Finding You, Again

Finding You, Again
Us 10 - Home and Away



"Kau yakin tidak memberinya dosis yang salah?" Aku bertanya nada tegang pada Alva.


Di depanku Dr. Sidra tengah memeriksa keadaan Bee dengan seksama. Dia juga sudah memasangkan infus baru di tangan Bee. Ini adalah hari ke-5 Bee tidak sadarkan diri. Asupan nutrisi tubuhnya, hanya berasal dari nfus itu.


Kami sudah sampai di Blackmoon sekitar dua hari yang lalu. Tapi Lui masih belum sadar sampai sekarang. Hal ini membuatku panik.


Dr. Sidra melakukan konsultasi yang panjang dengan Alva, sebelum melakukan perawatan pada Bee. Awalnya dia sedikit bingung dengan keadaan Bee yang tidak biasa. Tapi setelah penjelasan panjang dari Alva, dia menjadi lebih santai.


Keadaan Bee tidak lebih aneh, daripada luka yang biasa diderita werewolf di sekitar sini.


"Tentu saja tidak! Tunggulah dengan sabar, Tuan Muda. Kau sudah pernah menunggunya untuk bangun selama setahun lebih. Seharusnya kau bisa menahan diri jika itu hanya beberapa hari" Bentak Alva, dari ujung telepon.


"Jangan menakutiku seperti itu" Hardikku dengan kesal.


Beberapa hari ini, aku sudah tidak bisa tidur tenang, karena takut Bee akan jatuh koma lagi. Tidak perlu mengingatkan aku soal fakta mengerikan itu cara yang bengis.


"Kalau begitu berhenti meneleponku saat tengah malam, you psycho!!!"


Alva berteriak kemudian memutuskan panggilan teleponku begitu saja.


Well.. aku lupa dengan perbedaan waktu. Jika sekarang sore hari, berarti di London adalah tengah malam. Aku akan menelponnya lagi besok.


"Saya sudah selesai Scion" Dr Sidra berdiri tegak di sebelahku dengan sopan.


Aku mengangguk "She's fine right?" tanyaku sambil menghampiri ranjang tepat Bee berbaring.


Aku menggenggam tangannya yang terasa hangat.


"Tentu saja, tadi pagi saya menghubungi Dr. Leona untuk berkonsultasi. Suntikan obat sudah saya berikan sesuai dengan petunjuknya. Kita hanya bisa menunggu Ms. Delmora untuk sadar" Jelasnya, sambil tersenyum geli.


Tentu dia mendengar pembicaraanku dengan Alva tadi.


"Dia akan baik-baik saja, Scion" tambahnya dengan simpatik.


"Ya, terima kasih Dokter."


"Hmmm.. sebenarnya saya yang ingin berterima kasih" dr. Sidara terdengar ragu-ragu.


"Maksudmu?" tanyaku heran.


Aku tidak ingat pernah melakukan apapun untuknya. "Anda memaafkan anak saya yang sudah lalai dalam membantu anda, dan membuat calon Zhena dalam bahaya" jelasnya.


"Siapa..."


"Anak saya Farjad. Farjad Sidra" jelasnya memotong pertanyaanku.


"Ohh..." Aku mengerti.


"Aku tak tahu kalau dia adalah putramu Dokter"  Akuu merasa sedikit bersalah.


"Tidak apa-apa, Scion. Anda memang tidak mungkin mengenalnya. Sejak berumur 13 tahun dan bisa mengendalikan transformasi dengan baik, Alpha Owen mengirimnya ke sekolah manusia" Jelasnya lagi.


Aku mengangguk pelan. Jika ayah menyuruhnya untuk ke sekolah manusia biasa, dia pasti sangat berbakat. Belum lagi soal bisa mengendalikan transformasinya dengan baik pada umur 13 tahun, itu luar biasa!


Roan masih sering bertransformasi secara random sampai dia berumur 16 tahun, karena itu dia tidak pernah dikirim untuk bersekolah di dunia manusia seperti aku dan El.


Aku akan mengingatnya, Farjad. Sebagai Alpha aku harus tahu potensi werewolf unggulan yang ada di pack.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan dokter"


Farjad memang pergi dari mansion, tetapi itu bukan keinginannya. Dey dan Farjad berkali-kali meminta maaf karena mereka tidak bisa membantu saat aku menyelamatkan Bee.


Khusus Dey, dia juga meminta maaf, karena merasa acara makan malamku dengan Bee, menjadi rusak karena kesalahannya.


Aku menyanggah permintaan maaf mereka berdua. Mereka tidak bersalah, semua yang terjadi hari itu adalah keputusan dan keinginanku.


Tapi melihat wajah penyesalan mereka, membuatku sedikit merasa lebih baik.


Roan berjuta kali mengejekku karena tembakan yang gagal mengenai kepala Egon. Tentu saja Dey dan Farjad berkali-kali lipat lebih baik darinya.


"Farjad is a great boy. Kau tidak perlu khawatir" Aku tidak ingin membuat Dr. Sidra berpikiran macam-macam, dia harus merawat Bee.


"Apakah dia sekarang sedang kuliah?" tanyaku.


"Ya Scion. Dia menempuh tahun kedua di sekolah medis" Aku bisa melihat rasa bangga yang memancar dari wajahnya.


"Good" Dia akan menjadi penerus dokter pack. Itu tidak buruk, dia pasti sama cerdasnya dengan ayahnya.


"Saya permisi Scion"


Dr. Sidra membungkuk hormat padaku sekali lagi, sebelum meninggalkan kamar dengan langkah ringan.


Aku menempatkan Bee di kamar yang dulu aku tempati. Kamar ini sedikit lebih besar dari pada kamar lain di Manor, dan tentu saja lebih nyaman. Aku akan memberikan semua yang terbaik untuk Bee.


Tangan Bee mulai tersentak pelan. Aku rasa dia bermimpi lagi. Aku menggenggamnya erat untuk menenangkannya. Apa yang terjadi di mimpimu Bee? Aku harap kau bermimpi indah.


Aku mengusap wajahnya sekali lagi.


Aku setengah mati merindukan sentuhannya. Tapi aku tidak menikmati ini. Dalam anganku, Bee membuka mata dan tersenyum. Bukan terbaring dalam diam. Sedih dan putus asa kembali merayap merasuki hatiku. Aku tidak bisa menghentikannya.


 


Tok..tok..tok !!


"Masuk"


Roan, El dan Mom, mereka masuk secara beriringan.


Mom segera menghampiri ranjang Bee dan mengusap kepalanya.


"Dia terlihat gelisah" katanya.


Aku mengangguk "Kata Alva dia sedang bermimpi" jelasku.


"Dia cantik sekali, like a baby angel" Pujinya sekali lagi.


Mulutnya tersenyum penuh kepuasan. Dia jatuh cinta pada Bee. begitu melihatnya keluar dari ambulance saat kami tiba di sini.


Aku tidak perlu merayu atau menjelaskan tentang apapun, Mom menerima Bee begitu saja. Aku bahkan merasa posisiku menjadi nomor dua setelah Bee di matanya.


Dari kemarin, Mom mengunjungi kamar ini, hanya untuk menanyakan kapan Bee sadar. Itu juga salah satu alasan yang membuatku begitu sering menelpon Alva. Jika aku izinkan, aku yakin Mom akan menelpon Alva sendiri untuk menanyakan hal itu.


"She's not a baby Mom" Aku memutar bola mata, mendengar kalimat sanjungan itu.


"Oh Don't be silly, of course she's not, but she's really adorable right?" sergahnya, sambil memandang Bee dengan mata memuja.


"Petit and perfect. Aku tidak sabar melihatnya berdiri berdampingan denganmu, pasti akan sangat menggemaskan"


Nada bicaranya akan membuat orang lain berpikir Mom sedang membicarakan seorang bayi berumur 5 bulan, bukan gadis dewasa berumur 23 tahun.


"Oh.. They will be amazing. Mereka akan terlihat seperti Troll sedang bersanding dengan fairy yang mungil" Tentu saja Roan tidak akan melewatkan celah itu untuk mengejek. Menyamakanku dengan troll adalah penghinaan.


Mom mencubit pelan lengan Roan, tetapi mulutnya tersenyum geli.


"Lebih seperti seekor beruang dengan koala" sahut El tanpa terduga.


Roan tampak terkejut, karena tidak biasanya El melontarkan lelucon.


"Well, Aku telah melihat mereka bersama berkali-kali" katanya, sambil berdiri dengan kikuk, merasakan tatapan mataku.


Tapi aku akhirnya tersenyum kecil, mereka ada benarnya. Postur tubuh kami memang sangat berbeda jauh.


Tinggi Bee hanya sekitar --dia menolak menjawab ketika aku bertanya--  160 cm, sedangkan aku 194 cm, tubuh kami terlihat sangat kontras. Tapi beruang dengan koala? Itu berlebihan.


"Tapi aku setuju denganmu auntie, dia mungil dan cantik" Roan mendekat ke arah kepala ranjang sambil memandang seolah Bee adalah boneka yang sedang di pajang.


"Berhenti memandangnya seperti itu" bentakku dengan pelan. Aku tidak ingin Bee terganggu karena suara keras Roan.


"Ehhhhh.... " Roan menatapku dengan mata yang kesal. "She's wasted on you" pungkasnya, sambil berjalan menjauhi ranjang, kemudian berbaring di sofa yang terletak di depan jendela besar.


Pelototan mataku hanya dibalas dengan cibiran bibir olehnya.


"Oh berhentilah kalian!" Mom menengahi kami.


Tapi ini bukan hal baru untuknya. Kami bertiga bisa di bilang tumbuh besar di Manor bersamanya. Pertengkaran antara aku dan Roan lebih sering terjadi dari pada pergantian hari.


Roan kehilangan Ibunya pada saat dia kecil, dan keadaan keluarga El yang 'unik', membuat Mom selalu mengundang mereka ke Manor.


"Mereka ingin mengajakmu berlari di hutan" kata Mom, sambil menatapku. "Mereka rindu berlari bersamamu" tambahnya.


" I'm not!" sahut Roan sengit, dari atas sofa.


"I do" kata El datar, tanpa perasaan. Aku curiga dia mengatakannya hanya untuk bersopan santun.


Mom lagi-lagi tertawa geli mendengar percakapan kami. "Pergilah, aku akan menjaganya malam ini" Mom berjalan mendekat dan mengelus lenganku.


Aku memandang wajahnya dengan keraguan, aku tidak ingin meninggalkan Bee.


Mom meraih tanganku dan menggenggamnya erat, meyakinkan jika Bee akan baik-baik saja.


Aku mengangguk pelan.


"Yes!!!" pekik Roan sambil berlari keluar kamarku. Tingkah lakunya sangat tidak sesuai dengan ucapan yang dilontarkan oleh mulut pedasnya.


El tersenyum lebar sambil memandangku. "Aku akan menunggumu di tepi hutan" ujarnya sambil berjalan keluar kamar.


"Temanmu memang luar biasa!" kata Mom tersenyum sekali lagi.


"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Mom sambil memandangku lembut. Aku mengangguk.


"Aku ingin melihat wujud serigalamu sebelum kau pergi" katanya, sambil mengusap pipiku.


Sedikit heran, tapi aku akan mengabulkannya. Kamarku cukup luas untuk menampung empat werewolf dalam wujud serigalanya, jika tanpa ada barang tentu saja.


Aku beranjak menuju lemari dinding, mencari pakaian ganti untuk celanaku yang nanti robek. Biasanya aku akan melakukannya dengan telanjang. Tapi itu tidak akan mungkin di lakukan di depan Mom.


Aku melepaskan kaos santai yang sedari tadi aku pakai, kemudian keluar dari lemari dinding dengan bertelanjang dada.


"For the love......" makiku pelan.


 


Aku terperanjat mendapati seekor serigala berwarna putih bersih dengan bulu berkilau sedang berdiri di kamarku. Tapi hanya sesaat karena aku mengenal wujud itu.


Itu Mom, dia bertransformasi menjadi serigala. Matanya memandangku tajam seolah menyuruhku bergegas.


Aku mengerti Mom, batinku.


Aku berkonsentrasi memanggil wolf-ku. Dan tidak lama kehangatan yang familier menguasai tubuhku lagi. Setelah aku membuka mata, garis mataku berada sedikit di atas Mom. Ukuran tubuhku memang sedikit lebih besar dari werewolf lain.


Mom mendengking pelan memanggilku, aku menolehkan kepalaku kearahnya. Mom melangkah pelan mendekat, sambil berusaha menghindari barang-barang.


Aku juga mendekatkan diriku padanya.


Untuk sesaat kami saling berpandangan. Mata Mom menyusuri wajahku pelan. Dan kemudian dia menunduk memperlihatkan keningnya. Aku melakukan hal yang sama, setelahnya Mom menyentuhkan keningnya dengan lembut.


"I love you my son, forever and always"


Suara lirih dengan membawa rasa yang berisi sejuta kehangatan dan cinta mengisi benakku. Akhirnya kami terhubung-- hal yang dulu setengah mati aku inginkan


"I love you too Mom"  balasku dengan sepenuh hati.


Sejuta sesal dan maaf membanjiri benakku tanpa bisa aku cegah. Mom menyundul kepalaku dengan lembut untuk menegur.


"Jangan memikirkan hal seperti itu! Aku melarangmu memikirkanya" ucapnya dengan sedikit gusar.


Rasa sedih dan penyesalan akan membuat Roan dan El juga merasakannya.


"Pikirkanlah hal yang membahagiakan, dan pergilah" Mom menyuruhku keluar dari kamar ini, untuk menghentikan arus perasaan yang menyesakkan itu.


Aku menyundul tombol kecil di sebelah jendela dengan hidungku. Jendela kaca berukuran sangat lebar membuka dengan otomatis, jendela itu dibuat sesuai dengan ukuran serigala milikku, agar aku bisa melewatinya dengan mudah.


Bunyi itu menarik perhatian beberapa warrior yang berjaga, mereka berlarian menuju ke arahku. Tetapi ketika melihat sosokku, mereka segera menunduk dan mundur kembali, tidak berani menatapku.


Tempramenku yang buruk cukup terkenal di sini. Mereka tidak ingin membuatku marah. Aku menyalak pelan, sebagai tanda mereka boleh pergi.


Setelahnya, aku berlari keluar manor melalui gerbang depan. Aku menyusuri jalan di belakang pemukiman pack. Ada beberapa kelompok warga yang berkumpul, entah mengobrol atau apa. Anak-anak kecil berlarian di sekeliling mereka.


Werewolf sebenarnya adalah makhluk malam, tapi karena kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia terutama karena pekerjaan, werewolf dewasa sudah beradaptasi, dan terbiasa tidur di malam hari.


Tapi werewolf kecil biasanya belum terbiasa dengan jadwal hidup seperti manusia, tidak heran banyak di antara mereka yang masih terjaga.


Aku berjalan pelan, tidak ingin mengganggu mereka.


Bruukkk!!!


Sesuatu menabrak kaki belakangku dengan keras. Aku menoleh dan mendapati anak kecil dengan rambut pendek hitam berantakan jatuh di dekat kakiku. Dia memandangku dengan mata membesar.


Tapi dari kilauan di matanya, aku hanya melihat rasa terkejut, bukan ketakutan. Aku berbalik dan menatapnya lagi. Matanya semakin melebar karena melihat wujudku dengan jelas.


"Mada!!' panggilan nyaring dengan nada teguran membuatnya menoleh.


Tak lama, seorang wanita yang terlihat seperti versi lebih dewasa dari anak itu, berlari menghampirinya.


"Kau sedang bersama siapa?" tanyanya sambil memandangku. Wajahnya langsung pucat pasi ketika dia mengenaliku.


"Sc..Scion..!!" pekiknya dengan terkejut.


"Maafkan kami, kkkkami tidak tahu anda ada di sini" ucapnya terbata, sambil menundukkan kepala.


Aku mengenalnya.


Dia Lyla, werewolf Stray yang bergabung ke Blackmoon sekitar beberapa bulan sebelum aku pergi. Rupanya dia kini sudah menikah dan mempunyai anak..


Pekikan Lyla menarik perhatian warga yang sekarang mulai mendatangi tempatku berdiri. Beberapa berseru kaget saat melihatku.


Hatiku sedikit hangat, karena sebagian besar dari mereka yang berbicara, menyatakan kegembiraan karena aku sudah kembali. Sedangkan sebagian lagi hanya terpana menatapku, dengan mulut menganga, termasuk gadis kecil yang tadi menabrakku.


Aku menyundul gadis kecil itu dengan hidungku.


Dia tertawa geli, "Hidungmu basah!" katanya, sambil mengusap pipi.


Aku terkekeh mendengarnya.


"Maafkan dia, Scion!" ujar Ibunya sambil tersenyum gugup.


Aku mencoba memandangnya dengan ramah. Untuk mengisyaratkan bahwa aku tidak keberatan, dan aku rasa itu berhasil, karena senyum lega terukir di wajahnya sekarang.


Aku harus segera pergi, Roan tidak akan suka menunggu lama.


Aku mendengking pelan untuk membuat mereka menyingkir, dengan patuh mereka membuka jalan untukku. Aku segera melesat kencang menuju hutan.


Roan terlihat seperti ingin membunuhku, saat aku sampai. Tapi dia tidak membuang waktu untuk mendamprat. Roan berjalan menuju balik pohon untuk bertransformasi. Sedangkan El, dengan santai membuka pakaian di depanku dan bertransformasi.


Serigala abu-abu berjalan mendekatiku dari balik pohon. El yang juga sudah bertransformasi juga berjalan mendekatiku. Aku menundukkan kepala, dan sentuhan pelan berasal dari dua kening menyundul dahiku dengan lembut.


"Selamat datang kembali Duke!!" El berkata dengan terharu.


Roan tidak berkata apapun, tapi rasa gembira yang meledak-ledak memenuhi kepalaku. Aku tidak perlu mencari tahu dari mana asalnya. El tidak pernah se-antusias itu.


"Ayo!!"  Aku berlari mendahului mereka.


Hutan beraroma maple dan pinus menyambutku dan membuatku bernostalgia. Aku menghabiskan masa kecil disini. Tanpa bisa aku cegah, kenangan silih berganti memenuhi pikiranku.


"Oh Stop it! Apa kau akan membuatku mengingat seluruh masa pertumbuhanmu?" Roan gusar dengan pilihan benakku.


"Hei..El tidak keberatan" sergahku. Aku bisa merasakan pikiran El, yang juga dipenuhi kerinduan akan hutan ini.


"Ewwww.... mellow man!!!"  Roan mengeluh jengkel.


Dia tidak pernah meninggalkan pack. Segala kenangan yang mengambang di benakku dan El pasti membuatnya bosan.


Tapi aku bertenggang rasa, perlahan aku mengalihkan pikiran, pada hal di sekitar.


Aku menikmati bagaimana terpaan angin dingin, menyapu helaian bulu hitam di sekujur tubuhku dengan lembut. Sejuk dan sangat menyegarkan.


Aroma hutan asli juga sangat memanjakan hidungku. Aroma alam murni, tidak bercampur dengan bau bensin dan polusi yang biasa memenuhi udara kota.


Aku merindukan hutan ini, lebih dari pada yang aku kira.


Kami terus berlari sampai mencapai bukit yang berjarak hanya beberapa kilo dari perbatasan. Kami berlari sepanjang hampir 150 km.


Aku berdiri diam di atas bukit, sambil memandang lepas ke lembah gelap yang penuh pohon lebat di depanku.


Mengikuti insting, aku melolong dengan nyaring ke arah langit malam.


Roan dan El segera saja melolong menjawab panggilanku. Beberapa lolongan juga terdengar dari arah hutan. Werewolf yang sedang berada di hutan, juga menjawab panggilanku.


Aku berbalik dan duduk menghadap Roan dan El. Mereka menunduk dengan takzim.


Lolongan Alpha memang bukan Alpha Tone, tetapi secara insting mereka menjawab panggilanku dengan hormat, sebagai tanda kepatuhan mereka sebagai anggota pack.


Aku mendengkur tajam, untuk membuat efek panggilanku pada mereka memudar.


Roan kemudian duduk dengan rapi sambil memandangku. "Kenapa kau lama sekali tadi?" tanyanya masih dengan jengkel.


Tentu saja!!! Roan tidak akan membuang-buang waktu dengan kepatuhan, dia berubah menjadi pemberontak dalam hitungan detik.


Aku menjawabnya dengan menunjukkan ingatanku. Soal Mom dan anak kecil yang menabrakku tadi.


"Kau ramah sekali, biasanya kau hanya akan mendepak gadis itu dengan segera" ujar Roan, dengan kejam.


"I'm growing up Roan, Kau membandingkan aku dengan remaja yang mudah meledak 8 tahun yang lalu"


"Kau masih mudah meledak Duke" El menyahut dengan lelah.


"Yaaa, tapi dengan jumlah yang sudah jauh berkurang" bantahku.


El hanya terkekeh mendengar jawabanku. Kami berbincang-bincang tentang masa lalu selama beberapa saat. Yang tentu saja, diwarnai dengan perdebatan tidak masuk akal dari Roan dan El.


Aku tersenyum dalam hati, aku merindukan hal-hal gila seperti ini juga ternyata..


"Stop being mellow!"  Roan menghardikku kencang. Dia tidak ingin tenggelam dalam nostalgia lagi.


"Kau belum menceritakan dengan jelas bagaimana kau bisa bertransformasi lagi" 


Aku bisa merasakan rasa penasaran El, kemudian ditambah oleh Roan yang rupanya juga ingin tahu.


"Hmmmm... Aku sebenarnya juga tidak terlalu yakin"  Aku memutar lagi adegan bagaimana aku bertransformasi, agar mereka bisa melihatnya juga.


"Apakah kemampuanmu bertransformasi kembali karena ingin menyelamatkan Lui?"  


Roan memeriksa ingatanku dengan seksama.


"Mungkin" jawabku dengan ragu. Aku mengingat kejadian beberapa menit sebelumnya untuk meyakinkan.


"Bukan" kata El tiba-tiba.


Dia menghentikan ingatanku, pada adegan saat Bee menangis.


"Lui mengkhawatirkanmu, karena itulah kau bisa bertransformasi lagi" El berkata dengan nada penuh keyakinan.


"Heee..??" Roan berseru tidak percaya.


"Lihatlah, Duke merasa bahagia luar biasa saat itu. Kekhawatiran itu membuatnya yakin akan cinta Lui, karena itu wolf milik Duke kembali" El mencoba meyakinkan Roan.


"Itu semua hanya dugaan tentu saja" Roan bertekad untuk menghancurkan opini El.


Mereka tidak akan mengalah jika sudah seperti ini.


Tapi sebenarnya aku lebih menyetujui pendapat El, aku ingat bagaimana rasa hangat menjalari tubuhku, saat Bee mengatakan dia khawatir aku akan mati. Hatiku seketika terasa seringan bulu dan nyaman saat mendengarnya.


"Itu tidak benar!!" Roan berseru marah. Karena aku menyetujui pemikiran El, walaupun tidak mengatakannya secara langsung.


"Kita kembali!"


Aku berjalan menuruni bukit itu, tanpa memperdulikan protes Roan. Segala pembahasan tentang Bee membuatku tersadar, jika aku sudah cukup lama meninggalkannya.


"Duke!!!!" Roan kembali berteriak.


"Kau membuat benakku menjadi biru" Roan menyentakkan kepala, berusaha mengusir rasa khawatir yang memenuhi benakku.


"Bear with it! Dan ini bukan yang terburuk" kata El datar, dia sudah terbiasa dengan serangan perasaanku yang bertubi-tubi.


Biasanya El akan mengalihkan pikiran, dengan membahas essay perekonomian terkini yang baru dibacanya.


Hari ini dengan baik hati, El membagi topik 'Bagaimana peningkatan jumlah imigran di Canada, memberi dampak yang positif pada perkembangan ekonomi'


Roan mengeluh keras mendengar pemikiran El, dia alergi dengan segala hal yang berbau pembelajaran.


Dia mulai mengumpat, ketika El sampai pada bagian prosentase pertumbuhan ekonomi selama lima tahun terakhir.


Aku hanya tersenyum geli menanggapi perang yang terjadi dalam kepalaku. Tanpa berkomentar, aku menambah kecepatan. Desiran semak dan pohon yang menerpa tubuhku, akan ampuh mengalihkan pikiranku dari keributan itu.


Kami berpisah begitu kami sampai di daerah pemukiman. Tempat tinggal Roan berada di sebelah Manor, karena jabatan uncle Rex sebagai Gamma.


Sedangkan El, masih tinggal di salah satu pondok di pemukiman. Dia sendirian di pondok itu setelah Ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu, sesudah ayah tirinya di usir dari pack.


Aku memasuki manor dari pintu utama. Mom pasti sudah menutup jendela kamarku sekarang. Aku menyambar celana yang sudah bergantung rapi di dekat pintu masuk, kemudian melangkah ke dalam ruangan besar di sebelah kanan pintu masuk.


Ruangan ini tidak memiliki interior yang istimewa, karena memang hanya berfungsi sebagai tempat untuk melepas transformasi.


 


Mom sedang membaca buku tebal dan duduk di sebelah Bee, ketika aku sampai di kamar. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar melihatku masuk. "Kau menikmatinya?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Tidurlah Mom, aku akan menjaganya" ucapku.


Mom menjawab dengan anggukan. Dia memelukku ringan, kemudian beranjak keluar dari kamarku.


Aku mengambil bantal dan selimut, lalu menarik sofa mendekat ke arah ranjang. Dua malam ini aku tidur di sofa. Mom ingin memberiku ranjang baru, tapi aku menolaknya. Aku tidak ingin merubah interior kamar ini.


Aku memeriksa infus Bee, masih ada separuh sampai besok pagi.


Tangan Bee kembali tersentak, nafasnya juga sedikit memburu. Aku sangat penasaran dengan apa yang sedang diimpikannya. Aku berbaring di sebelahnya sambil mengelus tangannya pelan, untuk menenangkan.


Sejenak, nafasnya kembali teratur. Well, aku berharap dia akan terus tenang sampai sadar nanti, batinku sambil menguap lebar. ........


 


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


 


Aku memandang ke sekitarku dengan takut-takut. Untuk memastikan makhluk itu tidak ada. Tapi belum sempat aku bernafas lega, langkah kaki berat kembali terdengar di belakangku.


Air mataku kembali menetas karena ketakutan.


Aku memandang putus asa ke lorong yang kosong di depanku. Tidak ada siapapun disana. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Dengan sisa tenaga, aku menyeret kakiku, yang tidak lagi berdaya, menjauhi suara langkah kaki di belakangku.


Aku harus lari, aku tidak mau makhluk itu menangkapku.


Tangisan bisu sekarang sudah berubah menjadi isakkan. Apa yang harus aku lakukan untuk mengakhiri ini? rintihku pelan.