Finding You, Again

Finding You, Again
Us 24 - Date and What?!



Dan seperti yang aku duga, mataku sama sekali tak bisa di ajak berkompromi.


Beberapa detik setelah Elder Camille mengemukakan segala rencana dan juga penjelasan tentang apa saja yang aku perlukan untuk menjalani penobatan, mataku menjadi berat dan nyaris terpejam.


Aku benar-benar butuh tidur panjang.


El beberapa kali menginjak kakiku dengan sembunyi-sembunyi untuk membuatku terbangun.


Aku sedikit lega karena ada El dan Uncle Rex berada di sini. Aku akan bertanya secara mendetail kepada mereka jika aku selesai menjalani tidur panjangku nanti.


Elder Firmo kemudian mendiskusikan rencana pernikahanku dengan Bee, yang MENURUTNYA akan diselenggarakan sesaat sebelum penobatan Alpha.


Rencana pernikahan yang masih tidak diketahui oleh pengantin wanitanya. Ironis sekali !!


Aku hanya bisa tersenyum hambar mendengar paparan rencana itu.


Aku sedikit terhibur mengetahui perasaan Bee tadi. Tapi untuk membicarakan level pernikahan, tingkat kesulitannya sangat tinggi. Bahkan sebelum Bee kehilangan ingatan, aku belum pernah membicarakan tentang pernikahan.


Bukannya aku tidak menginginkannya, tapi status sebagai inhumane jelas menjadi sandungan yang berarti. Untuk saat ini, bukan status lagi yang menjadi masalah. Tapi perasaan Bee.


Menurut Bee, hubungan kami baru terjadi kurang lebih dua jam yang lalu. Apa reaksinya, jika tiba-tiba saja aku mengajaknya menikah?


Ugh.. aku tidak ingin membayangkannya.


"Aku harap semua akan selesai sebelum acara pertemuan itu berlangsung, Scion" Suara berat Elder Firmo mengakhiri penjelasan, yang sama sekali tidak aku dengar.


Aku mengangguk secara reflek, sambil melirik El. Dia memberiku tatapan heran setengah iba.


Oh.. **, apa yang baru saja aku setujui?


"Baiklah, kami permisi Scion" Para Elder berpamitan, yang sekali lagi hanya aku tanggapi dengan anggukan.


"Kau terlihat seperti hantu Duke, pucat sekali!!" Uncel Rex memandangku tajam, setelah para Elder keluar dari ruangan.


"Aku butuh tidur yang panjang!" Aku menguap dengan letih.


"Kau menguras tenagamu pada saat Brawl kemarin. Ayahmu saja belum pernah melakukan mindlink Alpha dalam waktu lama seperti itu. Aku memberimu nilai lebih karenanya" Uncle Rex tersenyum bangga.


"Thanks Uncle, aku akan tidur setelah berbicara dengan Bee" balasku sambil tersenyum lemah, pujian Uncel Rex membuat mood-ku sedikit membaik.


Aku mengikuti uncle Rex, yang telah mendahuluiku keluar ruangan Assembly.


"Lagi?? Bukankah pembicaraan kalian sudah selesai tadi?" El juga ikut berjalan keluar mengikutiku.


"Apa yang membuatmu berpikir aku hanya akan berbicara? Aku tidak pernah berbicara banyak ketika bertemu Bee" jawabku dengan ringan.


"Ck.. aku harus menghafal lebih banyak lagu kebangsaan, sebelum penobatan Alpha. Aku tak yakin bisa tahan melihat kemesraan kalian nanti" keluh El, sambil cemberut.


"Beri tahu Roan soal itu. Dia butuh cara agar terbiasa dengan ingatanku"


Aku tidak akan lupa keluhan Roan, hanya karena dia melihat kenangan aku dan Bee berciuman.


"Eh-- tapi aku rasa tidak perlu" ralatku, sambil berhenti di ujung tangga.


"Kenapa?" tanya El, heran mendengarku berubah pikiran.


"Aku akan membuatnya tersiksa dengan ingatanku. Berani sekali dia membuat Bee salah paham, ini akan menjadi pelajaran yang setimpal untuknya"


Memangnya hanya kau yang bisa menyisaku Roan. Lihat saja nanti pembalasanku.


"Terserah kaulah" El malas berdebat. Dia meninggalkanku dan berjalan menuju dapur.


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Tok..Tok


Aku terperanjat mendengar ketukan di pintu, kebiasaanku melamun sudah terlalu parah rupanya.


Tapi mengingat apa yang aku alami tadi siang, aku berhak untuk melamun. Perkembangan nasibku sama sekali tidak terduga hari ini.


Aku masih merasa sedang bermimpi jika mengingatnya. apakah Duke benar-benar mencintaiku?


Kalimat itu belum terdengar logis di kepalaku!!


Membayangkan bagaimana mata Duke memandangku begitu dekat saja, sudah mampu membuat darahku berdesir semakin kencang.


Aku membuka pintu dan jantungku kembali melompat tidak terkendali.


Karena sosok dalam lamunanku menjelma nyata. Seharusnya aku bertanya dulu sebelum membukanya tadi.


Duke berdiri di depan pintu, lengkap dengan senyum lebarnya.


"Kita harus melanjutkan pembicaraan yang terputus tadi"


Duke masuk ke dalam kamar tanpa meminta persetujuan apapun dariku. Dengan santai Duke duduk di sofa


Aku tahu ini kamarnya, tapi--- Ah sudah lah. .


"Bukankah pembicaraan itu sudah selesai?" tanyaku dengan hati-hati.


Aku mengikutinya berjalan, dengan tujuan sofa yang ada di depannya.


"Aghh--" Aku memekik pelan


Sebelum aku sampai, Duke menyambar tanganku dan menariknya agar aku duduk di sebelahnya.


Reflek pertamaku adalah bergeser menjauh. Berada dalam jarak sedekat itu dengan Duke membuat jantungku seolah akan meledak.


Tapi Duke sekali lagi tidak membantu, dengan tenang dia mengikutiku bergeser, membuatku terkunci diantara lengan sofa dan tubuhnya.


"Hmmm-- kau benar, karena sekarang aku juga bingung harus berkata apa, tapi yang pasti aku sangat ingin melanjutkan hal yang tadi terputus karena kedatangan Mom dan yang lain" Duke berbisik tepat di telingaku.


Dengan segera bulu kudukku meremang, dan wajahku memerah.


Aku tidak ingin mengingat adegan itu lagi! Tapi Duke membahasnya seolah itu hal yang biasa.


"Oh.. blushing? Hanya dari kata-kataku tadi? Apa yang ada di pikiran nakalmu Nona?" Duke menatapku dengan mata jahil.


"Duke!!" Aku berteriak kesal, berani sekali dia menggodaku.


Duke tertawa pelan.


Aku memukul punggungnya pelan, karena jengkel.


"Berhenti menggodaku atau aku akan marah" Ancamku, dengan nada merajuk.


"Oh, aku ingin melihat kau marah, aku yakin wajahmu akan sangat menggemaskan" Balasnya sambil menarik tangan kiriku.


"Duke!!" seruan jengkel kali ini, aku lengkapi dengan wajah cemberut.


Aku tidak bisa memungkiri kalau aku sangat menikmati semua godaannya itu.


Oh---Tuhan, aku pasti sudah tak waras!


"Aku tidak percaya kau mengira aku memiliki hubungan dengan Roan! Itu menggelikan, kami tumbuh besar bersama. Dia sudah seperti saudara bagiku" Kata Duke, akhirnya memulai pembicaraan yang lebih normal.


"Hey--aku tidak akan berpikiran liar seperti itu, jika saja Roanna tidak merangkulmu dengan mesra. Aku berpikir jika kalian bersaudara, saat pertama kali melihat kalian bersama di London"


Aku berupaya membela diri, dan aku memang mencoba berpikir seperti itu awalnya.


"London?"


"Kau merasa cemburu pada Roan sejak melihatnya di London?" tanya Duke, dengan senyum puas terukir di bibir.


Akh... Lui, kau menggali kuburanmu sendiri. Aku mengeluh dalam hati.


"Tidak...aku tidak cemburu. Aku hanya..." Suaraku mengecil karena tidak memiliki bahan untuk membantah.


"Kau tahu, aku sangat-sangat bahagia mendengar hal itu" Duke meremas tangan kiriku, yang sejak tadi ada di genggamannya dengan lembut.


Aku saja, atau tiba-tiba kamar ini menjadi 3 kali lebih indah? Hatiku seolah menumbuhkan sayap dan kini terbang ringan meninggalkan tubuhku.


"Bee, apakah kau ingin berjalan-jalan lagi denganku?" Duke tiba-tiba mengubah haluan pembicaraan, seraya bangkit berjalan menuju pintu.


"Eh--tentu saja!" Aaku menjawab tanpa berpikir, heran dengan ajakan yang tidak terduga itu.


"Tapi Myra melarang aku keluar, katanya suhu di luar sudah turun di bawah nol"


Myra telah menambah isi kamar ini dengan deretan mantel sangat tebal yang sekarang tergantung rapi di sebelah almari yang berisi pakaian Duke, untuk persiapan jika suatu saat aku membutuhkannya.


"Karena di kamar ini, kita tidak akan mendapatkan privasi yang aku inginkan!"


Sambil mengucapkannya dengan nada jengkel, Duke membuka pintu kamar dengan secepat kilat. Tampaklah tiga orang berdiri disana. Myra, Roanna, dan juga El!!


Aku tidak percaya ini!! Apakah mereka baru saja menguping?


Mereka mendengar semua pembicaraan tadi. Aku ingin sekali menyelam kedalam selimut, dan menyembunyikan wajahku, yang entah untuk kesekian kalinya hari ini.


"Mom, aku akan sangat mengerti jika itu Roan atau El!" Bibir Duke membentuk senyuman yang aku yakin tidak tulus, karena matanya melotot marah.


"Eh-- aku hanya ingin bertanya soal menu makan malam yang kalian inginkan. Lalu aku melihat mereka menguping. Aku baru akan menegur mereka"


Myra tersenyum kecil, sambil mendorong tubuh Roanna dan El menjauh dari pintu.


"Oh--- karena itukah aku bisa mencium aroma vanilla semenjak beberapa menit yang lalu, hampir bersamaan dengan aroma mereka?'" Nada jengkel Duke tidak bisa lagi di sembunyikan sekarang.


Duke melangkah ke almari.


Dia menarik syal, mantel, lalu menghilang ke dalam almari. Beberapa detik kemudian, dia keluar sambil menenteng sepatu boot berbulu dengan ukuran raksasa, yang aku yakin akan sangat kebesaran di kakiku.


"Pakailah!" ucapnya pendek, sambil terus menatap jengkel pada rombongan yang kini berdiri canggung di depan pintu.


"Oh ayolah Duke. Kau tidak bisa membawa Lui keluar saat ini. Di luar sangat dingin. Salju memang belum mulai turun, tapi suhunya sudah mendekati nol" Myra meraih tangan Duke dan menggoyangkannya pelan, dia terlihat menyesal.


"Jangan khawatir Mom. Aku akan menjaganya, dan Lui tidak akan keberatan" Duke memandangku, sambil memberi isyarat agar aku berkata iya.


"Ya, aku sangat menyukai musim dingin"


Aku tidak akan menolak kesempatan untuk berjalan-jalan diluar. Dengan cepat aku memakai kelengkapan baju, yang tadi diberikan oleh Duke.


Tanpa banyak bicara Duke menggandengku keluar dari kamar, begitu aku selesai bersiap.


Aku melambai pada Myra, yang masih terlihat tidak rela Duke membawaku pergi.


 


 


"Finally free!!"


Duke menghembuskan nafas panjang setelah kami berada di dalam mobil.


Aku tertawa geli. "Kau berlebihan Duke. Keadaannya tidak seburuk itu"


"Tidak, keadaannya akan semakin memburuk jika kita tetap berada di sana, tapi yang pasti aku bosan dengan suara bantingan pintu hari ini" keluhnya.


Aku mulai menghitung dalam kepalaku, hari ini saja sudah tiga kali pintu kamarku di buka tanpa permisi. Aku sedikit mengerti kenapa Duke sangat kesal.


"Aku mengira kita akan berjalan kaki lagi" ujarku, sambil memasang sabuk pengaman.


"Itu bisa saja, tapi bukankah kau lelah dipandangi terus oleh warga pack?"


Duke menginjak pedal gas dan kami melaju meninggalkan Manor.


"Ow--ya. Aku tidak menyangka menjadi manusia satu-satunya akan menarik banyak perhatian. Penghuni pack ini pasti tidak banyak bertemu dengan manusia"


Aku memandang keluar jendela. Warga yang kebetulan berada di sepanjang jalan memandangi mobil kami dengan tertarik, karena memang hanya ada satu mobil ini di jalan.


Aku bersyukur Duke tidak memakai mobil tanpa atap, seperti yang di pakai Myra kemarin. Duke memilih mobil four wheel drive dengan kaca gelap.


"Mereka memandangmu bukan karena kau manusia, Bee. Mereka memandangmu, karena kau adalah manusia yang aku bawa kesini" jelas Duke, sambil menoleh memandangku dan tersenyum.


"Wait.. what?! Mereka memandangku karena kau membawaku kesini? Kenapa? Aku hanya sedang mengungsi di sini"


Keberadaanku di sini hanya karena ada seseorang yang ingin membunuhku, aku hanyalah pengungsi yang malang.


"Itu benar. Tapi mereka tahu kau istimewa, karena tidak ada werewolf yang membawa manusia ke sini sebelumnya. Dan mereka benar, aku sangat tergila-gila pada manusia itu"


Duke tersenyum penuh arti, wajahnya kembali menghadap jalan raya setelah mengucapkan hal itu.


Sedangkan aku?


Hhhhh--- aku berharap tidak akan pingsan karena terlalu bahagia mendengar itu.


Aku membuang muka ke arah luar jendela mobil, menyembunyikan wajahku yang aku yakin memerah lagi.


"Bagaimana kau bisa mengucapkan hal seperti itu dengan mudah?" Aku memprotes setelah bisa bernafas dengan lebih tenang.


Aku merasa ini sedikit tidak adil. Aku bahkan tidak bisa bernafas dengan baik di sekitar Duke.


"Well, kau tahu aku adalah pembohong yang buruk bukan? Kebalikan dari itu aku sangat mahir mengatakan kejujuran. Jadi---- karena apa yang kau dengar tadi adalah jujur dari hatiku, aku bisa dengan mudah mengatakannya"


Dia mengungkapkan perasaannya semudah bernafas!!


"Kau melakukannya lagi!" Aku mendesah jengkel. Apakah aku harus banyak berlatih agar menjadi terbiasa?


"Ya, dan aku akan terus mengatakan bahwa 'Aku mencintaimu Eluira Delmora'. Jadi terbiasalah"


Duke tertawa riang sambil membelokkan setir mobilnya meninggalkan jalan beraspal.


"Oh God..."


Aku hanya bisa membenamkan wajahku di tangan sekarang. Duke tertawa semakin keras melihatnya.


"Kita akan sampai sebentar lagi" kata Duke, laju mobilnya bertambah pelan.


Setelah berbelok meninggalkan jalan raya, Duke menyusuri jalan kecil yang terbuat dari tanah. Aku sekarang penasaran akan menuju kemana sebenarnya mobil ini.


"Kita akan mendatangi tempat favoritku di pack. Sebenarnya tidak ada jalan untuk menuju kesan selain dengan berjalan kaki. Kita akan turun di depan, lalu meneruskan sisa perjalanan dengan berlari" jelas Duke, seolah mendengar kata batinku.


"Berlari?!" Aku sedikit terkejut.


Fisikku tidak lemah, bahkan mungkin lebih baik dari kebanyakan orang karena, kebiasaan berenang dan balet. Namun jelas aku bukan tandingan werewolf jika akan berlari di hutan.


"Jangan khawatir seperti itu, percayalah kau tidak akan mengeluarkan tenaga sedikitpun nanti" Duke mengusap kerutan di dahiku, dan tersenyum penuh misteri.


Apa yang direncanakannya?


Duke memarkir mobil besarnya di bawah pohon.


Kami berdua turun dan berjalan mendekat ke tepi hutan. Duke mengambil ransel kecil yang tadi diambilnya dari kursi belakang dan memakaikannya di punggungku. Setelah memandangku sejenak, dia mengangguk puas.


"Nah, sekarang tutup matamu"


Oh tidak!! Apakah dia akan...


Aku segera menutup mata, begitu mengerti apa yang akan dilakukannya.


Dan setelah beberapa saat, dengusan hangat membelai wajahku yang tidak tertutup. Aku membuka mata dengan jantung berdebar, bersemangat sekaligus sedikit takut.


Ini adalah pertama kalinya aku melihat wujud serigala milik Duke dari dekat. Nafasku tercekat melihat objek yang segera menyita seluruh perhatianku.


Serigala yang ada di depanku begitu menakjubkan. Aku melangkah pelan berkeliling mengaguminya. Kesan yang aku rasakan masih sama, wujud werewolf terlalu menakjubkan untuk disebut binatang.


Serigala besar berwarna hitam kelam, dengan goresan warna putih di telinganya. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa, yang pasti serigala Duke adalah makhluk paling mempesona yang pernah aku lihat.


Aku mengenali mata cokelat terang miliknya, yang sekarang berkedip menatapku tanpa jeda. Mata itu mengikuti kemana aku bergerak.


"You -- You look amazing!" Aku hanya mampu berbisik saat mengatakannya.


Duke mengedip, dan aku bisa mendengar geraman pelan dari mulutnya.


"Aku harap itu berarti kau senang mendengar pujianku"


Dan Duke mengangguk. Aku tertawa karena ini terasa tidak nyata. Aku baru saja melakukan percakapan dengan serigala raksasa.


Duke kemudian duduk merendahkan keempat kakinya. Dia menyentakkan kepala, yang aku mengerti sebagai isyarat agar aku mendekat.


Dengan pelan aku berjalan mendekati kepalanya. Tinggiku bahkan tidak bisa mengungguli badan Duke saat dia duduk. Aku mengelus leher berbulu hitam itu dengan hati-hati. Sama seperti Myra, bulu Duke sangat halus.


Dengan mudah aku terhanyut dalam kehangatan yang lembut itu.


Duke menyundul lenganku dengan moncongnya, kemudian mengibaskan kepalanya ke arah punggung.


Apakah ini seperti yang aku duga?


"Apa kau ingin aku naik kepunggungmu?"


Duke mengangguk, sambil menyentakkan kepalanya sekali lagi.


"Kau yakin?" Sejujurnya aku agak sedikit takut. Duke mendengus keras dengan tidak sabar.


"Baiklah, tapi aku harus berpegangan pada beberapa helai bulu untuk menarik tubuhku saat naik"


Duke menganguk mantap sebagai persetujuan.


OK, here we go!!


Aku menggenggam erat sejumput bulu dan menjejak di kaki depan Duke.


"Ha..ha.. ini luar biasa Duke. Kau sangat hangat" Aku berseru dengan riang, karena antusias.


Aku memposisikan kakiku di pangkal leher Duke sehingga aku bisa meluruskan kaki ke bawah, dengan nyaman.


Aku merebahkan diri, berusaha memeluk leher Duke dengan tangan, tapi tanganku tidak cukup panjang untuk bisa merangkul seluruh lingkar lehernya.


"Hmm-- aku harus berpegangan pada bulumu saat kau berlari nanti. Apakah itu akan menyakitkan?" tanyaku, dengan bingung dan ragu.


Duke menggelengkan kepala besarnya, sambil menyalak pelan.


Dia lalu mulai berjalan perlahan. Tubuhku sedikit oleng pada awalnya, tapi setelah beberapa langkah, aku bisa menempatkan diriku dengan nyaman.


"Aku siap, jika kau ingin menambah kecepatan" ujarku, tepat di telinganya yang berwarna putih.


Duke berhenti berjalan, lalu menjejakkan kaki depannya, seolah memintaku untuk bersiap.


Aku mencengkeram dengan kuat bulu Duke, dan sedetik kemudian, bayangan pohon di sekitarku mulai mengabur.


"Yesss!! This is amazing!!"


Aku berseru keras, karena dorongan energi menyenangkan, yang membuncah dari tubuhku.


Angin dingin yang menerpa, membuat rambutku berterbangan ke segala arah.


Aku membenamkan wajahku ke leher Duke, karena wajahku mulai terasa beku, setelah sedari tadi aku mencoba melihat pemandangan di sekeliling.


Tubuh Duke yang hangat, mampu mengusir dingin yang aku rasakan.


Aku tadi membayangkan, rasanya akan sama seperti saat menunggang kuda, tapi aku salah.


Duke berlari dengan lebih halus dan anggun, aku hampir merasa seperti terbang, kecuali saat dia harus menjejakkan kaki pada batuan atau pohon tumbang.


Singkat kata aku sangat menikmati perjalanan penuh bulu ini.


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Dadaku penuh dengan rasa bahagia, ketika tadi Bee memuji sosok serigalaku dengan mata berbinar.


Aku tidak melihat jejak rasa takut di sana. Hanya ada kilat antusias.


Bee hanya terlihat sedikit takut, saat aku memintanya untuk naik ke punggungku.


Tapi kemudian, dia dengan mantap melompat ke atas, dan mulai mencengkeram leherku dengan erat. Aku bisa merasakan bulu serigalaku berteriak bahagia di bawah sentuhan tangannya.


Fokus!!.... Aku tidak boleh lengah.


Aku sejenak berdiri diam, untuk mengembalikan kesadaranku yang terlena oleh sentuhan Bee.


Ini pertama kalinya aku membawa Bee berlari.


Bee sudah beberapa kali melihat wujud serigalaku, sebelum kehilangan ingatan, tapi aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk berlari. Karena lokasi kami yang diperkotaan, tidak memungkinkan untuk berlari dengan bebas.


Manusia sudah jelas akan panik, jika bertemu denganku di jalan raya.


Bee mencengkeram erat bulu leherku, selama aku berlari.


Aku mengurangi kecepatan, karena takut Bee akan kehilangan keseimbangan dan terpelanting, jika aku berlari dengan kecepatan penuh.


Akibatnya, butuh waktu sedikit lebih lama, sebelum kami tiba di tempat yang aku tuju.


Setelah melewati bukit kecil yang berbatu, kami sampai ke tujuan, Blackmoon Lake.


Berbeda dengan Green Palm Lake yang terbiasa di kunjungi turis, danau ini tersembunyi dengan baik di dalam hutan, hanya warga pack yang mengetahui letak persisnya tempat ini.


Danau ini lebih kecil dari Green Palm, dan dibatasi oleh gua dan bukit batuan, tapi pemandangannya jauh lebih indah dari pada Green Palm, karena dominasi cemara, pohon pinus dan padang bunga di sisi yang lain.


Sayangnya padang bunga itu sekarang hanya meninggalkan petak besar kosong karena musim dingin. Tapi pemandangan hutan dan danau tetap akan mencuri nafasmu karena keindahannya.


Permukaan danau sudah tertutup es tipis walaupun belum ada salju di sekitarnya. Pinus dan cemara yang berjejer rapat di sekelilingnya masih berwarna hijau karena absennya salju.


"Tempat ini indah sekali!!" pekik Bee dengan ceria.


Dia turun dari punggungku, lalu berlari menuju ke danau sambil tertawa bahagia.


Aku jadi merasa sedikit bersalah sekarang. Aku membuatnya tinggal di dalam kamarku, hampir selama dua minggu. Pantas saja dia terlihat bersemangat, setiap aku mengajaknya berjalan-jalan.


"Agh......" Pekikan Bee membuatku berlari kearahnya.


Bee jatuh terguling ke bawah gundukan tanah, yang mulai gundul. Aku menghampirinya dengan khawatir, aku harap dia tidak terluka.


Tapi setelah dekat, aku malah mendengar tawa gembira. Bee bangun kemudian tertawa, mengibaskan tanah yang mengotori mantelnya.


Bee kemudian berdiri di tepi danau dan merentangkan tangannya sambil tersenyum lebar.


"CANADA!! YOU'RE AMAZING!!"


Pekikan Bee menggema ke penjuru danau. Semangatnya berada dalam titik puncak maksimal.


Aku tertawa mendengar itu, Bee memang selalu antusias, setiap kali aku membawanya ke tempat yang baru.


"Did you just laugh?" Bee menoleh memandangku. "Tertawamu terdengar seperti desisan cicada yang sedang batuk" tambahnya.


Apakah dia baru saja menyamakanku dengan serangga yang menempel di pohon?


Aku mellirik galak ke arahnya.


Tapi dia malah tertawa melihat mata marahku. Tawa yang aku rindukan terdengar begitu merdu di telingaku.


Aku menyundulnya pelan, dan dia jatuh terduduk.


"Hei.. itu tidak adil. Ukuranmu jauh bertambah besar sekarang!" Protesnya, sambil mendorong kakikku.


Aku tidak peduli, aku terus mendorongkan moncongku ke badannya, Bee terus tertawa karena geli.


" Kau tahu, bulumu luar biasa lembut dan hangat. Aku akan sangat menikmati jika bisa berbaring seharian di atasnya" Bee merangkul kepalaku dengan badannya.


Sepertinya Bee sedikit lupa, jika kesadaranku masih sama seperti saat aku menjadi manusia.


Aku membenamkan kepalaku ke dalam rangkulan tangan Bee, tentu saja aku menikmati pelukan itu. Bee tertawa geli, karena sekarang aku mulai menyusuri wajahnya dengan moncongku.


Dia tidak terlihat tersipu ataupun keberatan, aku sekarang yakin dia benar-benar lupa dengan kesadaranku sebagai manusia. Tapi aku tidak akan berusaha mengingatkannya, aku akan menikmatinya.


Setiap elusan tangan Bee di wajahku membuat jantungku terpacu dan darahku berdesir, dan ini sangat nyaman.


Aku akan menukarnya dengan apapun yang aku punya, jika bisa terus menikmati ini.


Bee memang terlihat sangat ceria dan polos, tapi aku tahu, dia memiliki sifat pemalu yang lumayan parah.


Apalagi jika dia berhadapan dengan lingkungan yang baru atau bertemu orang yang baru. Karena itu akan sangat sulit membuat Bee mau mengakui atau menunjukkan perasaannya dengan terbuka.


Berhasil membuat Bee mengakui perasaannya padaku, hanya dalam waktu kurang dari 3 minggu saja, sudah merupakan keajaiban. Dulu aku membutuhkan waktu 4 bulan sebelum Bee akhirnya sadar akan perasaannya, padaku.


Aku harus gembira karena sekarang hal itu berlangsung lebih cepat.


"Kau benar-benar hangat, aku sama sekali tidak merasa kedinginan sekarang"


Bee kembali membenamkan tangannya ke bulu leherku, dia menyusuri tulang leherku dengan teliti, untuk menghangatkan diri.


Aku bisa gila jika ini terus berlangsung. Aku memberinya peringatan dengan sedikit menjilat wajahnya, agar dia tidak meneruskan rabaan itu, sebelum aku kehilangan kendali.


"Auw... Itu untuk apa? Apa kau menginginkan elusan bagian tubuh yang lain?"


Dia menatapku dengan mata biru yang membesar, terkejut karena sentuhan basah lidahku.


Ucapan bernada polos, tapi dengan muatan yang sangat mengundang.


Tentu saja aku menginginkannya elusan di bagian yang lain, tapi aku tidak mungkin memintanya darimu sekarang Bee!! batinku dengan kesal.


Aku sungguh berharap, kami terhubung dengan mindlink, karena Bee terus memperlakukanku seperti hewan peliharaan.


Dan setelahnya bahkan lebih buruk. Dia bergelung sambil merengkuh tubuhku dengan erat.


**!!


Dengan segera seluruh aliran darahku menjadi dua kali lebih cepat, nafasku juga menjadi semakin berat.


Enough!!!


Aku bangkit dengan diiringi tatapan heran dari Bee, kemudian menyambar tas ransel yang tadi terjatuh ketika Bee berguling ke bawah. Aku lalu berlari ke balik jajaran pohon cemara.


Aku melepas transformasi dan memakai bajuku dengan secepat kilat. Aku melempar begitu saja sepatu yang ada di sana. Kakiku akan baik-baik saja tanpa sepatu.


Aku berlari dengan kaki telanjang, menghampiri Bee yang kini berdiri sambil tersenyum kecil tanpa rasa bersalah .


Dia tidak tahu badai apa yang telah di taburnya tadi.


"Kau dalam masalah besar Nona Muda!!" seruku.


Aku bisa mendengar tarikan nafas berat dari suaraku saat mengucapkan hal itu.


"What? Apa---"


Aku menutup mulut manis itu dengan bibirku, dan mengecapnya dengan lembut, tanganku mengunci kepalanya dengan sempurna.


Matanya birunya kembali membelalak karena terkejut. Tubuh Bee yang mungil nyaris terangkat dari tanah karena aku tidak bisa lagi menahan kekuatanku.


Bibir dan tubuh yang telah menggodaku selama setengah jam terakhir sedikit menegang, Bee bahkan berusaha mendorongku menjauh.


Tapi kau tidak akan berhasil Bee!


Setelah beberapa saat tubuhnya mulai rileks dan matanya terpejam dengan pelan.


Ya---- aku akan membuatmu menikmati setiap detiknya.


Manis dan hangat. Lembut dan memabukkan. Aku merengkuh tubuh Bee secara utuh ke dalam pelukan, dan melepaskan segala rindu yang aku pendam.


Bara api di tubuhku menyebar dengan liar ke seluruh titik di tubuhku, bara api yang dengan perlahan membakar sumbu akal sehatku.


Aku melepaskan ciuman itu, setelah merasakan bahwa nafas Bee menjadi tersengal.


Apakah aku terlalu berlebihan? Aku menatap wajah Bee yang tersipu di depanku.


Dia mencoba menghindari tatapanku dengan menunduk. Tapi aku mencegahnya dengan mengangkat dagunya, memaksanya kembali untuk memandangku.


"Apa yang ingin kau sembunyikan Bee? Aku menyukai segalanya yang ada di wajahmu!" bisikku, lembut.


Aku mengangkat tubuh Bee dan membuat kepala kami sejajar, kemudian memeluknya kencang tanpa ada keinginan untuk melepasnya.


Dengan tangan gemetar Bee mengelus rambutku, sebelum akhirnya mengalungkan tangannya di leherku.


"Kau hampir membuatku gila Bee"


Aku menghembuskan nafas berat di telinga Bee, dan membuatnya bergidik karena geli.


"Kenapa? Aku tidak mengerti"


Dengan berani dia melepas pelukannya, dan memandangku langsung dengan wajah penuh tanya.


"Kau mengelus tubuhku dengan mesra, selama kurang lebih setengah jam tadi. Dan kau tidak mengerti kenapa aku bersikap seperti ini? Kau menggodaku dengan berani Nona Muda"


Aku tersenyum miring, melihatnya menutup wajah dengan tangan setelah mendengar perkataanku.


"Aku tidak--" suaranya menghilang karena malu yang teramat sangat. Akhirnya dia sadar.


"Kau memeluk leherku, merabanya dengan detail, mengusap hampir seluruh wajahku dengan tanganmu, dan yang terakhir kau memelukku!"


Aku bisa menjabarkannya dengan lebih detail, tapi itu saja sudah cukup membuat Bee memerah.


Dengan panik Bee menggeleng dan mendorong tubuhku berusaha turun ke tanah.


Tapi aku tidak akan membiarkannya, aku masih ingin menikmati warna merah merona di pipi Bee, yang membuatnya semakin mempesona.


Menyerah, Bee kembali menutup wajah dengan tangannya.


"Aku tidak tahu--" cicitnya pelan.


"Kau tidak tahu syarafku akan bekerja seperti manusia walaupun aku berwujud serigala, atau kau menganggapku seperti hewan peliharaan yang bisa kau sentuh dengan sembarangan?"


Bee menghindari pandanganku lagi.


"Dua-duanya"


"Nah, kau mendapat pelajaran berharga hari ini. Jangan mengelus ataupun memeluk werewolf lain selain aku mengerti? Aku yakin mereka akan 'menelanmu' hidup-hidup Bee"


Bee mengangguk keras, da mulai meronta sebagai usahanya untuk turun.


Itu juga bukan sikap yang pantas.


"Jika kau terus meronta seperti ini, aku yang akan 'menelanmu' Bee!"


Dia langsung berhenti, mematung dengan tegang. Aku tertawa geli, lalu menurunkannya ke tanah.


Bee langsung limbung dan jatuh terduduk, seketika setelah kakinya menyentuh tanah. Dia masih menutup wajahnya.


"Kau jahat Duke!" Suara Bee terpecah karena tangis.


Oh tidak!! Apakah aku berlebihan menggodanya?


"No--No"


Aku duduk di dihadapannya dan merengkuh tubuhnya. "Tidak Bee, maafkan aku. Jangan seperti ini"


"Aku mohon jangan menangis!!" Dengan gusar aku mengelus punggungnya.


"Aku--benar-benar tidak tahu..." Bee mencoba menjelaskan sambil terisak.


Aku mungkin sedikit berlebihan tadi.


"Bee, look at me! I'm sorry OK?" Aku mulai panik, Bee tidak boleh menangis!


Aku menurunkan tangan dari wajahnya, dan mendapati wajah memerah tapi kering tanpa air mata.


Senyum puas terpampang dengan lebar, di bibir yang sedikit bengkak karena ciumanku tadi. Dia hanya berpura-pura menangis!


"Bee!!!" Aku memekik kesal.


Bee melompat bangun dan berlari menjauhiku.


"Berhenti!!"


Tapi tentu saja dia tidak mengindahkannya. Bee berlari mengelilingi danau dengan tawa berdering ceria.


Ini baru! Bee yang dulu tidak akan berani berbuat jahil seperti ini padaku.


Aku tersenyum lebar, melihat Bee masih berteriak gembira karena berhasil mengerjaiku. Aku menyukai sifat barunya ini dengan seketika.


Aku mulai berlari mengejarnya, yang membuat Bee menjerit panik.


Tentu saja aku bisa menangkapnya dengan mudah.


Aku segera memberi hukuman dengan menguburnya dalam pelukanku. Untuk sesaat yang aneh, kami tertawa bersama menikmati kebodohanku.


Sesuatu berwarna putih jatuh di rambut Bee, benda itu meleleh ketika aku menyentuhnya.


"It's snow. Bee we got the first snow!!" seruku.


Bee langsung melepas pelukan itu, dan menengadahkan kepala dengan senyum lebar.


Perlahan butiran berwarna putih meluncur turun di udara.


Bee berputar dengan poros kakinya sambil berseru bahagia. Musim favoritnya telah datang.


"This is amazing, Duke. Aku tidak pernah mendapati semua hal yang membuatku gembira terjadi dalam satu hari!" Bee mulai menangkap butiran salju dengan tangannya.


Makhluk yang begitu polos dan dan mempesona.


Aku meraup wajahnya, membingkainya dengan tanganku.


"Aku mencintaimu, Human" bisikku, sambil membelai wajah mungil yang mendongak memandangku.


"And I love you, Werewolf" balasnya dengan nada yakin. Matanya memantulkan bayangan wajahku dengan sempurna.


Sedetik kemudian, dia menghambur malu menyembunyikan wajahnya di perutku.


Aku mengumpulkan setiap butir keberanian yang ada di tubuh.


"Will you marry me?" ucapku, dengan bibir bergetar gugup.


Aku memandang langsung ke mata biru Bee, yang kini kembali mendongak menatapku.


Mata itu membesar sempurna, ketika dia mendengar ucapanku.


Bee tidak menjawab, tapi dia mengeluarkan suara seperti orang tersedak karena terkejut.


Wajahnya terlihat seperti seseorang yang baru saja melihat UFO mendarat di danau.