Finding You, Again

Finding You, Again
Us 5 - First and Not



'Morning...'


Aku berhenti mengetik, sejenak berpikir. Aku sedang mencoba mengirimkan pesan sederhana pada Bee.


Tapi setelah pesan pendek yang aku kirim, untuk sekedar memberitahukan identitas nomor ini padanya, aku tidak bisa memikirkan apapun.


Sejak beberapa menit yang lalu, hanya satu kata itu yang bisa aku pikirkan. Aku tidak terbiasa berkomunikasi dengan Bee melalui text.


Tapi aku tidak ingin membuatnya canggung dan curiga, jika aku tiba-tiba menelponnya sekarang.


Bagaimanapun, menurut Bee, kita baru saja berkenalan dua hari yang lalu.


"Apa yang kau lakukan?" El yang baru saja masuk ke ruang santai Lykos bertanya padaku. "Aku mendengar desahan kesalmu dari ruang makan"


"Aku baru sadar, aku tidak dalam hubungan yang normal bersama Bee. Kami bahkan tidak pernah saling mengirimkan pesan" keluhku dengan berat hati.


Aku menyandarkan kepalaku di sofa berwarna hitam dan memandang langit-langit yang berhiaskan chandelier kristal.


"Kemarikan!" El merebut ponsel--ponsel baru dengan fitur yang lebih canggih, menurut Roan-- dari tanganku. Dia memotret kopi yang aku baru minum separuh dan kemudian mengetikkan sesuatu di ponselku.


"Ini!!" katanya menyerahkan ponselku kembali dengan wajah bosan.


Dia mengirimkan gambar kopiku pada Bee dengan caption


'My morning cup..N you?'


Not bad!


"Sejak kapan kau menjadi ahli dalam hal seperti ini?" tanyaku.


"Aku menghabiskan waktu 8 tahun di Universitas. Cobalah melakukannya, mau tak mau kau akan menjadi ahli dalam mengirim pesan" jawabnya.


Aku lupa soal itu.


Diantara kami berdua, El yang menjalani kehidupan yang lebih normal sebagai manusia.


Sedangkan aku selalu bergelut dengan musik dan lagu. Kemampuan bersosialku hanya berkisar antara hubunganku dengan Justin, Hugo dan penggemar. Selain itu, aku kurang lebih sama dengan Bee, kami tidak punya kehidupan selain dengan pekerjaan kami.


Aku melihat sekelebat bayangan serigala berwarna abu-abu dengan lingkaran putih di lehernya.


Itu Roan, dia baru saja kembali dari patroli malamnya. Dia, El dan beberapa werewolf yang ada di London bergantian melakukan patroli di sekitar Lykos.


Tindakan ini diambil oleh Uncle Rex setelah mendengar penjelasan Abel. Uncle Rex memanggil werewolf pack Blackmoon yang berada di sekitaran London, memerintahkan mereka untuk selalu berada di Lykos.


Ada 2 werewolf baru di Lykos, mereka mengatur jadwal berpatroli dengan berpasangan. Dengan Roan, El serta Id dan Tita, ada 6 werewolf yang melakukan patroli rutin. Aroma mereka bercampur menjadi satu. Suasana ini mengingatkan aku, akan hari-hari yang aku lalui di Pack dulu.


Apalagi sekarang hanya ada werewolf di Lykos. Id telah memberhentikan semua manusia yang bekerja disini. Bisa berbahaya jika mereka terlibat dengan dunia inhumane.


Aku mengenali satu werewolf yang baru datang, dia memasuki akademi di pack dalam tahun yang sama denganku, tetapi untuk yang lain aku tidak mengenalnya, tetapi Uncle Rex meyakinkan aku jika dia bisa dipercaya.


Ponselku bergetar tanda notifikasi baru yang masuk. Aku menyambarnya dari meja. Bee membalas pesanku. Dia mengirimkan gambar jendela mobil, dengan pemandangan warna hijau pohon di baliknya.


Dengan caption 'Stuck!!'. Dia sudah berangkat ke kantor sepagi ini. Aku tidak heran, jarak rumah mereka memang terlalu jauh dengan Delmor Tower.


Aku tersenyum kecil, ini aneh sekali, aku sangat gembira hanya mendapatkan pesan seperti itu dari Bee. Dunia pengiriman pesan memang aneh.


"You two are so weird!!" El merusak senyumku dengan ujarannya. "Why?" tanyaku.


"Kalian bertingkah seperti remaja yang baru saja jatuh cinta, bingung dan sangat canggung. Dan karena aku mengenal Lui dengan baik, aku tahu pasti keadaanya sekarang akan kurang lebih sama denganmu" dengusnya dengan sedikit tersenyum.


Aku mengatupkan mulutku dengan rapat, karena El benar. Kami sangat canggung. "Tidak akan aneh jika aku mengajaknya makan malam bukan?" tanyaku.


El menggeleng, "Kau sudah berjanji untuk mentraktirnya, akan sangat aneh jika kau tidak mengajaknya".


It's now or never Duke, batinku.


Aku tidak punya kemewahan berupa waktu luang saat ini. Apalagi dengan adanya berita dari Abel kemarin. Berita itu mengharuskanku mempercepat segala proses yang aku rencanakan untuk mendapatkan Bee.


'Dinner tonight? My treat :)'


Aku mengirimkan pesan itu dengan hati berdebar menunggu balasannya.


"Kau tahu restoran yang bagus di sekitar London?" tanyaku pada El.


"Tentu saja! Tapi kau seharusnya sudah mati. Aku rasa itu ide yang buruk, jika kau harus pergi ke restoran untuk makan malam. Untuk tempat lain, kau bisa menyamarkannya dengan memakai kacamata hitam. Tapi kau tidak bisa memakainya di restaurant. Mereka akan menyuruhmu membukanya"


Perkataan El segera saja menghempaskan rasa bahagiaku ke dasar jurang.


Deretan umpatan yang aku lontarkan membuat El mengernyit. Aku lupa jika seharusnya aku sudah mati. Aku tidak bisa begitu saja muncul di tempat umum.


"Kau memang sangat payah soal hal seperti ini. Aku salut dengan keahlianmu dalam bermusik tapi..." El menggeleng tidak percaya melihatku panik. Aku mendelik ke arahnya, aku tidak butuh kritikan saat ini. Dia tidak perlu menjadi Roan dengan lidah jahat.


Melihat mataku yang melotot lebar, El tersenyum kecil dan urung melanjutkan ucapannya tadi. Dia terdiam sejenak, sebelum mengetikkan pesan di ponselnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku. Dia hanya memberi lambaian tangan sebagai isyarat untuk tenang.


Langkah kaki mendekat dengan diiringi aroma arang dan rosemary. Aroma itu milik Dey,


Deyanish Campbell, dia werewolf yang sudah aku kenal. Dia mendatangi kami dengan muka bertanya-tanya.


"Duke perlu tempat private untuk makan malam, kau bisa mengaturnya bukan?" Dengan nada ramah, El bertanya pada Dey..


Dey tersenyum sambil memandangku "Tentu saja, saya akan segera menyiapkannya. Berapa jumlah tamu undangan anda Scion?" tanyanya.


"Hanya satu Dey" Aku agak sedikit terkejut melihat semangatnya.


"Baiklah. Apakah anda ingin ada tamu umum atau tidak?" tanyanya lagi.


"Tidak ada tamu umum, Dey. Hanya Duke dan temannya" sahut El cepat.


"Baiklah. Karena ini bersifat pribadi, saya akan menyediakan tempat di Aviary. Anda tidak akan terganggu oleh orang berlalu lalang di sana" Dey merencanakan dengan tangkas.


"Aviary? Dimana itu?" tanyaku. Dey memandangku dengan wajah tercengang, begitu mendengar pertanyaanku.


El mengibaskan tangan, pertanda jika Dey tidak perlu menjelaskannya. "Aku yang akan menjelaskannya" katanya.


Dey kemudian mengangguk, setelah dia mendapatkan jawaban untuk jenis hidangan yang aku inginkan, dia berpamitan pergi.


"Apakah dia bekerja di restaurant?" tanyaku, setelah yakin Dey tidak mungkin lagi mendengar percakapan kami.


"Ya, Monath memiliki 3 restaurant di London. Dan karena Dey adalah Chef yang hebat, Alpha Owen memberinya tanggung jawab untuk mengelola ketiganya"


Aku mengangguk mengerti. "Aku tidak tahu Monath memiliki jaringan restoran" ujarku.


"Aku juga baru tahu ketika Uncle Rex mencekokiku dengan segala macam jaringan yang dimiliki Monath. Aku baru menyadari, jika ternyata perusahaan itu jauh lebih besar dari pada yang aku bayangkan" El mendesah berat, sambil memijat kepalanya.


Dia sudah tahu, tanggung jawab yang sebentar lagi berpindah ke pundaknya tidaklah ringan. Ratusan ribu orang menyandarkan kehidupan pada Monath, baik manusia maupun inhumane.


"Well.. congratulation!!" ujarku sambil meraih ponsel, yang kembali bergetar.


Jawaban dari Bee datang. Aku mengabaikan pelototan marah dari El setelah mendengar ucapan selamat dariku.


'Sure, I'm free at 5 p.m'


Jika aku tidak ingat ada El di sebelahku, aku pasti sudah melonjak gembira. Untuk sekarang aku harus puas dengan hanya tersenyum lebar.


'I'll pick you up at 5:30'  balasku.


 


"Lantai 10 dari Montcalm Royal London House Hotel, itu adalah rooftop restaurant, tidak akan ada orang yang berlalu lalang kecuali memang tamu restaurant. Tapi kau harus berhati-hati saat masuk, hotel itu tidak pernah sepi" jelasnya, dengan panjang lebar.


Aku akan mudah mengatasinya dengan kacamata hitam. Tidak akan ada yang melarangmu memakai kacamata hitam di dalam hotel.


 


----------- *0o0*----------


 


Aku nyaris menumpahkan cokelat panas buatan Charlie saat membaca dua pesan dari Duke.


Setelah 2 hari --bukan berarti aku menunggunya-- akhirnya dia menghubungiku.


Aku berkali-kali membaca ulang pesan kiriman dari Duke. Memang singkat, tapi cukup untuk membuat perutku tergelitik.


Aku meletakkan tumbler yang berisi cokelat di pintu mobil, untuk mencegah kecelakaan yang lebih buruk, karena tanganku terasa sedikit lemas sekarang. Aku harus membalas apa?.


Aku mencuri pandang pada Oscar yang sibuk dengan tablet di tangannya. Aku tidak mungkin bertanya soal ini kepadanya. Jovi? Dia mungkin akan membantu, tapi sudah pasti Jovi juga akan menggodaku habis-habisan setelahnya.


Menarik nafas panjang, aku memandang keluar jendela, yang sekarang didominasi warna hijau pohon berkelebat dengan kecepatan tinggi.


Aku tersenyum, kemudian mengangkat ponselku ke arah jendela, dan memotret pemandangan di luar. Aku tidak harus berpikir keras untuk hal seperti ini.


Santailah sedikit Lui, batinku berbisik.


'Stuck!!' ketikku untuk keterangan gambar tadi.


Beberapa detik setelahnya, tanda bahwa pesanku telah terbaca muncul. Jantungku ikut menarikan rasa bahagia karenanya. Dia menunggu balasan dariku.


'Dinner tonight? My treat :)'.


Jantungku langsung saja terjun bebas ke laut membacanya.


Dinner??!! Just the two of us?


Aku tidak siap untuk ini. Dinner terakhirku berakhir dengan tangisan dan pingsan. Tapi, sudah pasti aku tidak bisa menolak ajakan Duke. Itu akan sangat tidak sopan.


Sebagian benakku menertawakan jalan pikiran itu.


Kau tak perlu mencari alasan hanya untuk mengingkari rasa gembiramu Lui!


"Kau akan kemana hari ini?" Oscar tiba-tiba bertanya kepadaku, membuyarkan pertengkaran yang terjadi antara dua sisi otakku.


"Oh.. Wapping, Tyneside dan satu lagi aku belum memutuskan. Jovi akan memberitahukan padaku nanti" jawabku dengan terburu-buru karena terkejut.


Oscar menatapku "Berhati-hatilah, Tyneside bukan daerah yang ramah" ujarnya menasehati.


Aku mengangguk dengan bersemangat. Berharap percakapan ini selesai dan aku bisa membalas pesan Duke.


"Aku akan menyuruh Mark menemanimu dan membawamu pulang nanti. Aku membutuhkan Alex sampai malam" Katanya lagi.


"Ehmmmm... akuadaacaramalamini!!" ucapku, jauh lebih cepat dari pada jawabanku tadi.


Oscar mengernyitkan keningnya "Acara apa? Dan kenapa kau gugup sekali" tanyanya, setelah akhirnya mengerti. Dia sekarang memandangku dengan curiga.


"Dinner" jawabku singkat, berharap agar dia tak bertanya dengan siapa aku pergi.


"Dengan siapa? Jovi?" Pertanyaan itu menyapu harapanku untuk menyelesaikan percakapan ini dengan segera.


Aku menggeleng jujur, Oscar akan segera tahu dengan pasti jika aku berbohong.


Oscar memandangku dengan lebih teliti, sebagai isyarat dia mengharapkan jawaban yang lebih jelas tentang siapa aku akan makan malam.


"Duke" jawabku dengan lirih. Segera saja Oscar mendesah ketika mendengar jawabanku.


"Kau baru mengenalnya beberapa hari yang lalu, dan sekarang kau akan makan malam dengannya? Tidakkah itu terlalu cepat?"


Wajahnya terpuntir kesal, tapi dia kembali mengalihkan perhatian pada tablet PC yang ada di pangkuannya.


"Mungkin, tapi dia hanya ingin membalas traktiran makan siangku beberapa hari yang lalu, itu saja"


Jawabanku terdengar seperti alasan yang lemah. Tapi itulah yang sebenarnya.


Oscar tersenyum sinis dari sudut mulutnya. "Kau yakin itu? Setelah apa yang terjadi dengan Zeno, kau ingin melakukan hal yang sama?"


"Tidak!! Tentu saja tidak. Aku hanya merasa akan sangat kasar jika aku menolak niat baiknya. Dia baru di London, aku tidak ingin meninggalkan kesan yang buruk"  Aku mungkin terlalu terlalu bersemangat, mencari alasan.


Senyum sinis Oscar semakin tajam. "Kau peduli sekali dengan keadaannya" ujarnya.


Mungkin aku salah tapi Oscar terdengar sangat dingin saat mengucapkannya.


"Tentu saja aku peduli, dia temanmu bukan? Duke mengatakan kalian sudah berteman selama 3 tahun belakangan ini. Tapi kau terlihat tidak menyukainya"


Oscar menutup matanya seolah menahan sesuatu setelah aku mengucapkannya. Kemudian dia kembali menatap pekerjaannya tanpa menjawab pertanyaanku.


"Kau keberatan aku makan malam dengannya?" tanyaku dengan ragu.


Aku memang ingin --sangat ingin-- makan malam dengan Duke, tapi aku juga tidak suka jika itu ternyata membuat Oscar kesal.


"Tidak!! Kau boleh melakukan apa yang kau sukai, dan aku tahu kau sangat menginginkannya. Tapi jika aku harus memilih antara Zeno dan Duke, maka aku akan memilih Zeno. Dia lebih aman untukmu" Oscar sekarang memandang tepat ke mataku. Dia sangat serius.


"Eh..." Aku tidak menyangka Oscar akan mengatakan hal itu.


Aku tidak mempertimbangkan untuk kembali mencoba apapun bersama Zeno. Dan aku rasa Zeno juga sudah tidak tertarik untuk itu.


Aku menolaknya mentah-mentah dan setelahnya Zeno dengan jelas mengatakan, dia hanya ingin berteman denganku.


Tapi apa maksud Oscar dengan Zeno lebih aman untukku? Aku tidak mengerti.


"Apa maksudmu dengan lebih aman? Apakah Duke seseorang yang akan membuatku tidak aman? Apakah dia seorang kriminal atau gangster?" tanyaku dengan bertubi-tubi.


Aku tiba-tiba teringat dengan perkataan Jovi beberapa hari yang lalu, setelah acara makan siang itu.


Oscar sekarang tertawa dengan terbahak-bahak. Aku menangkap nada ironis di tawa itu.


"Tentu saja bukan, aku tidak akan pernah mengizinkanmu pergi makan siang dengan seorang penjahat" Suara Oscar berat dan mantap.


Aku memandangnya dengan penuh tanya sekarang. Apa yang membuatnya berkata seperti itu?


"Sudahlah, lupakan perkataanku. Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan, Lui".


Oscar menyudahi percakapan, meninggalkanku dalam tanda tanya besar. Aku tahu Oscar tidak akan mengatakan apapun lagi, kecuali jika aku merengek.


Tapi aku tidak akan melakukannya sekarang, karena Oscar kurang lebih sudah memberi ijin untuk acara makan malam ini. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.


'Sure, I'm free at 5 p.m'


 


'I'll pick you up at 5:30' Jawaban Duke muncul di baris paling bawah.


Aku tersenyum lebar dan nyaris terkikik. Tapi aku menutup mulutku rapat-rapat, tidak ingin membuat Oscar bertanya-tanya lagi.