Finding You, Again

Finding You, Again
David 4 - Coup d'Etat



Aku menatap kosong atap kaca yang sekarang menampakkan awan berarak dan beberapa kelip bintang.


Rasa sesak dan sakit bercampur memenuhi dadaku. Rasa sesak karena rinduku untuk melihat Bee, dan rasa sakit karena rusukku yang setelah 4 hari berlalu sejak kejadian itu, masih belum sembuh.


Ada yang aneh dengan tubuhku. Untuk luka seperti ini, biasanya aku hanya membutuhkan waktu 2 hari untuk sembuh. Tapi sampai sekarang rasa sakit masih menusuk, setiap aku mencoba untuk melakukan rutinitas.


Apakah lukanya lebih parah dari yang aku kira?.


Rasa sakitnya memang sudah berkurang dibandingkan 4 hari yang lalu, tapi seharusnya sekarang aku sudah sembuh total. Kekuatan Orang tua itu benar-benar gila. Jika tidak membencinya setengah mati seperti sekarang, aku tidak akan ragu mengakui kalau dia memang luar biasa kuat.


Suara pintu tingkap terbuka dan nampan berisi makan malam muncul. Aku mencoba menggeser tubuhku ke arah pintu untuk meraih makanan yang berada di dekat pintu.


F*ck!!! Umpatku dengan sepenuh hati, ketika rasa menusuk tajam kembali menerpa.


Aku mengambil nafas panjang menahan sakit, namun aroma Niter* yang menusuk hidungku malah membuatku batuk hebat.


"God d*mn it!!!"


Umpatku dengan berteriak sekarang. Tentu saja batuk akan menghasilkan rasa sakit yang dahsyat untuk rusukku.


Ada apa dengan bau Niter ini?


Monath mempunyai pabrik pemasok sirup mapel dan pemen gula mapel terbesar di dunia. Jadi aku tidak akan heran dengan bau Niter. Tapi pabrik yang memproduksinya berada beberapa kurang lebih 10 km dari sini.


Untuk ukuran hidungku yang memang cukup tajam, 10 km termasuk dalam jarak aman. Seharusnya aroma manis ini tidak menggangguku. Tetapi dengan bau setajam ini, aku perkirakan bergalon-galon niter sedang berada dalam jarak kurang dari 1 km.


Apa yang sedang dilakukan orang tua itu sekarang?


Dengan menggertakkan gigi menahan sakit, aku akhirnya berhasil meraih nampan itu.


Dengan perlahan aku duduk sambil menggeram keras, karena peralihan posisi antara berbaring dan duduk menghasilkan rasa sakit yang lebih tajam dari pada saat aku bergeser tadi.


Aku memandang 2 nampan yang masih berisi sarapan dan makan siang dengan kesal. Aku melewati sarapan dan makan siang dengan harapan agar lukaku lebih cepat sembuh, jika aku diam tidak bergerak, tapi harapanku sia-sia saja .


Dengan dengusan dongkol, aku memasukkan makan malam yang berupa sup dan steak daging itu ke mulut. Aku sedikit tidak bernafsu sebenarnya. Tapi jika aku tidak makan, proses penyembuhan itu juga akan semakin lambat, karena kurangnya tenaga.


Aku harus segera sembuh bagaimanapun caranya. Setelah itu baru aku akan menyusun rencana untuk keluar dari semua ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Bau logam dan amis darah yang menyerbu hidungku segera membawaku terjaga dengan jantung berdetak keras karena waspada.


Tidak salah lagi, bau amis ini adalah aroma darah. Aku menenangkan diri dan mencoba mendengarkan keadaan sekelilingku dengan lebih seksama. Aku duduk dan mencoba berkonsentrasi.


Tak lama, suara campuran antara teriakan pertarungan dan jeritan ketakutan menerjang gendang telingaku.


Ada sesuatu yang terjadi di pack ini!! Aku meloncat bangun tanpa peduli dengan tulang rusukku yang kembali berdenyut protes.


"Hei.. apa yang terjadi di luar?" tanyaku kepada para penjaga di depan pintu. Tidak ada jawaban yang terdengar.


Aku menghirup udara dalam-dalam.


Diantara bau niter yang masih menusuk, aku tidak mendeteksi aroma lain di depan pintu. Penjaga itu sudah meninggalkan posnya.


Berarti sudah terjadi sesuatu yang gawat. Tidak mungkin Orang tua itu memanggil mereka jika keadaan tidak mendesak.


Tapi apa yang terjadi? Tak mungkin ada gerombolan Stray yang berani menyerang pack ini. Pack ini mempunyai kemampuan untuk melawan pasukan satu negara kecil dengan mudah, jika benar Stray datang menyerang, mereka berarti sudah bosan hidup.


Teriakan dan bau asap membuatku semakin panik. Api!?


Mungkin keadaannya lebih buruk dari yang aku kira, karena suara yang aku dengar berikutnya, adalah jeritan anak-anak dan siewolf. Siapapun penyerangnya berarti mereka sudah mencapai wilayah pemukiman.


Aku menggedor-gedor pintu dengan sekuat tenaga. "Hei.... siapa pun di luar, buka!!" teriakku.


Mereka sudah menyerang wilayah pemukiman, aku tidak mungkin diam saja di sini. Aku terus menggedor dan berteriak sekuat tenaga.


Aku memang tidak ingin menjadi Alpha di pack ini, tetapi bukan berarti aku akan membiarkan pack ini diserang. Pack ini adalah rumah bagi teman-temanku, dan juga rumahku, walau aku tidak ingin berada di sini saat ini.


Beberapa saat berlalu setelah aku berteriak, tanpa jawaban ataupun sahutan. Apa aku harus memaksa menjebol pintu dengan wujud serigalaku?


Suara denting rantai pertanda ada orang yang membuka pintu, membuatku mengurungkan niat untuk bertransformasi.


Segera aku berlari dan menarik pintu besar itu agar terbuka.


Uncle Egon berada di depan pintu dengan wajah dan tubuh telanjang yang penuh dengan darah. Pertanda dia baru saja bertransformasi kembali menjadi manusia dari bentuk serigalanya.


Baju yang kami pakai akan robek bila werewolf bertransformasi. Biasanya kami akan membawa buntalan baju ganti. Agar saat kembali menjadi manusia, kami tidak terlalu lama dalam keadaan telanjang.


Tapi melihat keadaanya, bisa dipastikan dia sudah bertransformasi tanpa direncanakan.


Uncle Egon berjalan masuk dan menyambar celana panjang dari tumpukan baju kotorku. Dia menyeka tangannya yang penuh darah dengan baju lain yang ada di tumpukan itu. Uncle Egon telah melukai banyak musuh dengan cakarnya sebelum ke sini, darah itu yang menjadi buktinya.


"Uncle..apa yang terjadi?" tanyaku, sambil melihatnya memakai celana panjang.


"Vampire" jawab uncle Egon pendek.


"Makhluk sampah berdarah terkutuk!!" Umpatku dengan keras, sambil berlari kencang menyusuri lorong bangunan tempatku di kurung.


Aku dikurung di salah satu ruangan di Manor, rumah tempat Alpha dan juga rumahku dulu.


Dengan kecepatan maksimal, aku berlari ke arah pintu luar dengan Uncle Egon mengikuti di belakangku. Aku sudah tidak sabar ingin merobek leher vampire itu dengan taringku.


Bagaimana bisa mereka masuk ke wilayah pack? Wilayah pack ini selain tersembunyi, ada sihir yang melindungi tempat ini. Seharusnya mereka tidak bisa menerobos dengan mudah.


Vampire memang musuh utama kaum werewolf, tetapi sudah lama kami tidak berselisih.


Aku pernah membunuh vampire, tapi itu karena aku memergokinya hendak membunuh manusia. Semua inhumane tahu, membunuh vampire keji adalah perbuatan terpuji.


Tapi ini berbeda, mereka biasanya tak akan berani menyerang pack werewolf.


Hidup di dunia modern sudah merupakan tantangan tersendiri bagi kami semua makhluk inhumane. Apalagi dengan adanya Hunter -- manusia biasa yang sudah sangat terlatih untuk memburu inhumane. Berabad-abad lalu kaum werewolf juga merupakan sasaran mereka, tapi salah satu leluhur werewolf membuat perjanjian rumit dengan mereka sehingga kurang lebih sekarang hunter dan werewolf tak akan saling mengganggu-- yang berkeliaran memburu inhumane.


Bagi kami makhluk inhumane, manusia memang lebih lemah dari kami semua, tetapi, kecepatan perkembangan teknologi dan adaptasi mereka luar biasa.


Saat ini, adalah manusia yang menguasai dunia dan bagiku, ini bukan masalah. Werewolf tidak mempunyai keinginan untuk menguasai lebih dari wilayah pack kami masing-masing. Faktor inilah yang membuat werewolf lebih mudah berdamai dengan manusia.


Leluhur manusia yang mengetahui keberadaan kaum werewolf maupun inhumane secara umum, dengan sengaja menghapus keberadaan kami dari sejarah mereka. Karena mereka takut jika kaum inhumane ikut campur dengan urusan manusia, maka kehancuran dan perang akan membuat dunia jatuh dalam perang besar berkepanjangan.


Karena itulah, keberadaan kaum inhumane hanya tinggal mitos dan dongeng bagi manusia.


Mungkin jika kaum inhumane bisa bersatu, kamilah yang akan menguasai dunia saat ini.


Tapi tentu saja itu tidak mungkin, sifat kaum inhumane yang beastial dan solitary, membuat kami sulit terlibat satu sama lain. Karena itulah, diantara kaum inhumane seperti sudah ada perjanjian tidak tertulis, kami tidak akan saling mengganggu, karena hanya akan membawa kerusakan yang lebih parah bagi kaum masing-masing.


Aku sungguh tidak mengerti logika berpikir gerombolan vampire ini, sehingga mereka berani menyerang pack werewolf.


Tapi apa yang bisa aku mengerti dari makhluk terkutuk yang hanya bisa hidup dari darah?? Darah hitam mereka akan membasahi cakarku malam ini. Mereka akan membayar dengan nyawa mereka karena telah berani mengusik pack ini.


Saat mencapai pintu keluar manor, kesadaran menyentakku dengan kuat.


Darah Hitam!! Vampire berdarah hitam!


Langkahku seketika terhenti, lalu berbalik melihat Uncle Egon, yang juga ikut berhenti berlari.


"Uncle? Darah siapa yang ada di tanganmu? " Tanyaku, dengan suara agak bergetar.


Otakku mencoba memberikan beberapa kemungkinan kenapa darah yang mengotori tubuh dan tangan Uncle Egon berwarna merah----bukan hitam


Dan aku tidak menyukai semua jawaban yang muncul di kepalaku.


"Oh.." kata Uncle Egon dengan nada sedikit terkejut, kemudian memandang tangannya, yang masih meninggalkan beberapa bercak darah merah kering.


Dengan sekali tarikan nafas, aku akhirnya mengenali aroma yang menguar dari darah itu. Aku merasa bodoh sekali, karena tidak menyadari aroma yang menguar dari tangannya sejak tadi. Manor yang ada di belakangku menyamarkannya dengan sempurna. Aroma yang sama, memenuhi seluruh rumah.


"Darah itu darah Alpha.. darah itu darah ayahku?" Kesimpulan sempurna terbentuk di benakku.


Tawa kecil Uncle Egon yang sangat aku kenal membelah udara, yang sesaat sunyi karena pertanyaanku. Tawa kecil itu mengirimkan rasa dingin yang membuat bulu kudukku meremang dengan ngeri.


"Kau benar Duke... kau memang murid yang pintar sejak dulu" jawab Uncle Egon masih dengan senyum.


Senyum yang dingin dan kejam. Senyum yang nyaris membuatku gagal mengenali wajah yang biasanya selalu memberiku tatapan ramah.


Saat ini, yang aku lihat, hanyalah mata berwarna abu-abu sedingin es, penuh dengan kabut nafsu untuk membunuh....


Rasa panas mulai menjalar di tubuhku, ketika aku mendengar jawaban dingin dari makhluk yang tidak bisa aku kenali lagi di depanku.


"Why......?" tanyaku, dengan suara tercekat menahan amarah. Banyak hal yang ingin aku tanyakan saat ini, tetapi aku paling ingin mendapat jawaban tentang ini.


Alasan apa yang membuatnya mengkhianati seluruh pack dan melukai Ayahku? Dia adalah Beta pack ini. Tugasnyalah untuk menjaga pack bersama-sama dengan Alpha.


"Ow... kau bertanya langsung pada intinya, Duke! Itu tidak akan seru" jawabnya, dengan ringan dan bernada jahil. "Tidak inginkah kau bertanya bagaimana keadaan Ayahmu sekarang?" Lanjutnya.


Aku mengepalkan kedua telapak tangan dengan amarah membumbung. Dia sudah sangat keterlaluan, aku akan membunuhnya sekarang.


"You full of **" umpatku. Tidak ada yang bisa mendeskripsikan apa yang aku rasakan saat ini. Pengkhianatan makhluk yang sekarang berdiri di hadapanku membuatku muak, marah dan juga heran.


Oh... aku akan menurutimu. Kau akan sangat menyesal setelah ini.


Belum sempt aku melangkah, tiba-tiba dua orang muncul sambil berlari kemudian berhenti dan berdiri disamping Egon.


Aku bisa mencium aroma darah, ikan mati dan bangkai yang menusuk dari mereka. Vampire--- kedua orang itu vampire.


Aroma mereka jauh lebih buruk dan menyengat daripada semua vampire yang pernah aku temui.


Perutku langsung bereaksi dengan mengirimkan sebagian makananku ke tenggorokan. Aroma mereka memuakkan!!


"Kau bekerja sama dengan mereka untuk menyerang pack ini?" tanyaku dengan rasa jijik, disertai rasa tidak percaya yang tidak terukur lagi. Egon sudah tenggelam begitu jauh dalam perbuatan hina.


Vampire adalah makhluk paling nista dan kotor di dunia inhumane. Mereka adalah satu-satunya makhluk inhumane yang masih diburu tanpa pandang bulu oleh para hunter. Aku tadi berharap jika perkataannya soal vampire hanya alasan agar aku tidak mencurigainya. Tapi ternyata dia jujur.


"Siapa dia?" Tanya salah satu makhluk bau, yang berdiri di sebelah Egon.


Makhluk itu berwajah sangat pucat, rambut pirang keriting kecokelatan miliknya berantakan. Dia mengangkat tangan ke mulut kemudian menjilat jari-jarinya yang berlumuran darah. "Darah werewolf berbau seperti anjing, aku tak berselera meminumnya" lanjutnya, dengan muka kesal.


"Ya!..padahal aku berharap akan minum kenyang malam ini" sahut vampire berambut merah di sisi lain. Egon tertawa kecil mendengarnya,


"Maaf, aku berjanji, jika urusan di sini selesai, kalian bebas berburu siapa pun" kata Egon, tanpa emosi.


Aliran hawa dingin mengaliri tubuhku mendengar mereka. Mereka bukan hanya bermaksud untuk menyerang pack ini, tetapi juga manusia. Aku tidak akan membiarkannya.


"Dia adalah scion pack ini, jika kita melenyapkannya, pekerjaan kita selesai dengan tuntas" Egon kembali menjelaskan kepada kedua vampire itu.


"Oh....!! " Vampire berambut merah itu sekarang menatap dengan penuh minat ke arahku. Pandangan matanya yang menjijikkan, seolah-olah sedang menilai seberapa kuat aku dalam bertarung.


"Kita tidak punya waktu lama...urusan ini harus selesai secepatnya" Rambut pirang berujar dengan nada tegas. Mungkin dia pemimpin kawanan vampire ini.


"Baguslah---karena aku juga ingin membinasakan kalian dengan cepat!!!!" seruku dengan marah. Rasa panas mulai menjalar ke seluruh tubuhku.


Aku memanggil sosok serigala yang ada dalam diriku.


Pandangan mataku mulai berwarna merah!!.... Tapi rasa sakit yang aku tunggu tidak juga datang.


Aku berkonsentrasi mati-matian memanggil wujud lainku lagi.


Tapi----nihil.


What the F*ck is this?! Am I losing my ability to shift?!! What a load of cr*p is this??


Pertanyaan demi pertanyaan muncul dengan cepat di kepalaku.


Saat itulah, tendangan menerpa badanku dan melontarkan tubuhku sejauh 3 meter kebelakang. Aku memuntahkan darah segar ke tanah, rusukku yang memang belum sembuh sempurna, kembali patah.


Menahan sakit, aku bangkit pada saat yang tepat, vampire berambut merah melompat sambil melayangkan pukulan ke arahku. Aku melompat menghindarinya dengan lincah. Aku bukan sasaran yang mudah saat waspada, bahkan jika lawanku vampire.


Meskipun aku dalam bentuk manusia, aku lebih dari mampu untuk menghajarnya.


Dengan cepat, aku meraih tangan yang gagal mengenaiku, kemudian melemparnya dengan sekuat tenaga. Serentetan makian terlontar dari mulutnya, saat punggung vampire berambut merah itu menghantam pohon dengan keras.


Tangan kananku terasa perih karena tiga goresan baru yang panjang dan dalam tercetak di sana. Vampire itu berhasil menggoresku dengan cakarnya.


Aku mendesis kesal, luka cakaran vampire mempunyai daya sembuh yang lambat dan meninggalkan bekas, apalagi dengan keadaanku yang sekarang. Ini buruk!


Aku menoleh ke arah Egon. Di sebelah vampire berambut pirang itu, sekarang berdiri pada keempat kakinya, seekor serigala berwarna abu-abu tua, dengan tinggi yang melampaui vampire itu.


Egon telah bertransformasi.


Lolongan panjang terdengar dari mulutnya. Lolongan tantangan untukku.


"Aku terima!!!" Teriakku, tanpa berpikir panjang dan buta karena amarah. Aku berlari dan melompat kearahnya, tanpa peduli dengan wujudku yang masih manusia. Aku hanya ingin membunuhnya.


Belum sempat aku menyentuhnya, vampire pirang itu berhasil menyambar tangan kiriku kemudian mencoba untuk menendang dadaku lagi. Aku menangkis tendangan itu dengan tangan kanan, kemudian melompat mundur.


Denyutan rasa sakit datang dari tangan yang aku pakai menahan serangannya tadi. Aku meliriknya dan sekarang lenganku berubah warna menjadi kehitaman.


Apakah tulangku patah karena pukulannya? Itu tidak mungkin!!


Vampire seharusnya tidak bisa mematahkan tulang werewolf dengan semudah itu.


Egon menatapku dengan mata menyipit, dia juga melihat tanganku yang sekarang terluka. Aku meludahkan darah dari mulutku dengan muak.


"Cuih.... Dasar pengecut, kau bahkan tidak mau melawanku sendiri, Egon" Aku berseru dengan diiringi tawa sumbang.


Dengusan yang keluar dari moncong abu-abu Egon, aku artikan sebagai perintah untuk menyerang, karena vampire pirang kembali berlari untuk menyerangku.


Aku ingin melompat sekali lagi untuk menghindari tendangannya, tapi sesuatu menahanku. Aku menoleh ke samping dan mendapati vampire berambut merah telah mencengkeram badanku, menahan aku agar tidak menghindar.


Tendangan keras mendarat telak di dadaku lagi. Aku jatuh berlutut dan mulutku kembali memuntahkan darah segar. Ini sangat tidak masuk akal, vampire tidak seharusnya mempunyai kekuatan seperti ini. Aku bisa mendengar derakkan beberapa tulang rusukku yang masih utuh ikut patah.


Tawa kejam vampire rambut merah terdengar di telingaku.


Di hadapanku sekarang berdiri Serigala Egon dan vampire pirang itu. "Ini terlalu mudah" katanya sembari berjalan ke arahku. Melihat pandangan mata itu aku tahu dia akan menghabisiku sekarang.


Aku berusaha bangkit, untuk melawannya lagi.


Dorongan pada bahuku yang kembali ditahan oleh vampire berambut merah, membuatku tetap berlutut. Tanganku yang mencoba meraihnya agar aku bisa bebas juga ditangkis olehnya.


"Dia lebih suka mencabut kepala lawannya saat mereka berlutut" Dengan baik hati, vampire rambut merah itu berbisik di telingaku.


Sekali lagi, aku menghentakkan badan untuk membebaskan diri dari cengkraman di bahuku. Tapi tenagaku telah jauh berkurang sekarang, karena luka yang aku derita. Kedua kakiku juga sudah terasa kebas.


Tiba-tiba, sesosok makhluk menerjang vampire pirang, membuatnya terlontar beberapa meter ke belakang. Kemudian makhluk itu juga menerjang vampire merah karena tekanan pada bahuku menghilang.


Aku menoleh, untuk melihat siapa yang telah datang menyelamatkanku. Seekor serigala besar berbulu warna cokelat kemerahan sedang mencengkeram kepala vampire merah dengan moncongnya.


Detik berikutnya, serigala itu menghentakkan badan, dan kepala vampire itu terpisah dari tubuhnya. Diiringi dengan semburan cairan berwarna hitam. Bau amis darah hitam menyelimuti udara.


"El..." desisku dengan lega.


"YOUUUUU!!!!!....................."


Teriakan amarah terdengar dari sisi lain pertarungan ini. Vampire pirang itu berseru marah, matanya yang sekarang berwarna merah darah memandang El dengan mata membunuh.


El berjalan mengelilingiku sambil menggeram dengan nada rendah. Walaupun aku dalam bentuk manusia, aku tahu dengan pasti arti geraman itu.


"Tidak sekarang" bisikku. Dia pasti bertanya kepadaku kenapa aku masih berwujud manusia. Aku tidak ingin membahas kegagalanku di depan Egon.


El melolong memanggil bantuan. Dia tahu,kemungkinannya untuk mengalahkan Egon sendirian sangat kecil. Bagaimanapun Egon adalah beta di pack ini. Dan lagi vampire merah itu hanyalah vampire rendahan, tapi vampire pirang itu berada di kelas yang lebih tinggi.


Tanpa peringatan Egon melompat dan menerkam El. Mereka berguling-guling di tanah selama beberapa detik. Egon dengan cepat bangkit lagi dan menerjang El. Pertarungan mereka terjadi dengan sengit.


Bunyi langkah kaki berlari mendekatiku, aku bergerak dan berhasil menghindari cengkeraman vampire pirang.


Dia mendesis marah melihatku masih memiliki tenaga untuk menghindar. "I will not give up easily, you piece of **!!!" teriakku.


Aku mengerahkan sedikit tenaga yang tersisa di tubuhku untuk menyerangnya. Beberapa pukulan dan tendanganku mengenainya dengan telak. Tapi vampire itu benar-benar kuat.


Tanpa menghiraukan sakit yang menusuk dada, aku melayangkan pukulan dan tendangan cepat ke arahnya.


Tangkisan dan balasan juga dilancarkannya. Aku bisa merasakan cakarnya berkali-kali menggores punggung dan dadaku, mungkin tidak terlalu dalam, karena aku berusaha menghindarinya secepat yang aku bisa.


Setelah beberapa saat meladeninya, nafasku mulai tersengal, mulutku kembali penuh dengan gumpalan darah. Tangan dan kakiku juga dipenuhi darah yang meleleh dari luka yang aku peroleh dari cakarannya.


Pukulan dan tendangannya mendarat di punggung, wajah, juga di kaki dan tanganku.


Entah masih ada atau tidak, tulang rusuk yang utuh di tubuhku setelah tendangan dan pukulannya mendarat berurutan di dadaku. Syaraf yang ada di tubuhku, sudah tidak mampu lagi menerjemahkan rasa sakit yang menggerusku dengan bertubi-tubi.


Satu tendangan fatal mengenai sisi kiri tubuhku. Aku terlontar beberapa meter kesamping dan menabrak tembok Manor. Kesadaran mulai meninggalkan tubuhku, saat suara dengking kesakitan El membuat hatiku mencelos cemas.


Dari sudut mataku yang sudah remang-remang, aku melihat Egon mencengkeram salah satu kaki belakang El dengan moncongnya lalu memutarnya. Suara gemertak tulang El yang patah mengirimkan rasa dingin ke seluruh tubuhku.


Dalam pandanganku yang semakin gelap, bayangan vampire pirang itu semakin mendekat. Aku bisa mendengar suara tawa kecil mengejek terlontar dari mulut berbau ikan mati itu.


Bee, maafkan aku... Mungkin kita tidak akan bertemu lagi


Maafkan aku, tidak bisa memenuhi janjiku untuk bertemu


Maafkan aku, tidak bisa memenuhi janji untuk selalu bersamamu


Maafkan aku, karena telah membuatmu cemas dan sedih karena kepergianku


I'm sorry Bee.... I love you, you're the one that complete me,


 


 


 


*Niter : Konsentrat hasil olahan getah pohon mapel