
Setelah cukup lama berfikir akhirnya ia memutuskan tekadnya untuk mencoba menerima Felix.
"Nggak ada salahnya membuat Felix bahagia , anggap saja ini bisa dibilang balas budiku untuknya yang selama ini sudah sangat baik menjagaku dengan tulus.
Lalu bagaimana dengan aku sendiri, ini artinya aku berusaha membodohi hatiku, tapi akan jauh lebih bodoh lagi kalau aku tetap bertahan dengan perasaanku pada Alvin," gumam Yaya.
Fikirannya membuatnya merasa pusing, ia merebahkan tubuh kecilnya diatas tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar dan mencoba memejamkan mata, tapi ia tetap tidak bisa tidur, bayangan Alvin dan rasa sakit yang dia timbulkan masih terus terbayang-bayang dimatanya,dan terasa menyesakan didada bila ia mengingat Alvin.
Tapi gak bisa dipungkiri memang setiap kali mengingat Alvin jantungnya berdetak cepat , bibirnya tersenyum malu-malu, tapi hatinya menjerit sakit .
"Kamu gak ada disini, tapi dengan hanya bayangan kamu saja bisa menyakiti aku, dan kadang juga membuatku tersenyum, aku harus gimana, " gumamnya
Sementara Yaya bingung dengan perasaannya Alvin masih sibuk dengan semua rencananya , dari semenjak Yaya pergi tadi Alvin masih duduk diam dikursi taman, memainkan ponselnya dan menelpon seseorang.
Ajeng : hallo Vin, ada apa ?
Alvin : Jeng , besok gua minta adakan pesta lagi untuk ulang tahun gua yang kemarin berantakan, bisa gak lo mengaturnya ?
Ajeng : Kenapa Vin ? kamu masih mau melanjutkan rencana yang kemarin kamu buat kacau ?
Alvin : Gak usah banyak tanya Jeng, intinya lo bisa atau nggak itu saja ?
Ajeng : Ok, gua bisa Vin, tapi kira-kira apa keuntungan yang akan gua dapat kalau rencana lo berhasil ?
Alvin : Lo boleh minta apa saja jeng, lo tinggal bilang.
Ajeng : Lo yakin gua boleh minta apa saja yang gua mau ?
Alvin : Jangan berbelit-belit Jeng, katakan saja.
Ajeng : Gimana kalaugua minta hati lo ?
Alvin : Hm, gua bakal pertimbangkan permintaan lo, yang penting sekarang lo urus dulu semuanya dengan benar.
Ajeng : Ok siap Vin.
Alvin menutup telphonenya, dan memandang lurus kearah depan.
"Kehancuran lo sudah didepan mata cewe miskin, jangan pernah berani meremehkan kebencian gua sama lo, karena gua gak akan berhenti sampai lo benar-benar hancur dan menderita.
Gua akan buat lo malu, gua juga akan sebar video lo kegrup kampus dan membuat lo jadi bahan gunjingan semua orang dikampus , dan lebih parahnya lagi, lo bakal di pecat dari beasiswa lo, dengan begitu gua gak perlu lihat muka lo lagi selamanya," gumam Alvin seraya tersenyum menyunggingkan bibir kirinya.
Namun disela lamunannya tiba-tiba ada air dari atas pohon menetes mengenai wajahnya,Alvin merogoh sakunya dan mengeluarkan saputangan untuk membersihkan tetesan air itu, tapi bukannya berusaha mengelap wajahnya, dia malah memandangi saputangan abu-abu itu, dan mengepalkannya ditangannya dengan erat.
"Aku benci kamu Yaya, tapi kenapa saputangan ini selalu aku bawa ," gumam Alvin, ia tertawa menertawakan dirinya sendiri.
"Vin, " panggil seseorang , yang membuat tawa dibibir Alvin memudar.
"Kenapa pa ?" jawabnya.
"Maafkan papa, karena mungkin papa terlalu sering mengabaikan kamu, sehingga kamu anggap papa tidak pernah perduli dengan kamu, dan papa terlalu sibuk dengan pekerjaan papa, tapi Vin papa lakukan ini semua agar kamu tidak kesulitan dimasa depan kamu nanti, papa takut umur papa tidak akan sampai untuk melihat kamu sukses, jadi papa mengumpulkan harta agar kamu tidak kesulitan hidup tanpa papa," ucap papanya yang membuat Alvin menangis.
"Pa jangan bicara begitu pa, Alvin tau semua yang papa lakukan itu untuk Alvin, tapi Alvin gak butuh harta pa, sebenarnya Alvin nakal karena Alvin ingin papa memperhatikan Alvin itu saja.
Sebelumnya Alvin gak pernah menuntut apa-apa, kan ?
karena dulu walaupun papa sibuk, papa selalu menyempatkan waktu untuk menghubungi Alvin, yang membuat Alvin semakin kecewa itu kenapa papa menikah gak minta pendapat dulu dari Alvin, pa " ucap Alvin.
"Vin kamu terlalu menutup mata hati kamu , kamu selalu menolak untuk mengenal istri papa.
Alvin memandang heran kearah ayahnya, ia langsung menanyakan hal yang ia fikirkan saat itu.
"Apa mungkin papa juga akan menikahi cewe miskin itu, pa dia itu gak sebaik yang papa fikir, Alvin yakin dia pasti cuma mau harta papa saja, tolong pa kali ini percaya sama Alvin, fikirin lagi baik-baik pa, " pinta Alvin.
"Vin, nama cewe miskin itu siapa ?
memang cewe miskin ini gak punya nama ? dan kenapa kamu bisa sangat membenci dia ?" tanya ayahnya.
"Hm,
namanya, hmYaya " jawab Alvin terbata-bata.
"Berat banget sepertinya menyebutkan nama Yaya Vin, jangan terlalu benci sama seseorang, ada pepatah orang dulu mengatakan benci sama cinta itu gak jauh beda, perbandingannya itu seperti kulit bawang tipisnya, hati-hati sama kata benci, takutnya kamu salah mengartikan cinta jadi benci, jangan terlalu sering juga mengumbar kata benci sama orang yang kamu suka, karena percaya Alvin, dia juga akan berbalik membenci kamu, " nasehat ayah Alvin.
"Hm, nggak pa, Alvin yakin Alvin benci dia , dan gak akan pernah berubah sampai kapanpun, gak mungkin Alvin luluh sama dia," jawab Alvin .
"Dasar anak keras kepala,
oh ia ,dari tadi papa lihat kamu senyum-senyum memandangi sapu tangan itu, coba papa lihat.
saputangan yang bagus ada nama kamu , beli dimana ?
papa pinjam ya, papa keringatan," ucapnya.
"Jangan pa, ini kado ulang tahun pa," jawab Alvin dengan pipi merona.
"Kenapa sepertinya kamu jadi malu Vin, wah papa yakin itu pasti saputangan dari orang yang istimewa, kan ?" tanya sang ayah menyindir.
"Bukan pa, ini dari teman Alvin," jawabnya.
"Dari teman kok papa gak boleh pinjam, temannya pasti sangat penting, ia kan ?" tanya ayahnya lagi.
Alvin tersenyum memandang kearah saputangan itu, ayahnya memandang Alvin dengan tenang.
"Vin , lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan ,kalau mau melakukan sesuatu ikuti hati kamu, bukan nafsu, papa percaya kamu bisa menentukan apa yang terbaik untuk kamu, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari," ucap papanya menasehati Alvin.
Alvin hanya diam dan mengangguk memandang ayahnya, yang tidak lama kemudian berpamitan kembali masuk kedalam rumah sakit.
"Pa, Alvin gak mungkin cinta sama dia, dia adalah orang yang harus Alvin singkirkan dari hidup Alvin, cewe pembawa sial seperti dia gak pantas buat dicintai," gumam Alvin.
(suara ponsel berbunyi ) membuyarkan fikiran Alvin.
Alvin : Hallo.
Ajeng : Semua udah beres Vin, lo tinggal tentukan mau mengadakan pesta lo dihotel atau dirumah.
Alvin : Gua sudah ada tempatnya Jeng , nanti gua kirim nama hotelnya.
Ajeng : Ok gua tunggu.
Alvin : Makasih atas bantuannya Jeng.
Alvin menutup telphone dan kembali tersenyum jahat, ia melupakan pesan yang baru saja disampaikan ayahnya.
Apa yang akan terjadi besok malam pada Yaya?
dan apa rencana alvin akan berhasil kali ini ?