
"Sayang sekali kita tiba di sini saat malam, padahal aku ingin menikmati pemandangan salju di London" Myra menatap sedih keluar jendela Mobil.
"Kita bisa menikmatinya besok Myra, aku akan mengantarmu berkeliling" Myra segera tersenyum mendengar ucapanku.
"Padahal selama ini aku mengira semua salju sama dimanapun" Duke menanggapi kata-kata Myra dengan dingin, tapi aku bisa melihat senyum di sudut bibirnya.
Myra hanya tersenyum mendengar jawaban Duke dan kembali memandang keluar jendela mobil.
Mungkin Duke sedikit tegang karena akan bertemu Oscar. Dia bisa sangat mengintimidasi jika ingin.
Aku mengusap cincin di jari manisku dengan gelisah. Aku sedang berpikir untuk melepasnya sejenak, menimbang bagaimana jika Oscar melihatnya, sebelum Duke bisa mengatakan tujuannya kesini.
Cincin itu sangat mencolok karena keindahannya. Berlian hitamnya terpasang dengan manis, di antara taburan berlian putih yang lebih kecil di sekelilingnya.
Aku sama sekali buta dengan harga perhiasan, tapi aku bisa menduga cincin itu berharga melebihi mobil yang kami tumpangi saat ini.
Tujuan utama kami ke London adalah untuk bertemu Oscar dan meminta restu darinya, karena Duke dan aku akan menikah kurang dari seminggu lagi!!
Duke sudah menjelaskan, jika dia harus menikah denganku sebelum pengangkatannya menjadi Alpha.
Setelah mendengar semuanya, aku akhirnya menerima keputusan yang terlihat tergesa ini. Karena pilihan lainnya adalah membiarkan Duke menikah dengan wanita lain sebelum penobatan.
Hell no!! Aku tidak akan membiarkannya terjadi.
Aku menoleh ke belakang, dimana satu mobil hitam mengikuti kami dalam jarak dekat.
"Apakah tidak berlebihan membawa mereka ke Park Castle?"
Untuk perjalanan ini Duke membawa El , Farjad, Dey, juga Id dan Tita -- tanpa Roan karena dia mendapat tugas dari Duke untuk menjaga pack-- karena itu kami butuh dua mobil untuk mengangkut semua rombongan.
"Tidak. Kau tentu masih ingat apa yang telah kau alami di London. Aku tidak ingin itu terulang"
Myra yang menjawab pertanyaanku, sementara Duke hanya mengatupkan mulutnya erat-erat.
Duke kurang setuju dengan banyaknya jumlah rombongan ini, karena menurutnya, dia saja akan cukup menghadapi musuh yang mungkin akan mencoba menyakitiku. Tapi dia tidak mendebat keputusan Myra.
Duke sangat jarang menunjukkan keberatan kepada usulan Myra, walaupun dia tidak menyukainya. Dari situ aku tahu bagaimana Duke sangat menyayangi Ibunya.
Tentu saja hal itu menambah nilai tambah yang membuatku semakin terpesona.
"Why are you blushing Bee? Apakah kau kedinginan?" Duke bertanya heran, sambil mengusap pipiku yang memerah karena lamunan konyolku.
Aku menggeleng cepat "Tidak--tidak, aku hanya memikirkan tentang sesuatu"
"Hal apa yang kau pikirkan sehingga membuatmu memerah seperti itu?" Wajah Duke sekarang menatapku dengan tertarik dan juga senyum jahil.
Aku sudah tahu bahwa Duke sangat suka menggodaku. Dia selalu tertawa senang begitu wajahku memerah.
Maka aku tidak akan menjawab pertanyaan itu. Aku memilih memandang keluar seperti Myra menghindari mata Duke.
Duke tertawa pelan, sambil mengeratkan genggaman tangannya yang sangat jarang terlepas selama perjalanan kami ke sini.
Aku tidak keberatan, karena sentuhan Duke memberiku rasa hangat yang sangat nyaman. Aku tidak akan pernah menepisnya.
Id menghentikan mobil tepat di depan gerbang Mansion Delmora dan menurunkan jendelanya. Security berbicara sejenak dan kemudian membuka gerbang untuk kami.
Ah.. aku hanya pergi selama sebulan lebih, tapi wajah mansion itu sangat berubah karena tertutup salju.
Pintu besar terbuka dan menampakkan Charlie yang berdiri tidak sabar menanti mobil kami terparkir. Maka untuk mengurangi gelisahnya, aku segera saja turun begitu Id berhenti.
"Luii!!"
Pekikan Charlie memenuhi halaman, dia berlari menghambur memelukku, sambil terisak dan berputar di tempatnya berdiri. "Oh Lui... aku gembira sekali!!" katanya, sambil berlinang air mata.
"Aku juga senang bisa pulang, Charlie" Pelukan Charlie terasa hangat, aku juga merindukannya.
Setelah puas, dia akhirnya melepas pelukan dan mulai melihat ke sekeliling.
"Mana David? Err-- maksudku Duke" tanyanya, gugup.
Aku mengernyitkan wajah dengan heran, kenapa Charlie terlihat sangat gugup, salah menyebut nama Duke?
"Tenanglah Charlie, aku ada disini" Duke menyahut dari belakang Charlie. Setelah turun Myra dan Duke berdiri sambil menonton adegan antara aku dan Charlie tadi.
"Oh... ya tentu saja" Charlie melebarkan lengannya yang segera di sambut oleh Duke. Aku bisa melihat Charlie berbisik pada Duke yang hanya ditanggapi Duke dengan senyum.
Apa yang dibisikkannya?
Aku ingin bertanya, tapi Oscar muncul dari dalam rumah dan menghampiri kami. Dia memelukku erat.
"Selamat datang kembali" bisiknya tepat di telingaku. Oscar mungkin sudah menebak maksud kedatangan kami ke sini, karena itu senyumnya terlihat berat.
"Senang bertemu lagi, Myra" Oscar segera menyapa Myra, tapi melewati Duke begitu saja seolah dia tak kasat mata.
Ughhh!!.....Perang urat syaraf sudah dimulai rupanya.
"Masuklah---kalian akan membeku jika berlama-lama di luar" Charlie melambaikan tangan mengundang kami semua masuk.
Satu-satunya yang akan membeku di sini hanya aku Charlie, batinku.
Semua tamu yang datang akan baik-baik saja meskipun mereka bertelanjang dada. Yaaah --mungkin tidak akan baik-baik saja jika yang bertelanjang dada adalah Tita dan Myra. Karena tentu akan menjadi tontonan menggemparkan.
Delapan werewolf melangkah masuk dengan canggung sambil memandang ke sekeliling mansion.
Mereka tidak banyak bicara, tapi mata mereka berbinar penuh semangat. Kecuali mungkin Duke, dia hanya berjalan masuk seperti biasa tanpa melepaskan pandangan dari punggung Oscar.
Ada apa sebenarnya? Aku sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka, jelas saja mereka bukan teman baik.
Tapi Duke sangat tahu tentang Oscar dan juga sebaliknya.
Mungkin mereka dulu berteman, tapi kemudian telah terjadi sesuatu yang buruk sehingga mereka tidak lagi akur. Rasa penasaranku sekarang menumpuk setebal salju di halaman.
----------- *0o0*----------
Aku bisa merasakan sikap dingin Oscar menusuk sampai ke dalam tulangku, mengalahkan dinginnya salju.
Aku hanya memberinya kabar, aku akan datang ke Park Castle bersama Bee dan juga Mom. Oscar tidak bertanya atau meminta penjelasan selain berkata iya.
Tapi dalam otaknya yang pintar itu, aku yakin dia sudah bisa menduga apa tujuanku datang ke sini. Sikap menyebalkan saat menyambutku yang menjadi pertanda.
Tapi setidaknya dia masih bersikap ramah pada Mom.
Charlie sekarang menggiring para werewolf yang sebenarnya tidak perlu ada di sini, menuju ke arah sayap kanan mansion. Sedangkan Oscar memberi isyarat agar aku mengikutinya. Dia berbelok memasuki ruangan dengan pintu besar masih dalam diam.
Aku, Bee dan Mom mengikutinya.
"Silahkan duduk!" katanya sambil menunjuk ke arah sofa kulit di sekitar meja yang telah berisi teh panas mengepul dan juga berbagai macam makanan kecil.
Mom dan Oscar kemudian berbasa-basi sebentar, membahas cuaca dan juga hal-hal remeh lain yang setidaknya menerbitkan senyum di wajah Oscar. Karena setelah ini, aku yakin dia tidak akan banyak tersenyum.
Aku melirik Bee di sebelahku, yang meremas tangannya dengan cemas.
Aku meraih tangan kirinya dan kembali menggenggamnya, agar dia lebih tenang. Bee sedikit tersentak, tapi kemudian tersenyum sambil menatapku. Seolah menjawab bahwa dia baik-baik saja.
F*ck!! makiku dalam hati.
Ketika kembali menaruh perhatian pada Oscar, matanya telah beralih dari Mom. Pandangan tajam Oscar menancap pada tanganku dan Bee, yang berpegangan erat.
"Maafkan aku, tapi aku ingin berbicara berdua saja dengan Duke, jika kalian tidak keberatan" katanya dengan senyum yang tidak mencapai mata, sambil menatap Mom.
Mom yang agak terkejut, hanya bisa memandangku meminta saran. Maka aku mengangguk, aku juga ingin berbicara dengan bebas.
"Tapi----" Bee terlihat keberatan dengan permintaan Oscar, sekarang dia memandang bergantian antara aku dan Oscar.
"Tidak apa, Bee" Aku menenangkan sambil meremas lembut tangannya. Seburuk apapun sikap Oscar, aku akan menghadapinya.
"Aku ingin sekali melihat kamarmu Lui. Kau tidak keberatan untuk mengantarku?" Mom mencoba mengalihkan perhatian Bee dengan membahas hal lain. Tapi alasan yang dipakainya sangat payah.
Bee masih tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Mom akhirnya meraih tangannya, dan dengan wajah tidak rela, Bee mengikuti Mom keluar ruangan.
Aku berdiri begitu mereka menutup pintu, karena melihat Oscar berjalan menuju meja kerjanya dan menunduk sebentar.
Dia bangun seraya membawa shotgun hitam, kemudian tanpa basi-basi mengokangnya, dan mengarahkan laras panjangnya tepat di wajahku.
"Ini membosankan Oscar, kau tahu aku tidak akan terbunuh dengan senjata itu!"
Aku memandang wajahnya yang kini telah berubah bengis. Tidak tersisa lagi ramah-tamah yang tadi ditunjukkannya di hadapan Bee.
"Aku tidak bermimpi untuk bisa membunuhmu dengan ini. Aku berharap setidaknya bisa meledakkan salah satu matamu" jawabnya, dengan dingin.
Aku tahu sekarang kenapa Delmora menjadi keluarga mafia yang paling ditakuti.
Sikap Oscar saat ini, sudah pasti akan membuat manusia manapun tidak akan mau bertemu dengannya, walaupun dalam mimpi, karena itu akan menjadi mimpi buruk.
Tapi aku bukan manusia, maka aku meraih moncong senapan itu dan mencengkeramnya sekuat tenaga.
Dengan perlahan, moncong itu berubah. Cap kelima jariku terbentuk dengan jelas di laras panjang yang terbuat dari besi itu. Aku bisa saja mematahkannya, tapi aku memilih untuk berhenti.
"Aku masih membutuhkan kedua mataku"
"Ck---" Oscar mendecak dengan frustasi.
BRAAKKK!!
Dia membanting senapan itu di meja, nafasnya yang memburu menandakan bahwa amarahnya belum reda.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak lagi mendekati Lui!!" bentaknya, masih memunggungiku.
"Dan aku sudah memberitahumu, jika memang Bee ingin aku pergi, maka aku akan menurut. Tapi tidak, sekali lagi dia menerimaku" Aku menjawab dengan kalem.
"Kau seharusnya tidak perlu menemuinya lagi. Dia sudah bahagia dengan kehidupan baru yang aku bentuk!!"
Masih dengan nada tinggi, Oscar berbalik memandangku masih dengan wajah menyeramkan. Aku yakin para wanita berhenti memujanya, jika melihat wajah Oscar saat ini.
"Tidakkah kau merasa terlalu sombong? Aku tahu, semua yang kau lakukan untuk melindungi Bee. Tapi kau juga harus memberinya kebebasan untuk menjalani apa yang dia inginkan. Dan dia menginginkan aku!"
"Aku membiarkannya bersamamu, karena kau seharusnya manusia biasa!! Lui tidak membutuhkan omong kosong soal werewolf! Dia harus hidup normal" Nada suara Oscar menurun drastis.
Dia melangkah mondar-mandir sambil meremas tangannya.
Aku kini melihat wajah asli Oscar yang sedari tadi tertutup oleh topeng amarah. Cemas, gelisah dan panik. Dia terlihat sedikit rapuh malah.
Sikap murni seorang kakak yang mengkhawatirkan masa depan adik semata wayangnya.
Aku duduk kembali di sofa, Oscar juga melakukan hal yang sama. Dia melepaskan seluruh beban tubuhnya pada sandaran sofa itu. Sikapnya sama seperti saat dia menceritakan soal Bee beberapa minggu lalu. Sikap pasrah.
Selama kurang lebih 10 menit berikutnya Oscar hanya diam sambil memejamkan mata untuk menenangkan diri. Nafasnya dengan perlahan mulai tenang. Pertanda bagus, pembicaraan kami tidak akan melibatkan senapan lagi setelah ini.
"Those damn green eyes!!" gumamnya dengan suara sebal.
Oscar memandangku masih dalam posisi tergolek di sofa.
"Why? Ada apa dengan mataku?" Aku tidak menyangka dia akan membicarakan tentang mataku yang berubah hijau.
Oscar menjawab dengan gumaman yang tidak bisa aku tangkap maksudnya. Bagaimana bisa mereka begitu mirip??
Bee akan bergumam tak jelas jika dia malu, tapi Oscar bergumam karena harus mengucapkan hal yang tidak dia suka.
"Oscar, kau harus tahu, aku memang bukan manusia. Tapi aku akan sekuat tenaga melindungi Bee. Dia akan sangat aman bersamaku di Blackmoon"
Aku akhirnya mencoba meyakinkan Oscar lagi, mengabaikan gumamannya tadi.
"Aman?! Kau bilang aman?" Marah Oscar kembali timbul, mendengar perkataanku.
"Kontak pertama Lui dengan inhumane membuatku kehilangan Mark, dan itu kau bilang aman? Aku percaya kau tidak akan pernah menyakiti Lui dengan sengaja. Tapi aku tidak percaya dengan makhluk inhumane lain. Dan sekarang, kau malah membuatnya menjadi incaran makhluk lain karena memilihnya sebagai Mate!!"
Oscar memuntahkan amarahnya dalam sekali nafas.
"Sekali lagi aku katakan, aku tidak memilih untuk jatuh cinta pada Bee. Itu terjadi dengan begitu saja" geramku sambil menggertakkan gigi menahan umpatan.
"Kau memilihnya atau tidak, tidak merubah fakta dia berada dalam bahaya karena hal itu"
Wajah Oscar sekarang terlihat lelah. Aku sangat yakin dia telah memeras otak untuk mencari kemungkinan agar Bee tak bersamaku lagi.
"Aku berjanji akan menyelesaikan masalah itu sesegera mungkin, setelah aku menjadi Alpha. Jika bisa, aku juga memilih untuk menikah dengan Bee setelah keadaan menjadi lebih tenang, tapi tanganku terikat. Aku harus menjadi Alpha jika ingin berhasil melawan mereka dengan maksimal" jelasku.
Wajah Oscar masih tidak menunjukkan reaksi apapun. Tapi nafasnya yang kembali melambat menjadi petunjuk bahwa dia kembali tenang.
"Tidak akan ada yang mengincar Bee setelah semua masalah dengan vampire ini selesai. Blackmoon juga mempunyai perjanjian dengan Hunter. Percayalah, sebelum semua masalah menyebalkan ini, Blackmoon berada dalam keadaan damai selama beberapa dekade"
Aku tidak akan menghitung situasi saat Mom datang, karena itu masalah internal, bukan berasal dari inhumane lain.
Oscar memandangku dengan mata menyipit curiga "Kau tidak berbohong, tapi aku juga melihat kau menyembunyikan sesuatu"
Aku ingin mencolok mata biru itu dengan jariku saat ini juga.Kemampuannya membaca gerak tubuh benar-benar
"Karena masalahnya terjadi sebelum aku lahir, dan itupun hanya ada perselisihan antara penghuni pack" Jelasku, dengan enggan.
"Huh...!!" Oscar mencibir dengan wajah tak senang, tapi tidak lagi memprotes jawaban jujurku.
Dia kembali menyandarkan kepalanya ke sofa, menungguku berbicara.
"Aku akan menikah dengan Bee minggu depan" ujarku dengan suara sedatar mungkin, untuk mencegah kemungkinan amarah Oscar akan kembali naik, jika dia melihat aku terlalu bahagia.
Oscar bangun dan melotot ke arahku, tapi tidak berkata apapun. Lebih tepatnya, tidak bisa berkata apapun.
Melihat dari bibirnya yang bergetar, aku yakin dia punya seribu makian yang ingin dilontarkan padaku, mungkin otaknya bingung memilih mana yang paling kasar.
Setelah berdiri mematung beberapa saat, Oscar memejamkan matanya erat, berusaha menenangkan diri. "Aku sudah menduga hal itu, tapi aku tidak menyangka akan begitu cepat" Nada dinginnya kembali.
"Alasan utamanya adalah karena aku harus menjalani penobatan Alpha sebelum minggu depan, tapi setelah aku pikirkan, tidak ada alasan bagi kami untuk menunda pernikahan. Dulu status sebagai inhumane yang mencegahku, tapi sekarang kau dan juga Bee telah mengetahui segala hal tentang duniaku, tidak ada lagi yang mengganjal. Aku pasti sudah melamar Bee sedari dulu jika aku manusia, jadi jelas, pernikahan kami tidak terlalu cepat"
"Hmpph!... kau pernah menyesali takdirmu sebagai werewolf? Itu tak terdengar seperti kau" celanya.
"Aku pernah sungguh-sungguh berharap aku adalah manusia biasa, tapi ketika melihat Bee siuman karena pertolongan Alva, aku sadar bahwa keinginanku itu adalah kebodohan. Aku sudah membuangnya jauh-jauh dari benakku"
Kenangan yang tidak menyenangkan, mulutku terasa pahit hanya dengan mengingatnya.
Tok.....Tok!!
"Ada apa?" Oscar berteriak dengan nada menegur, tidak suka karena diganggu.
"Makan malam sudah siap, dan tamu yang akan bergabung juga sudah datang" Suara Charlie menyahut dari pintu.
Tentu saja Charlie, satu-satunya orang di dunia ini yang tidak ragu mengetuk pintu kandang singa yang sedang marah untuk mengabarkan makan malam.
"Ya.. kami akan keluar sebentar lagi!" Gerutu Oscar
Kau mengundang tamu yang lain?" Aku membayangkan meja makan akan sangat penuh, dengan adanya El dan yang lain.
"Hanya dua" jawabnya pendek, sambil melangkah ke pintu.
"Lui---dia bahagia bukan?" tanyanya pelan, dengan tangan yang telah berada di kenop pintu.
Aku tersenyum, "Terkejut, tapi dia menerimaku dengan bahagia. Dan itu cukup untukku"
Oscar kemudian mengangguk samar dan memutar kenop pintu sampai terbuka dan keluar.
Apakah dia baru saja memberikan persetujuannya?
Aku hanya bisa berdiri dengan takjub selama beberapa saat, sampai akhirnya Oscar melongokkan kepalanya kembali ke dalam.
"Apa yang kau lakukan? Kau tdak boleh absen di acara makan malam ini. Kau akan membuat Bee berdiri sendirian mengumumkan pernikahannya?" Oscar bertanya dengan wajah kesalnya yang biasa.
"Tidak--tentu saja tidak! Aku akan keluar" sahutku cepat.
Aku berusaha mencerna jika Oscar benar-benar telah memberi restu untuk menikahi Bee. Senyum puas dengan ototmatis terbentuk dibibirku.
"Hapus senyum bodoh itu dari wajahmu, sebelum aku berubah pikiran!" Bentak Oscar, saat kami berjalan cepat menuju ruang makan.
"Tidak akan!!" Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak momen bahagia ini.
"Tentu saja, aku juga tidak pernah mengkategorikan sifatku sebagai menyenangkan. Dan aku menikahi Bee karena aku mencintainya, bukan karena sifatmu yang mempesona, Big Brother!"
Well---aku harus memanggilnya dengan benar bukan?
"Tutup mulutmu atau aku akan benar-benar melemparmu keluar!!" Dia terlihat bear-benar murka. Mungkin belum saatnya aku memanggilnya kakak.
"Jangan konyol!! Kau akan membuat Bee sedih, jika dia harus mengumumkan rencana pernikahannya sendirian!" balasku dengan enteng, sambil berjalan menuju suara riuh di depanku.
Oscar tidak bisa lagi membalas, akhirnya melampiaskan kekesalannya dengan menghentakkan kaki selama sisa perjalanan ke ruang makan.
----------- *0o0*----------
"Luiiii!!"
Suara memekakkan telinga menyambutku di ujung tangga. Aku baru saja turun setelah menunjukkan kamarku pada Myra.
Jovi berlari kecil kemudian menghambur ke arahku sambil berurai air mata.
"Oh My God.. aku senang sekali!!" Masih dengan suara melengking yang sama.
"Aku juga senang melihatmu Jovi" Aku memeluknya sepenuh hati.
Aku merindukannya.
"Kau baik-baik saja? Oscar mengatakan kau harus pergi karena penyakitmu yang memburuk. Aku harap kepulanganmu karena kau sudah menjadi lebih baik" Pertanyaan bertubi-tubi sangat khas Jovi.
Kebohongan Oscar tentang situasi yang aku hadapi, meninggalkan rasa tidak menyenangkan di perutku. Tapi jika alternatifnya adalah mengatakan pada Jovi tentang serigala ganas yang hampir membunuhku, maka aku setuju dengan kebohongan Oscar.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban, karena tidak ingin berbohong lebih jauh padanya.
Tiba-tiba senyum menghilang dari wajah Jovi, dia terpaku pada sesuatu di belakangku. Matanya melebar dengan takjub. Rupanya dia melihat Myra sedang berjalan menuruni tangga.
Aku tidak menyalahkannya, Myra lebih terlihat seperti bukan manusia dari pada Duke. Rambut putih sempurna dan wajah rupawan yang mulus tidak cocok. Apalagi sangat jelas terlihat warna putih itu asli, bukan karena cat rambut.
"Siapa ini Lui?" tanya Myra begitu tiba di sampingku.
"Ini Jovita Norine, kami bekerja bersama di Delmor Corp" jelasku.
"Oh tentu saja, Myra Theobald"
Dengan ringan Myra mengulurkan tangan ke arah Jovi, tapi aku harus menginjak pelan kaki Jovi untuk membuatnya sadar dari keterpanaan, sebelum dia akhirnya menyambut tangan Myra.
"Jo--Ovita Norine"
Kaget karena injakan kakiku membuatnya tergagap.
"Ya-- Lui sudah bercerita banyak tentang anda Ms. Norine, anda persis seperti yang saya bayangkan" Myra memandang Jovi dengan teliti.
"Eh.. Jovi, panggil saja saya Jovi" Jovi berhasil menguasai diri dan menjawab dengan lebih baik.
Myra tersenyum lebar, "Dan karena kau teman Lui, maka kau boleh memanggilku Myra" balasnya.
Jovi akhirnya tersenyum lega. Tapi dari wajahnya, aku sangat yakin dia masih punya seribu pertanyaan di dalam benaknya.
Suara bel pintu mengalun pelan, membawa Charlie yang berlari kecil dari arah dapur.
"Kenapa kalian masih ada di sini? Cepatlah ke ruang makan, aku akan menyambut tamu dan kemudian memanggil kakakmu, kita sudah sangat terlambat!" tegurnya, melihat kami bertiga di ujung tangga.
"Ya Charlie" sahutku dengan patuh, mencegah omelan yang lebih panjang.
Myra dan Jovi hanya tertawa pelan, melihat kepanikan Charlie.
"Ayo!!" Aku memberi isyarat pada Jovi dan Myra yang segera mengikutiku.
Sementara Charlie berlari ke pintu, aku penasaran siapa lagi tamu yang diundang?
Nafas Jovi terkesiap kencang ketika kami sampai di ruang makan. Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku.
"Apakah kau memanen mereka dari kebun orang tampan? Bagaimana bisa kau mengumpulkan begitu banyak orang mempesona secara bersamaan?" bisik Jovi tepat di telingaku. Tanpa mempedulikan kesopanan.
Aku nyaris terkekeh mendengarnya, tapi aku tidak menjawab.
Penampilan pria seluruh werewolf yang ada di ruang makan sangat rapi dan resmi. Karena ini adalah acara makan malam. Seperti Duke, mereka semua mengenakan setelan jas tanpa dasi.
Menurut Duke, sudah menjadi kebiasaan werewolf untuk tampil lebih rapi, bila berada bersama manusia. Agar mereka bisa membaur dengan lebih baik. Dan tentu saja hal itu membuat point penampilan mereka naik beberapa tingkat.
Farjad dan Dey sangat bisa di bilang tampan. Farjad terlihat seperti anak kuliah tampan dan segar yang berasal dari asia selatan, sedangkan Dey dengan rambut hitam bros menatap kami dengan mata coklatnya yang dalam tanpa ekspresi.
Mereka berdua berada dalam level tampan playboy yang akan mendapat banyak perhatian.
Sedangkan untuk El, aku tidak heran jika Jovi terpesona. Ada bekas luka cakaran yang memanjang dari pipi kanannya sampai ke leher. Tapi selain itu, dengan wajah tirus dan mata lebar, dia jelas tampan.
Saat ini, mata Jovi sudah menelusuri sosok mereka bergantian. Dey sampai harus menundukkan kepala, berpura-pura sangat tertarik dengan serbet yang ada di meja.
"Kendalikan dirimu!" Aku menegur dari sudut bibirku, dengan tujuan agar mereka tidak mendengar.
Tapi tentu saja gagal, karena mereka semua jelas mendengar bisikan Jovi dengan telinga werewolf-nya. El terlihat menahan senyum, sedangkan Myra menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan tawa.
"Lui!!!!!" Suara lantang yang berasal dari lorong membuat kami semua menoleh.
Itu Zeno!!!
----------- *0o0*----------
"Kau mengundangnya?!" Desisku pada Oscar\, saat melihat aktor t*l*l itu\, berjalan cepat menuju ruang makan.
"Aku tidak sebodoh itu Duke. Jovi yang bercerita padanya, tentu saja dia memaksa ingin datang. Aku tidak punya alasan untuk menolak" Oscar menjawab dengan letih.
"Luiiii...!" Lengkingan bernada tinggi miliknya membuatku semakin kesal.
"Ck....!" Aku mempercepat langkah, saat melihat aktor itu membuka lengannya lebar-lebar, bersiap memeluk Bee.
Aku menarik kerah bajunya pada saat yang tepat, beberapa senti sebelum pelukan itu terjadi. Wajah Bee yang tadi kebingungan, sekarang terlihat lega.
See--- Bee juga tidak nyaman dengan pelukan itu. Hanya aktor t*l*l itu yang tidak sadar.
"Apa yang kau lakukan?" Dia menoleh memandangku jengkel sambil menghentakkan tanganku agar melepaskan kerah bajunya.
"Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau pikir akan kau lakukan?" Aku memandangnya dengan tajam.
Apa dia pikir aku akan membiarkannya menyentuh Bee?
"Aku hanya ingin menyambut Lui" balasnya, keras.
Tentu dia mulai merasa aku sedikit kurang ajar. "Kau bisa menyambutnya tanpa pelukan!" Aku menegur dan berusaha terdengar sopan, mengingat dia adalah manusia biasa.
"Ehh.... Apa maksud semua ini Oscar? Dan apa hakmu untuk melarangku?" Matanya sejenak melirik ke arah Oscar, lalu maju mendekatiku dengan berani.
Manusia bodoh! Apa dia baru saja menantangku?
"Makan malam sudah siap!!" suara Charlie yang lantang, memecah ketegangan.
"Kalian berdua berhentilah saling melotot! Aku akan mengusir kalian dari rumah, jika berani mengacaukan makan malam ini!" Charlie menegur kami dengan tegas, sambil berjalan menuju kursi.
Dia adalah penguasa rumah di saat seperti ini.
Bahkan Oscar tidak membantahnya, dia hanya mengangkat bahu kemudian duduk di ujung meja makan. Menandakan kedudukannya sebagai tuan rumah di sini.
Bee juga memberi isyarat padaku agar segera duduk. Aku sekali lagi memberi lirikan mematikan pada aktor itu sebelum mengikuti Bee untuk duduk.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat wajahnya mengernyit tidak suka, saat melihatku duduk di sebelah Bee. Dengan langkah cepat, dia mengambil tempat duduk tepat di depan Bee, membuat El yang hendak duduk di kursi itu tersingkir.
Tanpa keinginan melawan, El hanya bergeser dan duduk di hadapanku.
"Makan malam ini luar biasa berisik ternyata" Mom berbisik sangat pelan di telingaku dari kursi di sebelah, memastikan hanya aku yang bisa mendengarnya.
"Hmpph.."
"Aku rasa beberapa dari kita belum saling mengenal" Oscar akan menjalankan tugasnya sebagai tuan rumah tanpa cela tentu saja.
Dia mulai memperkenalkan kami satu persatu, dan kami mulai saling menyapa dengan sopan.
Jovi tersedak air yang diminumnya, ketika Oscar memperkenalkan Mom sebagai Ibuku. Wajah Mom tidak cocok dengan umurnya. Wajah aktor itu juga terlihat terkejut, tapi tak berkata apa-apa.
Setelah perkenalan yang sedikit canggung itu, satu demi satu makanan mulai mengalir masuk dibawa oleh pelayan sesuai dengan arahan dari Charlie.
Dan tentu saja semua masakannya lezat, karena sekali lagi berada di bawah kekuasaan Charlie.
Bee pernah bercerita kalau Charlie hampir memecat seorang Chef hanya karena dia salah mengenali jenis butter.
Bahkan Dey terlihat terkejut saat mencicipi beberapa diantaranya. Dia terlihat mencoba menebak-nebak bahan apa yang dipakai Charlie pada masakan itu. Dia mungkin akan menciptakan resep baru untuk restoran yang dikelolanya.
Mom dan Charlie-- duduk di sebelah Mom--sesuai dengan yang aku perkirakan, mulai sibuk bertukar cerita tentang Bee dan juga banyak hal lain.
Sedangkan Jovi, dia terlihat terlalu bersemangat mengobrol dengan posisi diapit oleh Farjad dan El. Setidaknya El dan Farjad punya banyak pengetahuan tentang dunia manusia, mereka dengan mudah mengimbangi bahan pembicaraan Jovi.
Oscar masih tidak banyak bicara, tapi sesekali menanggapi pertanyaan Bee. Tapi karena banyaknya manusia di sini, kami semua membatasi pembahasan hanya mengenai beberapa hal remeh.
Dengan pelan aku mencari tangan kiri Bee di bawah meja dan menggenggamnya.
Bee sedikit tersentak, tapi wajahnya tidak berubah. Aku gembira dengan perkembangan ini, itu berarti Bee sudah agak terbiasa dengan kehadiranku. Tanpa ragu dia membalas genggamanku sambil terus berbicara dengan Oscar.
"Aku ingat sekarang, Duke!" Jovi tiba-tiba berseru dari seberang meja.
"Apa?" tanyaku bingung.
"Aku dulu merasa pernah melihatmu bukan? Dan sekarang aku tahu kenapa"
O..o Apakah ini akan seperti yang aku bayangkan?
"Kau mirip sekali dengan David Adalrik!"
Tanpa rasa bersalah, Jovi menyebut nama yang sangat terlarang. Dari sudut mataku aku bisa melihat beberapa orang yang mengetahui tentang hal ini, berubah menjadi tegang.
Charlie menyambar minumannya dan menghabiskan isi gelasnya dalam sekali teguk. Mom berhenti menyuapkan makanan ke mulut, tapi wajahnya terus menunduk menghadap piring. El menatap Jovi dengan raut yang tidak bisa aku mengerti.
"Benarkah?" sahut Oscar dengan santai, dia tidak menampakkan wajah heran atau apapun, dia hanya memandang Jovi pertanda mendengarkan.
Poker face yang sangat sempurna.
"Siapa dia?" Bee bertanya dengan wajah tertarik.
For the ...!!!
"Singer and songwriter. Sangat terkenal dan juga tampan tentu saja, karena itu aku tahu. Tapi dia sudah meninggal beberapa bulan yang lalu" Jovi menjelaskan dengan nada prihatin.
"Oh.. itu menyedihkan, apa yang terjadi?" Bee masih bertanya penasaran, sementara aku berharap percakapan ini segera berakhir.
"Kecelakaan di laut. Dia berlayar sendiri naik yacht miliknya, tapi kemudian kapal itu tertelan badai. Polisi hanya bisa menemukan kapal yang sudah porak-poranda, dan David hilang tak berbekas. Melihat dari keadaan kapal itu, polisi akhirnya menyimpulkan bahwa David sudah meninggal di laut"
Dengan fasih Jovi menceritakan scenario kematianku.
Aku sedikit kagum pada Uncle Rex yang membuatnya dengan begitu mulus.
Aktor itu sekarang juga memandangku dengan seksama.
"Ya, aku ingat dia. Beritanya menghiasi media massa selama sebulan lebih. Dan benar kata Jovi, kau mirip sekali dengannya" katanya, melengkapi cerita Jovi, sambil menunjukku dengan garpu.
"Ya, dan kau hampir terjatuh dalam nasib malang yang sama dengannya. Tapi kau berhasil lolos dari belitan Florence Lockhart berkat Lui, sedangkan dia tidak!" kata Jovi, pada aktor itu.
Jovi terlihat jengkel. Dan aku sungguh heran, ternyata masih ada yang mengingat skandalku dengan wanita ular itu......
Aku sangat berharap berita itu sudah menjadi fosil. Tapi aku tidak heran dia mengincar aktor yang ada di depan Bee, ia masuk dalam kriteria incaran wanita busuk itu.
"Oh... aku tidak tahu ada berita tentang mereka berdua!" Aktor itu jelas terlihat tertarik sekarang.
"Ya, David Adalrik tidak terlalu banyak bergaul, mungkin karena itu tidak ada yang memperingatkannya soal siapa Florence, tapi syukurlah dia berhasil menyelesaikannya dengan mulus. Dan aku bahagia sekali melihat Florence dipermalukan karena kejadian itu"
Aku sungguh-sungguh memohon agar percakapan tentang masalah ini cepat selesai, karena aku tidak ingin diingatkan tentang apapun yang berhubungan dengan wanita sampah dan murahan itu.
Bee mengangguk-angguk mengerti. "Apa kau mengenal penyanyi itu? Kalian sama-sama berada di dunia hiburan" tanyanya pada aktor itu.
"Ah, tidak, aku hanya pernah bertemu dengannya sekali, saat dia tampil di acara penghargaan film. Dan harus aku akui suara dan juga permainan pianonya sangat indah" Jawabnya.
Aku sama sekali tidak ingat pernah bertemu dengannya.
"Memang, dan karena itu dia sangat terkenal Lui. Pemakamannya dihadiri oleh jutaan fans dari seluruh dunia, yang berkumpul secara sukarela di L.A. Aku masih merinding jika mengingatnya" Jovi bergidik.
"Kau pernah mendengar lagunya Lui, tapi mungkin kau sudah lupa atau tidak tahu" tambah Jovi sambil tersenyum penuh arti pada Bee.
Aku tidak suka dengan durasi panjangnya masalah ini dibahas.
"Kapan?" Bee terlihat berpikir keras di kursinya.
"Saat kau berkunjung ke apartemenku dulu. Kau ingat? Kau mendengarkan lagu saat aku sedang mandi" Jovi tidak menyerah.
"Ah... ya aku ingat. Lagu itu indah sekali" Bee akhirnya teringat, dan itu membuat keringat dinginku mengalir semakin deras.
"Lagu itu berjudul 'Your Scent', lagu paling favoritku darinya" Jovi menjelaskan.
Itu adalah lagu pertama yang aku tulis karena Bee!
Aku tidak tahu harus menampilkan raut wajah seperti apa saat ini, karena sebagian diriku takut bila ingatan Bee tiba-tiba kembali dan dia akan pingsan, sementara sebagian lainnya berharap ingatan itu kembali.
"Oh, aku kira kau menyukainya hanya karena dia tampan Jov" sahut aktor itu, sambil tersenyum geli.
Kesukaan Jovi akan pria-pria tampan, bukan rahasia lagi ternyata.
"Tentu saja tidak Zen, aku sangat menyukai lagu-lagunya. Wajah tampan David adalah bonus" kata Jovi sambil memutar bola mata, kesal.
"Aku tersanjung dengan semua pernyataan itu Jov, tapi aku harap, aku lebih mempesona daripada David Adalrik" ucapku, berusaha memutus diskusi sekaligus menghindari kecurigaan.
Jovi tertawa, "Tentu saja Duke, tapi kalian benar-benar mirip. Karena itu aku agak kaget saat kita bertemu"
"Well, aku senang dia sudah meninggal, aku tidak suka wajahku menjadi pasaran"
Sekarang Bee ikut tertawa sambil menyikut perutku pelan, karena ucapanku memang sedikit tidak sopan, mengingat objek yang dibahas sudah mati menurut mereka.
Tapi dengan begitu, mereka menjadi lengah dan tidak curiga. Bee dan Jovi --bahkan aktor itu-- tidak terlihat curiga. Mereka tertawa biasa.
Charlie dan juga El tertawa kaku demi kesopanan. Mom menghembuskan nafas lega di piringnya, karena percakapan itu berakhir dengan baik,
Minuman hangat tersuguh setelah dessert yang lezat. Dan Oscar akhirnya memakai kesempatan itu untuk berbicara.
"May I have your attention please!" Ucapnya dengan tegas.
Suara percakapan lenyap dalam hitungan detik.
"Saya ingin berterima kasih atas kehadiran kalian semua di sini. Dan saya harap hidangan dari kami sesuai cukup memenuhi selera"
Sikapnya menjadi sangat resmi, terlihat seperti sedang melakukan penyambutan rapat pemegang saham.
"Oh tentu saja, masakan Charlie sangat lezat. Kami merasa tersanjung" Mom membalas dengan kesopanan yang sama.
Oscar tersenyum kecil. "Saya gembira mendengarnya" Oscar mengangkat cangkirnya dan kemudian mengangguk ke arah Mom sebagai penghormatan.
"Makan malam ini selain untuk menyambut kedatangan Lui, juga untuk mengumumkan sesuatu, yang mungkin sebagian besar dari kalian sudah mengetahuinya" Lanjutnya, sambil memandang ke arah rombongan werewolf yang mengangguk hampir bersamaan.
Sementara manusia selain Lui, memandang Oscar penuh tanya. Oscar melirik sekilas ke arah aktor itu sebelum melanjutkan perkataannya.
"Lui dan Duke telah bertunangan dan akan melangsungkan pernikahan di Canada minggu depan!"
Aktor itu menumpahkan isi cangkirnya ke meja, taplak putih itu sekarang berhiaskan noda kopi yang melebar dalam waktu beberapa detik. Dia bahkan tidak berusaha meminta maaf pada Charlie, padahal telah mengotori linen putihnya, karena terkejut.
Matanya tidak lepas memandang Bee, yang sekarang menunduk malu tidak sanggup memandang ke depan.