Finding You, Again

Finding You, Again
David 19 - Beautiful Pain



Aku membanting pintu mobil hingga menutup, sekeras mungkin.


Di sudut mataku, terlihat beberapa orang memandang dengan kaget. Aku tidak memperdulikannya, dan tetap memacu mobil dengan kencang, menjauhi kawasan tower Hamlest.


Hari ini genap dua minggu, Bee tidak muncul di sana. Sejak berita picisan itu muncul, Bee tidak pernah terlihat lagi makan siang cafe itu.


Id sudah memberiku info, jika Bee selalu ada di rumahnya -- Dari semua tempat, ayahnya memilih membangun rumah di dekat hutan Blubell, Bee pernah bercerita bahwa hal itu karena Ibunya sangat menyukai pohon dan alam -- di kawasan Park Castle.


Tapi aku tetap berharap dia akan muncul. Aku ingin melihatnya, walaupun hanya dari kejauhan.


Tidak melihatnya sama sekali seperti sekarang membuatku tersiksa. Lebih menyiksa daripada sebelumnya, saat aku belum bisa melihatnya sama sekali, karena saat itu, aku sama sekali tidak berharap.


Situasi ini seperti mengambil paksa, steak lezat yang sedang aku nikmati. Membuatku ingin marah tanpa sebab.


Pada satu titik, aku memikirkan untuk pergi ke Park Castle, dan nekat menemuinya. Tapi begitu membayangkan wajah Bee yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, aku segera mengenyahkan pikiran bodoh itu.


Lagi pula, pekerjaan menerobos ke mansion Delmora tidaklah mudah. Ketatnya penjagaan di sana hampir sama dengan istana Buckingham.


Aku tidak akan mungkin mendekati rumah itu sekarang, kecuali ada yang mengundangku.


Selama tiga tahun bersama Bee, aku belum pernah kesana sama sekali. Selama ini aku banyak bertemu Bee di LA dan Paris. Kalaupun di London biasanya kami bertemu di kota.


Absennya info yang aku terima tentang situasi Bee, semakin membuatku frustasi. Laporan yang diberikan Id sangat tidak memuaskan, karena sudah pasti Oscar melakukan segala cara untuk menutupinya.


Id hanya mengatakan, Bee dan...ck.. pria itu, memang sedang makan malam di sebuah restaurant. Mereka tamu undangan acara soft opening restaurant itu.


Satu-satunya info baru yang aku dapat dari Id, yang berbeda dari apa yang aku lihat dan baca dari berita adalah, fakta jika Bee pulang terlebih dulu dengan naik taksi.


Ini aneh, apa yang dilakukan pria itu sehingga membuat Bee pulang sendirian? Apakah mereka bertengkar?


Oh.. aku sangat berharap ini benar, karena itu akan menjadi kabar paling bagus yang aku dengar selama dua minggu ini.


Oscar sama sekali menolak untuk menjawab teleponku, setelah aku berteriak padanya kemarin. Aku tidak menyesal melakukannya, karena itu benar. Tetapi aku menduga, karena itu Oscar sama sekali tidak memberi celah pada Bee untuk keluar.


Dia ingin mencegahku mendekati Bee.


Aku ingin menjelaskan pada Oscar tentang rencanaku, dengan harapan dia akan memberi sedikit kelonggaran pada Bee, tapi pengabaian Oscar, membuat hal itu mustahil dilakukan.


Aku bisa saja pergi ke tower Delmor, tetapi itu berarti aku akan membuat keributan, karena Oscar sudah pasti tidak akan menerimaku.


Menyelesaikan urusan dengan berperilaku seperti manusia sangat menyebalkan dan berbelit.


Sebagai werewolf aku akan dengan mudah menerjang masuk dan menemui Oscar, tapi itu tidak mungkin dilakukan saat ini . Aku memukul setir dengan kesal, tapi kali ini aku masih menahan tenagaku.


Sekitar seminggu yang lalu, aku sudah mematahkan setir mobil Regera yang selama ini aku pakai. Aku memukul setir itu dengan sekuat tenaga, karena jengkel Bee tidak juga muncul di cafe Hamlest.


Aku menginjak gas seketika ketika lampu berubah hijau. Aku akan tetap menjalankan rencanaku untuk mendekati Bee, bagaimanapun caranya.


Aku sempat akan terjatuh dan berkubang kesedihan lagi, tapi sekarang aku tidak peduli. Bee adalah milikku dan aku akan membuatnya jatuh cinta lagi padaku. Aku akan membuatnya lupa pada cinta barunya.


Aku sebenarnya tidak terlalu menyukai rencana ini, apakah aku akan menjadi seperti Ibuku yang menghancurkan apapun yang dimiliki Zhena Juno dan ayah?


Aku tahu, Mom akan terus merasa bersalah seumur hidupnya, tidak peduli seberapa banyak kata penghiburan yang aku katakan.


Apakah aku bisa melakukannya juga?


Tapi mereka belum menikah, bantah suara hatiku yang lain. Tidak seperti Zhena Juno dan ayahku. Mereka belum---tidak akan pernah menikah!


Ayahku bertemu Mom setelah dia mengikat janji dengan Zhena Juno, berbeda dengan aku dan Bee.


Aku yang pertama kali bertemu Bee, dan kami saling mencintai. Aku tidak akan membiarkan pria asing tiba-tiba datang dan memilikinya.


Tapi Bee, haruskah kau berkencan dengannya? Dia bahkan tak terlalu tampan menurutku.


Aku sudah membaca dengan detail, laporan yang diberikan Id tentang pria itu. Aku tahu siapa dia.


Aktor dengan bayaran paling mahal saat ini. Dia juga berteman dengan Oscar, karena mereka berdua adalah anggota dari grup pemulihan yang sama. Itu akan menjelaskan, kenapa Oscar mengizinkan mereka keluar bersama, dia sudah mengenal pria itu.


Tapi ini sedikit membuatku terkejut, aku tak tahu Oscar memiliki masalah kesehatan sehingga memerlukan psikiater.


Di dalam file yang Id bawa, disebutkan pria itu memiliki ketergantungan terhadap berjudi. Setelah menjalani terapi, selama 5 tahun ini, dia tidak pernah lagi terlibat perjudian.


Tetapi untuk Oscar, tidak ada keterangan apapun yang bisa di dapat Id. Di situ hanya tertulis bahwa mereka berada di grup yang sama karena mereka berobat di psikiater yang sama.


Itu berarti, kemungkinan besar apa yang diderita Oscar berbeda dengan pria itu.


Ck... aku mendecak dengan kesal, pria itu tidak baik untukmu Bee.


Apa yang akan kau lakukan jika dia kembali lagi ke kebiasaan lamanya? Itu akan hanya menyusahkan. Aku bisa menjabarkan ratusan kejelekan pria itu di hadapanmu Bee.


Kau tidak akan memilihnya setelah mengetahui semua itu. Ini mungkin cara yang licik, tapi aku akan menggunakannya jika terpaksa.


Apapun asal Bee kembali.


Aku memarkir mobilku di depan Lykos dengan sembarangan. Seseorang berlari kecil menghampiriku, dia adalah Steve, salah satu manusia biasa yang dipekerjakan Id untuk mengurus mansion ini.


Aku menyerahkan kunci padanya, agar dia bisa memasukkan mobil itu ke garasi. Aku mengangguk untuk berterimakasih, kemudian melangkah pelan memasuki mansion.


"Kemana saja kau? Kau tidak menjawab panggilan di ponselmu" kata Roan ketika aku baru membuka pintu. Dia berdiri dengan tangan menunjuk ke arahku, dan berwajah kesal.


Apalagi ini? batinku dengan lelah.


Aku tidak menginginkan omelan apapun hari ini. Aku memang keluar sendirian tanpa dia dan El. Tapi mereka sudah bosan menasehatiku soal ini. Mereka menyerah dan membiarkanku pergi sendiri, jika itu hanya ke Hamlest.


Dari ruang televisi, El melambaikan tangan kepadaku untuk segera mendekat. El berdiri di belakang sofa dan tangannya menunjuk ke arah televisi di depannya.


Aku menoleh untuk melihat apa yang mereka ributkan sejak tadi. Pria kurang ajar itu.. pria yang bersama Bee, dia sedang memberikan keterangan pers.


Sekali lagi saya mengatakan, saya dan Ms. Delmora adalah teman baik. Jadi saya meminta tolong kepada seluruh reporter yang ada sekarang, tolong jangan mengejar berita apapun soal Ms. Delmora. Hal itu sangat menyulitkannya, karena bagaimanapun Ms. Delmora tidak terbiasa dengan kehidupan artis.. Saya mohon pengertiannya......


 


Aku tidak mendengarkan kata-katanya setelah itu. Aku segera berbalik dan berjalan keluar mansion.


"Kau mau kemana lagi?" tanya Roan. Aku hanya berlalu tanpa menjawab, aku ingin mendapatkan jawaban sekarang, bukan pertanyaan.


Aku akan memperoleh keterangan dari sumber yang lebih mudah didekati dari pada Oscar.


idAku sebenarnya tak ingin membongkar kenyataan jika aku masih hidup padanya. Tapi aku tidak punya cara lain saat ini. Aku harus tahu, bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya.


Semangatku kembali naik mendengar pria itu menyangkal hubungannya dengan Bee. Tapi dari pengalaman tentang dunia selebriti dan Oscar, pernyataan pers itu bisa saja palsu. Oscar akan dengan mudah mengaturnya, agar reporter tidak lagi mengejar Bee.


Aku nyaris bertabrakan di depan pintu dengan Steve yang ingin masuk ke mansion. "Di mana mobilku?" tanyaku, memotong perkataan maafnya yang belum sempat terlontar.


"Di garasi, saya baru saja memarkirkannya" katanya dengan bingung. "Bisakah kau bawa kesini? aku akan memakainya lagi"


"Baik tuan, akan segera saya bawa kesini" katanya, sambil berlari kembali menuju garasi. Aku menarik ponsel dari saku mantel panjangku.


Aku akan menghubunginya, tapi aku juga sedikit ragu, bagaimana aku harus menjelaskan padanya tentang keadaanku?


"Hello?" kata suara yang menjawab panggilanku di seberang, suaranya masih sama seperti yang aku ingat.


"Charlie" panggilku dengan ragu. Apakah dia mengenali suaraku?


Sesaat tidak ada suara apapun, aku juga terlalu takut untuk bersuara, bagaimana jika dia pingsan karena kaget? Bagaimanapun Charlie sudah berumur 50 tahun lebih.


Kemudian isak tangis Charlie terdengar jelas. Oh..syukurlah setidaknya dia tetap sadar.


"David...Apakah itu kau? Ini benar-benar kau bukan?" Tanyanya,  dengan tersendat karena air mata.


"Ya, ini aku David" jawabku dengan lebih mantap. Charlie kembali terisak mendengar jawabanku. "Aku tidak percaya ini... kau benar-benar masih hidup!"


"Alive and well" jawabku dengan tenang. Aku menerima kunci yang diulurkan dengan sopan oleh Steve dan melangkah menaiki mobil.


"Aku tidak percaya, saat Oscar memberitahu kau masih hidup. Tapi ternyata dia benar, kau memang masih hidup.. Ya Tuhan... " Charlie mengucapkan semuanya dalam sekali tarikan nafas, sehingga aku harus berkonsentrasi saat mendengarnya.


"Oscar memberitahu aku masih hidup?"


"Ya, sekitar dua bulan yang lalu" Jawabnya.


**----aku seharusnya menelpon Charlie lebih cepat, tidak perlu menahan diri.


"Aku ingin bertemu"


Aku sedang tidak ingin berbasa-basi, dan harus segera menyelesaikan ini. Sudah banyak waktu terbuang karena sikapku yang ragu-ragu.


"Tidak.. " jawab Charlie dengan segera, "Maafkan aku, tapi kau tidak bisa bertemu Lui. Oscar tidak akan mengijinkannya. Dia begitu marah padamu. Dan Lui..dia..dia"


Tangisnya pecah dan tidak lagi bisa melanjutkan kata-katanya.


"Ya, aku tahu Charlie. Aku sudah tahu tentang semuanya. Tapi aku ingin menemuimu, bukan Bee"


Tidak sekarang. Aku harus tahu apa yang menungguku, jika aku akan bertemu Bee.


"Menemuiku? tapi aku sedang ada di rumah sekarang, dan Lui juga. Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri di rumah" Aku mendengar nada bingung di suaranya.


"Aku akan kesana!" jawabku pendek. Ini berbahaya, aku bisa saja bertemu Bee. Tapi aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus tahu.


"Oscar tak akan mengijinkannya, kau tahu itu" katanya dengan nada takut.


"Aku mohon Charlie, aku hanya ingin jawaban. Aku berjanji tidak akan menemui Bee, aku hanya ingin berbicara denganmu" jelasku dengan memelas. Aku tidak peduli dengan harga diri saat ini. Aku akan terus memohon padanya.


"Tapi..."Suaranya masih terdengar ragu.


"Please....?" Aku memohon dengan putus asa, aku tak ingin menemui jalan buntu lagi.


Beberapa menit, aku hanya mendengar gumaman gelisah dari Charlie, "Baiklah, tapi kau harus cepat" katanya, dengan suara bergetar.


"Ya, tentu saja. Aku tak akan lama" pekikku gembira.


"Aku akan datang segera, terima kasih" ucapku dengan tulus. Aku tahu ini berat untuknya. Charlie tidak pernah melawan apapun perintah Oscar, tapi dia melakukannya untukku. Aku akan selalu berterima kasih untuk ini.


Tanpa ragu, aku menginjak gas mobil dan segera melesat. Butuh sekitar dua jam untuk kesana, tetapi aku berencana untuk mencapainya dalam satu jam. Suara menggerung mesin aston martin yang aku tunggangi sekarang, meyakinkanku.


 


 


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


 


Penjaga gerbang rumah menghentikanku, dan memberi isyarat agar aku membuka jendela. Aku menurutinya, serta membuka kacamata hitamku, agar terlihat lebih jelas. Aku tidak ingin membuatnya curiga sebelum aku bertemu Charlie.


"Aku sudah ada janji dengan Charlie... maksudku Charlotta Dexter"


Aku meralatnya, karena tadi aku melihatnya mengerutkan dahi. Aku lupa jika hanya Bee dan Oscar yang memanggilnya Charlie. Dan juga aku.


Dia meraih telepon yang menempel di tembok dan sejenak berbicara di sana. Aku memandang sekeliling rumah itu.


Aku memang belum pernah ke sini, tetapi dari semua cerita Bee, aku jadi merasa sangat akrab dengan pemandangan di sana.


Aku melihat penjaga itu sekali lagi. Dia memang terlihat sendirian di pos itu.


Tapi dari aroma yang tercium olehku, sekitar 30 sampai 40 orang sedang berjaga di sekeliling rumah itu. Sekarang aku yakin Oscar benar-benar paranoid. Mungkin karena itu dia perlu menemui psikiater.


"Silahkan.. Ms. Dexter sudah menunggu anda" katanya dengan sopan, gerbang itu dengan pelan terbuka lebar. Aku memacu mobilku dengan pelan.


Pemandangan air mancur dengan patung ikan yang menjadi favorit Bee saat kecil, menyambutku.


Patung itu dikelilingi oleh taman yang indah, karena saat ini musim gugur, aku tidak melihat satupun bunga mekar di sana.


Aku memarkir mobil di dekat pintu besar berwarna krem. Mansion ini bahkan lebih besar dari pada Lykos, tapi sedikit lebih kecil dari Manor Blackmoon.


Didominasi oleh warna krem dan putih. Desainnya juga sangat apik, pada setiap balkonnya terdapat tanaman menjalar tumbuh dengan subur. Bisa dipastikan pemandangan sejuk dan hijau ini adalah rancangan Belva.


Tapi aku tidak seberuntung itu. Wajah Charlie masih dengan raut tidak percaya menyambut, ketika pintu itu terbuka. Dia langsung memelukku dengan erat, dan aku membalasnya dengan sepenuh hati.


Charlie adalah keluarga Bee pertama yang mengenalku. Dia yang menemaniku, saat aku nyaris hancur ketika Bee koma dulu.


"Aku masih tidak percaya ini.." katanya sambil terisak di pelukanku. "Kenapa kau menghilang? sambil melepas pelukannya, Charlie memandangku.


"Apakah kau melakukan operasi lagi? Matamu kembali menjadi cokelat!" katanya bertubi-tubi, masih terus meneliti raut wajahku.


"Ya, aku bosan dengan warna hijau. Bisakah kita masuk?" tanyaku dengan segera.


Aku tidak tenang bila harus berdiri di depan pintu. "Tentu saja, kita bisa berbicara di dapur. Lui tidak akan mendengar apapun dari sana" jawabnya sambil berjalan mendahuluiku. Aku melangkah masuk mengikutinya.


Rumah itu mempunyai desain interior barang mahal yang kurang lebih sama dengan Lykos, hanya saja lebih cerah. Barang-barang di Lykos lebih ke arah hitam dan gelap.


"Kemarilah" kata Charlie dengan suara nyaris seperti bisikan. "Lui ada di teras belakang, kita harus cepat" katanya lagi menarikku ke arah dapur.


Dia mendudukkanku di kursi depan counter dan menyodorkan air putih. Kemudian Charlie duduk menghadapku. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau menghilang seperti itu?" tanyanya dengan tidak sabar.


 


"Maaf, tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu Charlie, aku tidak ingin berbohong padamu" ucapku dengan berat hati.


Apa yang bisa aku ceritakan padanya? Daya khayal kebohonganku tidak cukup dalam, untuk bisa mengarang cerita yang menyakinkan. Dan yang pasti aku tidak ingin berbohong padanya.


Charlie memandangku sejenak, "Kau telah menghancurkan Lui karenanya, dan kau tak bisa menceritakan apapun padaku?" Nada suaranya sekarang sedikit kesal.


"Itu bukan keinginanku Charlie, percayalah. Kau tahu sendiri, jika lebih baik aku mati dari pada membuat Bee sedih" Oscar mungkin tidak peduli dengan penjelasanku ini, tapi Charlie berbeda.


Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Tentu saja aku percaya, aku tahu apa yang telah kau lalui untuk bersama Lui. Kau tidak mungkin meninggalkannya dengan sengaja" ujarnya sambil memandangku dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi apa yang akan kau lakukan sekarang? Lui tidak lagi mengingatmu, dia----melupakan semua hal tentangmu" Air matanya menggenang sambil menatapku dengan sedih.


Aku menghapusnya dengan tangan. Jika ada yang paling bisa mengerti tentang kepedihanku kehilangan Bee selain El, maka orang itu adalah Charlie.


"Aku tidak akan menyerah Charlie. Bee adalah milikku" jawabku pendek. Charlie menggeleng keras mendengar itu.


"Kau tidak bisa, Lui akan sangat terpukul mendengar semuanya. Dia sudah sangat gelisah karena ingatannya yang sangat kacau. Kau tidak bisa memberinya kejutan besar seperti ini. Dia sangat rapuh, Dave"


"Aku tidak akan mengatakan apapun soal masa lalu kami pada Bee, tenanglah. Aku hanya akan memulai lembaran baru, aku akan mendekati Bee sebagai pria asing yang jatuh cinta padanya. Seperti dulu"


Aku sudah menyiapkan hatiku untuk ini, tetapi mengucapkannya seperti sekarang, ternyata tetap membuat hatiku berdenyut sakit.


"Kau akan terluka David, dia tidak akan mengenalimu. Kau akan menyiksa dirimu sendiri" katanya lagi, dengan tepat menebak isi hatiku.


"Aku tahu, tapi apa aku punya pilihan lain? Aku ingin bersama Bee. Hanya ini jalan yang bisa aku tempuh" Lidahku semakin terasa getir mengucapan hal ini.


"Tidak bisakah kau--- melupakannya?" Charlie bertanya dengan nada tidak yakin. Karena dia tahu apa jawabanku.


Aku menggeleng pelan "Itu tidak mungkin. She's my life. I'm nothing without her"


Aku menghirup air dari gelas di depanku untuk meredakan emosi yang mencekik leher saat mengucapkannya.


Charlie mendesah dengan nafas berat mendengar jawabanku, tapi dia tak menyanggahnya. Dia tahu aku tak akan pernah mundur.


"Jika hatimu telah memutuskannya, kenapa kau masih ingin berbicara denganku?" tanyanya. "Aku ingin tahu, apa sebenarnya hubungan antara Bee dan....pria itu?" Tanyaku, dengan suara yang tanpa aku sadari telah meninggi.


"Apakah maksudmu Zeno?" Charlie memandangku sambil mengernyit berpikir, aku mengangguk, dan menunggunya memberi jawaban.


"I'm sorry David. Sebenarnya, aku juga tidak begitu mengerti dengan hubungan mereka berdua. Sikap Lui sering berubah mengenai Zeno. Kadang dia terlihat gembira ketika Zeno mengajaknya kencan. Tetapi, kadang juga dia terlihat kalut dan gugup"


Ini bukan jawaban yang aku harapkan.


Jawaban yang dilontarkan Charlie tidak membantuku sama sekali.


"Aku hanya ingin tahu, bagaimana perasaan Lui padanya Charlie!" tegasku. "Aku ingin jawaban simpel iya atau tidak! Itu saja"


"Jika aku menjawab iya, apakah kau akan mengurungkan niatmu untuk mendekati Lui kembali?" tanyanya sambil memandangku tajam "Tentu saja tidak!! aku akan tetap melakukannya" jawabku dengan cepat.


"Jika memang demikian, untuk apa kau mencari jawabannya?" tanya Charlie dengan nada ringan.


"Karena aku....." suaraku menghilang tanpa sanggup mengutarakan jawaban. Aku tidak bisa menjawabnya, karena tidak ingin menjawabnya.


Aku menutup wajah dengan kedua telapak tanganku. Mencoba mengontrol perasaan. Tak ingin perasaan yang aku tahan selama beberapa bulan ini mengambil alih pikiranku.


Charlie meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat.


"Kau marah, kau marah pada Lui, karena telah melupakanmu. Kau mengharapkan jawaban untuk membenarkan amarahmu pada Lui" tebaknya hampir tepat.


"Aku tidak marah pada Lui!" Jawabku dengan pelan, tanpa bisa memandang ke arahnya.


"Kau masih pembohong yang buruk David. Aku tahu kau berbohong. Dan aku rasa itu cukup bisa dimengerti. Kau berhak marah pada Lui" Charlie menepuk-nepuk punggung tanganku tanda mengerti.


"Tidak---aku tidak berhak. Aku yang meninggalkannya, aku membuatnya hampir mati karena sedih."


Aku menyangkal sekuat tenaga.


"Tidakkah kau merasa? Kau terlalu keras pada dirimu sendiri. Kau sendiri yang mengatakan, jika kau tidak punya kendali atas apa yang terjadi padamu"


Pertanyaan Charlie tidak membuatku semakin tenang, karena rasa marahku pada Bee yang aku coba tahan justru semakin menyembul.


"Seperti yang aku katakan tadi, aku mengerti bahwa ini semua terjadi di luar kendalimu. Kau tidak bisa menyalahkan dirimu untuk semua hal buruk yang terjadi sekarang David, itu hanya kan semakin menyakitimu, tidak heran kau menjadi semakin kurus" Kata Charlie lagi sambil tersenyum kecil.


"Aku tidak ingin marah pada Bee, karena ini juga bukan salahnya, dia tidak melupakanku dengan sengaja" ujarku.


"Tentu saja ini juga bukan salah Lui. Rasa marahmu bukan berarti kau menyalahkannya. Kau hanya cemburu" Charlie mengeratkan genggamannya pada tanganku.


"Aku cemburu karena Lui terlihat bahagia tanpa diriku"


Aku mengakui bayangan gelap yang menyelimuti hatiku selama ini. Charlie menarik nafas panjang mendengar perkataanku.


"Dave, semua ini akan menyiksamu. Lui sudah mempunyai kehidupan yang baru" katanya pelan.


"Tidak----- aku tidak akan menyerah Charlie. Aku akan memperjuangkannya sampai Bee yang menyuruhku untuk pergi" Aku nyaris meneriakkan semua itu, tapi kewarasan yang masih tersisa membuatku menahan diri. Bee tak boleh mendengar aku ada disini.


"Dave, aku tahu kau sangat mencintau Lui, tapi.."


Aku memegang tangan Charlie untuk menghentikan kalimatnya, telingaku mendengar langkah kaki mendekat ke arah dapur.


"Bee..." bisikku dengan sangat pelan, tapi Charlie mendengarnya. Dia bangkit dan memandang ke balik punggungku. Wajahnya langsung berubah menjadi panik.


Seketika itu juga, aroma yang sangat aku rindukan menyapa hidungku. Aroma kopi, cokelat bercampur dengan bau hutan dan matahari yang sejuk. Hatiku dijalari oleh rasa hangat yang nyaman pada detik yang sama saat aku menghirup aroma harum itu.


Aku menunggu dengan tegang, saat langkah kaki itu semakin dekat. Langkah itu terhenti di saat mencapai pintu dapur.


"Charlie, siapa yang mengunjungimu?"


Suara Bee mengalun, menyusuri detak jantungku yang tidak lagi teratur.


Aku meringis dengan pahit, karena semakin menyadari, ini semua ternyata tidak akan mudah. Suara itu membuatku gembira, tapi rasa sakit karena Bee tidak mengenaliku lagi, meninggalkan goresan menganga lebar di hatiku.


"A..apa?" Charlie yang luar biasa gugup wajahnya semakin memucat.


"Dia..?" tangan nya yang menunjukku sekarang juga bergetar hebat.


Oh ayolah Charlie, kau akan membuat Bee curiga.


"Charlie, apa kau sakit?"


Bee bertanya karena khawatir sekarang. Bagaimana tidak? Charlie terlihat seolah akan mendapatkan serangan jantung.


Aku melihat Charlie menggeleng, "Dia teman Oscar, dia ingin bertemu Oscar" Charlie mengatakannya sambil berjalan mendekati Bee, dan mengambil gelas di tangannya.


Alasan itu sangat buruk Charlie, batinku. Dan yang pasti aku bukan teman Oscar.


"Oh!.. tapi Oscar ada di kantor sekarang." Bee berkata dengan nada luar biasa heran. Aku juga akan bersikap sama. Alasan Charlie memang terdengar terlalu dibuat-buat.


"Ya... karena itulah dia akan segera pulang" Charlie berkata sambil mengulurkan gelas yang telah berisi air kepada Bee. Ck... itu adalah tanda bahwa dia mengusirku.


Ayolah Charlie.... aku ingin mendengar suara itu sedikit lagi.


Seolah membaca pikiranku, Charlie sekarang menatapku tajam. Dengan sedikit berat, aku berdiri dari posisi dudukku.


"Ya... aku pergi dulu Charlie"


Aku berpamitan pada Charlie, sambil berbalik. Dan mataku tersapu oleh pemandangan yang merontokkan pertahanan diriku seketika itu juga


Bee-- dia berdiri dengan gelas di tangannya sedang memandangku.


Aroma tubuhnya yang memabukkan semakin kuat tercium. Mata birunya menatapku tanpa berkedip.


Tetapi di mata itu, aku tidak melihat tanda-tanda sedikitpun, jika dia mengenaliku.


Mata sebiru langit malam itu, sedang menatap pria asing. Mata itu memancarkan rasa penasaran karena ketidak mampuannya mengenaliku.


Wanita yang sangat aku cintai dan aku rindukan dalam setiap helaan nafas, terasa begitu asing dan jauh.


Jarak kami yang hanya terpisah tak lebih dari dua meter, terasa bagaikan ribuan tahun cahaya.


Kenyataan ini segera melalap habis perasaan bahagia karena pertemuan ini.


Seperti kata Charlie, ini sangat menyakitkan. Jika rasa sakit ini mengeluarkan darah, maka aku akan berdiri dalam kolam genangan darahku sendiri saat ini.


Mata itu masih menatapku, dan mulai menyusuri detail wajahku dengan seksama, mencoba memetakan bentuk wajahku yang asing ke otaknya.


Sesak dan amarah sekarang mencengkeram jantungku dan membuatku tidak sanggup bernafas.


Aku harus pergi !! Aku tak akan mampu berkata apapun padanya. Ini tidak seperti yang aku bayangkan.


Aku harus segera pergi.


Aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Bee, tapi rasa sakit ini menghancurkan kemampuanku berbicara.


Aku melangkah melewati Bee, mencoba mengabaikan aroma menggiurkan yang memancar darinya. Aroma itu membuatku ingin merengkuhnya erat. Aroma itu membuatku ingin menggenggam tangannya dan bertanya apakah kau tidak merindukanku, seperti aku yang sangat merindukanmu?


Tanpa berkata apapun, aku meninggalkan ruangan itu. Aku keluar dengan membanting pintu besar berwarna krem. Amarah dan kerinduan yang bercampur membuatku seakan tercabik.


Aku sejenak berjongkok di depan pintu untuk menenangkan diri. Lututku mendadak kehilangan kekuatannya. Melihat Bee sedekat itu setelah sekian lama, ternyata memberi akibat yang tidak pernah aku bayangkan.


Aku terlalu percaya diri, tapi saat aku bertemu Bee, justru aku tidak bisa berkata apapun padanya. Kau bodoh Duke, batinku dengan getir.


Ponselku berbunyi tanda pesan masuk, dari Charlie.


Maaf jika pertemuan tadi menyakitimu. Maafkan aku juga yang tak bisa memberi kejelasan tentang Lui dan Zeno. Sebelum bertemu dengan Lui, bicaralah terlebih dahulu dengan Oscar, aku tidak ingin kau berada dalam bahaya. Aku tidak bisa mengatakan kenapa, tetapi aku mohon lakukanlah. Maafkanlah Lui, Aku akan selalu mendukungmu dan Lui, karena aku tahu seberapa besar cintamu padanya. L U.


 


Charlie tahu tentang bisnis lain keluarga Delmora, karena itu dia memperingatkan agar tidak berselisih dengan Oscar. Untuk soal Bee, tidak ada yang perlu dimaafkan, kemarahan ini hanyalah cerminan, jika hatiku tidak selapang yang aku pikir. Aku akan belajar menanggung kesakitan ini.


Aku memilih nama di ponselku kemudian melakukan panggilan. Dering panggilanku dijawab dengan seketika.


"Uncle Rex, aku membutuhkan bantuanmu"


Pertemuan ini mungkin membuatku terluka, tetapi sekaligus memberiku suatu ide.


Aku tahu bagaimana agar bisa bertemu dengan Oscar.


 


 


 


End of David.......