
"Morning!!!'"
Suara yang sangat aku kenal, membuatku menoleh dari jendela.
"Oscar!!!!" Aku memekik girang dan berlari menubruknya.
Oscar terkekeh sambil memelukku erat.
"You came!" seruku masih dengan bersemangat. Aku sudah merasa jauh lebih baik karena melihatnya.
"Tentu saja! Kau ingin aku datang bukan?" Oscar melepas pelukannya dan memberiku tatapan bertanya.
"Tentu saja, aku tidak mengenal siapapun di sini"
"Well... Aku sangat sedih mendengarnya, Lui" Myra menyahut dari balik bahuku. Dia memandangku dengan wajah terluka.
"Tidak.. bukan seperti itu maksudku" ralatku, dengan panik .
Aku hanya ingin mengatakan, aku sangat gembira melihat wajah familiar di tempat asing ini. Aku menarik tangan Myra untuk mendekat.
"Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu, tentu saja aku mengenalmu"
Aku merasa bersalah, Myra terlihat benar-benar sedih.
"Ya, aku tahu!' ujar Myra dengan nada datar. Tapi sedetik kemudian dia terkekeh geli. Dia hanya menggodaku rupanya.
"Myra..!!' Aku berseru jengkel.
Tapi dia masih terus tertawa geli. Oscar memberiku pandangan bertanya, sambil menunjuk Myra dengan dagunya.
"Oh.. perkenalkan, ini Myra. Dia yang merawatku selama aku di sini. Dan Myra, aku mohon berhentilah tertawa, ini adalah Oscar, kakakku" ucapku, dengan mulut mengerucut sebal.
"Senang bertemu anda, Mr. Delmora" Myra menyapa Oscar dengan resmi, setelah berhasil menguasai diri dan mengulurkan tangannya ke arah Oscar untuk berkenalan.
"Just Oscar, please!" balas Oscar, seraya tersenyum melihat Myra yang berusaha memasang wajah serius.
Oscar menyambut tangan Myra tanpa ragu.
"Terima kasih telah merawat Lui dengan baik, dia terlihat lebih gemuk sekarang"
"Oscar!!!...." Aku berseru dan mencubit perut Oscar dengan kencang.
Aku memang melewatkan olahraga berenang, tapi itu bukan berarti aku menjadi lebih gemuk. Baru tiga hari ini aku terlepas dari makanan lunak.
"Auwww..." Oscar memekik kesakitan karena cubitan itu, sudah sepantasnya!!
"Baiklah, kalian punya banyak hal untuk dibicarakan. Aku akan meninggalkan kalian berdua sendirian" Myra berpamitan.
"Mmmm.. bolehkah kami berbincang di luar?" tanyaku, dengan ragu.
Aku belum pernah keluar dari kamar selama di sini. Itu berarti aku menghabiskan waktu hampir seminggu berada di kamar.
Kakiku sudah hampir normal dan bisa berjalan tanpa masalah. Asal tidak dalam jarak yang jauh.
Myra terdiam sejenak untuk berpikir, sebelum menjawab.
"Tidak masalah, tapi aku akan meminta orang untuk menjagamu Lui. Manor memang aman, tapi aku tetap tidak bisa melepasmu tanpa pengawalan" Nada suara Myra terdengar sangat serius.
"Sure" Oscar yang menjawab pertanyaan itu, tanpa ragu-ragu.
Myra mengangguk, "Tapi maafkan aku, hanya ada beberapa bagian dari tempat ini yang bisa kalian kunjungi" Myra menatap Oscar dengan penuh arti.
Sekali lagi Oscar mengangguk mendengar permintaan Myra. Apa itu tadi? Mereka jelas membahas sesuatu yang aku tidak tahu. Aku seolah berada di luar lingkaran rahasia itu.
"Nah.. Lui, karena di luar sudah sangat dingin Aku ingin kau memakai mantel tebal yang aku bawakan kemarin" Suara Myra sudah berubah menjadi ceria seperti yang biasa.
"Dia yang menemanimu selama kau disini?" Oscar bertanya padaku, setelah Myra keluar dari kamar. Aku mengangguk sambil berjalan menuju deretan mantel yang disediakan oleh Myra.
"Dia pemilik rumah ini, eh.. dia menyewa rumah ini" terangku.
Aku masih ingat dengan penjelasan Myra, meski aku masih tidak mengerti apa arti tawa geli Myra setelah itu.
"Menyewa?"Oscar bertanya dengan pandangan tak percaya.
Aku ingin menceritakan pada Oscar soal Myra, tapi urung, karena dia sudah kembali masuk ke kamar.
Myra membawa seseorang di belakangnya.
"Perkenalkan ini adalah Dey. Dia yang akan mengawal dan menunjukkan tempat mana saja yang boleh kalian kunjungi" kata Myra.
"Have we meet before?" tanyaku, penasaran.
Aku yakin pernah bertemu dengannya. Pria itu berambut hitam cepak dengan wajah cukup tampan. Mata besar dan alis tebalnya sangat mencolok. Dia terlihat sedikit salah tingkah mendengar ucapanku, wajahnya sedikit memerah,
"Aviary" jawabnya dengan bergumam.
"Aaaaah... ya benar. Aku ingat, Chef di Aviary!"
Aku berseru senang karena berhasil mengingatnya. Duke sangat marah padanya, karena menghidangkan dessert yang mengandung wine.
Ck...Aku seharusnya tidak perlu mengingat malam menyebalkan itu. Segera saja suasana berubah menjadi sedikit tidak menyenangkan. Oscar memandangku tanpa komentar. Tapi matanya menyiratkan sejuta pertanyaan.
"Dia adalah Deyanis. Panggil saja Dey" Myra menengahi perkenalan aneh yang membuat kami canggung.
"Kita keluar sekarang?" Oscar juga memecah kecanggungan itu dan melangkah keluar kamar.
"Nikmatilah waktumu" Myra mengelus pipiku pelan.
Aku tersenyum dan mengangguk, kemudian menyusul Oscar yang telah menghilang dari pintu.
Ini adalah pertama kalinya aku menjejakkan kaki di ruangan lain di rumah ini, dan ketakjuban menyergapku.
Dengan posisi pintu kamar yang berada tepat di depan balkon lantai dua, aku bisa melihat sebagian besar ruangan di lantai satu
Rumah ini sangat besar dan indah. Rumah ini lebih besar dari pada dugaanku ternyata. Aku bisa melihat beberapa lorong dan pintu besar yang entah menuju kemana.
Seluruh interior rumah ini terbuat dari kayu. Bukan fakta yang mengejutkan, karena kamar yang aku tempati hampir sebagian besar terbuat dari kayu kecuali perapian.
Tapi detail dan juga interiornya, membuatku kagum.
Aku melihat satu lagi perapian, dengan ukuran yang lebih besar dari pada yang ada di kamarku. Di depannya, tertata kursi empuk dan sofa yang cantik. Di sudut lain, aku bisa melihat deretan tembok dengan ukiran tribal yang rumit.
Aku bisa menebak, siapapun yang menata ruangan ini ingin menghadirkan kesan yang nyaman. Dan dia berhasil.
Dey mengarahkan kami keluar, tapi dia menunjukkan jalan dalam diam.
Pemandangan di luar rumah tidak kalah mencengangkan.
Pohon-pohon dengan ukuran lingkar yang besar menaungi rumah itu, membuatnya seolah terpayungi dengan kanopi daun.
Sekitar seratus meter dari jalan yang kami lewati, gerbang kayu besar tanpa pintu berdiri kokoh sebagai pertanda jalan masuk ke rumah ini. Gerbang itu juga berhiaskan ukiran daun dan bunga, indah dan rumit, yang pasti unik sekali.
Setelah mengagumi pemandangan sekeliling rumah, Dey berhenti di sebelah timur bangunan utama.
Aku mengenal pemandangan di depanku. Taman samping yang berada tepat di bawah kamarku. Tempat aku melihat Duke dan wanita itu beberapa hari yang lalu.
Dey mempersilahkan kami untuk duduk di bangku-bangku taman yang tersebar di bawah pohon.
"Tidak adakah tempat lain selain disini?" Tiba-tiba aku merasa kesal.
Aku tidak ingin mengulang apa yang dilakukan Duke dengan wanita itu.
"Kenapa?" tanya Oscar, "Tempat ini sangat bagus menurutku"
"Eh.. tentu saja tempat ini memang bagus" Akul menghempaskan tubuh ke atas bangku. Sadar aku tidak punya alasan apapun untuk membenci tempat ini.
Tapi aku tetap memilih bangku yang lain. Konyol memang, tapi hal itu membuat suasana hatiku menjadi sedikit lebih baik.
"What's wrong with you?" Oscar heran, melihat perubahan suasana hatiku.
"Nothing!!" jawabku.
"Aku tahu itu bohong, tapi aku juga tahu, kau akan membenciku jika aku memaksamu menjawab" ujarnya memandangku dengan senyum kecil.
"Yup... and that's why we need to talk about something else" Mengalihkan pembahasan adalah cara yang tepat untuk menanggulangi rasa kesal yang tidak tentu arah ini.
Aku sama sekali tidak bisa mengerti, apa yang membuatku kesal melihat Duke dengan wanita itu. Mereka bebas melakukan apa saja yang mereka suka.
Itu bukan urusanku!!
"Aku benar-benar senang kau baik-baik saja disini Lui" Oscar mengelus pelan lenganku.
"Yes, I'm fine, tapi kalian berhutang penjelasan padaku. Myra tidak mau mengatakan apapun dengan alasan, aku belum cukup kuat, tapi aku ingin jawaban darimu Oscar!" Aku berusaha terdengar sangat tegas.
Sudah waktunya aku mendapat jawaban. Aku tidak bisa memaksa Myra untuk bercerita, tapi aku bisa merengek pada Oscar.
Oscar mendecak kesal, dia tahu apa yang akan menimpanya jika aku mulai merengek. " Tidak perlu seperti itu, aku akan menjawab pertanyaanmu"
"First, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang-orang yang ada di dalam hutan itu? Yang aku tahu pasti mereka bukan manusia----er seperti Duke" tambahku, dengan sedikit ragu.
Aku melirik Dey, dia berada sekitar 10 meter dari tempat kami duduk. Aku rasa dia tidak akan mendengar percakapan kami.
"Kau bahkan tidak terkejut!! Kau sudah tahu Duke bukan manusia" seruku, Wajah Oscar tetap datar mendengar fakta luar biasa itu.
"Kau sudah tahu Duke bukan manusia?" tanyanya.
Jawaban yang aku nanti malah berganti menjadi pertanyaan lain.
"Duh.. tentu saja aku tahu. Dia berubah---menjadi---menjadi apapun itu di hadapanku" Agak sedikit sulit menjelaskan perubahan wujud lain Duke dengan kata-kata, terlalu menyeramkan.
"Kau tahu itu dan kau tetap berada di sini dengan rela?"
"Aku yang seharusnya banyak bertanya Oscar, kenapa malah kau yang sekarang menghujaniku dengan pertanyaan?" sungutku
"Karena yang terpenting untukku adalah keselamatan dan kebahagianmu Lui" jawabnya dengan sabar.
"Maksudmu aku akan selamat disini bukan? Myra juga mengatakan hal itu. Dan aku mengerti, tapi aku perlu tahu kenapa aku dalam bahaya. Kenapa mereka menipuku dengan proposal itu?"
"Karena kau spesial, mereka ingin mendapatkan sesuatu dengan menyakitimu" Oscar mendadak muram.
Alasan absurd macam apa itu? Special? Aku special?
"No, I'm not. Aku sama sekali tidak special. Aku biasa saja" sanggahku. Sejak kapan aku spesial?
"Menurut mereka tidak!"
"Apa yang mereka inginkan dariku?" tanyaku, tak habis pikir.
Apa yang mereka dapat dari membunuhku?
"Sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan, kecuali kau menginginkan aku berbohong" Oscar menjawab dengan raut menyerah.
"Kau terdengar menggelikan Oscar. Kau mengatakan hidupku terancam, tetapi aku tidak bisa tahu apa yang menyebabkannya? Jika ini berkaitan dengan keselamatanku, aku berhak tahu!" Kesabaranku mulai habis.
"Listen to me Lui. Aku bukannya ingin menyembunyikan hal ini darimu, tapi aku ingin kau mengambil keputusan tidak berdasarkan hal ini. Jalan pikiranmu akan sangat terpengaruh jika kau tahu alasan yang sebenarnya"
Perkataan Oscar membuatku semakin bingung. Mengambil keputusan tentang apa?
"Aku ingin kau mengikuti perasaanmu dan memutuskan hal itu dengan alamiah. Tanpa pengaruh siapapun atau paksaan. Terutama bukan hanya karena kau merasa hidupmu terancam"
Oscar bangkit dari duduknya dan mulai berjalan mondar-mandir dengan wajah serius.
"Oscar penjelasanmu sama sekali asing di telingaku, aku tidak mengerti apapun maksudmu. Aku akan mengambil keputusan tentang apa?" Mataku mengikuti langkah kaki Oscar di depanku.
"Ya Tuhan... ini sulit sekali!!" Oscar bergumam pelan, tapi aku mendengarnya.
Hal apa yang membuatnya begitu kebingungan?
"Maaf Lui, tapi aku tidak tahu lagi harus memberi penjelasan apa. Yang harus kau tahu adalah tempat teraman bagimu saat ini adalah di sini. Aku berjanji, jika setelah semua ini selesai------hmm maksudku semua orang yang menginginkan kau terbunuh sudah tamat. Jika setelah itu kau ingin pulang, aku akan dengan senang hati menjemputmu"
Oscar kembali mencoba untuk menjelaskan, tapi kadar kejelasan yang aku inginkan, masih jauh dari memadai..
"Tentu saja aku akan kembali, kau aneh sekali!'
Tapi melihat wajah Oscar yang sangat kebingungan, aku menjadi tidak tega. Aku sangat mengenal Oscar, dan aku sangat jarang melihatnya kehilangan arah seperti sekarang.
"Baiklah, aku mengerti , jika kau ingin aku berada di tempat ini karena tempat ini yang paling aman sekarang, tapi bisakah kau memberi prediksi sampai kapan aku harus berada disini?"
Aku menyerah, aku tidak suka melihat Oscar terbebani dengan segala keruwetan masalahku. Hidupnya sudah cukup rumit.
"Apakah kau akan marah jika aku bilang 'aku tidak tahu'?"
"Tentu saja, kau orang paling pintar yang aku kenal. Bagaimana kau bisa menjawab tidak tahu?"
Sedikit amarahku kembali memercik. Bagaimana tidak? Tidak satupun pertanyaanku dijawab olehnya.
SRATT....!! Suara semak daun bergesekan, membuat kami terperanjat.
Dey tiba-tiba berlari menuju pojok taman dan menghilang.
Oscar menarikku berdiri dengan waspada, sesaat dia memandang ke arah Dey menghilang, lalu dia menyeretku ke arah rumah.
"Ada apa?" tanyaku kaget, lupa dengan segala amarahku pada Oscar.
Tidak menjawab,Oscar menarikku, menerobos taman, mengikuti jalan kecil menuju rumah.
----------- *0o0*----------
"Kapan?" tanyaku.
"Besok, temui aku besok" Abel menegaskan waktunya sekali lagi.
Aku mengangguk mengerti, sebelum sadar Abel tidak bisa melihat anggukan itu, kami berbicara melalui telepon.
"Baiklah, aku memang harus mengantar seseorang ke kota besok" jawabku.
"Good" jawab Abel dan kemudian memutus panggilannya.
Abel akan mendiskusikan beberapa hal tentang Crispin dan pasukannya, aku tentu saja tidak akan menolak.
Besok aku harus mengantar Oscar keluar dari pack, aku hanya harus berangkat lebih awal.
Kisah yang diceritakan Oscar tadi malam membuatku menyadari banyak hal. Selama ini aku tidak mempersoalkan sifat dan sikap Bee yang sedikit naif, karena menurutku hal itu adalah pesona Bee yang lain.
Tapi hampir seluruh penyebabnya terjawab sekarang. Dia memang dibesarkan untuk menjadi seperti itu. Aku tidak mengeluh, tapi latar belakang yang menjadikan Bee seperti tetap membuatku marah.
Bagaimana bisa ayahnya memperlakukan Bee seperti itu? Aku menemukan satu orang lagi untuk dibenci ternyata. Aku tidak akan pernah membiarkannya mendekati Bee setelah ini.
Manusia sakit!!
Aku menghempaskan tubuh di tempat Oscar tidur tadi malam, tapi pemandangan yang ada di pintu kaca di depanku, membuatku bangkit lagi.
Itu Oscar dan Bee, mereka berjalan terburu-buru menuju ke arahku dengan wajah panik.
Aku bergegas membuka pintu geser kaca itu.
Tidak menyangka pintu itu akan terbuka, perhitungan langkah Oscar menjadi salah, menghambur masuk begitu saja dan terjatuh .
Dengan sigap, aku menangkap tubuh Bee, sebelum dia mencium lantai.
Dan... aroma memabukkan milik Bee, memenuhi hidungku tanpa bisa aku tahan.
Aroma itu sesaat menenggelamkan aku, dalam rasa nyaman dan rindu.
Tapi umpatan Oscar di sebelah, yang terjatuh ke lantai dengan telak, membuyarkan ilusi indah yang mulai terbentuk di kepalaku.
"Kau terluka?" Aku bertanya dengan sedikit tercekat, di telinga Bee.
Bee yang tersadar, jika sedari tadi dia mencengkeram tubuhku, segera menarik tangannya. Dia mundur beberapa langkah. Matanya memandang ke lantai, tapi bukan ke tempat Oscar terjatuh. Dia hanya ingin menghindari pandanganku.
Dia masih takut Duke!!!
Tentu saja dia tidak ingin memandangku, batinku dengan murung. Bee kembali mengambil langkah mundur. Memperbesar jarak diantara kami.
"Ada apa?"
Aku mengalihkan perhatian pada Oscar yang kini telah berdiri. Memandang Bee hanya menambah dalam tusukan di jantungku, karena sikapnya yang ketakutan itu.
"Pengawal itu, dia tiba-tiba berlari menghilang ke arah sana" Oscar menunjuk ke arah pojok taman yang juga merupakan pintu keluar bagi Omega. Ada sesuatu di sana.
"Kau tahu jalan kembali menuju kamar Bee?" tanyaku, pada Oscar.
Dia mengangguk sambil mengatur nafasnya.
"Bawa Bee ke kamar, dan tetap di sana sampai ada kabar selanjutnya!"
Tanpa menunggu jawaban, aku langsung berlari keluar mengikuti aroma Dey.
Aku akan menghubungi Mom, memintanya untuk menjaga Bee dan Oscar di kamar. Jika memang ada musuh sedekat ini, itu hanya berarti satu. Uncle Rex benar, Egon masih meninggalkan beberapa werewolf pengkhianat di sini.
Sesampainya di pintu, aku melihat Dey berjalan kembali menuju Manor. "Apa yang kau lihat?"
"Tadi ada seseorang yang mengintip ke dalam melalui pintu, Scion. Tapi saya tidak mencium siapapun mendekati taman, karena itu saya kesulitan melacaknya. Dia berlari kencang menuju pasar" Dey menunjuk ke arah timur.
Cerdik, tempat itu akan menjadi persembunyian yang bagus untuk werewolf. Puluhan sampai ratusan werewolf berada di sana di waktu seperti ini.
"Apa lagi yang kau temukan?"
"Maafkan saya, tapi hanya itu. Aroma werewolf lain yang tertinggal di daerah sini sangat kuat" katanya, sambil menunduk.
Aku tidak menyalahkannya. Jalan di samping Manor, adalah jalan utama menuju pemukiman Gentry. Ada berpuluh-puluh orang yang melewatinya setiap hari. Hampir mustahil menemukan jejak di jalan itu.
Tapi aku bisa melakukannya!! Aku menyuruh Dey menunjukkan dimana dia melihat pengintip itu.
Aku menunduk dan mengambil nafas panjang, memilah-milah aroma yang baru di sekitarnya. Berbagai macam aroma werewolf membuatku nyaris bersin.
Tapi itu adalah aroma biasa di pack, dengan perlahan sekali lagi aku menarik nafas, dan memilah aroma yang aku anggap paling kuat.
Tetapi nihil--- mereka memakai ramuan penghilang bau yang lebih kuat.
Those f*ckhead finally thingking stright. Mereka belajar dari kegagalan menjebak Bee.
Siapapun pengintai itu, mereka tidak akan terlacak, karena hidungku gagal mencari jejaknya.
Aku mengumpat sekali lagi. Aku harus segera menghubungi Uncle Rex, dan berharap dia memiliki petunjuk tentang siapa pengkhianat yang masih ada dalam pack.
----------- *0o0*----------
Detak jantungku yang menggila membuatku sedikit kesulitan untuk bernafas.
Aku menarik nafas panjang untuk meredakannya. Oscar menuntunku duduk di sofa setibanya kami di kamar.
"Kau baik-baik saja? Wajahmu sedikit memerah" Dengan khawatir, Oscar menempelkan telapak tangannya di keningku.
"I'm fine. Aku hanya terkejut"
Aku bersyukur, karena saat aku menjawab, Oscar telah bangkit dan berjalan menuju meja di sebelah ranjangku untuk mengambil minuman.
Jika tidak, dia akan tahu aku telah berbohong. Aku tahu pasti, detak jantung yang menggila ini, bukan karena apapun yang terjadi di taman.
Jantungku menggila karena----Oh God..!!
Aku bisa merasakan wajahku semakin menghangat. Ujung jariku yang tadi menyentuh tubuh Duke, masih bergetar hebat. Aku meremas telapak tanganku karena merasa terkhianati.
Tangan itu bergetar bukan karena takut, apalagi terkejut, tapi karena gembira.
Sebagian besar benakku yang tidak tahu malu, bersorak bahagia karena kejadian tadi. Pelukan Duke saat mencegahku jatuh, meninggalkan bekas hangat dan menggelenyar di seluruh tubuhku.
Aku pasti telah menjatuhkan beberapa butir baut otak, yang membuatku tidak waras sekarang.
"Minumlah!" Oscar mengulurkan segelas air, yang aku terima dengan senang hati.
Berdebatan di dalam otak membuatku haus. Segelas air sangat membantu meredakan emosi yang tidak pantas aku rasakan itu.
Oscar berjalan menuju tembok kaca besar dan berusaha membukanya. Aku menghampiri tombol di sebelah jendela dan menekannya pelan.
Tembok itu bergeser membuka. "Kenapa..?" Oscar memandang kaca yang bergerak membuka, dengan heran. Memasang alat pembuka pada tembok bukan kebiasaan yang lumrah.
Aku hanya mengangkat bahu karena juga tidak mengerti apa tujuan memasang alat seperti itu pada kaca.
Oscar berjalan ke ujung balkon dan memandang ke bawah. Aku mengikutinya dan di bawah sana, aku melihat Duke dan Dey.
Mereka sedang berdiri di dekat pagar dan membicarakan sesuatu. Kemudian Duke menunduk dan menjulurkan kepalanya seperti sedang berusaha untuk mencium sesuatu. Apa yang sedang dilakukannya?
Ah... tentu saja!
Mungkinkah penciuman Duke juga tajam seperti serigala? Jika iya, itu keren sekali!!
"Dia benar-benar berbeda dengan manusia" gumamku tanpa sadar.
Oscar mengangguk, dengan mata tidak lepas menatap Duke yang sekarang berjalan kembali ke arah rumah.
"Duke adalah werewolf, mereka menyebutnya seperti itu" ujar Oscar, seolah menjawab pertanyaan di kepalaku.
"Duke? Werewolf?" ujarku menegaskan. Oscar mengangguk.
"Mereka adalah inhumane. Makhluk cerdas selain manusia yang menghuni dunia ini"
"Inhumane? Maksudmu mereka..."
"Aku akan jelaskan" Oscar memotong pertanyaanku.
Dia menyandarkan tubuhnya dengan santai di pagar.
"Seperti yang aku sebutkan tadi, Inhumane adalah makhluk yang memiliki kecerdasan sama dengan manusia, yang menghuni dunia ini. Dan werewolf adalah salah satunya."
"Masih ada yang lain?" tanyaku, dengan nada meninggi karena kaget.
"Sejauh ini aku hanya tahu tentang werewolf, vampire, pernyihir dan juga Elf, tapi mungkin masih ada jenis lain yang aku tidak tahu" jawabnya.
"Vampire? Makhluk apa itu?" Aku semakin penasaran.
"Lui, kau dengan sangat mudah mengetahui jawabannya dengan mesin pencari di ponselmu. Aku malas menerangkan hal membosankan seperti itu" Oscar mendecak dengan tidak sabar.
"Ah...I don't have it" Aku tersadar, selama aku berada di sini, belum sekalipun aku memegang ponsel.
Terakhir kali aku melihatnya, ponsel itu berada di dalam tas yang tertinggal di mobil Duke.
Oscar menggeleng tak percaya. Dia menarik ponsel di saku dan menyerahkannya padaku. "Pakailah ini untuk sementara".
"Bagaimana denganmu?" Ponsel adalah barang yang sangat penting untuk seorang pengusaha.
Oscar membuka mantelnya, dan meraih dua ponsel yang terselip di saku..
Aku tertawa, tidak percaya dia membawa tiga buah ponsel sekaligus. "Hey...aku memerlukan semua itu" katanya sambil tersenyum.
Aku membuka browser di ponsel Oscar dan mulai mengetikkan pencarian untuk kata 'werewolf'. Banyak artikel yang muncul, aku memilih yang palling atas dan mulai membaca.
'Manusia serigala likantrof atau likan adalah sebuah dari kuno berupa setengah manusia dan setengah manusia . Konon manusia serigala akan berubah pada saat tiba saat kekuatan mistiknya mencapai puncaknya yaitu pada bulan purnama. Dalam mitologi tersebut, manusia serigala senantiasa akan memburu manusia dengan liar. Manusia serigala hanya bisa mati jika ditembak dengan peluru perak'
"Ini menyeramkan!"
Menurut artikel itu werewolf adalah monster haus darah. Dan terus terang saja, walaupun aku telah melihat bagaimana Duke meledakkan kepala seseorang, Duke sama sekali tidak terlihat haus darah, tindakannya terkendali dan penuh perhitungan.
Artikel itu masih panjang. Tapi semakin aku membaca, sosok werewolf yang di gambarkan artikel itu semakin jauh dari sosok Duke.
Oscar melirik ke arah layar ponsel dan tersenyum. "Karena itu adalah legenda ngawur yang di tulis oleh manusia, Lui" katanya.
"Werewolf memang bukan manusia, tapi mereka bukan monster. Beberapa mungkin iya, seperti werewolf yang menyerangmu di hutan. Tapi seperti manusia, tidak semua werewolf bersifat jahat" jelasnya.
Aku mengangguk mengerti. Aku membaca artikel itu dan sekarang merasa kalau tulisan itu sangat konyol. Aku melihat bagaimana Duke berubah menjadi serigala pada tengah hari. Jelas tidak ada bulan purnama saat itu.
"Selama ini para makhluk inhumane menyembunyikan keberadaan mereka dari manusia. Mereka hidup dalam bayangan, dan kedalaman hutan seperti di sini. Tapi terkadang ada beberapa manusia yang bertemu dengan mereka. Tapi sudah pasti cerita mereka dianggap tidak masuk akal. Karena itu kisah makhluk inhumane hanya dikenal sebagai legenda atau mitos. Artikel yang kau baca tadi hampir benar, tapi sebagian besar itu adalah fantasi dari penulisnya"
"Tapi kenapa mereka harus hidup dalam persembunyian? Mereka bukan monster, hanya makhluk yang memiliki kondisi unik. Seharusnya itu bukan masalah" Menurutku itu tidak adil. Mereka hanya sedikit berbeda dari manusia.
"Itu bukan salah mereka Lui. Tapi karena kita. Manusia saat ini adalah populasi yang paling besar diantara semua makhluk cerdas di bumi. Dan manusia adalah makhluk yang sangat serakah. Apa yang kau kira akan terjadi jika mereka tahu tentang dunia inhumane?"
Aku berpikir sejenak. Manusia dan werewolf?
"Mereka akan memburunya?" jawabku dengan ragu. Hanya itu yang bisa aku pikirkan saat ini.
"Itu bisa terjadi, kemungkinan lainnya adalah, manusia akan berusaha untuk menjajah dan menguasai mereka. Dan kemungkinan paling buruk, mereka akan mengubah inhumane menjadi senjata pembunuh" Oscar bergidik dengan jijik membayangkannya.
"Tapi itu tidak mungkin! Werewolf jauh lebih kuat dari pada manusia" bantahku.
Sulit membayangkan Duke berada di bawah kekuasaan seseorang, dengan tubuh raksasanya itu.
"Kau lupa Lui, manusia memang lemah, tapi manusia memiliki keunggulan dalam jumlah dan juga teknologi. Makhluk inhumane rata-rata mempunyai usia yang lebih panjang dari manusia, tetapi laju pertumbuhan populasi mereka sangat lambat. Dalam masa hidupnya manusia bisa memiliki puluhan keturunan, tapi sebagian besar inhumane hanya bisa memiliki satu atau dua. Jumlah mereka tidak akan pernah melewati jumlah manusia" terang Oscar.
"Jika memang terjadi perang antara manusia dan inhumane, aku ragu mereka akan menang. Apalagi dengan kemajuan senjata temuan manusia yang semakin mengerikan" Oscar menutup penjelasannya dengan tarikan nafas panjang dan gidikkan ngeri.
Aku mengangguk mengerti. Masalah itu tidak sesederhana yang aku pikirkan. Dan terus terang saja kapasitas otakku mulai tidak sanggup mencernanya.
Gerakan di taman, membuat kami memandang ke bawah dengan tertarik. Seorang wanita dengan penutup kepala melewati taman dan berjalan keluar pagar.
Aku belum pernah berbicara dengan penghuni rumah ini selain Duke, Myra dan Dey.
Tapi aku bisa melihat kelebatan beberapa pelayan yang mengantar makanan untukku di pintu. Aku rasa dia adalah salah satunya. Apakah mereka tahu jika Duke adalah werewolf?
"Apakah semua manusia yang bekerja di rumah ini mengetahui Duke adalah werewolf?" tanyaku dengan penasaran. Myra jelas tahu karena dia menjelaskannya padaku kemarin dulu.
Oscar terkekeh pelan sambil memandangku. Aku mengernyitkan kening, apa yang salah dari pertanyaanku?
"Lui, kamu masih tidak sadar? Semua manusia yang kau lihat di sini adalah werewolf. Rumah ini..ah bukan, lingkungan tempat rumah ini berdiri adalah pack werewolf. Dan Duke adalah penguasa di sini"
Aku nyaris menjatuhkan ponsel yang aku genggam ke lantai mendengar itu.
"Tidak mungkin!!" bantahku.
Myra, Dey?? Mereka juga?
"Tapi.. mereka ter--terlihat biasa" tambahku, tergagap karena masih tidak percaya.
"Tentu saja mereka terlihat biasa, mereka akan terlihat luar biasa hanya ketika mereka berubah. Kau tahu bagaimana wujudnya!" Oscar tersenyum kecil memandangku yang masih tidak bisa menutup mulut karena terkejut.