Finding You, Again

Finding You, Again
Again 7 - Strategy



"Duke! Apa kau bisa mendengarku?"


El mendekat ke arah ranjang, ketika melihat tubuh Duke mulai bergerak.


"Hmmmm---" Duke hanya menjawab dengan gumaman.


"Syukurlah!" desis El sambil menghembuskan nafas lega.


"Kenapa kau berteriak?" Duke berkata dengan nada jengkel, sambil berusaha bangun dari ranjang.


"Berteriak?" El menatap Duke dengan wajah bingung, karena sedari tadi dia berbicara dengan volume biasa saja.


"Ya, dan kenapa lampunya terang sekali?" Kali ini Duke menutup matanya dengan tangan.


Tidak ada lampu yang menyala di kamar itu.


"Your sense is mess up" kata El, sambil menutup tirai untuk mengurangi cahaya yang masuk ke kamar.


"Ah...." Duke mendesah mengerti. Mata dan telinganya yang salah, bukan El maupun lampu.


Duke memperbaiki posisi duduknya, kemudian menutup mata, berkonsentrasi.


Apapun yang dilakukan Sorrel tadi, pasti telah mengacaukan panca inderanya lagi. Padahal dia sudah bersusah payah melatihnya kemarin.


El melihatnya tanpa bersuara dan kemudian duduk kembali di kursi tempatnya bekerja sedari tadi. Dia tahu benar, Duke memerlukan kesunyian untuk latihan ini. El mengalihkan perhatian pada berkas Monath yang ada di meja.


Uncle Rex sudah nyaris memberikan seluruh tanggung jawab Monath padanya, dan dia harus belajar dengan cepat. Waktu luangnya nyaris tidak ada, dengan adanya jadwal baru ini, karena Monath benar-benar perusahaan yang besar.


Dulu El mengambil kelas bisnis, karena memang ingin membuka perusahaan sendiri, tapi siapa yang akan menyangka dia malah didapuk menjadi CEO Monath sebentar lagi.


"Berapa lama aku pingsan?" tanya Duke tiba-tiba, setelah satu jam duduk dalam diam, membuat El terlonjak dari kursi.


"Beberapa jam, saat ini hampir senja" kata El sambil berbalik menatap Duke yang bangun dari ranjang.


"What are those?!!" seru El, terkejut.


"Are you nut? Don't scream!!" bentak Duke, sambil menutup telinganya yang terasa bagai tertusuk pisau. Dia baru saja berlatih, telinganya masih sangat sensitif.


"Tapi..itu!" kata El sambil menunjuk ke arah dada kiri Duke yang telanjang.


Duke menunduk, "Holly F---" umpatnya, sambil beranjak menuju cermin di sudut kamar.


Dia melihat dengan mata tidak percaya pada bayangannya di cermin, karena di dada kirinya sekarang tertoreh tanda berbentuk bulan sabit, tapi berwarna biru dengan corak hitam rumit di tepinya.


Tanda itu sedikit lebih besar dibanding tato Blackmoon


"Apa ini?" tanyanya, sambil mengelus tanda itu.


Terlihat seperti insignia Blackmoon yang ada di leher Lui, tapi berbeda.


"Aku sangat yakin tanda itu tidak ada saat memakaikan celana padamu tadi pagi" El memandang dengan mata membelalak.


"Tidak ada gunanya kita menebak-nebak. Aku akan bertanya pada Sorrel"


Duke melangkah ke arah wastafel, lalu mulai mencuci mukanya.


"That man is creepy" kata El, mengingat pertemuannya dengan Sorrel tadi pagi.


"I can't be more agree" kata Duke sambil mengeringkan wajah. "Tubuhku terasa seperti tercabik tadi pagi"


"Ya, kau membuat aku dan Roan panik. Kami hanya bisa mendengar teriakanmu" kata El, sambil mengusap wajah, teringat keresahannya saat itu.


"Sorry" kata Duke, yang sekarang mulai mengancingkan kemeja hitam yang tersedia di depan almari.


El hanya mengibaskan tangan pertanda Duke tidak perlu merisaukan hal itu.


"Dimana Sorrel?" tanyanya.


"Entahlah, aku langsung menuju kesini begitu selesai berjaga, aunt Myra yang meminta" katanya.


"Kau ikut?" Duke bertanya pada El yang dijawab dengan gelengan.


"Ada hal yang harus aku selesaikan" katanya sambil menunjuk tumpukan berkas di meja.


"Sorry, again" Duke tersenyum simpul melihatnya, kemudian melangkah keluar kamar. Keputusan memberikan tanggung jawab Monath pada El jelas yang paling tepat. Meski akan membuat El luar biasa sibuk


Di dalam kamar El menggerutu melihat sikap Duke, tapi kemudian tersenyum lega, karena Duke telah kembali normal.


\~\~\~\~\~\~\~\~`


Duke membuka pintu kamarnya mendapati Oscar dan Alva di dalam. Alva sedang memeriksa keadaan Lui, sedangkan Oscar duduk di tempatnya yang biasa.


"Kau baik-baik saja?" tanya Alva, sambil membereskan perlengkapannya.


Duke mengangguk "Bagaimana keadaannya?"


Duke mendekat ke ranjang.


"Baik, nafas dan denyut jantungnya hampir normal, tapi aku rasa kita harus menunggu beberapa saat dulu sebelum dia sadar sempurna" kata Alva.


"Kau yakin?" tanya Duke, karena perkataan Alva terdengar bagai mimpi indah.


"Sejujurnya, aku tidak tahu Duke. Sihir yang ada di dalam tubuh Lui melampaui pengetahuanku. Untuk jawaban pasti, lebih baik kau bertanya pada---nya"


Alva terlihat enggan menyebut nama Sorrel, bukan karena benci tapi karena hormat. Setelah mengucapkan itu, dia mengangkat perlengkapannya kemudian keluar kamar.


Alva menjadi lebih bebas berkeliaran di Manor, karena keberadaannya telah diketahui oleh semua tamu. Dia tidak lagi harus bersembunyi dalam kamar.


Duke mengelus pelan kepala Lui, dan menyadari sesuatu.


Aroma Lui sedikit berubah, aroma segar dari pepohonan dan matahari menjadi lebih kuat, mengalahkan aroma kopi dan cokelat yang kini hanya tercium samar.


Apakah ini karena sihir Sorrel? Duke bertanya-tanya dalam hati.


Keadaan antara dirinya dan juga Lui yang sangat langka membuatnya lelah. Dia hanya ingin bersama Lui, sangat sederhana bukan? Tapi semua sudah terjadi sekarang, dan Duke akan menerima segala kerumitan Lui. Selama ia masih bisa bersamanya.


Yang jelas keberadaan Sorrel membuatnya tercabik. Pada satu sisi dia menyelesaikan banyak misteri yang melingkupi Lui, tapi sifatnya yang aneh, membuat Duke sangat susah menyukainya.


"Kenapa kau menolak ajakan Sorrel?" tanya Duke pada Oscar, mencoba mengenal sisi lain dari Sorrel.


Sesaat Oscar hanya memandang kosong ke arah depan. "Karena Lui tentu saja" jawabnya.


"Aku akui, ajakkan itu sangat menggoda. Dia menawarkan kehidupan penuh kebebasan, jauh dari ayahku yang tidak berperasaan. Tapi itu berarti aku akan meninggalkan Ibuku dan Lui dalam cengkramannya. Karena itu aku menolaknya" katanya, dengan nada letih.


"Kau tidak menyukai Sorrel?" Duke menanyakan hal yang sudah jelas sebenarnya, tapi dia menginginkan penjelasan.


Oscar tersenyum kecut.


"Ya, karena dia telah berbohong---mungkin bukan kebohongan. Dia menjelaskan posisiku tanpa menyebut seberapa banyak keturunan yang dia 'sebar' di dunia. Dia mengatakan semua dengan takzim, seolah sedang melakukan misi yang suci" lanjutnya, kembali dengan nada jijik.


Duke mengangguk mendengar hal itu. Duke sangat mengerti sudut pandang Oscar, tapi dia tidak bisa membenci Sorrel dengan alasan yang sama, karena Duke sangat mengerti latar belakang Sorrel.


Blackmoon sangat beruntung memiliki banyak warga pack, tapi bagi pack seperti Moonrise, kematian dan peperangan adalah bencana yang mendekati kepunahan. Sorrel mengambil langkah yang paling mudah dan cepat untuk menyelesaikannya.


"Apakah kau mendapat info tentang aku dari Sorrel?" Duke memastikan hal lain lagi.


Dia tidak ingin Rex terus menyalahkan bawahannya soal kebocoran informasi. Mereka bukan lawan seimbang untuk elf.


"Dihyan" Oscar mengoreksi tebakan Duke.


"Begitu tahu kau masih hidup, aku terus menggali informasi tentangmu. Tapi informanku yang paling ahli, tidak bisa menemukan David Adalrik dimanapun. Aku mulai curiga saat itu. Tidak ada manusia yang tidak memiliki sejarah, kecuali kau bukan manusia. Maka aku terpaksa menghubungi Dihyan"


Wajahnya dengan jelas menyalahkan Duke, karena telah membuatnya repot.


Duke tersenyum menyeringai, dia justru senang melihat mata marah Oscar.


Kerepotan itu kau sendiri yang menciptakannya, kenapa aku harus merasa bersalah? Absurd!. Duke membatin dengan hati puas. Setidaknya dia bisa membuat Oscar sedikit jengkel saat itu.


"Kau juga meminta bantuannya untuk menggulingkan ayahmu?" Duke tiba-tiba teringat cerita Oscar saat di Tower Delmor dulu. Dia menyebut kerabat dari ibunya.


Oscar mengangguk, "Hanya jalan itu yang bisa aku pikirkan. Aku harus cepat menyelamatkan Lui, walaupun itu berarti aku harus bertemu Sorrel" Oscar mendesah berat, kemudian melanjutkan.


"Dihyan dan juga salah satu imperfect dikirim untuk membantuku"


"Imperfect?" Duke mengerutkan kening.


"Itu sebutan untuk makhluk seperti aku dan juga Lui yang sekarang. Terlihat seperti manusia tapi memiliki kekuatan khusus elf" jelasnya.


"Oh..." Itu istilah baru.


"Itu terdengar seperti ejekan" kata Duke.


Istilah imperfect seolah mengatakan jika Oscar dan Lui adalah barang cacat.


"Memang, karena sebagian besar elf masih tidak bisa menerima keberadaan makhluk sepertiku. Istilah itu diciptakan oleh mereka. Sorrel tidak pernah membedakan imperfect dengan elf lain, tapi perlakuan elf yang lain tidak sesuai dengan keinginannya"


Duke terdiam mendengar kisah Oscar yang terdengar menyedihkan itu. Duke senang Lui tidak harus mengalaminya.


Duke mengelus kepala Lui pelan, "Kau terlihat dan tercium seperti manusia, aku tidak pernah menemukan aroma elf apapun di tubuhmu" katanya.


Dia hanya ingin Oscar tahu, jika dia lebih mendekati manusia, tidak perlu merisaukan istilah konyol situ.


"Ya, dan aku bersyukur karenanya" kata Oscar sembari meraih buku yang tadi diletakkannya, sebagai isyarat percakapan telah berakhir.


Duke mengerti.


"Aku akan menceritakan hariku nanti Bee, ada beberapa hal yang harus aku urus" bisiknya, sambil mencium pipi lembut Lui sekilas.


Duke melangkah keluar kamar, tapi menghentikan kakinya di tengah pintu yang terbuka,


"Thanks, karena kau memilih untuk tinggal dan menjaga Lui" kata Duke dengan tulus.


Duke tidak bisa membayangkan bagaimana jika Lui tumbuh tanpa perlindungannya, Jika Oscar memilih Sorrel, Lui akan sendirian menghadapi ayahnya.


"Jangan mengatakan hal tidak penting seperti itu. Kau membuatku merinding" kata Oscar keras, sambil bergidik.


Dia tidak terbiasa dengan sikap lembut Duke.


Duke terkekeh, kemudian berlalu mneutup pintu.


Dia tidak bertanya pada Oscar, tapi Duke mengerti kenapa Oscar hanya diam ketika Lui koma setelah menerima insignia darinya.


Oscar tahu kabut warna biru itu berhubungan dengan elf. Karena itu dia tidak bisa marah padanya. Dia pasti sedang menimbang apakah perlu mengatakan tentang Sorrel atau tidak.


Setidaknya semua berakhir dengan benar, batin Duke. Sambil berjalan turun menyusuri tangga.


Dia kemudian membuka telinganya lebar-lebar, berusaha menangkap suara Sorrel, dan terdengar tawa berdesis Sorrel dari arah meja ruangan tempat pianonya berada.


Ketika sampai di sana, pemandangan yang menyambutnya sedikit unik.


Sorrel bersama Dihyan sedang mengobrol santai ditemani oleh Aygul, Jacy, Rigel dan Urtzi. Jelas terlihat Urtzi dan Rigel terpaksa berada di sana.


Hanya Kamaria yang absen, Duke membayangkan dia tidak peduli dengan apapun yang diceritakan Sorrel.


"Duke!! Kau terlihat sehat" Sorrel menyambut Duke dengan antusiasme yang berlebihan.


"Aku sedang menjelaskan tentang Dyad pada mereka, karena ternyata mereka sangat penasaran" kata Sorrel.


Duke mengeluh dalam hati. Itu berarti situasi dimana Lui dan dia adalah pasangan mate, bukan lagi rahasia lagi. Dia harus melipat gandakan pengamanan di sekeliling Lui setelah ini.


"Duduklah!" Sorrel menepuk ruang kosong di sofa sebelahnya.


Duke ingin bertanya tentang tanda yang ada di dada kirinya, tapi sedikit ragu, apakah jawaban dari Sorrel cukup aman untuk didengar Alpha lain.


"Apakah kau ingin bertanya tentang sesuatu?" Sorrel melihat Duke dengan seksama.


Duke mengumpat dalam hati dengan heran, apakah dirinya begitu mudah terbaca? Dia mulai menyesal tidak menuruti saran Oscar untuk berlatih menyembunyikan emosi dari wajahnya.


"Ya, tapi aku akan menanyakannya nanti saja" Duke berusaha mengelak.


"Oh jangan khawatir, mereka sudah tahu semuanya" Sorrel menjawab seolah itu bukan masalah besar.


Duke menggertakkan giginya dengan jengkel. Dia melirik Jacy yang hanya bisa mengangkat bahu dengan pasrah, pertanda pernyataan itu benar adanya.


Dengan jengkel Duke membuka kemeja, dan menunjukkan insignia di dada kirinya.


"Apa ini?" tanyanya, berusaha terdengar biasa saja. Kesabaran Duke mulai menipis, sopan santunnya telah terbang tertiup angin.


Alpha yang lain memandang insignia itu dengan serius. Alpha yang mendapat insignia? Itu adalah berita yang sangat menarik bagi mereka.


"Oh... itu luar biasa"


Bahkan Sorrel memandang insignia itu dengan bersemangat. Tidak perlu menjadi jenius untuk menebak jika ini juga pertama kalinya Sorrel melihat hal seperti itu.


"Itu adalah insignia dari Lui untukmu. Karena itu berwarna biru, dan jika kau lihat lebih seksama, corak daun berwarna kehitaman yang ada didalamnya adalah simbol dari Dyad Elf" kata Sorrel dengan ceria.


"Berarti ini bukan sesuatu yang aneh?" tanya Duke memastikan.


"Tentu saja tidak, hanya mungkin kau akan merasakan sesuatu yang berbeda ketika bertransformasi nanti, hanya sedikit perbedaan" jelasnya, masih dengan senyum.


Senyum yang tidak membuat Duke merasa lega. Apa yang maksud senyum itu? batin Duke dengan jengkel.


Sorrel sekarang dengan pelan menyesap minumannya, tidak berniat melanjutkan penjelasan.


"Apa yang sebenarnya kau lakukan pada Bee dan aku?" Duke tidak peduli lagi tentang rahasia, ia hanya ingin semua jelas.


"Aku membuat sedikit 'penyesuaian' pada tubuh Lui, sehingga dia bisa menerima sisi darah elf-nya yang terbangun" jawaban Sorrel terdengar masuk akal, tapi masih belum menjelaskan segalanya.


"Penyesuaian? Apa maksudnya?" Duke kembali bertanya.


"Tubuh Lui, selama 23 tahun menerima fakta jika dia adalah manusia. Apa yang kau kira akan terjadi, jika tiba-tiba keseimbangan itu terganggu dengan adanya darah Elf? Tentu saja seperti biasa, sistem tubuh manusia akan menolak benda asing yang tiba-tiba masuk. Seperti transplantasi ginjal yang gagal. Kau mengerti?" Sorrel memakai analogi yang lebih masuk akal.


Duke mengangguk.


"Aku melakukan sedikit perubahan pada tubuhnya, bukan hal yang mudah dan nyaris tidak mungkin. Tapi karena dia memilih Dyad seorang werewolf, maka hal ini menjadi sangat mungkin aku lakukan. Kau lihat bagaimana takdir menguntai kisah kalian dengan indah?" Sorrel melempar senyum lebar pada Duke.


"Kau tidak akan bisa hidup tanpa Lui, dan Lui telah memilih pasangan sempurna yang memastikan dirinya akan tetap hidup walaupun dengan darah elf yang mengalir di tubuhnya. Lui membutuhkan ikatan yang memperkuat tubuhnya, dan kau memberinya darah Alpha. Seperti Ibumu dan Zhena yang sebelumnya, dia menerima kekuatan baru. Jalannya tidak semulus Zhena yang lain tentu saja, tapi hasilnya akan sama dengan sedikit bantuan sihirku" pungkasnya, dengan nada puas.


Duke terdiam beberapa saat dengan kepala penuh. Duke kurang lebih memahami sebagian penjelasan Sorrel, tapi dia harus membiarkannya mengendap selama beberapa saat di otak, agar lebih mengerti.


"Jadi setelah ini tubuh Bee bukan lagi manusia? Dia Inhumane?" tanya Duke, berusaha merangkum penjelasan Sorrel.


"Maaf telah  mengganggu diskusi serius kalian, tapi Lui dan Bee ini adalah orang yang sama bukan?" Aygul bertanya dengan nada bingung.


Duke berdecak kesal "Ya" jawabnya.


"Ok.. sekarang aku sedikit mulai mengerti" kata Aygul kembali bersandar pada kursinya.


"Untuk tahu bagaimana keadaan Lui, kita harus melihat saat dia bangun nanti. Karena aku juga tidak tahu" Sorrel mengangkat bahu.


Jawaban yang membuat Duke melotot tajam.


"Apa maksudmu kau tidak tahu?" tanyanya.


"Well, apa yang terjadi pada Lui dan kau, adalah satu-satunya kasus yang aku temui selama ribuan tahun kehidupanku. Aku juga sangat penasaran ingin melihat hasilnya"


"Oh.. jangan berkata seperti itu. Aku memang belum pernah melakukan hal seperti ini, tapi aku cukup yakin dengan kehebatan sihirku. Lagi pula usaha apa yang akan kau lakukan untuk membuat Lui bangun? Alva tidak akan mendapatkan jawaban, walaupun dia menghabiskan waktu seumur hidup untuk mempelajari semua bukunya"


Sorrel terdengar seperti menegur Duke, tapi dia mengatakan semua itu dengan nada ceria, seakan dia sedang menceritakan lelucon saat minum teh.


Amarah Duke surut mendengar jawaban itu, dia tidak akan lupa bagaimana rasa putus asa menggerogotinya seperti cairan asam sebelum Sorrel muncul.


Dia memang tidak memiliki rencana apapun, hanya menunggu keajaiban. Dan keajaiban itu datang dalam bentuk inhumane yang memiliki tanduk rusa.


"Akan lebih baik jika kau memperingatkanku tentang rasa sakit itu" gerutu Duke sambil meminum teh yang ada di depannya.


Berusaha melunturkan amarah, dia melihat ke arah Alpha lain yang setia mendengarkan percakapannya dengan Sorrel, mereka tentu mendapat tontonan hiburan seru.


"Ah--- ya, maafkan aku. Aku tidak tahu akan sesakit itu. Tapi aku senang kau pulih dengan cepat. Daya sembuh Alpha memang luar biasa" kata Sorrel dengan senyum geli.


Duke sama sekali tidak mempercayainya. Dia yakin Sorrel sengaja tidak mengatakan apapun padanya. Sorrel memiliki sisi kekanak-kanakan yang jelas tidak sesuai dengan umurnya.


Sekarang Duke hanya bisa menunggu lagi. Menunggu pembuktian kebenaran teori Sorrel.


"Soal kapan Lui bangun kau harus sedikit bersabar" kata Sorrel sambil meletakkan cangkirnya di meja.


Topik lain yang ingin Duke hindari untuk di bahas di depan Alpha.


"Dia akan bangun ketika siap, dia sedang tersesat dan terkurung" lanjutnya, seolah kata-katanya masuk akal.


"Tersesat dan terkurung?! Apa aku harus bertanya lebih lanjut apa yang kau maksud dengan --- itu semua?"


Duke menahan diri untuk tidak menyelipkan umpatan di sela kata-katanya.


"Ah.. kau tidak perlu bertanya. Kau hanya harus menunggunya bangun. Bersabarlah" kata Sorrel sambil menepuk punggungnya.


"Oh.. jeez, thanks a lot" Kata Duke dengan nada sarkastik tingkat tinggi.


Aygul terkekeh geli mendengarnya "Sayang sekali aku belum bisa bertemu istrimu Duke, Arana sudah tidak sabar ingin berkenalan" katanya sambil menyesap teh.


Duke ingin sekali menjawab, jika dia tidak perlu berkenalan dengan Lui, tapi Myra datang menghampiri mereka.


"Makan malam telah siap" katanya.


"Kau sehat?" Myra bertanya pada Duke yang dijawab dengan anggukan.


Duke beranjak mengikuti Alpha lain yang telah mendahuluinya masuk.


"Saya telah menyediakan susu hangat dan madu" kata Myra sambil tersenyum pada Sorrel dan Dihyan.


"Terima kasih Myra. Aku telah merepotkanmu" kata Sorrel.


"Kenapa dengan susu dan madu?" tanya Duke melambatkan langkah, agar bisa berjalan di sebelah Sorrel.


"Kami bangsa elf adalah penjaga Duke, kami tidak bisa memakan sesuatu yang berasal dari makhluk hidup, termasuk tumbuhan. Susu dan madu adalah makanan yang bisa kau dapat tanpa membunuh" jelas Sorrel.


Itu sedikit menyedihkan, batin Duke.


Dia sama sekali tak bisa mengerti, bagaimana bisa mereka melewatkan rasa daging yang lezat.


Oscar tidak akan menyesali keputusannya jika tahu hal ini.


Duke sekarang juga mengerti dari mana asal aroma susu pekat yang selalu melekat pada tubuh Abel.


 


 


 


\~\~\~\~\~\~\~IlI\~\~\~\~\~\~


 


 


Perjalanan menuju perpustakaan kali ini terlihat lebih santai.


Bukan hanya karena mereka sudah lebih mengenal, tapi ada Arana di sana. Dia nyaris tidak pernah diam. El melihat dengan takjub bagaimana dengan sabar Aygul menjawab semua pertanyaan ingin tahu Arana.


Duke memutuskan untuk membawa El hari ini, Myra memilih untuk menjaga Lui.


Tapi Duke juga tidak kalah sibuk dengan Aygul. Di sebelahnya, Kamaria tidak henti bertanya-tanya tentang pemandangan di sekeliling pack. Kamaria menggunakan kesempatan itu sebagai pengganti ajakkannya berkeliling yang ditolak oleh Duke kemarin.


Namun Kamaria tidak lagi berusaha menggandeng tangan Duke, setelah usahanya yang pertama tadi gagal.


Duke dengan reflek menarik turun tangan Kamaria. Duke bahkan tidak sadar saat melakukan hal itu, pikirannya sedang sibuk.


Maka Kamaria harus puas, hanya dengan berdiri dengan posisi nyaris menempel pada Duke seperti saat ini.


Arana beberapa kali memutar bola mata dengan kesal melihat pemandangan itu.


Oulam dan Arkin bergabung dengan mereka di tengah jalan menuju ke perpustakaan.


Arana yang baru kali ini melihat vampire dari jarak dekat, tentu saja tidak bisa menyembunyikan semangatnya.


Arkin sampai terlihat jengah, karena pandangan menyelidik dari Arana.


"Mengapa kalian membawa manusia kesini? Bukankah vampire hanya perlu meminum darah beberapa bulan sekali?" tanya Arana tanpa sungkan.


Arkin mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan lancang itu, tapi Oulam tersenyum.


Dia sudah terbiasa menghadapi orang yang terlalu ingin tahu. Pergaulannya yang luas membuatnya bertemu bermacam-macam orang.


"Kami akan membutuhkan darah beberapa bulan sekali, jika kami meminum seluruh darah yang ada di tubuh manusia. Kami membutuhkannya lebih sering, karena porsi yang kami minum jauh lebih sedikit" jelas Oulam.


"Interesting" sahut Duke sambil duduk di kursinya. Mereka sudah sampai di perpustakaan.


"Sistem makan kalian tertata sangat rapi" lanjutnya, mengingat besarnya badan Barclay. Dia sangat sehat untuk untuk ukuran manusia.


"Terima kasih, aku akan menganggap itu pujian" Arkin meletakkan pantatnya di kursi yang lain.


"Tentu saja itu pujian. Aku tidak pernah menyukai ide peternakan manusia, tapi itu jauh lebih baik daripada menjadi pembunuh"


Duke menatap Arkin dengan serius. Arkin tersenyum kecil menanggapinya.


Dari sebelah Arkin, Oulam memberi kedipan sebelah mata sebagai tanda berterima kasih pada Duke. Yang ditanggapi Duke dengan pelototan tajam.


"Baiklah, pertemuan hari ini akan saya mulai dengan membacakan hasil laporan terakhir mata-mata di sekitar wilayah keberadaan Crispin" kata Abel, tanpa basa-basi.


Dihyan dan Sorrel yang mendahului mereka semua tiba di perpustakaan, mengalihkan mata dari buku, dan duduk tegak.


"Seperti yang telah kita duga, Crispin terus bergerak ke arah barat setelah menghancurkan sanctum di Black Forrest, terakhir terlihat di Lavrentiya. Setelah itu, tidak ada lagi laporan mereka bergerak"


"Mereka berhenti di Lavrentiya? Kenapa?" tanya Urtzi.


"Sekali lagi ini hanya dugaan, aku memperkirakan mereka sedang menunggu lebih banyak sekutu, sebelum melakukan serangan yang sebenarnya pada manusia" jawab Abel, dengan nada muram.


"Dan kita semua pasti tahu kenapa dia memilih tempat itu sebagai titik kumpul pasukannya bukan?" tanya Abel dengan retoris.


"Selat Bering" Tanpa banyak berpikir Duke menggumamkan jawabannya.


Peserta pertemuan yang lain juga mengangguk mengerti. Crispin akan menyeberangi selat Bering dengan pasukannya.


"Karena itulah, aku mempunyai gagasan, sebaiknya kita menunggu di semenanjung Deznev atau Wales, sehingga kita bisa mencegah mereka mencapai Canada ataupun Alaska" kata Abel.


Sudah jelas, teror pertama akan dilancarkan Crispin di Amerika, dengan begitu dunia akan segera tahu tentang keberadaan mereka.


"Tidakkah itu sedikit bodoh? Menyerang manusia secara terbuka seperti itu" Sorrel menyela.


"Jika ingin menyerang manusia, aku akan melakukannya diam-diam, ketika manusia lengah mereka mudah sekali dikalahkan" katanya.


"Saya senang perang ini tidak tentang melawan anda" kata Duke sambil tersenyum sinis.


Jelas Sorrel akan melakukannya dengan lebih rapi. Sorrel hanya tertawa mendengar hal itu. Tapi semua yang hadir berpendapat sama, untunglah Crispin tidak secerdas Sorrel.


Abel menggelengkan kepala kemudian meneruskan penjelasannya.


"Kuat dugaan Crispin akan berhenti menyerang Blackmoon, sebelum menyeberang perbatasan ke Amerika" katanya.


"Aku tidak ingin membawa peperangan ke sini" sahut Duke cepat, yang diikuti oleh anggukan dari El.


Semua yang telah mereka bangun dengan susah payah, akan hancur dalam hitungan detik jika terjadi peperangan di sini.


"Lebih baik kita menunggu mereka di Wales" Lanjut Duke.


"Ya, aku juga lebih menyukai hal itu. Wales daerah yang sepi, hal itu berarti lebih sedikit manusia yang terlibat" kata Abel,sekarang memandang ke sekeliling meminta pendapat.


"Dewan Hunter juga akan mengurus hal yang berkaitan dengan penjaga perbatasan. Mereka tidak akan mengganggu" tambahnya.


"Aku setuju" Aygul yang menyahut pertama kali.


"Bagaimana kita akan ke sana?" Kamaria yang bertanya sambil berpikir keras.


Ketika semua warrior berkumpul jumlah mereka akan menjadi ratusan. Itu akan mengundang banyak perhatian.


"Aku akan mengirim utusan ke Wales lebih awal, mereka akan menyiapkan tempat di sana. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita mengangkut sekian ratus inhumane ke sana" kata Abel.


"Bukan masalah bagi Elf, kami akan berada disana tepat waktu" Dihyan menyahut.


"Hmphhh..." Duke mendengus kesal mendengarnya.


Jika muncul di tengah-tengah Blackmoon adalah hal yang mudah, tentu memindahkan tubuh mereka ke Alaska merupakan pekerjaan yang kurang menantang.


Duke menarik ponselnya dari kantong memencet nomor 5. Sedikit terkejut karena panggilannya dijawab hampir dengan seketika.


"Ada apa?" Oscar menyahut dengan nada yang tak kalah heran. Duke hampir tidak pernah mengubunginya.


"Berapa pesawat terbang yang kau miliki?" tanya Duke langsung.


"Komersil atau pribadi?" Oscar tentu saja heran, tapi dia tak bertanya lebih lanjut maksud dari Duke menanyakan hal itu.


"Semuanya"


"Delmor memiliki maskapai international jika itu yang kau maksud" Oscar sekarang penasaran dengan semua pertanyaan ini.


"Bolehkah aku meminjam salah satu armadamu? Mungkin Boeing atau Airbus?" Duke berharap dalam hati Oscar akan setuju.


Monath tidak berkecimpung dalam bisnis penerbangan. Sepengetahuannya, Monath hanya memiliki beberapa jet pribadi untuk perjalanan bisnis.


"Hmm.. what for? Tidakkah kau harus menjelaskan tujuanmu terlebih dulu?" Oscar akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Aku akan menjelaskan nanti, aku hanya ingin tahu apakah mungkin aku meminjamnya"


Bukan maksud Duke untuk menghindar, tapi penjelasannya akan sangat panjang.


"Tentu saja bisa, aku akan meminta salah satu armada untuk diliburkan" kata Oscar, dengan enteng.


"Thanks!" Duke menyahut kemudian memutus panggilannya, mengabaikan umpatan Oscar yang merasa terganggu.


"Untuk urusan pengangkutan telah selesai. Kita akan memakai pesawat kesana" kata Duke, ringan.


Rigel dan Urtzi semakin gusar dengan pertunjukkan kekuasaan itu. Tidak hanya sebagai inhumane, Duke juga sangat berkuasa di dunia manusia, Mereka tidak menyukainya.


"Bagus!! Kita akan mendiskusikan lebih lanjut tentang hal ini" Abel terlihat sumringah, sama sekali tidak memperhatikan kejengkelan mereka berdua.


Abel hanya senang, masalah terbesarnya terselesaikan dengan mudah.


Pack yang berada paling jauh dari Canada adalah Badira, tapi mengingat jumlahnya yang diangkut tidak terlalu banyak, Duke memberikan 2 pesawat Monath sehingga mereka bisa sampai di Quebec dan terbang ke Wales bersama yang lain.


Levana yang berada di Afrika akan berangkat menggunakan jet Monath, Celaine yang ada di Eropa, akan berangkat dari London memakai maskapai Delmora. Sekaligus membawa pesawat itu ke Quebec.


Moonrise dan Shavarana dari Amerika Selatan akan terbang dengan pesawat Monath ke Quebec.


Abel terlihat sangat puas begitu pembicaraan selesai.


Sorrel sudah terlihat sangat bosan karena pembicaraan ini, tidak berarti sama sekali untuknya.


Arkin dan Oulam hanya memberikan janji, jika mereka akan berada di Wales pada hari yang dijanjikan, tanpa memberi penjelasan bagaimana mereka akan ke sana. Mereka enggan memberi gambaran dimana tempat Clan mereka mereka berada.


Ini sempat memicu amarah dari Urtzi dan Rigel karena merasa hal itu tidak adil, tapi Duke kembali menegur mereka.


Tidak penting dimana letak Clan vampire itu berada, karena sama sekali tidak akan berpengaruh pada perang ini. Dengan bersungut-sungut Rigel dan Urtzi akhirnya diam.


"Jika semua sudah jelas, kami akan berpamitan sekarang juga" Arkin bangkit dari duduknya.


"Tentu, aku akan menghubungi jika ada perubahan sesuatu" Abel bangkit dan menjabat tangan Arkin dengan hangat.


Duke juga bangkit dan menjabat tangan vampire-vampire itu, kali ini dengan hati yang sedikit lebih ringan. Mengenal lebih dekat, mereka berdua tidak seburuk yang disangkanya.


"Sampai bertemu lagi" kata Duke.


"Terima kasih Alpha" Oulam mengangguk ramah, menepuk pelan tangan Duke.


Dia setuju dengan Duke, pertemuan kedua mereka berjalan dengan lebih baik. Arkin memberinya senyum simpul.


"Panggil Roan" kata Duke pada El yang segera bangkit keluar.


Roan yang akan mengawal mereka keluar pack. Urtzi dan juga Rigel bangkit pada saat yang bersamaan juga berpamitan. Duke melepas mereka dengan lega, lelah dengan segala ketegangan yang mereka berdua bawa.


Tiga orang Hunter menyusul mereka berpamitan kemudian.


Duke menyuruh El yang mengawal mereka. Dia ingin memberi kesempatan kepada El untuk berpamitan pada Faust.


Walaupun Duke kembali sedikit ragu apakah tindakannya ini benar atau tidak. Tapi dia akan melakukan apapun untuk membantu El.


Rombongan Jacy akan tinggal dan menunggu warrior-nya datang.


Untuk Levana hanya Shashi yang kembali, Kamaria memberi alasan dia malas jika harus bolak-balik kembali ke Quebec, dia akan menungu warrior Levana di sini.


Hanya alasan tentu saja, Kamaria jelas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berada di Blackmoon lebih lama.


Sedangkan Aygul dan Arana, menurut mereka perjalanan panjang untuk pulang akan membuang-buang waktu jika akhirnya mereka kembali ke sini lagi.


Beta dari Badira yang akan mengurus keberangkatan Warrior.


Sorrel dan Dihyan akan tinggal selama yang mereka inginkan, dan Duke juga tak ingin bertanya kapan mereka pulang.


 


 


 


Selat Bering : Selat sempit (kurang lebih 80 km) yang memisahkan daratan Rusia dan Amerika (Alaska) 


Wales : Kota di daerah semenanjung Alaska, paling dekat dengan daratan Rusia.