Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 47



"Kamu bisa membela diri sesuka kamu Vin , tapi aku gak akan pernah lupa sama apa yang aku dengar dihari itu, bahkan jika kamu mencoba untuk menyangkal semuanya aku gak akan pernah percaya sama mulut busuk kamu Alvin !!!" ucap Yaya dengan matanya yang terus berkaca-kaca.


Untuk pertama kalinya Yaya bicara kasar dan berani membentak Alvin, Felix yang mendengar Yaya bicarapun ikut terkejut. Karena seorang Yaya yang lembut bisa memaki Alvin sampai seperti itu.


"Memangnya apa yang lo dengar hari itu ? apa orang yang lo dengar itu memberitahu lo siapa yang memerintah mereka ?


jangan asal nuduh kalau lo gak ada bukti . gua bisa tuntut lo cewe sialan, dan satu lagi kalaupun memang ia gua yang melakukan itu, lo fikir gua mau repot-repot buat menjelaskan sama lo,


jangan Mimpi !" maki Alvin.


"Aku memang gak pernah berharap atau bermimpi akan dapat penjelasan tentang kejahatan kamu, karena aku tau maling gak akan pernah ada yang ngaku !


dan itu masih kejahatan kamu yang pertama Vin !


tapi kamu sudah tidak bisa mengingatnya ! lalu apa kabarnya dengan kejahatan-kejahatan kecil yang kamu lakukan lainnya ?


apa kamu juga tidak akan mengakuinya ?


oh ia yang kedua kamu permalukan aku didepan semua orang diacara kamu waktu itu, yang bikin aku gak habis pikir, demi membully aku kamu rela membuat acara kamu sendiri itu berantakan, ini benar-benar lucu Vin !


dan disitu juga kamu fitnah aku sebagai cewe murahan yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan aku, ingat ?" belum selesai Yaya dengan kata-katanya Alvin menyela omongan Yaya.


"Ha ?


Fitnah ?


yang gua bilang itu semua kenyataan," jawab Alvin dengan selingan senyum iblisnya.


"Hei, jangan berani motong omongan gua ! gua selama ini gak pernah kasar Vin sama lo, bahkan gua masih pakai bahasa yang sopan kalau bicara sama lo, tapi ternyata lo orang yang gak tau diri, dibaikin lo makin berani !


lo orang yang sangat tidak pantas untuk diperlakukan secara baik-baik !" bentak Yaya kembali dengan makiannya untuk Alvin.


Alvin dan Felix semakin dibuat terdiam mendengar Yaya menggunakan bahasa yang sering mereka gunakan, dan melihat kearah Yaya yang terus berusaha menahan tangisnya.


"Sudah ngomongnya ?


dudah drama nya ?


lo pintar actingnya,


mau jadi pemain sinetron lo,hah ?


lo pikir gua perduli mau lo ngomong kasar atau lembut ?


lo fikir gua perduli !"


"Ia karena lo memang gak pernah punya hati, dan juga lo gak punya otak Vin, maka dari itu gua sangat-sangat menyesal pernah suka sama orang jahat seperti lo !!!


kali ini tangis Yaya pecah seiring dengan suaranya yang meninggi.


Alvin terlihat tersentak dengan kata-kata Yaya yang bilang dia menyesal menyukai Alvin karena ini kedua kalinya Yaya bilang kalau ia menyesal.


"Semua orang lo anggap rendah, padahal kenyataannya lo itu lebih rendah dari pada orang-orang yang lo hina Alvin !


tapi lo gak pernah sadar Vin, lo terlalu egois, lo terlalu munafik untuk mengakui kalau diri lo itu lebih busuk dari mereka yang lo hina selama ini !" ucap Yaya yang terus bicara dengan emosinya.


Sementara Felix sudah tidak tahan lagi mendengar Yaya berteriak dengan suaranya yang bergetar, ia mencoba mendekati Yaya untuk menenangkannya.


" Yaya, sudah cukup,


ayo aku antar kamu pulang sekarang,


malu dilihat orang, dan ini rumah sakit kamu sendiri yang bilang untuk gak buat keributan disini," ucap Felix mencoba mengingatkan Yaya akan kata-katanya sebelum mereka kerumah sakit.


"Nggak Fel,


orang ini harus tau seberapa busuknya dia, seberapa piciknya dia, dan seberapa jahatnya dia selama ini.


Dia fikir, dia adalah malaikat tanpa dosa, yang--" kata-kata Yaya kembali terpotong oleh Alvin yang mulai angkat bicara.


melihat dia lama-lama bikin gua mau muntah, bar-bar !" ucap Alvin.


"Vin lo juga jaga omongan lo !" bentak Felix.


"Hei, tuan Alvin Putra Adi Wijaya, kenapa lo mau muntah ?


oh gua yakin karena lo baru saja mendengar tentang kebusukan lo yang gua sebutkan tadi , ya ?


padahal masih ada lagi Vin kebusukan-kebusukan lo yang lainnya, mau dengar ?


oh ia Vin masih ada satu lagi, tadi kalau gua gak salah dengar lo mau menuntut gua, ya ? atas dasar gua yang menuduh lo,


terus apa kabarnya lo yang mencampur obat kedalam minuman gua,tapi malah salah sasaran, kalau gitu apa gua juga boleh nuntut lo ?


eh tapi minuman itu diminum sama keponakan yang amat lo sayang, ya ?


gimana itu rasanya sakit gak ?


sakit ya ?


merasa bersalah ya ?


tapi sepertinya gua gak yakin lo yang gak punya hati akan merasa bersalah, karena lo selalu merasa diri lo itu benar !


bahkan ayah lo sendiri juga lo musuhin karena ayah lo menemukan kebahagiaannya. Benar-benar anak durhaka !


anak yang gak tau diri !


gak tau diuntung !


anak yang gak tau terimakasih itu lo Alvin ! "


bentak Yaya, ia mengucapkan nama Alvin dengan berteriak dan menangis.


"CUKUP ! "


maki Alvin seraya mengepalkan tinjunya dan mengarahkannya kewajah Yaya,


tapi Alvin menghentikan sendiri tangannya saat melihat air mata Yaya yang mengalir dipipinya.


"Kenapa ?


kenapa lo gak jadi nampar gua ?


ini Vin, tampar, tampar gua, gua gak takut lagi sama lo !" Jawab Yaya seraya menantang Alvin dengan menyodorkan wajahnya untuk ditampar Alvin.


"Sebelum emosi gua gak bisa gua tahan lagi mendingan lo pergi dari hadapan gua. SEKARANG !!!" Pinta Alvin seraya menunjukan jarinya kearah jalan keluar.


"Kenapa lo ngerasa kalah ?


karena lo ngerasa semua yang gua bilang itu benar, jadi lo gak ada kata-kata lagi untuk membela diri lo, selain lo nyuruh gua buat pergi !" ucapan Yaya kali ini benar-benar membuat Alvin menatap marah kearahnya,


mata Alvin juga terlihat berkaca-kaca.


"Ya, tolong dengarkan aku, lebih baik kita pergi saja.


Nanti kita bisa kembali lagi kesini menjenguk Avina," ajak Felix lagi.


Sementara Yaya dan Alvin masih saling pandang dengan mata keduanya yang berkaca-kaca dan terdiam mematung ditempat mereka berdiri.


Felix serba salah ada diposisinya saat ini, akan tetapi kali ini Yaya yang meminta Felix untuk membawanya pergi.


"Fel bawa aku pergi dari sini, aku muak melihat wajah orang munafik dan sok suci ini ," ucap Yaya,


dan saat itu juga Felix langsung membawanya pergi dari hadapan Alvin berdiri.


Saat mereka pergi pandangan Alvin tidak bisa lepas dari Yaya, mungkin Alvin merasa terhina oleh sikap Yaya hari ini.