
"Mr. Kaindra, saya harap anda sudah menyiapkan informasi yang seperti saya minta kemarin bukan?" tanyaku, sambil memandangnya dengan teliti.
Dia tidak terlihat membawa berkas apapun, padahal informasi yang aku minta sebagai persyaratan diterimanya proposalnya sangat rumit.
Mendirikan animal shelter membutuhkan lebih banyak perijinan daripada sekedar membangun gerai burger.
Untuk sesaat dia memandangku dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Tawa yang entah kenapa terdengar tidak menyenangkan di telingaku.
"Ada apa dengan anda?" tanyaku kesal.
Apa maksud tawanya? Aku sedang tidak ingin membuang-buang waktu saat ini.
"Aku tidak percaya kau masih mempercayai omong kosong tentang animal shelter itu, kau benar-benar polos Nona muda" ucapnya dengan nada yang masih ramah, sama sekali tidak cocok dengan hal yang diucapkannya.
"What do you mean?!!"
Sebelum dia menjawab, tiba-tiba aku merasakan tarikan dari belakang dan sekarang punggung raksasa Mark berada di hadapanku.
"Siapa kalian? Dan mau apa?" Mark menghardik mereka dengan suara keras.
Aku bergeser sedikit ke samping untuk bisa melihat lebih jelas, karena tubuh Mark memblokir total pandanganku ke depan.
Dan kemudian aku memekik terkejut "Mark apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawa pistol?"
Mark yang biasanya selalu berwajah ramah, sekarang memandang dengan galak sambil mengacungkan pistol ke arah mereka.
"Mereka bukan seperti yang anda kira Miss Delmora, lebih baik anda berlindung di belakang saya" Mark menjawab dengan suara pelan dan dengan mata yang masih memandang mereka tanpa berkedip.
"Aaah... kau cepat sekali mengerti dengan situasi yang ada, kau pintar rupanya!"
Pria dengan nama Kaindra itu memberikan pujian dengan nada ringan, seolah Mark telah berhasil menjawab kuis di dalam kelas.
Apakah dia masih waras? Bagaimana dia bisa bersikap seperti itu di depan todongan pistol?
Suara mesin mobil yang menderu kencang mengagetkan kami semua.
Mobil hitam legam melesat kencang dan kemudian berhenti tepat di sebelah mobil yang aku kendarai tadi, dengan suara mendecit berisik.
Pertanda bahwa mobil itu baru saja dipaksa untuk berhenti secara mendadak, setelah dipacu dengan kecepatan maksimal.
Perhatian kami semua dengan segera teralihkan, terkecuali Mark, wajahnya tetap dingin memandang ke empat orang dihadapannya.
Pengemudi mobil itu membuka pintu dengan kasar. Dan jantungku langsung mencelos kaget, Duke!
Pengemudi mobil ugal-ugalan itu adalah Duke!!!
Mengapa dia ada disini? Apa yang dilakukannya di sini?!! Jutaan pertanyaan muncul bergantian dalam hatiku, membuatku lupa keadaan di sekeliling.
Suara tawa kering yang kembali mengumandang dari mulut pria aneh itu, membuatku terperanjat.
"Kau memang luar biasa Duke!!! Aku seharusnya tidak meremehkanmu. Tapi aku akan memberimu nilai minus karena kau datang ke sini sendirian" katanya, sambil memandang Duke yang sekarang berjalan dengan perlahan mendekati aku dan Mark.
Apa lagi ini?? Dia mengenal Duke?
----------- *0o0*----------
Gotcha!!! Setelah sekian lama mencoba mencari aroma Bee di udara, akhirnya aku menemukannya. Aroma kopi dan cokelat yang wangi, tercium dari sebelah barat jalan yang aku lalui saat ini.
El dan Id telah menghubungiku kira-kira sepuluh menit yang lalu. Kedua tempat yang mereka datangi hasilnya nihil. Tidak terdapat tanda keberadaan vampire di sana.
Hal itu berarti aroma tajam yang aku cium, kali ini membawa aku ke tempat yang benar. Sejak mendapatkan kabar dari El, aku membuka lebar jendela mobilku berusaha mencari aroma Bee di udara.
Dan aku lega cara itu berhasil.
Aku menginjak pedal gas semakin dalam, dari aroma yang aku cium seharusnya jarak mereka tidak terlalu jauh, masih samar, tapi aku tahu mereka dekat.
El tadi menyuruhku menunggunya datang, jadi aku tidak sendiri saat menghadapi mereka. Tapi aku abaikan, Semakin lama aku menunggu, keadaan Bee semakin berbahaya.
Dan....itu mereka!!! Setelah mencari selama sekitar setengah jam mengitari hutan ini, aku menemukan mereka.
Laki-laki yang paling aku benci dan wanita yang paling aku cintai. Mereka berada di sepetak tanah kosong sedang berdiri berhadap-hadapan dengan jarak sekitar beberapa meter.
Pertunjukan rupanya telah dimulai. Mark sedang menodongkan pistolnya pada Egon.
Aku sedikit senang setidaknya Bee tidak sendiri, tetapi itu juga berarti ada manusia lain yang terlibat urusan ini. Aku tak tahu harus menjelaskan apa, jika nanti mereka mulai berubah wujud.
Tawa hambar khas milik Egon, segera saja membahana ketika dia melihatku turun dari mobil.
Dengan berhati-hati aku mendekati Bee dan Mark, mereka ternyata berada dalam jarak yang lebih dekat dari pada yang aku kira sebelumnya.
Rencananya adalah aku akan menjauhkan mereka dari sini, baru kemudian aku akan melayani apapun keinginan pria gila yang belum berhenti tertawa itu.
"Kau memang luar biasa Duke!!! Aku seharusnya tidak meremehkanmu. Tapi aku akan memberimu nilai minus karena kau datang ke sini sendirian" teriaknya, dengan antusias.
Aku mendengus "Aku sendirian sudah cukup untuk memisahkan kepala dengan badanmu"
Aku melirik ke arah Bee yang sekarang memandangku dengan penuh tanya dan sedikit horor.
For the... bagaimana cara menjelaskan semua ini jika dia bertanya nanti?
Aku tidak sepintar itu untuk bisa mengarang kebohongan yang melibatkan kejadian sebesar ini. Aku menelan erangan putus asa dengan susah payah. Akan aku urus hal itu nanti. Konsentrasiku tidak boleh terpecah saat menghadapi Egon.
"Bagaimana kau bisa kesini? Aku sama sekali tidak mengharapkan kau akan tahu" tanya Egon sambil menatapku dengan tertarik.
"Kau seharusnya memberitahu teman pucatmu untuk memakai deodorant, sehingga mereka tidak menyebarkan bau ikan mati sepanjang jalan" balasku padanya dengan datar.
Senyum gila segera musnah dari wajah Egon "Kau masih bisa mencium aroma mereka? Penyihir t*l*l itu sungguh tidak berguna!!" serunya\, dengan kekecewaan yang tidak bisa disembunyikan.
Mereka rupanya mencoba memakai ramuan penghilang aroma tubuh dari penyihir, tapi gagal memprediksi seberapa besar kekuatan hidungku.
"Kau berteman dengan orang tidak berguna yang lain? Aku kira hanya mereka saja" Aku menunjuk tiga orang yang berdiri di belakangnya.
Aku mengenali satu diantaranya. Pria itu isi otaknya kurang lebih berisi sampah busuk yang sama dengan Egon,
Linus!
Aku yakin El akan sangat gembira bertemu dengannya. Linus adalah ayah tiri El. Dan sudah bertahun-tahun ini, El ingin membunuhnya.
Di wajahnya masih terlukis hasil perbuatan ayahku dengan nyata, separuh wajahnya hancur.
Linus terlihat ingin segera menerkamku, tetapi Egon mencegahnya.
Aku yakin keinginan terbesar Linus saat ini adalah merobek leherku, karena kurang lebih, akulah yang menyebabkan wajahnya hancur.
Tapi itu pantas untuknya. Aku sama sekali tidak menyesali apa yang terjadi pada Linus.
Aku tersenyum sinis sambil memandang Linus yang juga sedang menatapku, walaupun hanya dari satu mata, nafsu ingin membunuhku terlihat jelas di sana.
"Kau terlihat tampan Linus!!" ucapku.
"Mr. Adalrik, saya harap anda tidak membuat mereka marah lebih dari sekarang" Aku sedikit berjengit mendengar Mark memanggilku Adalrik. Sudah lama aku tidak mendengar nama itu.
"Apapun yang aku katakan, tidak akan membuat mereka menghentikan niatnya untuk menyerang Mark! Bersiaplah!" Aku memberi isyarat dengan mataku agar mereka menjauh.
Mark mengangguk sambil merayap mundur dengan Bee yang masih berwajah heran berada di belakangnya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku pada Egon. Tanganku meraba pistol yang berada di saku mantelku, memastikan senjata itu siap.
Egon mengernyitkan wajahnya sebelum akhirnya mengerti.. "Maksudmu tentang dia?" Tangannya menunjuk Bee yang wajahnya semakin pucat.
Siall!! aku harus segara menyelesaikan ini. Bee bisa tiba-tiba saja pingsan jika ini terus berlangsung.
"Itu mudah sekali Duke! Ayahmu dengan baik hati menjelaskannya padaku. Membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk menemukan identitasnya, tapi aku berhasil mengatasinya" katanya dengan ringan.
B*j*ng*n terkutuk!!!
Ayah mempercayainya dengan informasi yang paling rahasia. Tapi malah pengkhianatan yang di dapat sebagai balasan. Amarahku pada Egon kembali naik satu level lebih tinggi sekarang.
"Dan kemudian, kau sama sekali tidak bertransformasi saat mendengar aku telah menyerang ayahmu. Kau memang hebat dalam mengendalikan diri, tapi kau tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk mencabik leherku. Tebakanku, dan aku rasa itu tepat, adalah karena kau kehilangan wolf-mu seperti Owen. Kalian memang mirip!" jelasnya.
"Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu\, b*d*b*h!!" Hardikku.
"Oh.. ini kejutan!! Kau tidak lagi marah padanya, apakah ini berarti mulut Zhena gadungan itu akhirnya menyerah?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Ini peringatan kedua. Jaga kata-katamu, sebelum aku buat kau menyesal!!" sergahku galak.
"Ups!!... Dia memang sudah menceritakan semua padamu ternyata. Ck.... ini tidak menyenangkan, kau tidak lagi membencinya! " Wajahnya terlihat kecewa karena skema peniupan yang berlangsung selama 8 tahun telah hancur.
"Baiklah, lebih baik kita selesaikan semua sekarang. Aku bosan!" sambil mengucapkannya dia memberi tanda kepada 3 orang di belakangnya untuk menyerang.
"Mark!! bawa Bee pergi dari sini sejauh mungkin" teriakku.
Aku menarik keluar pistol yang berada di sakuku dan membidik ke arah kepala Egon.
BANG!!!!!
Suara letusan memenuhi udara.
"Aghhhhhhhhhhh!!!.............."
Jeritan histeris dari Bee memekakkan telingaku.
Aku tidak menyalahkannya, Egon sekarang terbaring miring dengan sebagian besar perutnya hancur karena tembakanku. Itu bukan pemandangan yang indah.
Sayangnya dia tidak mati, tapi setidaknya luka itu tidak akan sembuh dalam waktu dekat.
Aku mengincar kepalanya tentu saja, tetapi Egon melihat saat aku menarik pistol keluar.
Dia melompat menghindar pada saat yang tepat, peluruku meleset, tetapi aku berhasil menghancurkan sebagian besar sisi perut kanannya.
Darah segar membasahi rumput dan tubuhnya.
Linus dan dua orang yang lain membeku di tempat mereka melihat keadaan Egon. Mereka tentu tidak menyangka aku mempunyai pistol hunter.
Aku mengganti pistol Dessert Eagle milikku, dengan pistol Hunter pemberian Abel.
Aku memintanya pada Abel saat kemarin kami bertemu. Dia sebenarnya tidak terlalu setuju, tapi mengingat ancaman Crispin dan Egon, akhirnya dia merelakannya.
Dan aku senang karena ternyata sekarang pistol itu sangat berguna.
Pistol ini memiliki daya ledak luar biasa. Mampu menghancurkan kepala vampire dan werewolf yang masih dalam bentuk manusia dalam sekali tembak.
Sayangnya pistol ini hanya bisa diisi dua peluru. Hanya tinggal satu tembakan yang tersisa setelah ini. Aku harus menggunakannya dengan bijaksana.
Dengan nafas yang tersengal Egon menatapku tajam "Abel!!" gumamnya dengan geram.
Wajahnya mengernyit kesakitan, satu tangannya berusaha memegang luka menganga yang jauh lebih lebar dari telapak tangannya.
Aku mengendikkan bahu, tentu saja dia tahu dari mana aku mendapatkan pistol ini. Aku tidak akan terkejut.
"Bunuh mereka!!" teriaknya, membangunkan Linus dan anak buahnya yang sedari tadi berdiri diam karena bingung melihat keadaan Egon.
Mereka bertiga menyerang secara bersamaan. Suara derakkan tulang membawa kabar buruk untukku. Mereka bertransformasi!!
BANG!!
Aku menembakkan peluru terakhirku ke arah werewolf yang paling dekat denganku. Peluru itu tidak akan berguna jika mereka bertransformasi secara utuh. Dengan begini setidaknya lawanku berkurang satu.
Kepalanya meledak seperti kembang api dan melontarkan serpihan otak ke segala arah. Really messy!!
"Aaaaaaaaghhhhhhhh............"
Jeritan yang tidak kalah histeris kembali terdengar dari Bee.
Aku lupa!! pemandangan ini tentu saja lebih buruk dari pada sekedar perut yang hancur. Apalagi dengan adanya dua ekor serigala sebesar truk yang sekarang berdiri tegak dihadapan kami.
----------- *0o0*----------
Kegilaan macam apa ini?
Mereka berbicara dengan bahasa yang aku mengerti, tetapi tidak satupun hal yang mereka ucapkan, bisa aku pahami.
Dan bagaimana Duke bisa mengenal Mark? Belum lagi Mark memanggilnya dengan nama yang aneh.
Mark sekarang berjalan mundur dengan pelan mengikuti perintah Duke, tubuhku mengikutinya dengan patuh. Otakku terasa buntu saat ini, tidak bisa memikirkan hal apapun.
"Maksudmu tentang dia?". Aku melonjak karena terkejut, pria itu menunjukku!! Apa lagi ini?
"Itu mudah sekali Duke! Ayahmu dengan baik hati menjelaskannya padaku. Membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk menemukan identitasnya, tapi aku berhasil mengatasinya"
"Dan kemudian, kau sama sekali tidak bertransformasi saat mendengar aku telah menyerang ayahmu. Kau memang hebat dalam mengendalikan diri, tapi kau tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk mencabik leherku. Tebakanku, dan aku rasa itu tepat, adalah karena kau kehilangan wolf-mu seperti Owen. Kalian memang mirip!"
Kaindra kembali menjawab dengan kalimat yang menurutku ajaib.
Transformasi? Wolf? Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?
Setelah itu aku hanya bisa mendengar umpatan, dan beberapa kalimat ajaib lainnya yang tidak aku mengerti.
Semua kejadian berlangsung terlalu cepat, otakku tidak sanggup mencernanya.
"Mark!! bawa Bee pergi dari sini sejauh mungkin"
Tiba-tiba aku mendengar Duke berteriak kemudian menggeser tubuhnya ke arahku dan Mark, menghalangi mereka menyerang kami.
Suara letusan yang sangat keras membuatku tersentak kaget. Tapi pemandangan menyeramkan di depanku membuatku kehilangan akal.
Aku menjerit dengan sekuat tenaga!! Bagaimana tidak?
Pria yang beberapa menit yang lalu baru saja bersalaman denganku, sekarang terbaring di tanah dengan tubuh tidak utuh, sebagian perutnya hilang, seakan seseorang telah menembaknya dengan bola meriam.
Duke berdiri tegak di hadapan Mark dengan memegang pistol berbentuk aneh yang masih berasap. Dia yang menembak Kaindra!!! Apa dia sudah gila?!!
Horor macam apa ini? Aku bisa merasakan nafasku sekarang memendek karena jantungku yang terlalu cepat berdetak.
Untuk beberapa saat keadaan sunyi. Duke masih mengarahkan pistolnya ke depan. Mark mencengkram tanganku dengan kencang sekarang.
Aku rasa dia juga terkejut melihat luka yang diderita oleh Kaindra, luka itu tidak terlihat seperti luka tembak biasa.
Entah dengan kekuatan dari mana, karena melihatnya masih hidup saja aku sudah heran, Kaindra meneriakan seruan untuk kembali menyerang kami.
Suara letusan pistol Duke kembali menggelegar. Aku menunduk dan memejamkan mataku erat, tidak berani melihat akibat dari letusan itu lagi.
Sesuatu yang lengket dan basah mengenai pipiku.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaah........!!!!"
Secara otomatis aku menjerit kencang setelah melihatnya. Itu adalah potongan kepala masih lengkap dengan rambut.
Duke meledakkan kepala salah satu dari mereka. Aku bisa melihat tubuh tanpa kepala tergeletak tidak jauh dari tempat Duke berdiri
Jeritanku untuk yang ketiga kalinya tertahan, karena rasa terkejut melihat pemandangan tidak masuk akal yang sekarang berada di depanku.
Dua ekor serigala besar, bukan----sangat besar berdiri di depan kami. Ya... Tuhan, mimpi buruk apa lagi ini? Bagaimana bisa? Kemana dua orang yang hendak menyerang kami tadi?
Ini pasti mimpi, ini adalah mimpi burukku yang terasa nyata, seperti biasanya. Aku mencubit tanganku dengan keras hanya untuk mendapati semua itu nyata. Aku sedang dalam keadaan sadar.
Tapi makhluk yang dihadapanku adalah kemustahilan. Kaki dan tubuhku mulai bergetar ketakutan, menerima kenyataan, aku sedang berhadapan dengan monster yang selama ini aku anggap hanya ada di mimpi buruk.
Tubuh Mark yang di sebelahku juga bergetar dengan hebat, aku melirik ke arahnya dan melihat wajahnya sepucat awan. Dan ini memberitahu jika aku dalam keadaan waras.
Serigala raksasa itu bukan hasil halusinasi yang diciptakan oleh otakku yang kacau, Mark juga melihatnya.
"Fokus Mark!!! Jangan kalah dengan rasa takutmu!!" teriak Duke. Wajah Duke tidak berubah sama sekali melihat kedua serigala itu. Dia tetap tenang kemudian membuang pistolnya ke tanah.
Bersamaan dengan itu, kedua serigala maju menerjang Duke....
----------- *0o0*----------
Aku melompat dengan cepat menghindari serigala Linus sambil mencabut pisau yang aku sematkan di kakiku. Kecepatanku tidak akan kalah dengan serigala rendahan seperti Linus.
Linus hanya berhasil menerkam tanah kosong. Aku menjejak ke tanah dengan sekuat tenaga dan melontarkan tubuhku ke arahnya. Aku menyabetkan pisauku ke kakinya.
Dengkingan dari moncong Linus memberitahu seranganku mengenainya. Tapi aku juga bisa merasakan cakarnya menembus bahuku. Bahuku terasa perih dan panas.
Aku berhasil menyayat otot kaki Linus karena darah mengucur deras darinya. Serigala itu berusaha bangun tapi kaki yang terluka itu menghalanginya. Butuh beberapa menit penyembuhan sebelum dia bisa bangun lagi.
Serigala yang satu lagi bergerak hendak menyerang, ketika melihat bahuku terluka, tetapi suara tembakan menghentikan langkahnya. Mark menembaknya dengan membabi buta.
Aku sangat menghargai niatnya untuk membantu, tetapi perbuatannya sangat tidak berguna. Pistol semi otomatis dengan kaliber kecil hanya akan memberikan rasa gatal di kulit werewolf.
F*ck!!!! Serigala itu sekarang mengalihkan sasarannya pada Mark.
Sekali lagi aku melompat sekuat tenaga untuk mencegahnya menerkam Mark. Aku terlempar beberapa meter ke belakang setelah diterjang olehnya. Benturan itu membuatku merasa seperti diterjang batu gunung raksasa.
Aku terhempas dengan keras di sebelah Bee. Dia memekik kecil melihatku jatuh.
Suara derakan dari tubuhku bukan kabar yang bagus, karena itu berarti beberapa tulangku kembali retak. **!
Serigala itu menerkam tubuh Mark dengan telak.
Aku tidak ingin tahu bagaimana keadaan Mark, karena aku bisa melihat tubuh itu telah bersimbah darah. Aku menyeret Bee menjauh untuk mencegahnya melihat apa yang terjadi pada Mark.
Aku bisa mendengar cicitan dari punggungku. Bee pasti sangat takut dengan keadaan ini. Bee mungkin tidak takut dengan hantu, tapi aku tahu, dia sangat takut dengan monster atau makhluk menyeramkan lainnya.
"Jangan takut, aku tidak akan membiarkan mereka menyerangmu" Aku membukuk untuk menenangkannya. Dalam hatiku aku masih belum tahu bagaimana caranya kami biasa lolos dari ancaman ini.
"Just stay in your place, Ok?" Aku menggenggam tangannya yang sedingin es. Bee sudah hampir mencapai batas toleransinya.
Aku menggenggam pisau dengan erat di tanganku yang lain. Aku ingin menyerang salah satu dari mereka, tetapi aku juga tidak ingin meninggalkan Bee sendirian.
"Apakah kau masih bisa berlari menuju mobil?" tanyaku dengan suara sepelan mungkin. Bee mengangguk samar.
"Good, dalam hitungan ketiga, berlarilah mobilku, kemudian pergi dari sini. Mengemudilah sekencang yang kau bisa, jangan berhenti sebelum kau mencapai rumah, mengerti?" jelasku, masih dengan pelan.
Aku tahu, Bee tidak seharusnya mengemudi sendiri, tapi aku tidak punya cara lain untuk menjauhkannya dari tempat ini.
Bee menggeleng kencang, matanya beralih memandang tubuh Mark di kejauhan, yang sama sekali tidak bergerak sekarang. Werewolf itu masih berkutat sibuk di atasnya. Air mata mulai jatuh di pipi Bee, bibirnya yang pucat bergetar hebat.
Hatiku sesak melihat keadaannya, dia pasti sangat ketakutan. Bee bukan wanita yang lemah, tapi aku tahu, makhluk yang tidak bisa dijelaskan oleh akal akan membuatnya sangat ketakutan.
Aku merengkuh tubuhnya dengan lembut. "Maaf, tapi aku tak bisa melakukan apapun untuk Mark sekarang. Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Kau larilah ke arah mobil, mengerti?!" Aku melepaskan pelukanku dan memandangnya.
Dia kembali menggeleng. "Kau akan mati!" rintihnya, di antara air mata.
Jika tidak dalam keadaan genting seperti ini, aku akan sangat gembira mendengar perkataannya tadi.
Bee mengkhawatirkan keselamatanku! Dia peduli dengan keadaanku.
Aku bisa merasakan seolah ada sesuatu yang mencair dalam hatiku. Tumpukan es yang membebani hatiku karena merindukan Bee, seolah meleleh, mengalirkan kehangatan ke seluruh tubuh.
"Aku akan baik-baik saja, temanku akan segera datang. Mereka akan segera sampai. Jadi jangan khawatir!" Aku tersenyum sambil mengusap air mata di pipinya.
Perbuatan yang aku sesali, karena pipinya sekarang bernoda darah, yang tadi mengotori tanganku.
Waktu kami habis, aku bisa mendengar langkah kaki serigala mulai mendekat. Dan untuk memperburuk keadaan, Linus kembali bergabung. Luka karena pisau tadi tentu saja sudah mulai sembuh sekarang.
"Sekarang!!!!" seruku kencang, memberi aba-aba pada Bee untuk berlari ke arah mobil.
Aku melompat menyambar leher Linus dengan sekuat tenaga dan melompat ke punggungnya. Linus terhempas, tidak sempat menghindar dari serangan mendadak. Dari sudut mataku, Bee terlihat berlari ke arah mobil.
Aku menorehkan pisau ke leher Linus dengan sekuat tenaga. Serangan yang lumayan, tapi tangan kananku kembali terluka oleh cakarnya.
Aku bisa merasakan darah yang hangat membasahi tanganku.
Suara deguk lolongannya, membuatku tahu, torahan leher itu tidak terlalu efektif. Pisauku terlalu kecil untuk membuat luka dalam. Tapi tubuhnya tetap oleng karena banyaknya darah yang tertumpah.
Jeritan kecil Bee membuatku terkesiap. Bee terjatuh sebelum mencapai mobil. Serigala br*ngs*k yang satu lagi\, telah kembali mengalihkan sasarannya kepada Bee. Dia melompat tinggi\, mencoba untuk menerkam Bee.
"Tidak!!!!"
Aku berlari sekuat tenaga dan berdiri di depan Bee sebelum serigala itu mencapainya. Aku tahu ini sangat beresiko.
Tumbukan telak untuk kedua kalinya dengan werewolf dalam bentuk manusia, bisa meremukkan sisa tulangku yang masih utuh. Tapi aku tidak akan membiarkan Bee terluka.
Tapi kemudian, rasa panas yang sudah lama aku nantikan menjalari seluruh pembuluh darah yang ada di
tubuhku. Tulang kaki dan tanganku mulai berderak,
Yes......!! I know this feeling, batinku dengan gembira. Serigalaku telah kembali!!
Aku melemparkan mantel panjang yang aku pakai, dan menjatuhkan tanganku ke tanah. Cakar dan bulu mulai tumbuh memenuhi tangan dan kakiku. Tulang wajahku juga mulai memanjang. Dan tidak lama, pandanganku berubah menjadi lebih jernih.
Suara desiran angin memasuki telingaku terdengar sangat jelas. Perasaanku seperti seseorang yang baru saja keluar dari air setelah menyelam. Begitu segar dan bebas. Dunia menjadi sangat berbeda ketika aku menjadi Wolf
Ketika menoleh kembali ke arah serigala yang melompat itu, aku seolah melihatnya dalam gerak lambat.
Dengan santai aku melompat mendahuluinya, menyambar lehernya di udara dengan moncongku. Aku mengatupkan mulut tanpa ampun, suara derakan tulang leher yang patah terdengar seperti suara musik yang merdu di telingaku.
Aku melemparkan mayat itu ke samping. Aku tidak ingin darahnya mengotori tubuhku. Sekarang aku akan mengurus Linus dan Egon.
Aku menoleh ke arah tubuh Linus hanya untuk mendapati dia tidak berada lagi di sana. Dengan cepat aku menoleh kearah Egon. Tapi tubuhnya juga sudah lenyap.
"Woooooooouuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!.................."
Aku melolong dengan kesal, bagaimana aku bisa tak melihat mereka pergi?
Aku memandang ke sekeliling untuk mencari jejak mereka. Mereka tidak akan bisa berlari jauh dengan luka itu. Tapi kemudian mataku terarah pada tubuh Bee yang tergeletak di sebelah mobilku.
Bee pingsan!!
Aku menghampiri tubuhnya dan menyentuhkan moncongku keningnya. Suhunya tinggi, itu berarti Bee membutuhkan suntikan obatnya yang biasa.
Ck...aku harus segera memeriksa mobilnya, biasanya Charlie menyimpan beberapa vial di laci mobil, untuk cadangan bila ada keadaan darurat seperti sekarang.
"Duke!!!" Dua suara yang sangat aku kenal berbicara secara bersamaan di kepalaku.
Itu Roan dan El.
"Kau bertransformasi!!!" seru Roan dengan sangat antusias.
"Apa yang terjadi?" Suara El juga terdengar gembira.
"Kami mendengar suara lolonganmu tadi. Aku sempat mengira aku hanya bermimpi " Roan tidak bisa menutupi rasa terharu yang sekarang menguasainya.
"Apakah kalian sudah dekat?" tanyaku.
Hidungku sudah bisa mencium mereka, tapi mereka belum tentu bisa.
"Iya, aku sudah bisa mencium aroma milikmu" jawab El. "
Bagus! Kalian cepat kemari, aku harus kembali menjadi manusia. Bee pingsan" jelasku,
Roan mendesis tak mengerti, sedangkan El hanya memberikan pengertian tanpa kata.
Aku memejamkan mata sejenak dan berkonsentrasi. Tulangku berderak menyusut, lalu aku kembali berdiri di atas dua kaki dan telanjang.
Aku mengambil mantel panjang yang tadi aku lempar. Hanya itu bajuku yang masih tersisa. Bajuku yang lain telah robek. Setelah selesai mengancingkan mantel, aku mulai menggeledah mobil Bee. Ada dua vial obat disana.
Aku segera menyuntikkan obat itu di tangan kanan Bee. Perlu latihan keras selama tiga bulan sebelum Alva akhirnya mengizinkan aku menyuntikkan obat pada Bee. Kemampuanku kini telah terasah.
Aku mengangkat tubuh Bee, mendudukkannya di mobil kemudian memasangkan seatbelt untuk menjaganya agar tidak terjatuh.
Suara langkah berdebam mendekat. El dan Roan berdiri tegak di belakangku. Aku mengulurkan kedua tangan ke arah mereka.
Mereka menundukkan kepala agar aku bisa menyentuh keningnya. Aku mengusap lembut kening mereka sambil tersenyum.
"Kita akan berbicara nanti, aku harus segera membawa Bee ke Lykos, bisakah kalian mengurus kekacauan ini?" tanyaku sambil menunjuk ke sekeliling tanah kosong itu.
El mengangguk, Roan berdengking pelan untuk menyatakan kesanggupannya.
Aku berjalan mendekati tubuh Mark. Tubuhnya penuh luka cakaran dan cabikan taring, keadaannya sangat menyedihkan. Aku meluruskan tubuhnya, kemudian merapikannya sebisaku.
"Terima kasih, aku tidak akan melupakan pengorbananmu untuk kami" ucapku pelan.
Aku cukup mengenal Mark, dia selalu mengawal Bee dengan setia dari balik bayangan, tanpa sepengetahuannya. Bee akan sangat sedih jika tahu Mark telah meninggal.
"Bisakah kalian mengatur agar jenazahnya dibawa ke Lykos? Untuk yang lain, kalian bisa melakukan hal yang biasa" pintaku pada El, yang sedari tadi menatapku merapikan tubuh Mark.
Yang aku maksud biasa adalah menguburkannya, agar manusia tidak terkejut dengan keberadaan mayat tanpa kepala di hutan.
El menganggukkan kepala serigalanya sekali lagi. "Thanks a lot, Bro!" aku mengusap kaki depannya sebagai ucapan terima kasih.
Aku melambai kepada mereka untuk yang terakhir kali, kemudian memacu mobilku dengan kencang. Meninggalkan petakkan tanah terkutuk itu di belakangku.....