
Setelah selesai menyuapi Avina makan, Yaya memangku gadis kecil itu, seraya mengelus-elus rambutnya dan mencoba memulai pembicaraan.
"Avina, bu guru mau bilang sesuatu sama Avina, Avina mau dengar gak ?" ucap Yaya memulai membuka pembicaraan.
"Apa bu guru ?" tanya Avina.
"Tapi Avina jangan marah ya sama bu guru," pinta Yaya.
Avina hanya mengangguk menjawab permintaan Yaya.
"Janji ?" seraya menyodorkan jari kelingkingnya kearah Avina.
Avina juga menyambung jari kelingkingnya dengan Yaya.
"Ia bu guru Avina janji, gak akan marah," jawab gadis kecil itu.
"Avina, maafkan bu guru ya sayang, bu guru gak bisa menemani Avina belajar lagi," ucapnya.
"Kenapa bu guru ?" tanya gadis kecil itu dengan wajah sedih.
"Jangan sedih Avina sayang, bu guru ada keperluan yang gak bisa diceritakan sama Avina, Avina sudah janji gak akan marah, kan ?" tanya Yaya dengan lembut.
Avina tidak marah, tapi dia hanya tetap menangis saat mengetahui Yaya tidak bisa lagi mengajarnya.
"Bu guru sudah gak mau ngajar Avina lagi ya ?
bu guru marah sama Avina ?
Avina janji gak akan malas belajar lagi bu guru, tapi bu guru jangan pergi.
Avina belajar sama siapa kalau gak sama bu guru ?" tanyanya disela tangisannya.
"Sayang, bu guru tadi sudah bilang, bu guru ada keperluan pribadi yang gak bisa bu guru ceritakan sama Avina, kalau bu guru kasih tau sama Avina, Avina gak akan ngerti karena Avina masih terlalu kecil, nanti ada teman bu guru yang akan menggantikan bu guru menemenin Avina belajar, dengan siapa saja Avina belajar itu sama saja sayang, Avina harus rajin dan jadi anak pintar " jawab Yaya.
Avina terus menangis tersedu-sedu, Yaya juga memeluknya dengan erat seraya mencoba menenangkan gadis kecil itu.
"Aduh sayang, sini coba lihat bu guru, Avina kalau nangis terus nanti pipi sama hidungnya jadi merah seperti tomat terus gak bisa kembali lagi gimana coba,
mau gak seperti itu ?" tanya Yaya seraya memencet hidung Avina.
Avina hanya menggelengkan kepalanya, tanpa menjawab.
"Nah kalau Avina gak mau pipi sama hidungnya merah, kalau gitu Avina harus berhenti menangis, cantiknya nanti hilang gimana sayang, kalau Avina terus menangis," ucap Yaya.
Kali ini gadis kecil itu mengangguk.
"Nah gitu dong coba sekarang Avina senyum," pinta Yaya.
Gadis kecil itu sangat penurut ia tersenyum saat diminta oleh Yaya.
Sementara itu Yaya sesekali terus mengalihkan pandangannya pada jam ditangannya.
#Yaya
"Aku harus cepat pergi, aku gak mau kalau sampai harus bertemu sama dia," gumamku.
Aku melihat Avina yang sudah lumayan tenang, lalu kemudian aku berpamitan,
"Bu, kalau begitu Yaya pamit dulu, ya " ucapku berpamitan pada mereka semua.
"Kenapa buru-buru sekali Yaya, memangnya kamu gak akan menunggu kakek Avina dulu ? makan siang dulu saja disini," pintanya untuk tetap menahanku disana.
"Ia maaf bu, tapi Yaya gak bisa soalnya masih ada urusan lain diluar jadi gak bisa menunggu bapak, mungkin lain kali Yaya pasti mampir titip salam Yaya untuk bapak saja bu, " ucapku.
"Oh ia bu, Yaya lupa bilang kalau nanti siang akan ada guru yang menggantikan Yaya mengajar, jadi Avina tetap dapat guru pengganti bu,"
Ibu Adi Wijaya hanya menganggukkan kepalanya, seakan dia sudah kehabisan kata untuk menahanku tetap berada disana.
Aku berdiri dari dudukku, dan kembali bersalaman dengan ibu Adi, Avina dan juga pengasuhnya.
Setelah itu aku bergegas pergi tanpa menunggu lama lagi meninggalkan rumah Alvin.
Setelah keluar dari rumah itu aku memesan taxi online, begitu taxi itu datang aku bergegas masuk dan meminta pak supir untuk cepat pergi dari depan rumah Alvin.
#Author
Guru pengganti Yaya datang kerumah Alvin pada jam yang sama seperti biasa Yaya mengajar.
Mereka saling berkenalan dan mulai belajar didekat kolam renang hari itu juga, dengan posisi guru baru itu membelakangi pintu masuk, posisi yang sama seperti saat pertama Yaya bekerja disana.
Sementara itu Alvin setelah jam pelajaran habis, ia langsung bergegas kembali kerumahnya karena ia sangat yakin kalau hari ini Yaya pasti datang untuk mengajar Avina.
Setelah sampai didepan rumahnya dia tidak langsung turun dari mobil, Alvin diam terlebih dahulu dan bergumam didalam sambil tersenyum jahat.
"Lo bisa menghindari kelas, tapi lo gak bisa menghindari uang ,Haha.
Setelah kejadian diasrama itu, gua jadi penasaran ingin tau ekspresi muka lo saat nanti lo berhadapan langsung sama gua, kita lihat masih punya muka gak lo ketemu gua," gumam Alvin.
Tanpa banyak berfikir lagi Alvin melangkah masuk kedalam rumahnya, dan ia terus mencari-cari dimana mereka belajar.
Akhirnya pandangan Alvin tertuju kekolam renang.
Alvin melihatnya disana, dari kejauhan dan dari belakang guru pengganti itu memang terlihat sedikit mirip dengan Yaya,
tanpa tau apa yang terjadi dan dengan percaya diri Alvin menghampiri mereka dan mulai berbicara.
"Kolam renang ternyata jadi tempat kesukaan lo buat ngajar.
Kenapa tempat ini pas ya buat menghindar dari gua ?" tanyanya.
Guru itu mengira kata-kata Alvin itu bukan untuknya jadi dia tidak membalikan badannya untuk melihat kebelakang, sampai Avina yang akhirnya menjawab Alvin.
"Hai om Avin.
Om Avin kenalkan ini bu guru Dita," ucap Avina memperkenalkan guru barunya.
Mendengar Avina menyebutkan nama lain, membuat Alvin sangat kecewa Alvin juga terperanjat karena terkejut dan seketika itu pula membuat senyum jahat diwajah Alvin langsung menghilang, berubah menjadi rasa kecewa yang teramat sangat.
"Hm ia , hallo saya Alvin, om Avina," ucapnya datar.
"Saya dita mas, guru barunya Avina, saya menggantikan ibu Yaya," jawabnya.
"Oh ia lanjutkan saja belajarnya bu, saya permisi masuk kedalam dulu," pamit Alvin yang langsung bergegas masuk kedalam rumah mencari istri ayahnya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa bisa sampai ada guru pengganti untuk Avina.