
"Sorrel!!"
Seumur hidup, Lui tidak pernah merasa segembira ini, saat menyambut kedatangan siapapun.
Lui juga bisa mendengar bagaimana Alva menghembuskan nafas lega melihatnya.
Dengan mata tidak percaya, mereka menatap Sorrel melangkah keluar dari lingkaran biru di tanah, dengan senyum lebar.
Pertama kali yang muncul menyusul Sorrel adalah Dihyan, kemudian Elf yang sangat cantik dengan telinga seperti kelinci tapi menjuntai ke bawah.
Ini pertama kalinya Lui melihat Elf berjenis kelamin wanita. Dan Faust benar, kecantikannya tidak manusiawi.
Kemudian seperti di komando oleh ayunan tongkat putih Dihyan, puluhan lingkaran sihir berwarna biru, terbentuk di ruang kosong, di antara bebatuan yang terserak.
Satu-persatu memunculkan makhluk yang semuanya rupawan. Tapi Lui bisa melihat bahwa mereka adalah imperfect, walaupun mereka sangat rupawan tapi telinganya normal seperti manusia.
"Dihyan!!" Sorrel menunjuk kerumunan mayat yang menyerang Duke dan Aygul. Dan Dihyan langsung bereaksi.
Dengan isyarat kepalanya, puluhan imperfect yang muncul, mengikutinya berlari dengan kecepatan tinggi menyerbu mayat-mayat itu.
Dihyan dengan ayunan mulus, mengubah tongkatnya menjadi pedang berwarna putih dan menebas musuh yang mendekat dengan lihai.
Para Imperfect yang mengikutinya juga mulai mengeluarkan senjata.
Tidak seperti Hunter yang kebanyakan bersenjatakan pistol dan pedang, mereka memegang berbagai macam senjata yang belum pernah Lui lihat sebelumnya.
Kibasan tombak, crossbow, cakar besi, bahkan katar yang mematikan, silih berganti berkelebat di pertempuran itu.
Pasukan Aliansi yang seolah mendapat suntikan darah baru, melolong dengan penuh semangat kembali maju menerjang musuh.
Tapi seperti sebelumnya, banyak mayat yang kembali bangkit walaupun dengan tubuh yang telah tercabik-cabik. Pemandangan yang sangat tidak menyenangkan.
"Penyihir gila!" kata Sorrel, tapi dengan nada ringan seperti sedang menegur anak kucing yang menggigit kakinya.
Elf wanita yang berdiri di sebelah Sorrel, mulai membuka lingkaran sihir api di bawah kakinya, dan tidak berapa lama, berkobarlah api berwarna biru di tangannya.
Dengan mudah dia melemparkan bola api itu pada mayat-mayat yang kembali bangkit setelah tercabik oleh para imperfect.
Melihat itu, Alva dan coven-nya terlihat girang, sambil berdiri di sampingnya, mereka juga mulai membakar mayat-mayat itu dengan api berwarna merah milik mereka.
Api-api itu sangat ampuh membakarnya, walaupun sebelum mereka menjadi abu, Lui harus melihat bagaimana mayat yang telah tenggelam dalam kobaran api itu, tetap mencoba menyerang dengan membabi buta.
Sorrel terlalu lunak, gila adalah kata yang sangat halus untuk menggambarkan perbuatan penyihir yang melakukannya. Sihir pembangkitan adalah sihir menjijikkan dan sangat kejam. Lui tidak akan pernah mau bersentuhan dengannya.
"Lui, aku akan mencari penyihir itu. Pyre tidak akan bisa bertahan lama" Sorrel tiba-tiba menoleh pada Lui sambil menunjuk wanita bertelinga kelinci itu.
"Eh..." Lui sedikit terperanjat mendengarnya, kemudian dia melirik wanita yang terus melemparkan bola api itu.
Lui memahami apa yang dimaksud Sorrel, butiran keringat mulai membanjiri wajah Pyre.
Dia sudah membakar puluhan mayat, tapi jumlah mayat yang ada lebih dari ratusan. Keadaan Alva dan penyihir yang lain bahkan lebih buruk lagi, wajah mereka sudah sangat pucat, dan api yang mereka hasilkan tak lagi seterang tadi.
Seperti kata Alva, mereka hanya bisa dihentikan dengan menghancurkan sumber sihir.
"Jagalah dirimu baik-baik, oke? Aku harap kau selalu berbahagia bersama Duke. Dan maafkanlah semua kebohongan kakakmu. Dia terlalu menyayangimu"
Lui hanya bisa membuka mulut dengan heran, mendengar perkataan Sorrel. Karena kalimat itu sama sekali tak relevan dengan situasi sekarang, lebih mirip wasiat. Dan apa yang dimaksudkan dengan kebohongan?
Tapi Lui tidak sempat bertanya, Sorrel sudah membuka lingkaran sihir di bawah kakinya dan menghilang. Lui hanya bisa menduga Sorrel menghilang ke arah laut, seperti dugaan Alva.
"Mom!!"
Seruan panik Duke kembali menyeruak di benak Lui.
Dan dari mata Duke, Lui melihat Myra bertarung mati-matian bersama Egon, tapi jelas dia berada dalam pihak yang kalah. Bulu putihnya tercemar oleh warna merah darah yang gelap.
Duke sangat gusar karena ia masih bergelut dengan lawan yang mengepungnya, kini dia melawan selusin Hunter jahat, dan juga dua Stray Serbia. Belum lagi, Crispin juga berhasil memojokkan Rex.
"Roan, kita kesana!!" Lui berseru, dan langsung ditanggapi tanpa keraguan oleh Roan.
Dia melesat ke arah Myra.
Lui bisa mendengar seruan Duke yang mencegahnya. Tapi dia tak bisa jika hanya diam melihat Myra terluka. Sambil menyerukan kata maaf dalam hati, Lui menundukkan badannya agar Roan bisa berlari lebih cepat.
Sambil mencengkeram bulu Roan, sepanjang perjalanan ke arah Myra, Lui menggunakan kesempatan itu untuk melemparkan es secara acak kepada musuh yang mereka lewati.
Dengan sisa tenaga yang ada, Lui tidak bisa lagi memanggil kabut dalam jumlah besar, tapi dia masih bisa membekukan dalam kelompok kecil. Lui mengacungkan tongkat kepada setiap musuh yang masuk dalam jarak pandangnya.
Tapi seperti Alva, Lui bisa merasakan tenaganya dengan cepat terkuras.
"Aghh----!!"
Lui nyaris menjatuhkan tongkatnya, saat seekor mayat werewolf dengan kepala yang sudah nyaris putus, melompat ke arahnya dan berhasil menorehkan cakarnya pada bahu Lui.
Tapi sejak awal Lui menggenggam tongkat itu dengan sangat erat, dia berhasil mempertahankannya.
Roan tanpa ampun menerkam serigala itu dan melemparkannya pada gundukan api biru terdekat.
Roan menoleh kebelakang dan Lui mengangguk. Dia masih bisa bertahan, bahunya yang perih bukan apa-apa jika dibandingkan korban yang lain, mereka harus terus maju.
"Ayo!!!" Lui berseru, dan Roan kembali berlari dan dalam beberapa detik sampai pada tempat Myra.
Duke benar, keadaan Myra sangat payah. Egon sebenarnya juga sudah terluka, tapi dia masih mampu mengeluarkan serangan bengis ke arah Myra. Roan bersama Lui, menerjang Egon dan mendorongnya menjauh dari Myra.
Ketika Egon bangkit dan akan menyerang Roan balik, Lui meluncur turun dari punggungnya, agar Roan bisa bertarung dengan lebih bebas.
Dan tidak butuh waktu lama, Egon dan Roan saling menerkam dan bertarung sengit.
Dan dengan sengaja, Roan menyeret Egon agar menjauh dari Myra. Melihat itu, Lui segera berlari memeriksa keadaan Myra.
Dia masih berdiri, tapi dengan tubuh mulai oleng, tetesan darah keluar dari badan dan lehernya. Mata Myra masih tidak terputus memandang Egon.
Lui tentu saja masih bisa merasakan amarah Myra. Berada sedekat ini dengan Myra, membuat Lui kesulitan menahan air mata. Kepedihan Myra terasa begitu nyata.
"Myra, kau terluka parah! Aku mohon tenangkan dirimu" bisik Lui, sambil mengelus leher Myra.
Tangannya kini juga bersimbah darah Myra, tapi Lui tidak peduli, dia terus mengelus leher Myra.
"Dia mengkhianati Owen, padahal dia sangat mempercayainya. Bukan kekuatannya yang membuat Owen terbunuh, tapi rasa dikhianati yang menyesakkan"
Geraman Myra membuat Lui tidak bisa menahan air mata, karena Myra melengkapi kalimat itu dengan ingatan bagaimana Ayah Duke bertarung dengan penuh kebimbangan dan kebingungan. Pengkhianatan teman terdekat, membuatnya terpukul.
"Bee, beri aku jalan" seru Duke, akhirnya tidak tahan melihat ingatan Myra. Dia mencari jalan termudah untuk mencapai tempat Lui dan Myra berada.
Duke berada kurang lebih lima ratus meter dari tempat mereka berada, jalannya tertutup oleh lebih dari dua puluh mayat campuran dari werewolf dan vampire.
Lui langsung menegakkan diri, dan berkonsentrasi memanggil kabut yang lebih banyak.
Nafas Lui terengah karena dia menggunakan seluruh sisa tenaganya. Tapi dia puas, melihat Duke menerjang kerumunan yang sekarang membatu itu.
Tidak peduli apapun lagi, Duke berlari menghampiri Lui dan Myra.
Ini adalah pertama kalinya Lui melihat Duke dari dekat malam ini. Dan keadaannya jauh dari kata baik.
Tubuhnya mungkin berwarna hitam, dan masih ada kabut Lui yang melingkupinya. Tapi terlihat jelas banyak bagian bulunya berantakan dan lengket, tempat dimana lukanya berada.
Jika tidak mengingat mereka sedang ada di medan perang, Lui ingin sekali memeluk tubuh itu.
"Jangan seperti itu Bee, aku akan sembuh" Duke memberi elusan tipis pipi Lui dengan moncongnya, sebelum kemudian berjalan menghampiri Myra.
"Mom, tenanglah. Aku akan melawannya" kata Duke, sambil mengelus kepala Myra dengan dahinya.
Kedatangan Duke seolah melepaskan beban dari bahu Myra. Tubuhnya perlahan turun dan terpuruk di tanah. Dia sebenarnya tak mampu lagi bertarung.
Lega melihat Ibunya telah tenang, Duke mengalihkan perhatian pada Roan.
"Roan!! Menyingkir!!"
Dan begitu Roan menjauhkan diri dari Egon sambil mengumpat, Duke langsung menerkam tubuh abu-abu tua milik Egon.
Tapi Roan tidak perlu kecewa, puluhan musuh yang mengikuti Duke langsung menjadi sasarannya yang berikut. Dia harus mencegah mereka mendekati Duke, sehingga ia bisa melawan Egon dengan tenang.
Duke sendiri, setelah berhasil melempar Egon sedikit jauh, mulai menutup mindlink-nya secara total. Dia membutuhkan konsentrasi tinggi untuk melawannya. Ia tak ingin gangguan dari manapun juga.
Dia masih bisa melihat kelebatan ingatan Roan dan El, juga melihat dirinya sendiri dari pikiran Lui, tapi itu tidak akan terlalu mengganggu.
Sambil menggeram mengancam, Duke berjalan pelan menilai dari mana Egon melancarkan serangan. Dan sekejap kemudian, mereka bergumul, sambil melayangkan cakaran dan gigitan mematikan.
Egon ternyata bukan lawan yang mudah bagi Duke, padahal dia telah mendapat kekuatan Alpha dan juga tambahan kekuatan dari Elf.
Myra sudah sangat luar biasa bisa bertahan melawan Egon sedari tadi.
Melihat gerakan Egon yang jauh lebih ringan daripada yang ada di ingatannya, Duke memperkirakan tidak hanya Crispin yang mendapatkan keuntungan saat mereka menyerang Sanctum Black Forest. Egon pasti juga mendapatkan sesuatu dari Elf yang ada di sana. Jika tidak, mustahil dia bisa mengimbanginya.
Tapi itu tidak berlangsung lama, setelah berhasil menghindari serangan Duke beberapa kali, mulai terlihat jika Egon terdesak.
Duke sering berhasil mendaratkan cakarnya pada tubuh Egon dengan telak. Gerakan Egon terlihat semakin lambat, sementara kecepatan Duke tetap stabil.
Merasakan hal itu, tanpa keraguan sedikitpun, Duke mulai melancarkan serangan dengan kekuatan maksimal, dia tak ingin memberi waktu pada Egon untuk memulihkan diri.
Egon berusaha menghindar dengan melompat, tapi Duke berhasil menyambar bagian punggung. Tanpa ampun lagi, Duke mengoyak dagingnya.
Dengking kesakitan keluar dari mulut Egon. Luka menganga di punggung Egon, tidak kalah besar dengan hasil tembakannya dulu. Darah segarnya menetes membasahi salju putih di tanah.
Melihat bagaimana Egon semakin lemah, Duke berusaha membuka mindlink sebagai Alpha kepada Egon. Dia harus tahu apa yang menyebabkan Egon melakukan pengkhianatan itu.
Tapi Duke seperti menabrak tembok tebal, dia tak bisa mendengar atau melihat apapun.
Perbuatannya membunuh Alpha membuat hubungannya dengan pack Blackmoon menjadi tidak tersisa lagi.
Dan itu berarti tidak ada hal lain tersisa untuk dilakukan Duke, dia hanya harus membunuh Egon, sesuai dengan rencana.
Duke memberi peringatan pada Egon dengan salakan pendek, isyarat yang seharusnya dimengerti oleh serigala manapun. Isyarat jika serangan berikutnya akan sangat mematikan.
Egon hanya menggeram sambil menyeret tubuhnya yang terluka parah.
Duke menyelipkan sedikit penghargaan untuknya.
Mata Egon tetap berkobar memperlihatkan semangat bertarung, meskipun dia dalam keadaan terdesak. Berbeda dengan Amon, atau werewolf pengecut yang memohon padanya saat Brawl.
Sebelum semua pengkhianatan itu, Egon adalah werewolf yang sangat handal. Dia dulu mengagumi sosoknya yang bisa terlihat sangat santai tapi tegas pada saat dibutuhkan. Mengimbangi ayahnya yang kadang kaku dalam bersikap.
Kenangan itu memberi sedikit keraguan pada Duke, tapi melihat ingatan ibunya tadi, Duke tahu ini harus dilakukan.
Dengan menggertakkan gigi, Duke menerjang Egon, yang dengan ajaib, melompat menghindar. Mengerahkan kekuatan terakhirnya, ia masih bisa melompat.
"Mereka mati!!!"
"Mereka benar-benar mati!!"
Tiba-tiba seruan gembira bersahutan dari sekitar Duke dan tak ada pertarungan lagi yang terjadi di sekitarnya.
Duke menoleh dan melihat mayat-mayat yang sedari tadi bertarung dengan Roan, ambruk tidak bergerak lagi, seperti yang seharusnya.
Lingkaran sihir merah yang meneror mereka sedari tadi juga sudah padam.
Musuh yang masih tersisa berdiri, hanyalah mereka yang masih hidup. Dan semuanya berwajah kecewa, karena sekutu mereka yang terkuat, musnah.
"Apa yang terjadi?"
Duke bukannya tidak merasa gembira, tapi mereka tak mungkin tumbang begitu saja.
"Sorrel" jawab Lui, sambil memperlihatkan ingatan saat Sorrel berpamitan tadi.
"Luii!!!"
Seruan panik Myra, memecah percakapan mereka, dan memberi mimpi buruk bagi Duke.
Dengan matanya, dia melihat Egon melompat sambil memperlihatkan taring siap menerkam. Dia menggunakan sedikit jeda kelengahan Duke yang sedang memperhatikan sekitarnya.
Tapi serangan itu tidak terarah pada Duke
Egon tahu, dia tidak akan bisa mengalahkan Duke, karena itu dia kembali memakai cara kotor dengan menyerang Lui. Tapi sebelum moncongnya berhasil mencapai Lui, sesuatu menyambarnya.
Myra menerkam Egon dan menjauhkannya dari Lui.
Tapi dengan itu, Myra menggunakan sisa tenaganya yang paling akhir. Tubuhnya kini tergolek tidak berdaya dihadapan Egon.
Lalu, tanpa perasaan, Egon membenamkan taringnya di leher Myra.
"MOM -------- TIDAAAK..!!"
Seruan Duke tanpa disadari membahana di setiap kepala warga pack. Seruan penuh rasa putus asa dan bersalah.
Duke tahu dia sudah sangat terlambat untuk menyelamatkan Myra. Dengan sekali lompatand ia menerkam Egon, dan kali ini tanpa keraguan sedikitpun, Duke mengincar lehernya.
Setelah dia mendengar derakan tulang leher yang patah, Duke melempar tubuh itu dengan sembarangan.
Dengan sesak memenuhi dada, dia menghampiri tubuh Myra, yang kini telah dipeluk oleh Lui dengan tangis.
"Mom?" panggilnya pelan.
"Duke?" Myra menyahut lirih di dalam kepala Duke.
Lui yang tidak menyangka Myra masih bisa menjawab, mengangkat wajahnya yang kini juga sudah berlumuran darah Myra.
"Myra?"
"Jangan menangis, Lui. Kau tahu menangis akan membuatmu sakit!"
Kalimat itu malah membuat tangisan Lui semakin kencang. Bagaimana mungkin dia masih mengkhawatirkan hal itu dalam keadaan seperti ini?
"Duke, aku tak ingin kau bersedih dengan berlebihan! Ini perintah" katanya pada Duke, dengan suara tegas.
"Bagaimana bisa?" Duke memprotes, Myra menyuruhnya melakukan sesuatu yang mustahil.
"Tentu saja bisa. Karena setelah ini aku akan bertemu Owen. Aku sangat menantikannya" suara Myra terdengar gembira.
"Dan meninggalkanku sendirian?"
Duke tak percaya Myra terdengar begitu girang menyambut kematiannya.
"Apa maksudmu sendirian? Ada Lui yang bersamamu. Roan dan juga El"
Dan itu adalah akhir, Myra terbatuk hebat sambil memuntahkan darah. Dan kemudian sunyi.
"Mom?" Duke mendekat, tapi hanya ada hening yang menyahut. Duke menempelkan kepala pada tubuh Myra. Dan mendapati rasa yang yang memberinya deja vu.
Rasa kosong seperti saat dia menyentuh tubuh ayahnya dulu.
Diam dan dingin.
"Tidak!!!" seru Lui, ia menubruk tubuh Myra dan menangis sejadi-jadinya.
"Salahku!! Aku seharusnya menghindar".
Mulut Lui hanya bisa meraungkan tangisan, tapi kepalanya penuh sesak dengan rasa bersalah.
"Tidak Bee, kau mendengarnya tadi. Mom menerima nasibnya dengan bahagia" Duke mengelus kepala Lui yang masih menempel pada tubuh Myra.
Rasa sedih meremukkan hati Duke, tapi dia tak akan membiarkan Lui tenggelam dalam rasa bersalah. Perbuatan Myra memang dilakukan untuk menyelamatkan Lui, tapi dia melakukan pilihan itu dengan sadar seperti Juno.
Myra dan Lui tidak perlu merasa bersalah.
"Duke, kau membuka mindlink pada seluruh warga pack!" suara Roan yang juga sarat dengan tangis memperingatkannya.
"Ck..." Duke mendecak kesal, karena sama sekali tidak menyadarinya. Sambil menutup mata, dia memutuskan mindlink-nya.
"Apa wanita rubah itu mati? Baguslah!"
Suara berat, menyahut dari kegelapan di bawah pohon. Lui menggeser tubuhnya menjauhi sumber suara itu.
Dengan langkah pelan Duke mendekat. Di sana terbaring Egon dalam wujud manusianya, dengan tubuh bersimbah darah, dan leher yang setengah hancur. Adalah keajaiban dia masih bisa berbicara.
Dengan tarikan nafas panjang, Duke melepas transformasinya dan berdiri tepat di sebelah Egon.
Begitu melihat wujud Duke yang telah kembali menjadi manusia, Lui langsung menghilangkan lingkaran sihir yang ada di bawah kakinya, dan mengulurkan jubah dari dalam tas.
"Kenapa kau melakukan semua hal ini? Apa yang ditawarkan oleh vampire brengsek itu hingga kau menukarnya dengan kesetiaanmu pada pack?" tanya Duke, sambil menerima uluran jubah dari Lui, yang sedang berusaha untuk tidak menoleh memandang Egon.
Lui kemudian berdiri di belakang Duke. Dia juga ingin mendengar apa yang menyebabkan semua tragedi ini.
Egon terbatuk hebat sebelum akhirnya bisa menjawab, suaranya sudah sangat berat dan terputus-putus.
"Ju----no, dia berjan---ji membangkitkan Juno!"
Jawaban yang sama sekali tidak di duga oleh Duke.
"Kau menukar nyawa Ayah agar bisa membangkitkan Ibuku seperti mereka?!!!" Duke berteriak marah sambil menunjuk mayat gosong yang tergeletak tidak jauh dari mereka.
Mayat itu bergerak, tapi itu tidak bisa disebut dengan hidup. Hanya tubuh tanpa jiwa dalam kekuasaan penyihir tanpa hati.
"Ya!! Dan aku akan menukarnya berulang kali jika perlu. Ayahmu lebih memilih wanita rubah itu dan menghancurkan hatinya. Meninggalkannya dalam kesepian. Aku membencinya, aku membenci Owen untuk hal itu. Dia membuang wanita yang paling berharga dalam hidupku" lanjutnya, kali ini dalam suara yang lebih jelas.
Rasa marah memberinya kekuatan entah dari mana.
"Kau mencintai Ibuku? Kau mencintai Zhena Juno?"
Tapi Egon sudah tidak bisa menjawabnya lagi. Kalimat panjang itu menjadi penanda akhir dari hidupnya. Matanya yang terbuka, tidak menampakkan tanda kehidupan lagi.
"Demi cakar dan semua darah yang tertumpah!! Nasib macam apa yang yang sebenarnya mereka alami?" Duke berteriak dengan putus asa.
Duke jatuh terduduk di tanah dan menengadah ke langit malam cerah yang bertabur bintang.
Duke tidak akan membabi buta mengatakan ayahnya tidak bersalah, karena adalah benar dia lebih memilih Myra dari pada Juno. Dan pasti hal itu akan menyakitinya.
Walaupun sampai akhir hayat Juno, mereka akhirnya tetap bersama, tapi bukan rahasia jika ayahnya sangat mencintai Myra.
Duke bisa membayangkan bagaimana perasaan Juno harus menjalani kehidupan seperti itu, tanpa ada jalan keluar, karena dia tidak mungkin melawan kehendak para Elder.
Dan kini semua rasa sakit dan pengkhianatan itu, telah berubah menjadi darah.
Duke sedikit tersentak, saat tangan dingin Lui merengkuh lehernya dan memeluk kepalanya dari belakang sambil berlutut.
"Apapun itu, sekarang semua telah berakhir. Apapun pilihan yang mereka ambil, kau tidak akan bisa memperbaikinya lagi. Kau tidak perlu merasa bersalah, atau marah. Teruslah mencintai siapa saja yang mencintaimu, dan jangan membenci terlalu dalam. Kita tidak akan pernah tahu sedalam apa luka yang mereka tanggung"
Duke bisa merasakan air mata Lui membasahi wajahnya saat mengucapkan hal itu. Dan seperti biasa, pada saat terpuruk seperti ini, Lui mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi.
Duke tidak bisa lagi memperbaiki apapun yang telah terjadi kepada Ayahnya, Myra ataupun Egon.
Tapi ia masih bisa mencintai mereka dengan sepenuh hati, karena itulah yang dilakukan oleh ayah dan Ibunya -- baik Myra maupun Juno-- selama ini. Mereka membesarkannya penuh dengan kehangatan dan rasa cinta.
Dia hanya perlu mengingat hal itu.
"Duke!!----"
Roan memanggil dengan suara bergetar menahan emosi.Dia sedang bersandar pada salah satu batu besar sambil memegang bahu kanannya. Kemungkinan besar bahu itu patah.
Dengan tergesa Lui, menghampiri Roan, dan merangkup tubuhnya dengan jubah yang identik dengan apa yang dipakai Duke sekarang.
"Aku rasa ayah meninggal, dia tidak menjawab panggilanku setelah bertarung melawan Crispin" kata Roan dengan air mata membanjiri wajah pucatnya.
"Oh... Roan" Lui yang sedang mengikat tali jubah di pinggang Roan, beralih memeluk tubuh gemetar yang tingginya jauh melebihi kepalanya.
Tangis Roan terpecah dalam isakan dan dia memeluk Lui dengan sangat kencang, menumpahkan rasa sedihnya.
Duke bangkit dan memperbaiki posisi jubahnya agar menutup sempurna seluruh tubuhnya.
Pandangan matanya jatuh pada tubuh Myra yang tergolek penuh dengan darah yang mulai mengering.
Dia tidak punya waktu untuk berduka saat ini, masih ada banyak hal yang harus diurusnya.
"El!!" panggilnya lantang.
Dia menginginkan laporan tentang semua yang terjadi. Setelah dia memutus mindlink dengan para warrior, dia tak tahu lagi perkembangan pertarungan sampai bisa mencapai tahap ini.
Yang pasti bisa dilihatnya saat ini, semua pasukan musuh telah kabur. Termasuk Crispin!
"Dia juga tidak menjawab panggilan mindlink-ku" isak Roan.
Duke menutup mata, mengabaikan pukulan telak di jantungnya akibat berita itu.
Duke menarik nafas panjang, mencoba mengusir bayangan kemungkinan terburuk kenapa El tidak bisa menjawab panggilannya. Terakhir kali dia melihat El melawan Linus, seharusnya ia bisa mengalahkannya dengan mudah.
Mungkin El sudah berubah kembali menjadi manusia, sehingga tidak menjawab panggilan mindlink Roan.
"Dey!! "
Dan sama, panggilannya kembali tidak mendapat jawaban.
Tidak tahan dengan kesunyian yang memberinya pikiran buruk, Duke memutuskan untuk mencari jawabannya sendiri.
"Bee, apakah kau bisa berjalan? Kita harus pergi" Duke melihat luka lebar di bahu Lui.
Duke harus segera mencari perawatan untuk luka Lui. Dan lagi, cakaran dan gigitan yang memenuhi tubuhnya juga mulai terasa ngilu. Ia juga harus segera merawatnya, agar racun yang ada bisa hilang lebih cepat.
Ia bisa saja mengangkat tubuh Lui, tapi kedua tangannya berlumuran darah hitam vampire. Sebisa mungkin Duke tidak ingin menyentuh Lui dengan noda itu.
Lui mengangguk, "Aku masih kuat berjalan" sambil menggandeng Roan yang masih menangis.
Mereka bertiga berjalan menuju titik berkumpul yang telah ditentukan.
Yaitu sebuah lembah yang berada tak jauh dari kota yang menjadi markas mereka kemarin.
Pemandangan yang terlihat sepanjang perjalanan, nyaris menggerus semangat mereka untuk terus melangkah.
Meskipun Duke dan Roan terbiasa hidup dalam kekerasan lingkungan inhumane, tidak ada yang mempersiapkan diri untuk melihat begitu banyak mayat bergelimpangan dalam keadaan yang mengenaskan seperti itu.
Sebagian mayat hangus sampai tidak bisa dikenali lagi. Sedangkan yang lain terbaring dengan anggota tubuh tidak lengkap.
Lui berusaha keras menatap lurus ke depan agar tidak perlu melihat semua itu.
Tapi anyir darah dan aroma daging yang terbakar membuatnya tahu, bagaimana buruknya keadaan di sekeliling.
Langkah Lui terhenti saat pendaran lingkaran sihir berwarna biru muncul di depannya.
"Ada apa?" Duke menoleh kebelakang dan langsung mengerti saat melihat lingkaran itu.
"Sorrel?" panggil Lui dengan tidak sabar. Banyak hal yang ingin ditanyakannya pada Sorrel.
Tapi yang muncul dari dalam lingkaran itu adalah Dihyan. Dia berdiri lurus menghadap Duke.
"Sorrel meninggal. Dia ada di pantai" Dihyan menggigit bibir bawahnya, untuk menahan arus emosi saat mengucapkan hal itu.
Duke sudah berharap, tidak akan ada berita buruk lagi setelah semua itu. Tapi dia salah seperti biasanya.
"Di mana sisa pasukan yang lain?" tanyanya pada Dihyan. Berusaha terdengar biasa.
Dihyan menunjuk lembah tujuan mereka yang sudah tidak jauh lagi, "Aku akan membawa kalian ke sana"
Dihyan mengayunkan tangan dan tiga lingkaran sihir muncul sekaligus. Ia menawarkan diri untuk memindahkan mereka langsung ke sana.
Duke sudah akan menolak, karena ia ingin melihat bagaimana keadaan di sekitar dan berharap akan menemukan korban selamat di antara tumpukan mayat itu. Tapi seruan Roan membatalkan niatnya.
"Lui!!"
Tubuh Lui merosot ke tanah.
Duke lupa, masih ada bagian tubuh Lui yang sangat manusiawi. Tentu saja semua berita menyedihkan itu akan membuatnya tumbang.
Sambil mengangkat tubuh Lui, Duke melangkah ke tengah lingkaran sihir Dihyan, dan menutup mata.