
#Author
Alvin terdiam ditempat awal dia berdiri, kakinya terasa lemah untuk melangkah, ia memutar pandangan kesekelilingnya, melihat semua pesta dan rencananya hancur berantakan.
Sepertinya dia tidak terlalu memikirkan pesta yang hancur, karena hatinya jauh lebih hancur karena perbuatan Yaya.
Alvin mengarahkan pandangannya ketempat sampah, tempat Yaya membuang hadiah untuknya, dan mulai melangkahkan kakinya menuju tempat sampah itu.
Alvin memandangi kotak hadiah kecil didalam tong sampah itu, ia kembali menyeka air matanya dan mencoba untuk mengabaikan hadiah itu.
Lalu Alvin mulai berjalan meninggalkan lokasi pesta dan menuju kekamarnya.
Dia duduk diujung ranjangnya sambil memegangi kepalanya.
Serba salah, perasaannya saat ini benar-benar hancur, ia kembali mencoba berdiri dan membuka tirai jendelanya yang langsung mengarah kearah kolam renang dimana lokasi pesta tadi dilangsungkan.
#Alvin
"Perasaan hancur apa ini sebenarnya ?
kenapa sangat sakit ?
rasanya sulit bernafas , apa sebenarnya yang terjadi denganku ?" tanyaku dalam hati.
Disaat aku sibuk dengan fikiran kalutku tentang perasaanku, tiba-tiba aku melihat semua pegawai dirumahku tengah membereskan lokasi pesta tadi.
Aku melihat pak agus membawa kotak sampah yang didalamnya ada kotak hadiah dari Yaya, dengan cepat aku bergegas lari kebawah dan menghampiri pak Agus.
"Pak, pak tunggu dulu, tadi ada barang Alvin yang gak sengaja kebuang disitu ," ucapku menghentikan pak Agus membawa sampah itu.
"Oh begitu mas biar bapak saja mas yang mencarinya," ucap pak Agus menawarkan diri untuk mencari barang Alvin.
"gak usah pak , Alvin yang lebih tau barangnya ," jawabku seraya meraih tempat sampah itu dan mulai membongkar sampah-sampah didalamnya.
Setelah kutemukan kotak kecil itu, aku tersenyum lega karena ternyata hadiah dari Yaya masih ada, aku membersihkan kotak hadiah kecil itu dari kotoran sampah lain yang menempel,
aku membawa kado itu kekamarku, dan ada rasa sedih ketika aku melihat kotak itu,
namun aku tetap mencoba tersenyum sebelum mulai membukanya.
"Apa isinya ?
kamu kasih apa Yaya untukku ?" tanyaku dalam hati, karena penasaran akupun mulai membuka kado itu, aku terkejut karena isinya hanya sepotong saputangan lusuh.
"Apa ini hanya saputangan ?" gumamku sambil melebarkan saputangan itu kubolak-balik dan aku mulai mengaguminya ketika aku melihat diujung saputangan itu tertulis jelas namaku, ada sedikit bercak darah disamping nama itu.
"ALVIN ," aku tersenyum membaca namaku sendiri.
dan apa darah ini karena lo tertusuk jarumnya ?" tanyaku pada diriku sendiri.
Darah ku terasa mendidih , hatikupun terasa lebih sakit dari sebelumnya ."Ini hadiah termahal yang pernah aku dapat Yaya.
Terimakasih, " gumamku lagi.
#Author .
Avin menggenggam saputangan pemberian Yaya dengan sangat erat, dan ia kembali teringat tentang hubungan Yaya dan Felix.
"Apa sebenarnya hubungan kalian Yaya ?" tanyanya seraya melihat kesaputangan digenggamannya.
Alvin merasa kesal dengan apa yang terjadi malam ini, mungkin gara-gara ini akan membuat Yaya berbalik membenci Alvin.
# Yaya
Aku memandang keluar kaca jendela mobil Felix melihat jalanan dengan pandangan mata kosong, sampai Felix menyapaku dan mengajakku bicara.
"Ya, Yaya !" sapanya.
"Hah ?
apa Vin ?" jawabku dengan cepat namun rupanya aku salah menyebutkan nama.
"Eh sorry Fel sorry ," ucapku meminta maaf pada Felix karena salah menyebutkan namanya.
"Hm, kamu ketahuan lagi mikirin Alvin, ya ?" tanya Felix melihat sebentar kearahku.
"Nggak Fel, aku hanya merasa bersalah karena pestanya berantakan gara-gara aku, dan juga aku lagi mikirin cara agar bisa menghindar dari dia, supaya sama-sama nyaman antara aku dan dia jadi tidak perlu lagi dia menyakiti aku," jawabku datar dan kembali melihat keluar jendela.
"Itu sama sekali bukan salah kamu Yaya semua orang juga tahu itu.
Karena selalu dia yang memulai pertengkaran diantara kalian, dan kalau masalah kamu mau menghindari dia itu lumayan sulit, karena pertama kamu satu kelas sama dia, dan kedua kamu mengajari keponakannya, dan itu semua dilingkungan Alvin, mengharuskan kalian untuk tetap saling bertemu." jawaban Felix yang semuanya benar.
"Jadi aku harus gimana Fel ?" tanyaku lagi.
"Kamu hanya perlu berpura- pura pacaran sama aku Yaya, dengan begitu dia gak akan berani lagi bertanya setiap aku ikut campur masalah kalian, aku yakin dia akan segan, dan aku bisa leluasa membela kamu, " jawab Felix memberi saran.
"Apa kamu yakin cara itu bisa berhasil Fel ?" tanyaku tidak yakin .
"Ia apa salahnya kalau kita mencoba semua kemungkinan Ya, buktinya tadi pas kamu cium aku dia langsung berhenti ngomongkan " ucap Felix.
Aku hanya terdiam ,merasa cara itu tidak akan berhasil dan lagi hatiku juga menolak cara itu. Tapi aku gak tau cara menyampaikannya bagaimana ke Felix, aku gak mau buat Felix kecewa atau khawatir terus sama aku.