
Kini Yaya hanya bisa duduk diam menunggu semua kru selesai dengan pekerjaan mereka, sementara Alvin terlihat sibuk berbincang dengan photographer membahas hasil potretnya.
"Vin seandainya saja kamu bisa bersikap sedikit lebih manis, mungkin aku gak perlu susah payah menghapus perasaan aku untuk kamu, dan moment seperti ini pasti jadi moment yang paling membahagiakan dalam hidupku Vin, seandainya kamu bisa sedikit membuka hati kamu buat aku, tapi itu cuma khayalan aku saja," gumam Yaya dalam hati seraya memandang kearah calon suami bayangannya
Ketika ia tengah asyik berkhayal tiba-tiba Yaya dikejutkan oleh seseorang yang memegang pundaknya dari belakang.
"Hayo lagi melamun jorok ya ?" ucap orang itu yang membuat Yaya sedikit berdesis kesal.
"Felix !
kamu kenapa disini ?
siapa juga yang melamun jorok !" gerutu Yaya.
"Cuma begitu saja kaget," protes Felix.
"Namanya juga terkejut, gak harus untuk hal yang besar, kan !" jawab Yaya cemberut.
"Ya jangan marah, ia maaf-maaf, jangan cemberut lagi, kamu ingat gak kalau kamu cemberut begitu aku pernah bilang aku akan berbuat apa sama kamu ?" tanya Felix mencoba mengingatkan Yaya.
"Sangat ingat !
tapi memang kamu menyebalkan !
jangan diulangi lagi mengejutkan orang seperti tadi, kalau jantung aku jatuh gimana ? kamu mau tanggung jawab ?" tanya Yaya.
"Gampang aku hanya perlu menggantinya dengan jantungku, jadi kita bisa satu jantung," jawab Felix dengan wajahnya yang mulai nampak serius.
"Gak lucu Felix !" rajuk Yaya pada Felix yang mulai mengembangkan senyumnya.
"Haha ia aku minta maaf,
oh ia memangnya apa yang kamu ingat ?" tanya Felix seraya mendekatkan wajahnya sampai sangat dekat.
"Kamu akan mencium aku kalau aku cemberut lagi !
jangan terlalu dekat Felix, semua orang akan melihat kita," jawab Yaya seraya menjauhkan wajah Felix darinya.
Sementara mereka tengah asik berbincang dan tertawa ada sepasang mata dari kejauhan yang terus mengamati mereka untuk waktu yang lama.
#Alvin
"Tawa itu cuma bisa gua lihat saat lo sama dia saja !
gua akui Felix kali ini lo pemenangnya.
Lo hebat dalam hal membuat dia bahagia, dan tersenyum sangat indah, tapi maaf gua gak akan pernah membiarkan lo berdua terlalu sering bersama seperti sekarang ini !
dan untuk saat ini gua masih belum bisa menjelaskan apa alasan gua seperti ini, intinya gua risih melihat kalian tertawa didepan gua," gumamku.
Aku menyetujui semua usul photographer, tanpa memberikan saran untuknya, dan menyerahkan semua yang terbaik ditangannya.
Setelah selesai aku menghampiri mereka yang sedang asik bersenda gurau,
tapi sebelum aku benar-benar menghampiri mereka aku mencoba mendengarkan mereka terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang mereka bincangkan.
"kamu belum jawab pertanyaanku, tentang kenapa kamu bisa ada disini ?" tanya Yaya pada Felix.
"Tadinya aku sudah ada didepan mau menjemput kamu, lalu saat kamu bilang urusan kamu belum selesai dan meminta aku untuk balik atau menunggu, aku lebih memilih menunggu, karena aku fikir dari pada harus bolak-balik mending aku kesini saja, sekalian melihat kamu yang hari ini benar-benar cantik, sekarang aku menjadi lebih cinta sama kamu lebih besar dari sebelumnya," ucap Felix dengan serius.
"Mulai lagi, Felix kita sudah sering bahas tentang masalah ini, kan ?" tanya Yaya mencoba mengingatkan Felix tentang pembahasannya.
"Ya aku tau dan sangat faham, tapi mungkin kalau Alvin gak melakukan itu sama kamu, bisa jadi aku yang mendampingi kamu didalam foto itu saat ini, gua sangat menyesal gak ada disaat kejadian itu ! " ucap Felix menyalahkan dirinya sendiri.
"Tapi Fel, aku juga sudah sering bilang kamu berhak untuk mendapatkan wanita baik-baik, bukan wanita seperti aku yang gak pantas untuk kamu Fel," jawab Yaya.
"Kamu gak bisa Yaya meminta aku untuk begitu saja menghapus nama kamu secepat itu, sekarang aku tanya sama kamu, kamu sendiri apa sudah bisa melupakan perasaan kamu untuk Alvin ?
mungkin kalau berjauhan akan bisa, tapi sekarang sudah beda ceritanya, kan ?
kamu bahkan akan melihat dia setiap hari, dari tidur sampai bangun lagi, bahkan kalian akan satu tempat tidur Yaya, aku bisa gila hanya dengan memikirkannya saja !
aku cuma minta tolong sama kamu jangan pernah meminta aku untuk melupakan kamu,
karena untuk waktu yang cukup lama hati ini sudah untuk kamu Yaya," ucap Felix.
"Fel, jujur saat ini perasaan aku untuk Alvin itu mulai terasa hambar, saat tadi aku melihat matanya, yang bisa aku ingat hanya kesakitan yang selalu ia berikan untukku.
setiap dia pegang tanganku, yang aku ingat hanya saat dia menarikku jatuh dalam kehancuran malam itu.
Kamu salah besar kalau kamu berfikir aku gak akan bisa melupakan dia, karena sekarang aku akan menikah dengan dia dan kami akan bertemu setiap hari, kamu salah besar Felix,
justru karena seringnya bertemu dan merasa terus tersakiti aku akan dengan sangat mudah menghapus namanya dari hatiku !" jelas Yaya.
"Aku benci Alvin !
karena dia adalah penyebab utama hancurnya masa depan yang sudah aku susun dengan matang !
Felix maaf kalau permintaan ku membuat kamu merasa tidak nyaman, dan mulai sekarang aku tidak akan lagi melarang kamu untuk tetap mencintaiku," ucap Yaya seraya menyandarkan kepalanya dibahu Felix.
#Author
Sementara Alvin yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka tetap berdiri tegap dengan air mata yang terus mengalir dipipinya, dan juga dengan telapak tangan yang ia kepalkan seperti hendak meninju seseorang.
"Kalau memang dengan membenci gua, bisa mengembalikan kehidupan lo yang dulu, gua akan membuat lo benci sama gua sebenci-bencinya," gumam Alvin.
Alvin menghapus air matanya dan berusaha bersikap seolah ia tidak mendengar apapun,
lalu ia berjalan menghampiri mereka dan berbicara masih dengan sikap angkuhnya.
"Wah, pangeran kedua sudah menjemput sang putri ternyata ?
eh maksud gua upik abu, mana pantas yang begini disebut putri !" ucap Alvin tersenyum sinis.
"Felix !" seru Yaya menggelengkan kepalanya untuk meredam emosi Felix yang sudah siap melangkah untuk menggapai kerah baju Alvin.
"Vin, sudah selesai fotonya ?" tanya Yaya seraya berdiri dan menghela nafas.
"Menurut lo ?" Alvin membalikan pertanyaan pada Yaya.
"Ok kalau memang sudah selesai, gua akan pulang sekarang, karena Felix sudah disini menjemput gua, permisi " ucap Yaya berpamitan.
Yaya akhirnya pergi tanpa menunggu dulu jawaban dari Alvin, langkah demi langkah Yaya pergi menjauh dari alvin, sementara Alvin hanya menundukkan wajahnya tidak menjawab Yaya ataupun berbalik melihatnya pergi, dia hanya menepuk dadanya mencoba menenangkan hatinya sendiri.
"Maaf," gumam Alvin dalam hati.