Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 74



Hari itu berakhir dengan senyuman diwajah Yaya dan Alvin.


Pesta resepsi sebenarnya baru akan dimulai pada malam harinya.


Ketika malam tiba Yaya dan Alvin terlihat seperti layaknya raja dan ratu dibalut dengan gaun putih dan hiasan ruangan bernuansa putih juga yang sangat mewah, Alvin dan Yaya berjalan bergandengan tangan menuju pelaminan, Alvin tersenyum saat menggandeng mesra tangan Yaya.


"Vin, masih berlaku gak untuk malam ini tentang melupakan sejenak masalah diantara kita ?" tanya Yaya tersenyum menggoda Alvin.


Alvin mengerutkan keningnya dan berkata.


"Lo mau pernikahan ini jadi sempurnakan ? kalau ia jangan banyak bicara cukup ikuti saja alurnya, " jawab Alvin.


Yaya tersenyum milihat Alvin tersipu,


senyum diwajah keduanya tidak pernah memudar malam itu,


Felix dan Ocha terlihat baru datang dan duduk dikursi tamu melihat aneh kearah Yaya dan Alvin yang sedang berbicara, bercanda dan tertawa seolah mereka sangat dekat sebelumnya.


"Fel, memang mereka sedekat itu sebelumnya ?" tanya Ocha.


"Jangan tanya gua Cha, karena sama seperti lo gua juga gak ngerti !" Felix menjawab pertanyaan Ocha dengan ketus, yang membuat Ocha terdiam dan paham kalau saat ini Felix sedang cemburu.


#Felix.


"Sudah dua kali Vin lo rebut kebahagiaan gua, tapi maaf untuk kali ini setelah dia lepas dari lo gua gak akan lagi menyia-nyiakan waktu gua untuk mendapatkan dia Vin ! " gumamku.


#Author


Felix memandang Alvin dengan tatapan benci, sementara dipelaminan itu kedua mempelai masih terus menebar senyum untuk semua tamu yang datang.


"Vin gua boleh tanya sesuatu ?" ucap Yaya kembali memulai pembicaraan.


"Apa ?" tanya Alvin kembali.


"Tadi siang kenapa lo bisa ada dirumah Ajeng ?


dan ditelphone gua dengar lo bilang tentang kesepakatan ?


kalau boleh gua tau memangnya lo sama Ajeng ada kesepakatan apa ?" tanya Yaya.


"Haha, lo ternyata gak bisa dibaikin ya, sekalinya dibaikin lo mulai merasa kalau kita sebelumnya sangat dekat, bahkan lo mulai bersikap seolah lo benar-benar wajib tau apa saja tentang gua karena lo istri gua sekarang, jadi lo ngerasa harus tau segalanya, gitu ?" jawab Alvin dengan senyum sinis.


"Bukan gitu maksudnya Vin, kalau memang lo gak mau kasih tau juga gak jadi masalah Vin, karena lo benar itu bukan urusan gua," jawab Yaya dengan nada sedikit kecewa.


Perbincangan mereka terhenti saat Felix dan Ocha menghampiri mereka untuk mengucapkan selamat kepada mereka.


"Yaya sayang selamat ya atas pernikahannya, semoga kamu hidup dengan damai dan gak banyak menderita lagi, kalau ada apa-apa kamu harus langsung cerita sama aku, wajib !" Tegas Ocha seraya memeluk Yaya dan melirik tajam kearah Alvin.


"Ia, makasih ya Cha do'anya, dan tenang saja, semoga aku bisa menghadapi semuanya dengan baik,"jawab Yaya.


Setelah selesai dengan do'anya untuk Yaya, kini Ocha beralih pada Alvin.


"Gua gak tau harus mengucapkan Selamat atau apa sama lo Vin, tapi yang pasti tolong buat bahagia teman gua selama 9 bulan kedepan, setelah itu biarkan dia mengejar sendiri kebahagiaannya," ucap Ocha pada Alvin sedangkan Alvin menjawab Ocha hanya dengan senyum sinisnya yang penuh teka-teki.


"Ya, seharusnya aku yang ada disamping kamu, menjaga kamu, dan membuat kamu tersenyum bukan dia !


tapi karena perjanjian kalian yang membuat aku ikhlas melepas kamu untuk waktu 9 bulan, aku merasa kalau aku masih bisa mengharapkan kamu Yaya, dan jika saat itu tiba kamu sudah sendiri, aku gak akan biarkan lagi kamu pergi dari aku, " bisik Felix yang tetap masih bisa terdengar oleh Alvin yang sudah mengepalkan tinjunya namun masih bisa ia redam sendiri emosinya ketika melihat Yaya mengangguk, agar Felix tidak merasa terlalu bersedih.


"Dan lo Vin, makasih untuk tidak menikahi Yaya untuk selamanya, dan kalau Yaya sampai gak bahagia sama lo, kalau dia terluka fisik atau hatinya karena lo lagi, gua gak akan segan-segan buat bawa dia pergi dari lo selamanya," ucap Felix pada Alvin seraya bersalaman dengan sangat kuat.


Alvin hanya menggelengkan kepalanya dan dengan senyum kemenangan yang tersungging dari bibir Alvin membuat Felix semakin geram.


Yaya memandang Ocha seolah meminta Ocha untuk segera membawa Felix turun dari pelaminan, dan Icha pun langsung mengerti dan membawa Felix turun.


Dari kerumunan para undangan terlihat Ajeng yang dari tadi melempar senyum sinis dan pandangan mengejek kearah pengantin setelah Ocha dan Felix turun gantian Ajeng yang mendekati pelaminan itu, dengan berpura-pura tersenyum ramah Ajeng memeluk Yaya dan mencium pipi kanan dan kiri Yaya seraya mengucapkan do'a untuk mereka.


"Selamat untuk lo, gua juga mau berdo'a buat lo Yaya, semoga lo kuat saat nanti lo ditendang keluar setelah anak lo lahir, " ucap Ajeng yang membuat senyumnya menghilang dari wajah Yaya, dan Alvin juga terlihat mengerutkan keningnya.


"Ajeng," panggil Alvin mencoba menghentikan sikap kasar Ajeng tapi kata-kata Alvin tidak dihiraukan oleh Ajeng.


"Tenang Vin, gua gak akan buat keributan dipernikahan lo, gua cuma mau kasih hadiah tapi gua gak tau ini hadiah lebih cocok buat lo atau buat pengantin lo ini," ucap Ajeng berbicara masih tetap dengan senyum sinisnya.


"Mas, mas, boleh pinjem mic nya ?" tanya Ajeng pada seorang Mc pernikahan, setelah mendapat Mic Ajeng memulai berbicara.


"Selamat malam untuk kedua mempelai, kedua keluarga besar, dan para tamu undangan yang hampir memenuhi gedung ini, wah ramai sekali, oh ia perkenalkan saya Ajeng, disini saya ingin mengucapkan selamat untuk kedua mempelai atas pernikahannya yang sangat meriah, tapi selain ucapan saya juga sudah menyiapkan hadiah untuk mereka, tunggu sebentar " ucapnya seraya Ajeng mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman.


(suara rekaman diputar)


"Bisa gua cemburu sama cewe miskin, gak punya otak, sok cantik dan murahan itu !


dan yang sangat-sangat gua benci !


asal lo tau Jeng keinginan terbesar gua sekarang adalah menghancurkan hidup dia dan pacarnya yang sama-sama sampah itu !" isi rekaman suara Alvin.


Yang membuat seluruh orang yang ada diruangan itu saling tatap dan saling berbisik,


Yaya hanya menunduk karena merasa sudah kehilangan muka didepan semua orang terutama didepan keluarga besarnya.


"Nah sekarang yang mau saya sampaikan disini adalah, keingin besar Alvin untuk menghancurkan hidup Yaya itu sudah berhasil, karena Alvin berhasil tidur dengan cewe yang ia bilang murahan dan gak punya otak, sampai dia hamil sekarang !" ucap Ajeng memberi pengumuman.


Alvin berlari untuk merebut mic itu dari tangan Ajeng.


"Kenapa Vin lo malu ?


ketauan sama Yaya dan semua orang kalau sebenarnya lo sudah punya rencana buat menghancurkan dia !" seru Ajeng.


"Jeng lo sudah keterlaluan !


Pergi dari sini sekarang !


PERGI !!!" teriak Alvin.


"Gak usah diusir, karena gua juga gak mau berada dipesta yang penuh kepalsuan seperti ini terlalu lama," ucap Ajeng sebelum ia benar-benar pergi dari pesta itu.


Setelah Ajeng pergi Alvin melihat Yaya yang sudah duduk bersimpuh dilantai dengan pandangan kosong, saat ini Alvin hanya mampu memandang Yaya tanpa berani memulai pembicaraan dengannya.