan bagaimana bentuk tubuh Lui dalam pelukannya. Nafas dan juga detak jantungnya mulai terpacu, mengalahkan tekad untuk mengusir pikiran tidak pantas.
"Bee, aku rasa kau harus melepasku sekarang!" Duke berusaha bergeser menjauh dari tubuh Lui.
Bukan pekerjaan gampang, karena Lui memeluknya dengan sangat erat.
"Kenapa?"
Lui mengendorkan tangannya, tapi wajahnya terlihat bingung.
"Jangan salah paham Bee. Aku sangat menikmati pelukanmu. Tapi pertahanan diriku akan segera runtuh, jika kau melakukannya lebih lama lagi" delas Duke, dengan senyum terpaksa.
Lui memerah, mulai mengerti apa yang terjadi. Tapi Lui kembali membenamkan wajahnya ke dada Duke.
"Bee..." Duke mencoba bergeser dengan panik, tapi Lui tidak juga melepasnya.
"Kita sudah menikah sekarang" bisik Lui dengan warna merah yang telah merata di sekitar leher, campuran dari rasa malu dan takut.
"Bee, are you seducing me right now?" Duke mengusap pipi Lui yang menghangat, sambil tersenyum.
"Jika iya, percayalah kau telah berhasil"
Duke menarik tubuh Lui sehingga wajah mereka sekarang sejajar. Mata Lui tentu saja memandang kemana saja selain wajah Duke.
"Jika kau bisa membaca pikiranku saat ini, kau akan sangat terkejut, dengan apa yang aku ingin lakukan padamu. Tapi tubuhmu masih lemah Bee, aku takut jika nanti akan menyakitimu. Aku tidak yakin akan bisa menahan diri dan berlaku lembut nanti"
Duke memaksa Lui memandang matanya dengan memegang kedua sisi kepala Lui.
Mata berwarna hijau dan biru itu akhirnya terfokus pada wajah Duke, dan itu adalah kesalahan, karena mata indah itu membuat pertahanan diri Duke jebol.
Duke ******* bibir merah Lui tanpa berpikir panjang, dan luruhlah sudah semua akal sehatnya.
Bibir Lui yang hangat adalah undangan yang tidak akan ditolaknya. Dengan perlahan Duke menyusuri bibir yang bergetar itu, membuat nafas Lui seolah terhenti.
Jantung dan aliran darah Lui sudah terpacu dua kali lipat lebih cepat, sampai membuat kepalanya terasa melayang.
Mata hijau Duke tidak lagi menyorot tajam, hanya ada Lui di sana. Sosok yang dengan wajah memerah membalas cumbuannya dengan polos.
Duke mengangkat tubuh Lui dan membaringkannya di depan perapian,
"Aku mencintaimu, Bee" bisiknya, tanpa lelah diantara helaan nafasnya yang tidak lagi teratur.
Duke menghirup aroma memabukkan milik Lui dengan rakus, aroma yang menjelajahi mimpi gelisahnya selama ini.
"Dan aku adalah milikmu, Pace" Lui membalas lemah bisikan Duke.
Tanpa peduli dengan akibatnya, Duke merengkuh tubuh Lui sepenuhnya.
Hangat yang memancar dari mereka berdua, mengalahkan perapian yang meretih dengan nyala berkobar.
\~\~\~\~\~\~\~IlI\~\~\~\~\~\~
Pagi yang abu-abu dan dingin kembali hadir di Blackmoon. Salju pucat yang tebal masih menutup dengan sempurna seluruh lahan, tidak menampakkan sehelai pun warna hijau rerumputan.
Di atas ranjang, Lui terbaring dengan posisi meringkuk di dalam selimut.
Tidurnya sangat nyenyak, sama sekali tidak terganggu dengan gerakan Duke, dan juga suhu udara yang menggigit.
Suasana kamar itu sangat dingin, karena perapian yang berkobar hampir semalaman, kini hanya meninggalkan beberapa butir bara, yang menyala dengan malas.
"Morning" Duke menyapa dengan lembut, dan Lui langsung membuka mata.
Hidungnya mencium aroma wangi kesukaannya. Di tangan Duke, dua cangkir mengepulkan uap panas. Aroma kopi dan cokelat memenuhi udara pagi.
Lui dengan malas menggeliat di atas tempat tidur. Tubuhnya terasa kaku dan pegal, dia meluruskan tangan dan kakinya, agar ototnya menjadi lebih lemas.
Gesekan selimut pada tubuhnya, membuat Lui sadar jika dia tidak memakai apapun di balik selimut itu.
Lui langsung mencengkeram selimutnya dengan wajah memerah. Ingatan tentang kejadian tadi malam melintas dengan jelas di wajahnya. Pantas saja tubuhnya terasa pegal.
Duke yang menyadari perubahan raut wajah Lui bergegas menggodanya
"Ada apa? Kau tidak lupa apa yang terjadi tadi malam bukan?" tanyanya, sambil menyodorkan cokelat panas pada Lui.
Dengan bersusah payah karena masih harus memegangi selimut, Lui menerima cangkir itu. Dia menaikkan kedua lututnya untuk mencegah selimut itu melorot.
"Thanks" bisik Lui menunduk malu.
"Aku sudah melihat semuanya, Bee. Apa lagi yang kau sembunyikan?"
Duke tidak bisa lagi menahan tawa melihat tingkah Lui. Dia lalu menghempaskan badannya ke sebelah Lui, dan berusaha membuat kontak mata dengannya.
Bukannya Lui tidak ingin melihat Duke, tapi Duke yang bertelanjang dada, menurutnya adalah berbahaya. Lui masih bersyukur, karena setidaknya Duke sudah memakai celana panjangnya.
Dengan mengumpulkan keberanian, Lui akhirnya mengangkat wajah dan memandang Duke.
Duke yang tidak mengira Lui akan berani memandangnya sedikit terkejut, tapi kemudian tertawa senang. Lui telah sedikit belajar mengendalikan rasa malu.
"Apa itu?" Lui menunjuk ke arah dada Duke yang telanjang.
Tato rumit insignia menarik perhatiannya.
"Kau tidak melihatnya tadi malam?" Duke bertanya dengan heran, karena Lui baru menanyakannya sekarang.
Wajah Lui tersipu, sebelum akhirnya menggeleng.
Terus terang saja, tadi malam Lui terlalu sibuk menikmati 'kegiatan' mereka, hal yang lain tidaklah penting saat itu.
"Ini adalah bagian dari mantera yang Sorrel berikan, aku rasa kau juga akan memilikinya Bee. Di bahu kananmu" jelas Duke, seraya menunjuk dengan jarinya.
Lui berusaha menengok kebelakang untuk melihat, tapi tentu saja itu mustahil.
"Kau hanya akan bisa melihatnya di cermin" Duke menahan senyum melihatnya. Lui mendecak kesal, dia kemudian berusaha bergeser untuk melihat insignia di dada Duke lebih dekat. Duke bergeser mendekatinya.
"Ini cantik sekali" kata Lui sambil meraba insignia itu.
Duke melirik tato yang ada di bahu Lui, dan mengerutkan dahi.
Insignia itu sedikit berbeda dengannya. Bulan sabit yang ada di sana, berwarna hitam, dengan corak biru, tapi lingkaran sihir yang mengelilinginya, identik berwarna merah darah.
Duke memutuskan akan bertanya pada Sorrel nanti.
"Kapan kita akan kembali ke Manor?" tanya Lui.
"Kau bosan berada disini bersamaku?" Duke bertanya balik, sambil menyusupkan tubuhnya ke dalam selimut.
Lui segera menarik sebagian besar selimut dengan panik.
"Ha..ha..haa..."
Duke jelas tertawa terbahak melihat hal itu. Menggoda Lui benar-benar kegiatan yang menyehatkan baginya.
"Bukan seperti itu, tapi bukankah kau ada tugas penting yang belum selesai?"
Lui kembali bertanya, sambil bersusah payah menggapai bajunya yang tercecer di lantai, sebelum Duke mempunyai ide lain untuk menjahilinya.
"Memang, tapi aku sedang tidak ingin memikirkan hal itu sekarang" dengus Duke.
Pertanyaan Lui membuatnya teringat akan 'acara besar' yang sebentar lagi akan dihadapinya.
"Apakah hal ini ada hubungannya dengan Egon dan juga vampire itu?" Lui menyahut dengan suara teredam, dia sedang berusaha memakai baju di dalam selimut.
Duke menghela nafas dan mengungkapkan kisah panjang tentang peperangan yang akan terjadi.
"Perang? Like battlefield and other?"
Lui menarik selimut turun -- *gaun*nya telah terpasang sempurna-- dan menampakkan wajah tercengangnya.
Dia tahu Duke sedang menghadapi sesuatu yang besar, tapi peperangan tidak pernah terlintas di benaknya.
Kata-kata Oscar terngiang lagi di benaknya. Bagaimana peperangan inhumane adalah hal yang berbahaya dan tidak seharusnya terjadi.
Duke mengangguk muram.
"Aku juga tidak menyangka jika vampire itu akan berbuat nekad seperti ini. Tapi aku tidak akan tahu bagaimana jalan pikiran seorang penghisap darah. Yang bisa kami lakukan saat ini adalah mencegahnya berbuat bodoh, karena peperangan dengan manusia hanya akan menuntun inhumane pada kehancurannya"
Lui mengangguk mengerti, tapi wajahnya sekarang menyiratkan rasa khawatir.
Perang jelas sesuatu yang harus dikhawatirkannya. Dengan sifat dan kedudukan yang diampu oleh Duke, bisa dipastikan dia akan berada di garis paling depan.
Duke melihat perubahan wajah Lui, lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Lui yang sedang melamun memekik terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu.
"What with the long face?" Duke berbisik di telinga Lui, yang membuatnya menggeliat geli.
"It's a War, kau akan pergi berperang" Lui memandang Duke, membelai wajah berahang tajam itu.
"Apakah aku sudah mengatakan jika mata hijaumu terlihat luar biasa indah?" Duke tersenyum, sambil memberi ciuman kecil di bibir Lui.
"Apakah kau sedang berusaha mengalihkan pembicaraan?" tuduh Lui.
Yang dijawab Duke dengan senyum masam, dan anggukan kecil.
"Tidak akan berhasil" Lui membantah dengan tidak meyakinkan, karena seluruh wajahnya telah memerah seperti biasanya.
"Bee, perang ini tidak akan bisa dihindari. Jika Crispin berhasil melaksanakan niatnya, bisa dipastikan tidak akan ada lagi masa depan bagi inhumane dan juga manusia. Manusia mungkin lebih lemah, tapi dari pengalaman ribuan tahun, kami bangsa inhumane sangat tahu, manusia adalah makhluk yang sangat mudah beradaptasi dan itulah yang membuat mereka kuat. Perang seperti itu hanya akan membawa kerusakan bagi kedua pihak"
Duke menjelaskan dengan lirih, memandang mata hijau dan biru milik Lui. Dia sedang berusaha mengurangi rasa khawatir yang bercokol di sana.
Lui menghempaskan diri pada tubuh Duke dan memeluknya erat. Tidak terpikirkan lagi rasa malu atau apapun. Dia hanya tidak ingin Duke menghadapi bahaya seperti itu, tapi dia juga tidak mungkin bisa mencegahnya.
Penjelasan panjang lebar itu, sudah cukup memberinya gambaran bagaimana peliknya masalah yang sedang dihadapi. Dia mengerti, Duke memang harus melakukan perang ini.
"Aku hanya berharap kau akan baik-baik saja, Pace" kata Lui, setelah terdiam beberapa lama.
Dia harus berusaha sekuat tenaga untuk merelakan Duke pergi ke medan perang, ini adalah bagian tugasnya sebagai Zhena, dan dia telah bertekad akan melakukannya dengan baik.
"I'm gonna be fine Bee. Kau tahu bukan? Aku adalah werewolf paling kuat di Blackmoon?" Kata Duke dengan nada bercanda yang sombong, agar Lui bisa sedikit terhibur.
Lui memberi cubitan di pinggang sebagai jawaban pernyataan itu. Duke menarik wajah Lui mendekat dan mengecup bibir pucat Lui dengan lembut.
"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk kembali padamu Bee, aku berjanji" bisik Duke, diantara nafas Lui yang telah memendek.
"Harus, aku tidak ingin tenggelam dalam mimpi buruk kehilanganmu lagi" Lui dengan berani membalas ciuman itu, yang segera disambut erangan penuh semangat, oleh Duke.
Api di dalam dirinya, kembali tersulut dan menuntut.
"Kita akan kembali ke Manor besok" Duke menggeram, sambil menarik tubuh Lui ke pelukannya.
Dengan susah payah Lui melepaskan diri dengan turun dari tempat tidur,
"Tidak, kita harus kembali. Mereka menunggumu" Lui mengatakan itu dengan nafas terengah dan bibir yang telah memerah karena ciuman Duke.
Dengan kesal Duke menendang selimut dan mengacak-acak rambutnya.
Lui benar tentu saja, hari ini jadwalnya juga telah penuh.
"Kita akan meneruskannya nanti malam Bee" kata Duke sambil berdiri dan membelai wajah Lui. Dengan malu Lui mengangguk, dia tidak akan berpura-pura tidak menikmatinya.
"Aku akan membuat sarapan, kau mandilah" Duke memberinya kecupan ringan di kening, Lui tersenyum dan menuruti saran Duke dengan lega, karena Duke menuruti nasehatnya.
Lui akan merasa bersalah, jika keberadaannya, membuat Duke melupakan tugasnya sebagai Alpha.