Finding You, Again

Finding You, Again
Us 29 - Cute Day and Assignment



"Astaga!!! Apa yang terjadi?"


Blackmoon berubah menjadi terang benderang.


Ratusan lampu kecil berwarna, disusun mengulir di pohon-pohon pinggir jalan, sehingga membentuk untaian cahaya yang indah. Sementara salju putih di tanah, memantulkan warna-warni pelangi lembut.


Suasana sepanjang jalan pack, seolah sedang mengadakan festival. Tidak hanya lampu yang mencolok, bangunan toko, pemukiman, bahkan rumah sakit juga berhias dengan berbagai pita berwarna-warni, patung dan lentera yang digantung.


Aku hanya bisa ternganga melihat pemandangan indah dan ceria di depanku.


"Kita akan mengadakan dua perayaan besar Lui, pernikahan dan juga penobatan Alpha. Tentu saja mereka ingin merayakannya semeriah mungkin" Myra menyahut dari tempat duduknya di depanku.


Aku dan Duke memandang keluar jendela mobil nyaris tanpa berkedip.


"Aku tidak tahu perayaan penobatan Alpha semeriah ini!" Kata Duke masih dengan mata memandang keluar.


Duke belum pernah menghadiri penobatan Alpha, karena ayahnya diangkat sebagai Alpha jauh sebelum dia lahir.


Myra bercerita padaku kemarin,saat aku bertanya bagaimana prosesi pengangkatannya secara detail. Duke tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan saat aku bertanya padanya.


"Hmmm... aku rasa mereka sedikit lebih bersemangat dari biasanya. Bagaimanapun, Zhena baru mereka adalah manusia. Itu belum pernah terjadi"


Myra kembali mengutarakan pendapatnya, yang malah membuat perutku tidak nyaman karena takut dan gugup.


Segalanya mulai terasa nyata ketika hari pernikahanku semakin mendekat. Aku tidak akan mundur, tapi bukan berarti aku tidak merasa takut.


Aku tidak bisa membayangkan kehidupanku sebagai Zhena. Aku sama sekali tak pernah bermimpi memiliki warga untuk diperintah, apalagi mereka bukan manusia.


Myra dan Duke berkali-kali meyakinkan aku, itu tidak akan menjadi masalah, dan mereka akan terus ada disampingku untuk membantu. Aku lega dan senang mendengar janji itu, tapi di saat seperti ini, rasa khawatir jika aku akan mengacaukan semuanya, terbit dalam hatiku.


Tangan kiriku tiba-tiba merasakan hangat yang nyaman, tangan Duke menggenggamnya dengan lembut.


Apa dia tahu aku sedang merasa khawatir?


Duke tidak berkata apa-apa, tapi genggamannya memberiku ketenangan lebih dari kata penghiburan Myra.


Drttttt!.....


Ponsel Duke yang tergeletak di meja bergetar menunjukkan panggilan masuk.


"Yes!" jawabnya dengan wajah datar.


Siapapun yang menelponnya pasti untuk urusan serius, karena beberapa menit kemudian, wajah Duke terlihat tegang.


"Tentu saja!" katanya lagi menanggapi.


"Aku mengerti, aku akan menghubungi setelah semua siap!" Dan kemudian dia mengakhiri pembicaraan.


Matanya sekarang menjadi tidak fokus karena memikirkan sesuatu, sampai ketika mobil yang kami tumpangi berhenti di depan Manor. Wajahnya langsung berubah biasa dan menarikku turun.


"Antar Lui ke kamarnya dan biarkan dia istirahat!" Myra berkata pada Duke, yang dijawab dengan dengusan olehnya.


Aku tahu wajahku telah memerah, karena Myra melemparkan senyum jahil sambil berjalan masuk.


"El, kita harus bicara. Panggil Roan dan juga hubungi uncle Rex!" Duke mengalihkan pandangan pada El yang baru muncul setelah memarkir mobil. El mengangguk dan berlalu.


"Kau menyukai pemandangannya?" tanya Duke sambil menunjuk ke sekeliling Manor yang juga telah penuh hiasan menawan.


Di halaman Manor sekarang berdiri patung es serigala yang cantik. Serigala yang menunduk sambil memandang anak-anak serigala kecil mengelilingi kakinya. Patung itu dilengkapi lampu temaram yang menyempurnakannya.


"Ya.. ini indah sekali!"


Aku memandang patung itu dan juga sekelilingnya. Berbeda dengan suasana di jalanan, lampu dan juga kain yang menghias Manor, di dominasi oleh warna putih dan biru pastel lembut. Aku rasa dekorasi di dalam Manor lebih diperuntukkan ke pesta pernikahan.


"Bagaimana kalau kita berkeliling?" usul Duke, sambil memandangku penuh harap.


"Eh.. bukankah kau akan berbicara pada El?" tanyaku heran, tadi dia ingin bertemu Roanna juga.


"Aaah jangan khawatir, mereka akan menungguku" sahutnya enteng, sambil berjalan keluar gerbang Manor tanpa rasa bersalah.


Aku merasa ini bukan ide yang bagus. Roan pasti akan marah. Tapi Duke tidak peduli dengan resiko itu.


Dia memandang ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya menarikku ke arah kiri Manor dan berjalan menyusuri jalan berbatu yang telah bersih dari salju.


"Apakah kau membutuhkan mantel lagi? Suhu udara akan semakin menurun" Duke mulai membuka mantel yang dipakainya hanya untuk terlihat wajar, dan menyelimutkannya padaku.


Hanya tersisa sweater turtleneck tipis di badannya. Tapi itu bukan masalah untuknya, dia tidak terlihat kedinginan.


"Thanks" ucapku dengan bibir sedikit bergetar.


Salju yang sempurna selalu datang dengan udara yang menggigit, tapi aku tetap menyukainya. Dan tanganku yang kini berbalut sarung tangan dan juga tangan Duke, memberiku kehangatan yang menyenangkan.


Dingin tidak akan menggangguku malam ini.


Pemandangan pack yang tidak biasa, segera merampok sebagian besar perhatian kami. Aku memandang patung-patung es berbagai bentuk yang bertebaran di setiap sudut. Segala jenis hewan, manusia dengan berbagai pose dan juga pohon dan tanaman, semua terbuat dari es.


Aku bertanya pada Duke tentang beberapa hal yang menarik perhatianku. Dan Duke menjelaskannya dengan senang hati. Beberapa kali dia tertawa karena aku tidak bisa menahan rasa antusias dan terus berseru kagum karena pemandangan yang aku lihat.


Kami menyusuri jalan pack yang masih ramai dengan orang berlalu-lalang, karena malam dan udara dingin sama sekali bukan masalah bagi mereka.


Semua warga yang berpapasan dengan kami, menundukkan kepala memberi hormat kepada Duke, dan dia akan membalas mereka dengan anggukan kecil ramah, tapi penuh wibawa.


Aku semakin sadar bahwa Duke memang dilahirkan untuk ini.


Dia menerima semua penghormatan itu tanpa rasa canggung, kemudian kembali berbicara santai menjelaskan semua hal yang aku lihat. Luar biasa sekali!


Mengingatkanku akan Oscar, yang berbicara mengenai bisnis dan juga mengelola perusahaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka berdua sangat mirip dalam hal ini.


"Ah---aku ingin bertanya satu hal padamu, aku mendengar sedikit dari Oscar, tapi aku menjadi penasaran sekarang." kata Duke, sambil memandangku penuh selidik.


"Soal apa?"


"Zenobia Terence, kata Oscar kau menyelamatkannya dari seseorang" jelas Duke, tanpa berkedip.


"Oh.. itu sedikit berlebihan Duke, aku hanya membelinya. Aku sama sekali tidak tahu perbuatanku akan menjadi drama yang pantas dibahas" Aku sedikit malu mengingat perbuatan nekat itu.


"Membeli? Kau membelinya?" Duke berseru.


Selain penasaran, aku bisa melihat sedikit rasa jengkel di matanya.


Tunggu dulu! Kenapa dia tertarik sekali dengan masalah ini? Apakah dia..--? Itu tidak mungkin.


"Apa kau cemburu?" tanyaku dalam canda dan senyum.


"Tentu saja!!" jawab Duke dengan cepat tanpa keraguan, membuatku kehilangan kata-kata.


Aku yang berusaha menggodanya, tapi kenapa aku yang merasa malu dan memerah?


"Itu bukan hal yang pantas untuk dicemburui Duke"


Aku lalu menceritakan kejadian saat pesta itu yang berakhir dengan kekacauan. Duke mengangguk-angguk mengerti, perasaannya terbaca dengan jelas di raut wajahnya yang kini mulai ceria lagi.


"Kau benar, aku tidak perlu cemburu" putusnya sambil tersenyum lebar.


He's really cute!! batinku, memuja.


Bagaimana bisa suasana hatinya berubah drastis hanya karena cerita aneh seperti itu?


Duke meninggalkanku sebentar untuk masuk ke sebuah bangunan yang terlihat seperti kedai makan, dengan meja berjejer dan kursi yang penuh orang makan. Tak lama dia keluar sambil membawa minuman mengepul dalam cangkir kertas.


Aku mencium aroma coklat panas yang lezat.


Aku tersenyum gembira menerima uluran gelas itu dan menghirup aromanya dengan pelan. Hangat dan menyenangkan.


"Kau tak pernah bosan dengan coklat" kata Duke, sambil tersenyum kecil mengangkat gelas di tangannya ke mulut.


"Dan kau tidak pernah bosan dengan kopi hitam" sahutku, mencium aroma kopi giling dari gelasnya.


Duke terkekeh pelan, tapi kemudian mengernyit melihat ke arah seberang jalan. Seorang anak kecil dengan rambut hitam panjang berlari ke arah kami sambil tersenyum lebar.


"Scion...!!" serunya menghentikan langkahnya di depan Duke dan menatapnya sambil mendongakkan kepala.


"Mada?!" kata Duke, setelah beberapa detik berpikir.


Gadis itu mengangguk dengan bersemangat. "Mana ibumu? Apakah kau lari darinya lagi?"


Duke berjongkok untuk untuk menyejajarkan pandangan Mada, karena gadis kecil itu terus mendongak sedari tadi.


Sekali lagi dia mengangguk menjawab pertanyaan Duke, tersenyum memamerkan gigi depannya yang hilang satu. Duke terkekeh geli melihat jawaban Mada.


"Kau mengenal gadis manis ini?" tanyaku, sambil berjongkok di samping Duke.


"Ya, kami pernah bertemu" jawab Duke, sambil mengacak-acak gemas rambut hitam Mada.


Aku tak heran, karena gadis ini manis sekali.


Tiba-tiba dia menunjukku.


"Apakah dia Zhena kita yang baru Scion?" tanyanya dengan nada polos.


"Kau benar Mada" jawab Duke.


Gadis kecil itu mengalihkan pandangannya padaku. Dia memandangku dengan seksama, kemudian memamerkan senyum ompongnya padaku.


Aku tertular dan segera saja tersenyum melihat wajah imut itu.


"Kata Ibuku, Zhena kita yang baru sangat cantik" katanya dengan mata berbinar.


"Hanya kata Ibumu? Lalu bagaimana menurutmu?" Duke bertanya sambil melirikku jahil.


Aku memberi Duke sikutan tak berarti -- sikutku terasa seperti menabrak tembok-- di samping perutnya.


"Cantik, rambutnya cantik sekali" jawabnya sambil menatap kepalaku dengan mata berpendar ceria.


Jawaban polos itu kembali membuatku tersenyum, dia pasti penasaran dengan warna rambutku, karena hampir seluruh warga pack memiliki rambut hitam atau coklat sangat gelap seperti El.


Aku menundukkan kepalaku di depan wajahnya "Apa kau ingin menyentuhnya?" tanyaku.


Anggukan bersemangat dan uluran tangan kecilnya muncul sebagai jawaban. Sambil terkikik senang, dia mengelus rambutku.


"Halus---halus sekali" seru Mada.


"Aku!!"..... "Aku!!" tiba-tiba beberapa teriakan kecil ceria menyahut dari belakangku.


Tanpa aku sadari, segerombolan anak kecil ternyata sudah mengerumuni kami.


Tidak hanya mereka, beberapa orang dewasa juga berdiri bergerombol, sedang memandangi kami --sebagian besar memandangku-- dengan penasaran.


Aku mulai dilanda kepanikan tanpa tahu harus berbuat apa.


"Hmmm......" Duke bergumam sebentar disampingku, kemudian berdiri dan menepukkan tangannya ke udara.


"Bagaimana jika kalian berbaris dengan rapi? Aku akan mengijinkan kalian mengelus rambut pirang cantik milik Zhena, dan setelah itu kalian boleh meminta segelas susu maple* hangat dari Mrs. Beatrice. Katakan padanya Scion yang akan membayar" kata Duke, sambil menunjuk kedai tempat dia mendapatkan cokelat untukku tadi.


Sorakkan ceria langsung membahana. Kaki-kaki kecil mulai berbaris rapi di hadapanku. Mereka semua melihatku dengan mata membulat bersemangat. Aku tertawa terbahak melihat semua itu.


Aku tidak menyangka Duke mempunyai keterampilan dalam menangani anak kecil. Aku sendiri tidak terlalu bisa berkomunikasi dengan mereka.


Antrian aneh itu mulai berkurang dengan cepat. Satu persatu mereka menyentuh rambutku pelan sambil tertawa.


Salah satu anak memberiku sekuntum bunga yang terbuat dari pahatan es dan dia menyentuhnya tanpa sarung tangan!


Aku tersenyum iri saat melihat hal itu, tanganku akan mati rasa jika menyentuh es itu secara langsung.


Perkiraan Duke tidak salah, suhu udara kembali menurun.


Duke meninggalkanku sebentar menuju kedai. Dan kemudian kembali sambil menggandeng Mada yang sudah memegang gelas kertas mengepul. Beberapa anak sudah keluar dan berlari pulang ke rumah-rumah di sekitar kedai.


"Kita harus mengantarnya pulang, rumahnya sedikit jauh dari sini" kata Duke, menunjuk ke arah Mada.


Kasih sayang yang polos membuat hatiku meleleh penuh dengan rasa haru.


"Dimana letak sekolah di pack ini?" tanyaku.


Dengan jumlah anak yang aku lihat tadi, adalah hal yang wajar jika pack ini juga mempunyai sekolah.


"Di tepi hutan sebelah barat. Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke sana" Duke menunjuk ke arah barat pack.


"Tapi sekolah itu tidak terlalu besar. Jumlah anak-anak di pack ini tidak pernah banyak, karena laju kelahiran werewolf yang lebih lambat dari pada manusia. Anak-anak yang kau lihat tadi, kurang lebih adalah seluruh murid tingkat dasar sekolah itu " jelasnya.


"Oh benarkah? Tapi hanya ada tujuh atau enam anak tadi" seruku dengan terkejut. "Ya..Hanya ada sekitar 20 anak lain dengan usia beragam di sana. Dan itu sudah merupakan jumlah yang lumayan" tambahnya.


Aku mengangguk-angguk mengerti. Teringat dengan penjelasan Oscar yang mengatakan jumlah inhumane tidak akan pernah menyamai manusia, dan dia benar tentu saja. Jika aku bertemu dengan Oscar lagi, aku harus bertanya dari mana dia bisa mendapatkan semua pengetahuan itu.


Kami sampai di depan rumah kecil yang juga berhiaskan banyak lampu. Duke mengetuk pintu itu pelan.


"Sebentar!" Suara menyahut dari dalam. Mada mulai ikut mengetuk pintu dengan tak sabar.


"Aku bilang sebentar!" terdengar nada kesal dan pintu mengayun terbuka.


"Aghhhhh.....!" jeritan kaget dan juga wajah pucat menyambut kami.


"Kau harus menghilangkan kebiasaan berteriak saat melihatku"


Duke menanggapi jeritan itu dengan kalem, sangat bertolak belakang dengan sikap Ibu Mada.


Aku rasa pertemuan mendadak dengan bangsawan, memang akan membuat makhluk apapun menjadi panik, tidak terkecuali inhumane.


"Sc..Scion? Ada apa?" Ibu Mada gelagapan bertanya.


"Mommy!!"


Mada menjawab pertanyaan itu dengan seruan melengking, seraya berlari menubruk kaki Ibunya.


"Mada...!! Kenapa kau ada di luar? Kau seharusnya ada di tempat tidur!" Serunya tercengang.


"Kami bertemu dengannya di dekat kedai Mrs. Beatrice" jelas Duke.


"Maafkan saya karena sudah merepotkan anda Scion, seharusnya saya mengawasinya dengan lebih ketat" Ibu Mada menunduk dalam-dalam.


"Jangan dipikirkan Lyla. Dia anak yang manis" Kata Duke, tersenyum kecil pada Mada yang sekarang menggelendot manja di kaki Ibunya.


"Terima kasih, Scion, Zhena" kata Ibu Mada, yang ternyata bernama Lyla, sambil beralih memandangku.


"Eh..." Aku salah tingkah menerima panggilan itu, statusku belum resmi menjadi Zhena di sini. Aku akhirnya hanya bisa mengangguk dengan sopan sebagai balasan.


"Kami permisi dulu" Duke berpamitan sambil melambaikan tangan pada Mada.


Aku melambai padanya juga, yang di balas lambaian bersemangat dengan tangan kecilnya.


"By the way, aku sangat setuju dengan pendapatmu, Zhena kita yang baru sangat cantik!" seru Duke dari tepi jalan, setelah berbalik melihat ke arah Lyla yang terkaget-kaget.


"Duke!!" Aku berseru memperingatkannya.


Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu sekarang? Duke tertawa terbahak-bahak melihat wajah panik yang aku tampilkan.


Aku melirik malu ke arah Lyla yang kini tertawa lepas, menghapus cemas di wajahnya.


Aku tersenyum tersipu sambil mengangguk, kemudian berlari menyusul Duke yang berjalan cepat menghindari cubitanku.


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


"Good Night" bisikku di telinga Bee, sambil mengecup keningnya dengan lembut.


"Night" wajah Bee memerah saat mengucapkan itu. Aku rasa dia belum terbiasa dengan kecupan. Bee kemudian menutup pintu dengan pelan.


Wajahnya terlihat sedikit kecewa saat aku mengatakan akan pergi selama beberapa hari. Tapi dia menerimanya tanpa memprotes lebih lanjut.


Aku harus meminta tolong Mom untuk menghiburnya agar dia tidak sedih setelah ini. Dia sudah cukup gugup karena acara pernikahan, setidaknya dia tak boleh lebih gelisah lagi karena kepergianku.


Aku membuka pintu ruang kerjaku, yang berisi Roan, El dan juga Mom. Mereka menungguku tentu saja.


Roan langsung mendesah jengkel "Kau berkencan dengan Lui sementara kau membuat kami menunggu!" protesnya, yang dengan segera aku abaikan.


El membuka laptop di atas meja dan menyambungkannya dengan Uncle Rex.


"Abel meminta tolong padaku" jelasku tanpa pembukaan, begitu wajah Uncle Rex muncul di layar.


Semua wajah menjadi waspada.


"Meminta tolong apa?" Mom bertanya dengan khawatir.


Terakhir kali Abel meminta tolong, aku harus memasukkan vampire ke dalam pack dalam waktu dekat.Dia pantas untuk khawatir.


"Dia ingin agar aku mencari informasi tentang pasukan Crispin" ujarku datar.


"Tidak!!!" Mom yang berseru.


"Oh.. yes!!' Seruan bersemangat datang dari Roan.


"Dimana?" El mulai bersiasat.


"Lavrentiya, Russia" jawabku.


Berita terakhir yang menyatakan mereka menyerang Black Forest bisa dipastikan adalah benar, dan sekarang mereka bergerak ke arah timur, semakin mendekat ke Canada.


Ck... tidak perlu otak jenius untuk tahu kemana tujuan mereka berikutnya.


"Bagaimana dengan pernikahanmu? Kita sudah menyiapkan segalanya!" Wajah Mom masih diliputi rasa panik, dia tak setuju dengan kepergianku.


"Aku akan kembali sebelum rehearsal Mom, jangan khawatir" Aku mengayunkan tangan ke arah El, memintanya menyiapkan perjalanan.


El bekerja cepat mengetikkan sesuatu di laptop lain yang tidak berisi wajah Uncle Rex. "Kita bisa terbang besok pagi dari Quebec, berangkat dari sini sebelum fajar" katanya.


Aku mengangguk.


"Kau akan melakukannya berarti?" Uncle Rex bertanya. Aku mengangguk, "Aku dan El!"


"No!!!!! Kau tak bisa meninggalkanku di sini" Roan meraung marah, tidak terima dengan keputusanku.


"Aku harus meninggalkanmu di sini Roan, dan kau tahu kenapa. Kau adalah pemilik darah Alpha terdekat setelah aku" bentakku dengan tak sabar.


"Jangan mengatakan hal seperti itu!" Mom memprotes dengan suara bergetar.


"Aku hanya memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi Mom, aku tak bermaksud membuatmu khawatir" kataku.


Menyusup ke sarang vampire gila memang berbahaya, aku tak menyalahkan Mom jika dia khawatir. Ini juga alasan kenapa aku tak mengatakan tujuanku dengan jelas kepada Bee tadi.


"Dua tiket penerbangan untuk besok telah siap" sahut El dari depan laptopnya.


Roan masih berwajah marah, tapi dia mengunci mulutnya rapat-rapat mengerti keputusanku. Aku mengetikkan pesan kepada Alva dengan sedikit malas. Aku sudah beberapa kali merepotkannya bulan ini. Aku harap dia tak meracuni aku dengan ramuannya setelah ini.


"Aku akan mempersiapkan keperluan kalian. Kau yakin tidak akan memakai pesawat milik Monath? "


Aku menggeleng sebagai jawaban pertanyaan Uncle Rex. "Baiklah, sampai jumpa di bandara besok" katanya sambil mengakhiri video call.


Aku memakai pesawat komersil agar tidak terdeteksi.


Egon akan dengan mudah menanam seseorang untuk mengawasi pergerakan penerbangan Monath, tapi dengan pesawat komersil, aku akan menutupi jejakku dengan sempurna. Ini juga alasan aku memakai pesawat komersil ke London kemarin.


Dengan cemberut dan tanpa berpamitan, Roan keluar ruangan diiringi dengan bantingan pintu.


"Istirahatlah" kataku pada El. Dia mengangguk kemudian menutup Laptop. "Good Night!" katanya sambil menutup pintu dengan pelan.


Mom masih tak bergerak dari tempat duduknya. Aku duduk di sebelahnya


"Mom, aku tahu ini berbahaya, tapi harus ada yang melihat bagaimana kekuatan mereka sebelum kita bisa melawannya Mom. Dan Abel sudah kehilangan lebih dari sepuluh Hunter sebelum ini. Aku adalah pilihan yang paling tepat untuk tugas ini" jelasku pelan.


"Tapi mereka sangat kuat Duke" Mom memandangku dengan berkaca-kaca.


Mom adalah saksi hidup saat Crispin, Egon dan juga Dad bertarung. Dia tahu dengan pasti bagaimana kekuatan mereka. Mom juga terluka parah saat serangan itu.


"Aku tak akan secara sengaja bertarung dengan mereka Mom. Aku hanya datang kesana untuk melihat"


Aku akan bekerja keras agar tidak terbawa emosi dan memulai pertarungan. Mom mendesah putus asa, sadar keputusanku tidak akan berubah.


"Aku harus melakukannya Mom, jika kita ingin menang di peperangan ini" desakku.


"Berhati-hatilah" Mom akhirnya memandangku sambil tersenyum samar.


Aku mengangguk dengan bersemangat dan mencium pipinya sekilas. Aku beranjak menuju pintu.


"Di mana kau akan tidur?" tanya Mom tajam.


"Di kamar tamu tentu saja" kataku sambil menunduk menghindari mata Mom.


"Hehh.. dan kau pikir aku tidak akan tahu? Selama ini kau menyelinap ke kamar Lui saat tengah malam" Mata Mom menyipit memandang kebohonganku yang terlihat jelas.


"Ya, dan aku akan melakukannya lagi" seruku, sambil tersenyum simpul dan keluar ruangan, tanpa menunggu omelan Mom.


"Duke!!!" Suara Mom berseru dari balik pintu.


Tapi aku telah berlari menaiki tangga menuju kamarku. Di depan pintu aku berhenti sejenak, mendengarkan suara dari dalam. Nafas Bee terdengar berat dan teratur, pertanda dia telah nyenyak.


Dengan perlahan aku membuka pintu.


Bee meringkuk dalam selimut tebalnya dengan mata tertutup rapat. Aku tersenyum puas melihatnya.


Aku memang menyelinap ke sini hampir setiap malam. Aku tidak melakukan apapun, selain tidur di sofa dan mendengar nafas teraturnya sebagai pengantar tidur.


Sebenarnya, aku selalu merasa ada yang kurang.


Aku bahagia, sangat bahagia karena Bee bersedia menikah denganku. Tapi aku sedikit tidak rela, jika pada akhirnya, Bee tidak mengingat kenangan tiga tahun kebersamaan kami.


Aku tahu Bee tulus mencintaiku, sikap dan perilakunya persis sama seperti saat kami bersama dulu.


Tertawanya, senyumnya, cemberutnya, wajah tersipunya, semuanya sama. Tapi juga berbeda.


Rasa terbiasa Bee sangat berbeda. Bagaimanapun dia merasa baru mengenalku kurang lebih sebulan yang lalu. Wajar jika kadang dia masih canggung saat menghadapiku.


Hal ini kadang membuatku masih merindukan sosok Bee yang dulu, walaupun dia tepat ada di depanku.


Saat ini, aku harus selalu menahan diri untuk tidak membuatnya curiga. Dan kadang aku mulai merasa lelah karena harus selalu menjaga ucapanku saat kami berbincang.


Tapi aku tidak berani mengeluh. Karena kebersamaan kami, telah aku bangun dengan susah payah. Aku tak akan menyerah hanya karena merasa lelah .


Jika memang memungkinkan, aku juga ingin melupakan kenangan yang hilang itu.


Tapi tentu saja itu tidak mungkin.


Kenangan yang sekarang menyiksaku itu, adalah segalanya untukku.


Kenangan yang sangat berharga bagiku.


Kenangan tentang seorang gadis yang begitu mencintaiku.


Kenangan tentang bagaimana untuk pertama kalinya kami menemukan cinta.