
marcello membawa grece menuju lanati apaling atas gedung itu, ia menyeret grece dengan paksa namun tanpa dipaksa pun grece dengan senang hati menurut dan mengikuti langakah marcell
"hai pa,ma.. kalian tentu sudah bahagia sekarang, tapi satu hal yang harus kalian tau. jika nanti kalian diujung tanduk jangan pernah memohon atau mengatakan jika aku dan sarah adalah anak kalian!!" kata grece dengan tajam dan mata yang penuh kebencian mendalam
tidak biasanya grece bersikap seperti ini kepada orang lain walaupun sudah menyakiti dirinya, namun grece tidak habis pikir dengan kedua makhluk didepannya, yang rela membuang anaknya demi bisa membalaskan dendam mereka.
"anak tidak tau diri ini, masih bisa bicara seperti itu padahal sudah tau nyawanya diujung tanduk" kata emita
" biarkan saja ma, mungkin dia hanay ingin membuat kita takut saja, dasar anak tidak tau malu!!" kata kevin menimpali perkataan istrinya
" sudah, ayo masuk!" kata marcell dan meninggalkan emita dan kevin diluar, sementara dirinya membawa grece masuk kedalam ruangan
"paman.. apa paman mau melakukannya sekarang??" tanya grece dengan wajah smrik
"hahahah.. anak kecil ini, kelihatan polos namun ternyata seorang ****** yang tidak tau malu" kata marcell dan hendak memeluk grece namun dengan cepat grece menghindar dan mendorong marcell hingga tersungkur
"hahhahah masih dengan hal seperti itu saja kau sudah menghindariku anak kecil!!' kata marcell dengan amarahnya karena merasa grece mempermainkan dirinya
" tenanglah paman, jangan terlalu kasar. ingat paman sudah tidak muda lagi, kalau terlalu terburu-buru paman bisa saja mati dulu sebelum berperang" kkata grece dengan mengejek marcell yang tersungkur dilantai
" hahaha, kau memng anak kecil tidak tau diri, lihat saja bagaimana aku akan memangsamu" kata marce;ll dengan cepat mendorong grece keranjang yang ada disana
namun, bukan grece namanya jika tidak memancing marah lawannya lebih dulu
"astaga paman tua bangka ini, sudah ku bilang untuk hati-hati" kata grece yang merasa sakit dibagian punggungnya karna tidak sengaja terbentur dengan pinggiran ranjang kayu itu
"diam kau anak ingusan, kau dari tadi terlalu banyak omongan!!" kata marcell yang sudah merasa kalau amarahnya dipuncak ubun-ubun
namun sebelum marcell melanjutkan aksinya, ponsel miliknya berdering dan membuat dirinya mau tak mau harus mengangkat telfon itu lebih dulu.
" hallo, siapa kaau>!!?" tanya marcell dengan suara yang tajam karna yang menelfonnya tidak ada nama di ponselnya, dan artinya hanya ada dua kemungkinan, itu adalah anak buahnya atau musuhnya.
"hahahha.. tenag lah marcell, kau terlalu buru-buru, jangan gegabah yang pada akhirnya kaan membuatmu gagal dan merasakan hal yang sama bebrapa tahun silam" kata sipenelfon dideberang
"lucio!!?" kata marcell dengan terkejut bukan main yang ternyata menelfon dirinya adalah musuh bebuyutannya sekaligus mertua dari wanita yang ia culik
" tenanglah marcell, sudah ku katakan kau tidak boleh terburu-buru, kau mengerti? lebih baik kau turun saja, temui aku dibawah" kata lucio terdengar sangat santai dan tidak ada tanda-tanda khawatir
" diam kau lucio, jangan menganggap dirmu paling berkuasa disini!!" kata marcell dengan emosi yang sudah diubun-ubun, namun sayangnya, lucio sudah mengakgiri panggilan mereka
" dasar lucio kurang ajar!! awas jika aku bertemu denganmu, jangan harap kau pulang dengan selamat dan masih bernyawa!!" kata marcell dengan geram dan langsung menghampiri grece
"paman, jangan buru-buru sabar sedikit aku belum ada persiapan" kata grece masih memancing amarah marcell dengan perkataannya yang konyol dan tidak masuk akal
"diam kau anak kecil, jangan terlalu ribut, kau dan mertuamu sama saja" kata marcell dan menyeret grece agar turun menemui lucio
"paman jangan menyeretku seperti ini, paman kira aku peliharaan apa!!" kata grece dan melepaskan tangan marcell dari tangannya dengan kasar
seolah-olah penculikan grece afdalah permainan bagi mereka, tidak ada tanda-tanda yang tegang atau perlawanan yang mengakibatkan kehilangan nyawa
prok..prok..prokk...
suara tepuk tangan dari lucio sangat terdengar menggema diruangan tersebut, dengan wajah yang terkejut dan sangat ridak percaya semua orang yang ada diruangan tersebut tergelepar tanpa nyawa termasuk kevin ayah dari sarah dan grece
"apa yang sudah kau lakukan lucio!!!!" teriak marcell dengan wajah merah padam dan mata merah jampir keluar
"aku hanya membasmi virus yang perlu ku basmi marcell, jangan terlalu terkejut dengan hadiah dariku!" kkata lucio dengan tenang dan tersenyum kearah grece
"baik-baikkah kau disini grece??" tanya lucio seolah grece bukan menantunya
" aku baik-baik saja dad, jangan khawatir. mereka terlalu baik memperlakukanku" kata grece tersenyum smrik
"baguslah kalau begitu, aku jadi bisa tenang sekkarang" kata lucio sambil melirik kearah devan anaknya
"sayang?? apa kamu ketakutan?? aku khawatir denganmu" kata devan dan ingin menghampiri grece, namun dengan cepat marcell membuka suaranya
"jangan ada yang mendekat, jika kalian masih sayang nyawa gadis kecil ini!" kata marcell sambil menodong senjata yang sudah ia siapkan dibalik bajunya
"hahhah... terlalu murahan dan gampang ditebak" kata lucio dengan tertawa seolah ada hal yang sangat lucu didepannya
"lucio!! kau selalu tau apa yang ingin aku lakukan, mengapa tidak kau saja yang mati hari itu, mengapa harus sahabatmu yang tidak ada gunanya itu!!" teriak marcell dengan gregetan dan penuh kebencian
"dan sekarang!! aku juga menahan anaknya yang tidak berguna, malah membuatku kesusahan" kata marcell dan tetap menahan grece dengan pistolnya
"jangan menembaknya paman, dia istriku tidak tau apa-apa, jangan menyakitinya" kata devan dengan wajah khawatir terjadoio sesuatu dengan istrinya
next
jangan lupa like, kome,dan favorit kalia readers ">