Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 80



Ucapan yaya sedikit banyaknya sudah melemahkan hati Alvin, hingga ia menuruti keinginan Yaya untuk makan bersama dengan orang tuanya.


Dimeja makan mereka berdua layaknya dua orang yang tidak saling mengenal, suasana seperti ini membuat papa dan mama Alvin saling pandang karena melihat sikap mereka yang sangat tertutup satu sama lain.


Setelah selesai makan Alvin kembali masuk kekamarnya dan segera mengganti bajunya, Alvin meraih kunci mobilnya dan berniat untuk pergi malam itu, namun saat membuka pintu ada Yaya yang berdiri tepat dibalik pintu itu, dan membuat Alvin cukup terkejut.


"Akh, sedang apa o !


buat orang terkejut saja !


ngapain berdiri didepan pintu ?


minggir gua mau lewat !" ucap Alvin seraya mendorong Yaya hingga terjatuh kelantai,


Alvin juga terkejut dengan apa yang ia lakukan terhadap Yaya, karena ia merasa tidak berniat mendorong Yaya sampai terjatuh, namun amarah lnya mengalahkan rasa bersalahnya, Alvin tetap saja melangkah pergi meninggalkan Yaya yang masih duduk diam dilantai.


"Alvin, Alvin, aku kira sifat kamu yang dingin tidak akan pernah kembali lagi, tapi ternyata aku salah, dan Felix benar, Alvin tetap lah seorang Alvin, sangat mudah memancing sifat itu untuk keluar lagi ternyata," gumam Yaya seraya berdiri dan memperhatikan suaminya pergi.


Yaya masuk kekamar tidur dan mematikan lampu sampai sangat gelap.


Sementara Alvin pergi ke bar menemui teman-temannya dan disana juga sudah ada Ajeng yang dengan setia menunggunya.


"Hai Vin, apa kabar lo ?


gua kira lo gak akan pernah bisa keluar malam lagi setelah lo punya bini," ucap salah seorang teman Alvin.


Alvin hanya tersenyum menanggapi pertanyaan temannya itu, namun Ajeng yang mulai angkat bicara.


"Jangan sembarangan bicara lo, Alvin pasti bisa keluar kapan saja dia mau, karena tidak mungkin seorang Alvin bisa di atur-atur oleh si cupu Yaya," ucap Ajeng yang membuat Alvin langsung melirik sinis kearahnya,


Ajeng yang merasa tidak suka dipandang seperti itu langsung memprotes Alvin.


"Kenapa Vin, tidak terima gua bicara hal buruk tentang dia, istri lo itu ?" sindir Ajeng dengan menekankan kata istri.


Alvin hanya menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak setuju dengan kata-kata Ajeng.


Setelah cukup lama disana waktu menunjukan pukul 02.00 dini hari, Alvin merasa cukup untuk hari ini, ia pun berpamitan pulang.


"Hai semua, gua pulang dulu ya," pamit Alvin.


"Kenapa Vin ?


takut dimarahi istri ya ?" ucap salah satu teman Alvin lagi.


"Sial lo !


itu tidak akan mungkin terjadi !


gua cabut !" pamitnya lagi.


Alvin pun berjalan keluar dari bar menuju parkiran, saat ia hendak membuka pintu mobil Ajeng memeluk Alvin dari belakang, sikap Ajeng membuat Alvin merasa risih dan dengan cepat melepaskan pelukan Ajeng, mungkin karena Alvin merasa bersalah pada Yaya.


"Jeng apa yang lo lakukan ?" protes Alvin.


"Peluk kamu, kenapa ?


tidak boleh ?


sampai memeluk kamu pun sudah tidak boleh Vin ?


ternyata besar juga pengaruh dia untuk perubahan sikap lo Vin !" tanya Ajeng.


"Bukan begitu Jeng, gua hanya merasa tidak enak kalau sampai ada yang melihat, apa lagi kalau orang itu ternyata kenal sama gua, dan dilaporkan ke orangtua gua, bisa repot urusannya Jeng !" jawab Alvin.


"Takut dilaporkan ke orang tua lo atau ke istri kesayangan lo itu ?" tanya Ajeng menyindir.


"Ayo masuk gua antar pulang," ajak Alvin.


Alvin pun menuntun Ajeng untuk masuk kedalam mobilnya, mobil itupun kemudian melaju dengan kecepatan normal, tidak lama kemudian sampai lah mereka didepan rumah Ajeng.


Ajeng sudah sedikit sadar dan mulai terbangun dari tidurnya.


"Vin ayo mampir dulu," paksa Ajeng seraya menarik-narik tangan Alvin.


"Tidak usah Jeng, gua harus langsung pulang sekarang," jawab Alvin.


"Sebentar saja, gua juga tidak terlalu kuat jalan, gua mohon antar gua sampai atas, seperti biasanya," pinta Ajeng memelas.


Alvin yang merasa iba pun tidak lagi bisa menolak permintaan Ajeng, ia kemudian memapah Ajeng masuk kedam rumahnya dan langsung menuju kekamarnya.


Setelah sampai dikamar, ia mendorong tubuh Alvin ketempat tidur, dan mulai naik keatas Alvin, ia mencoba menggoda Alvin dengan bernafas dibagian belakang telinga Alvin, lalu beralih menciumi bagian leher Alvin, awalnya karena pengaruh alcohol Alvin juga hanyut dalam permainan Ajeng, akan tetapi saat Ajeng mulai mengarah ingin mencium bibir Alvin seraya tangannya hendak membuka kancing kemeja Alvin, ia tiba-tiba membayangkan Yaya saat sedang tersenyum padanya, dan kemudian akhirnya membuat Alvin sadar dari godaan Ajeng, setelah sadar ia mendorong tubuh Ajeng menjauh darinya, Alvin pun langsung berdiri dan berpamitan pada Ajeng.


"Maaf Jeng, gua tidak bisa melakukan ini sama lo, permisi," ucap Alvin dengan menyesal dan berlari meninggalkan Ajeng yang terus berteriak memanggil nama Alvin.


Alvin pun bergegas melajukan mobilnya menuju arah pulang kerumahnya, ada sedikit perasaan bersalah dihatinya untuk Ajeng,karena ia merasa seperti ia telah memberi harapan palsu pada Ajeng,


akan tetapi perasaan bersalahnya pada Yaya istrinya jauh lebih besar.


Sesampainya dirumah Alvin dengan berjalan cepat menuju ke kamarnya dan Yaya, malam itu sudah pukul 03.30 dini hari, setelah berada didepan pintu kamarnya, Alvin tidak langsung masuk kedalam, dia terdiam sejenak memikirkan apa yang akan dia katakan pada Yaya, apa ia harus menunggu sampai Yaya minta maaf atau dirinya yang seharusnya minta maaf terlebih dahulu pada Yaya.


Setelah cukup lama diam didepan pintu Alvin pun membuka pintu itu, saat pintu terbuka ia melihat keadaan didalam kamar sangat gelap, padahal ia tau kalau Yaya takut gelap, lalu Alvin menghidupkan lampu kamar itu dan melihat yaya tidur menghadap dinding ..


Alvin melepaskan jaketnya dan berbaring disamping Yaya lalu memeluknya dari belakang.


"Maaf Yaya, maafkan aku," ucap Alvin seraya meneteskan air mata.


"Maaf untuk apa ?" tanya Yaya.


"Kamu belum tidur ?


kenapa ?" tanya Alvin.


"Belum, aku menunggu suami ku yang belum pulang," jawab Yaya sedikit menyindir Alvin.


"Maafkan aku Yaya, sebenarnya tadi aku pergi ke bar, dan Ajeng mabuk, lalu aku mengantarkannya pulang kerumahnya karena dia mabuk cukup parah dia tidak bisa menyetir sendiri.


Kemudian saat dikamarnya dia mendorongku ketempat tidurnya, dia naik keatas ku, berusaha menciumku dan menggoda ku, maafin aku Yaya aku menyesal," ucap Alvin menjelaskan.


"Lalu apa kamu tidur dengan dia Vin ?" tanya Yaya dengan matanya yang juga berkaca-kaca


"Tidak Yaya !


aku bahkan tidak melakukan hal sampai sejauh yang kamu fikirkan !


tolong percaya aku, "


"Kenapa aku harus percaya sama kamu Vin ?


dan mana mungkin ada yang tidak tergoda kalau ada yang memperlakukannya seperti itu," tanya Yaya.


"Aku benar-benar tidak merasakan apa-apa Yaya, karena pada saat dia memelukku yang bisa ku ingat hanya hangatnya tubuh kamu, saat dia mencium ku, yang aku ingat hanya saat aku mencium mu, itu yang aku rasakan dan akhirnya membuat aku sadar, dan aku langsung pergi," ungkap Alvin menjelaskan.


Yaya mengangguk, memeluk tubuh Alvin dan mencium kening Alvin, untuk sementara itu yang bisa Yaya lakukan untuk mengiyakan kata-kata Alvin, karena kalaupun dibahas sekarang tidak akan benar karena mulut dan badan Alvin bau alcohol sedikitnya akal sehatnya pun pasti tidak akan ingat dengan apa yang ia ucapkan.


"Kamu tidur ya, besok pagi kita bahas lagi masalah penyebab kita bertengkar sore tadi, dan masalah kamu sama Ajeng hari ini," ajak Yaya pada Alvin,


Alvin menuruti perintah Yaya dan tidur dipelukan Yaya.


Mereka pun tertidur, berusaha melupakan sejenak permasalahan diantara mereka hari ini.