
Jam yang tergantung di dinding menunjukkan waktu 05:16.
Aku meliriknya sebentar, kemudian menjejakkan kaki pada pinggir tembok kolam renang, dan meluncur maju.
Masih ada sedikit waktu sebelum berangkat. Satu putaran mengelilingi kolam, setelah itu aku akan mandi.
Tapi baru sampai di pertengahan jalur, Charlie datang membawa handuk besar dan berlutut di pinggir kolam. Itu adalah tanda aku harus mengakhiri olahraga pagi, sekarang juga.
Sampai di tepian, aku naik dan menerima handuk yang di ulurkan Charlie.
"Oscar ingin kau segera bersiap-siap, ada meeting penting hari ini. Dia tidak ingin terlambat" kata Charlie sambil membantuku mengeringkan rambut.
Tentu saja, Oscar akan selalu punya alasan untuk berangkat sebelum waktunya, workaholic-nya berada dalam taraf kronis.
Aku mengangguk mengerti "Aku akan segera bersiap."
Aku melangkah mendekati tembok kaca yang mengelilingi kolam, sedikit peregangan akan membuat ototku melemas, dan sudut ini adalah tempat favoritku untuk melakukannya.
Biasanya aku selalu membuka kaca-kaca itu, tapi udara musim gugur pagi ini sangat dingin.
Kolam ini terletak di lantai paling atas rumah, jadi aku bisa memandang dengan bebas hutan Blubell, Di luar masih remang-remang, karena matahari belum terbit sempurna, tapi semua warna hutan sudah terlihat jelas.
Hutan itu penuh warna musim gugur yaitu kuning kemerahan, tapi bagian hutan yang paling dalam masih terlihat hijau.
Rasa hangat yang tidak masuk akal, tiba-tiba menjalar di tubuhku, dan aku tahu karena apa. Bayangan sesosok pria dengan mata berwarna cokelat cerah mulai terbentuk di benakku.
Pemandangan hutan itu, mengingatkan aku pada aromanya, yang mirip dengan tanah basah dan embun yang manis. Aku menggeleng dengan kuat, mencoba untuk mengusir bayangan itu.
Kau hanya terpesona oleh wajahnya Lui! Aku berteriak dalam hati, sekeras mungkin.
Semenjak pertemuanku dengannya beberapa hari yang lalu, bisa dibilang aku menjadi agak sedikit gila.
Bagaimana tidak? Aku menangis begitu saja setelah bertemu dengannya, belum lagi bayangannya selalu muncul saat aku lengah, seperti sekarang ini.
Kemarin aku sarapan dengan pancake dan sirup maple, aroma manis sirup maple itu membuat bayangannya muncul begitu saja.
Warna selimut dan bed cover tempat tidurku yang berwarna hitam putih, membuatku teringat akan rambut hitam dengan sedikit torehan warna putih miliknya.
Jika ini tidak gila, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku.
Aku akan menyudahi pendinginanku lebih cepat, putusku dengan kesal.
Ini adalah hari kedua aku bekerja kembali, aku harus tetap fokus.
Tumpukan proposal yang mengubur meja membuatku nyaris menangis kemarin. Jovi dengan kantung mata pandanya memelukku erat, gembira akhirnya dia tidak harus menyelesaikan semua itu sendiri.
Berita tentang aku dan Zeno, membuat divisi Charity menjadi terkenal. Dan itu berarti selama dua minggu ini, Jovi mendapat kiriman proposal hampir 3 kali lebih banyak dari biasanya.
Dia sudah bekerja lembur selama 2 minggu dan masih saja banyak tumpukan proposal yang tidak bisa di periksanya.
Aku harus mempertimbangkan untuk mencari karyawan baru untuk divisi Charity jika ini terus berlangsung.
Dan aku harus cepat, Oscar tidak akan suka jika aku membuatnya terlambat ke kantor.
----------- *0o0*----------
"Berhentilah! Kau membuatku pusing" Uncle Rex memandangku dengan jengkel.
Untuk kesekian kalinya, aku bangun dari kursi dan mulai mondar-mandir dengan gelisah.
"Paman yakin, dia tidak tahu tentang hubunganku dengan Monath Corp?"
"Tentu saja! Namamu baru aku masukkan sebagai pemilik Monath Corp kurang lebih 2 minggu yang lalu. Dan butuh keajaiban baginya untuk bisa mendapat informasi ini. Aku sudah menutup semua lubang kemungkinan informasi ini bisa keluar. Sudah cukup memalukan dia bisa mengetahui tentang identitas aslimu. Aku tidak akan membiarkan ada informasi lain yang bocor keluar" Jelas Uncle Rex dengan sedikit berapi-api.
Uncle Rex sangat marah, ketika mendengar Oscar tahu tentang informasi jika aku adalah Inhumane dan Scion.
Dia segera bertindak dengan mengganti semua informannya yang terlihat mencurigakan, belum lagi beberapa orang yang dipecat, karena dia anggap tidak becus menjaga kerahasiaan dan keamanan pack.
Dia bertekad untuk mengalahkan Oscar dalam hal memata-matai. Dia tidak akan pernah lupa bagaimana sulitnya mencari info tentang Bee, sedangkan Oscar dengan mudahnya mendapat informasi tentang aku.
Hari ini aku berada di lantai 10 Tower Delmor, di ruang meeting menunggu Oscar datang. Kami ada janji untuk membahas soal bisnis pembangunan resort super mewah di salah satu negara tropis.
Lebih tepatnya, meeting ini seharusnya hanya antara uncle Rex dan Oscar. Yang Oscar tidak tahu adalah kenyataan bahwa aku dan El ada di sini juga.
Aku tidak membawa Roan hari ini, karena tidak ingin ada gangguan apapun saat aku bertemu dengan Oscar, termasuk gangguan dari mulut Roan.
Aku meminta Uncle Rex untuk mengatur pertemuan ini. Oscar dengan sengaja menghindar dariku, tetapi dia tak akan pernah menghindar dari urusan bisnis yang ditawarkan oleh Monath, terutama jika bisnis itu bernilai $12juta.
Harga yang murah menurutku, jika memang dengan uang itu aku bisa berbicara dengan Oscar.
Lagipula kata Uncle Rex, aku tidak perlu khawatir soal proyek ini, karena Monath memang sudah berencana membangun resort itu. Hanya perlu sedikit perubahan dalam hal jadwal dan partner bisnis.
Dia juga meyakinkan aku, bahwa deal bisnis ini akan menghasilkan dua kali lipat dari yang modal yang kami keluarkan dalam waktu 2 tahun.
Butuh 3 hari bagi Uncle Rex untuk mendapatkan janji ini. Tidak heran karena jadwal Oscar yang sangat padat.
Aku melirik arloji kembali, Oscar orang yang sangat tepat waktu, itu berarti aku hanya punya waktu 5 menit sebelum dia datang. Dan ternyata tidak perlu selama itu, suara detakan kaki mendekat ke arah ruangan ini sudah terdengar.
Pintu kaca berukuran besar berayun keluar dan memperlihatkan rambut berwarna emas sangat identik dengan rambut Bee, belum lagi wajahnya.
Jika aku tidak tahu Oscar berumur 6 tahun lebih tua dari pada Bee, aku akan mengira jika mereka adalah kembar.
Tidak hanya Bee, tapi juga Oscar, mereka berdua memiliki wajah yang luar biasa mempesona, aku mengakuinya.
Dia datang bersama dengan seorang laki-laki berambut pirang sangat pucat, seirama dengan kulitnya yang juga pucat.
Aku menebak dia adalah sekretaris Oscar, menilik dari banyaknya berkas yang ada di tangannya.
Oscar menebarkan senyum bisnisnya yang paling resmi ketika melihat Uncle Rex dan El, yang sekarang telah berdiri untuk menyambutnya.
Tapi sepersekian detik kemudian, senyum itu lenyap ketika matanya menangkap sosokku.
Aku berdiri dan melambaikan tanganku dengan sewajar mungkin.
Inilah saatnya Duke. Kau harus bisa meyakinkannya bagaimanapun caranya.
Aku melepas kacamata hitam, yang sejak tadi bertengger di hidung dan tersenyum canggung kepadanya.
Oscar nyaris tidak berkedip menatapku, matanya seolah menelanku bulat-bulat, sebelum akhirnya fokusnya berpindah kepada Uncle Rex, dan kembali lagi padaku.
Sepertinya dia sedang berusaha menerka apa hubunganku dengan Uncle Rex.
"Kau adalah anak dari Owen Dacia Theobald?" Tanyanya sambil memicingkan mata ke arahku.
Ini adalah pertanyaan, jadi dia belum tahu soal ini. "Ya, itu benar" Jawabku dengan mantap.
Aku tidak terkejut melihat kecepatan otaknya menyimpulkan hal itu. Rumor bahwa dia sangat pintar bukanlah omong kosong.
Dia terkekeh dengan suara sumbang.
"Well.. Aku melewatkan hal itu ternyata" Kata Oscar, sambil berjalan mendekat ke arah kami bertiga.
"Itu bisa dimengerti, saya akan sangat marah jika anda sudah tahu tentang hal itu"
Uncle Rex menjawab dengan sopan, tapi aku bisa mendengar sedikit geraman di tenggorokannya, karena amarah yang tertahan.
Oscar menatap dengan tertarik kepada Uncle Rex sekarang.
"Kita belum pernah bertemu, tapi saya sudah sering mendengar nama anda. Oscar Delmora dan ini sekretaris saya Tony Askana" Oscar memperkenalkan diri dengan profesional, sambil mengulurkan tangan kepada Uncle Rex.
"Rex Ewaldo, dan ini adalah Eldred Halcynon" balas Uncle Rex menyambut uluran tangan itu.
Mereka berempat bergantian saling berjabat tangan.
Mereka sama-sama mengeluarkan etiket berbisnis yang santun tanpa cela, walaupun jelas kehadiranku telah merubah apapun rencana yang ada di kepala mereka.
Oscar tidak mengulurkan tangan padaku, dan aku juga tidak memintanya.
Tetapi aku menyambut uluran tangan sekretarisnya, yang sekarang melirik dengan penuh tanya kepada Oscar. Dia pasti sedang bingung menebak, alasan apa yang membuat Oscar tidak menjabat tanganku.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Oscar bercampur dengan desisan.
Dia menahan emosi, yang aku rasa sudah hampir meledak sekarang. Aku bisa melihat denyutan urat nadi di pelipisnya.
"Aku ingin berbicara denganmu tentu saja. Hal ini kan lebih mudah jika kau tidak memblokir seluruh panggilanku" Jawabku dengan tenang.
Aku tidak boleh membuatnya lebih kesal lagi padaku.
"Aku tidak merasa ada hal yang perlu dibicarakan diantara kita"
Kata-katanya itu seolah membuat suhu ruangan turun sekitar 2 derajat.
Auranya dingin yang berasal dari amarahnya, membuat bulu badanku meremang. Aku cukup tahu, dari nada pelannya itu, dia sebenarnya menyimpan amarah yang sangat dahsyat untukku.
"Aku akan menemui Bee"
"Tidak akan aku biarkan, langkahi dulu mayatku!!" bentak Oscar, dengan keras.
Akhirnya emosinya meledak ke permukaan.
"Well, hal itu bisa saja diatur, walaupun mungkin agak sulit. Tapi aku tidak ingin membuat Bee sedih dengan kehilangan kakaknya" Balasku, masih dengan tenang.
"Kau!!!... Berani sekali mengancamku!!" Bentaknya. "Apakah kau merasa lebih unggul hanya karena kau bukan man---"
"Mr. Delmora, saya harap anda tidak mengucapkan hal itu dengan sembarangan!!"
Uncle Rex memotong kata-kata Oscar dengan tidak kalah galak. Mencegahnya meneriakkan identitas inhumane-ku.
Oscar mengikuti arah pandang Uncle Rex yang sekarang memandang Tony, mengisyaratkan jika hal yang hendak dikatakan Oscar, tetap tidak boleh didengar oleh Tony.
Oscar menggebrak meja dengan marah. "Aku berencana menghasilkan uang jutaan dolar pada meeting ini, bukan untuk mendengar omong kosongmu!!"
"Itu juga bisa diatur" sahut Uncle Rex dengan nada lebih pelan.
"Untuk perjanjian dan penjelasan soal resort ini saya rasa sudah sangat jelas, anak muda ini dengan mudah akan mengurusnya" kata Uncle Rex, sambil menunjuk Tony yang sekarang membelalakkan matanya yang berwarna coklat tua, dengan wajah bingung.
"Saya juga akan menyerahkan berkas saya kepada El, karena terus terang saja, saya punya janji yang lain sebentar lagi" kata Uncle Rex, sambil menyerahkan tumpukkan kertas ditangannya kepada El.
Aku bisa mendengar decakkan kesal, lolos dari mulut Oscar ketika mendengar kata-kata Uncle Rex.
"Saya tidak akan ikut campur soal masalah anda dengan Duke, tapi saya harap anda mendengar apa yang ingin disampaikannya. Anda sudah mengenalnya sebelum hari ini. Dan saya rasa anda juga tahu, Duke tidak akan pernah berhenti sebelum keinginannya tercapai" Uncle menatap dengan seksama ke arah Oscar.
Dan tidak lama, Oscar menggeleng pelan. "Baiklah, kita akan bicara, tapi tidak disini" kata Oscar, dengan nada lelah.
Uncle Rex tersenyum simpul sambil mengulurkan tangannya lagi "Maaf, tapi saya juga harus segera pergi" Oscar menyambut tangannya tanpa bersuara, hanya mengangguk sopan.
Uncle Rex bergegas keluar, sambil melihat arloji baru,di tangan kanannya. Aku jadi sedikit penasaran, siapa yang akan ditemuinya? Uncle Rex jelas tidak ingin terlambat.
Oscar berbicara sebentar dengan Tony, untuk memberinya petunjuk tentang apa saja yang harus dibahas dengan El. Setelah itu, dia memberi isyarat dengan mata, agar aku mengikutinya keluar.
Tanpa membantah aku mengikutinya, sambil berharap semoga semua berjalan mulus sesuai dengan keinginanku.
----------- *0o0*----------
"Dasar manusia sampah! Apakah mereka pikir bisa membohongi kita dengan foto-foto yang diambil dari internet?" Dengan kesal Jovi membanting proposal, yang tadi diperiksanya ke kotak kardus besar yang telah terisi lebih dari separuh.
Kardus itu berisi proposal palsu yang telah berhasil kami sortir.
Banyaknya proposal yang datang, berarti lebih banyak juga proposal palsu yang masuk. Ini juga hampir membuatku gila.
Aku tadi nyaris meloloskan proposal permintaan bantuan untuk pendirian gedung baru. untuk yayasan penampungan lansia kurang mampu di salah satu negara di asia tengah.
Tapi ketika aku menelpon --untunglah bahasa asingku dalam standar yang lumayan-- otoritas setempat untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut soal pengiriman dananya --aku mencoba menelpon nomor yang tertera di proposal, tapi tidak ada jawaban-- aku mendapati, yayasan itu sudah lama bubar, karena buruknya pengelolaan pemiliknya dan semua penghuninya diambil alih oleh pemerintah.
Ck.. manusia tidak tahu malu, dia masih mencoba untuk menjual yayasan yang bahkan tidak layak ada.
Saat ini aku dan Jovi, bekerja secara bersamaan di ruangan yang biasa untuk menerima tamu. Pilihan ini lebih masuk akal dengan banyaknya proposal yang masuk. Kami menjadi lebih mudah berkomunikasi.
"Done!!.. " Jovi memekik dengan senang sambil memandang tumpukan kertas yang baru saja keluar dari mesin printer.
"Aku akan kembali setelah memberikan laporan ini. Apa kau ingin aku pesankan sesuatu untuk makan siang? Kita akan makan di sini lagi bukan?" tanyanya, sambil merapikan bajunya yang berkerut di beberapa bagian.
"Aku rasa lebih baik kita makan di luar. Aku tidak bisa menelan makanan dengan baik, jika melihat tumpukan proposal ini. Dan biar aku saja yang menyerahkan laporan itu pada Oscar. Aku ingin membicarakan tentang bantuan untuk korban bencana tsunami yang terjadi kemarin. Kita belum pernah melakukannya. Aku rasa kita harus mendapatkan persetujuannya terlebih dulu"
Aku membaca berita tentang hal itu tadi pagi, aku harap Oscar akan menyetujuinya.
Keadaan para korban bencana itu buruk sekali, tsunami itu menerjang beberapa negara sekaligus. Aku bahkan tidak bisa memilih negara mana yang akan kami beri bantuan.
Aku harap Oscar akan memberi kami kesempatan untuk bisa ke sana. Dengan begitu aku bisa memutuskan negara mana yang paling pantas menerima bantuan.
"Baiklah.. aku akan kembali menyelam ke dalam tumpukan proposal ini" Jovi melihat dengan nanar, tumpukan proposal yang menggunung di sebelah kakinya.
"Tenanglah.. kita kan menyelesaikannya nanti----- pada suatu saat" Aku mengutarakan harapan semu dengan senyum lelah.
"Well... thanks for the useful information!" Balas Jovi dengan sarkastik.
Aku melambai padanya sambil berjalan keluar, mungkin Jovi perlu sedikit liburan agar tidak lebih stress lagi.
Jika Oscar memberi ijin untuk pergi ke daerah bencana itu, aku akan menjadwalkan beberapa hari tambahan agar kami bisa menikmati objek wisata di daerah yang tidak terdampak bencana.
Oh..ini akan menyenangkan, seperti saat kami berdua pergi ke Afrika untuk pembangunan bendungan itu. Work and vacation in one trip, sempurna bukan?!