
"Kamu ini bagaimana bukannya tadi kamu sendiri yang meminta aku untuk pergi ke Ajeng, tapi kenapa sekarang beda lagi ? sebenarnya mau kamu itu aku harus bagaimana ?" tanya Alvin diselingi dengan senyuman karena merasa tingkah Yaya sangat menggemaskan.
"Sudah Vin, berhenti meledek aku terus, kamu juga tidak pernah bisa mengerti dengan mau ku, dasar keras kepala, tidak peka !" umpat Yaya.
Allvin melepaskan pelukan Yaya yang dari belakang, dan berbalik menghadap Yaya.
"Katakan lagi umpatan kamu tadi," kata Alvin seraya menggelitiki bagian perut Yaya, dan sesekali mencubit hidungnya.
"Ampun Vin, ampun, maaf mulutku suka jujur dan lurus saja kalau bicara, hehe"
"Hm, jangan memasang wajah seperti tadi lagi ya," pinta Alvin.
"Mm" jawab Yaya seraya mengangguk.
Alvin meraih pinggan Yaya dan memeluknya dengan sangat erat.
"Aku tidak akan pergi untuk Ajeng lagi, bukan karena aku tidak perduli sama dia, tapi karena aku takut ada yang cemburu,hehe" ucap Alvin menggoda Yaya.
"Alvin kamu bucara apa, siapa juga yang cemburu !
sudah berhenti meledek, aku malu tau, puas sekali sepertinya sampai tertawa hampir menangis begitu, menyebalkan,"gumam Yaya seraya melepaskan pelukan Alvin dan mencubit perut Alvin.
"Sudah-sudah sekarang hapus air mata kam, kamu tahu tidak, saat kamu menangis itu kamu yang awalnya sudah jelek jadi tambah jelek, kamu itu cantik hanya saat kamu sedang cemburu, muka kamu sangat menggemaskan, faham !"
"Alvin !" gumam Yaya tersipu malu.
#
Kehidupan mereka berjalan seperti layaknya suami istri pada umumnya, kini sudah 1 bulan berlalu sejak mereka menikah, dan saat ini adalah fase dimana Yaya mulai merasakan yang kebanyakan wanita hamil rasakan yaitu ngidam.
Malam itu pada pukul 22.15, Yaya terlihat gelisah, ia tidur dengan sangat tidak nyaman, bolak-balik sampai akhirnya membangunkan Alvin yang sudah tertidur pulas.
"Yaya kamu kenapa ?" tanya Alvin dengan mata yang masih tertutup.
"Aku tidak bisa tidur Vin," jawabnya.
Cukup lama Yaya menunggu jawaban Alvin, tapi tidak kunjung Alvin bicara.
"Vin, Vin, Alvin !" teriak Yaya seraya menggoyang-goyangkan tubuh Alvin.
"Ada apa Yaya, ayo tidur ini sudah cukup larut," jawab Alvin.
"Bangun Vin, aku tiba-tiba ingin makan mangga muda," ucap Yaya.
"Mangga muda ?
malam-malam begini ?" tanya Alvin masih tetap menutup matanya.
"Iya, memangnya kenapa ?"
"Besok ya,"
"Sekarang !" seru Yaya.
"Harus sekarang ?
memangnya sekarang jam berapa ?" tanya Alvin lagi.
"Jam 22.25 Vin, ia aku ingin makan itu sekarang juga Vin, ayo bagun !"
"Iya cerewet !
memang biasanya kamu beli itu dimana ?" tanya Alvin seraya mengucek matanya.
"Gak ada yang minta kamu untuk membelinya Vin," jawab Yaya.
"Lalu ?"
"Ambil dipohonnya langsung, didepan rumah tetangga ibu dikampung !" seru Yaya.
"HAH ? (terkejut)
Yaya yang benar saja, memang yang di sekitar sini gak ada mangga muda yang kamu mau ? " tanya Alvin.
"Mungkin saja ada, cuma aku ingin mangga muda yang didepan rumah tetangga ibu dikampung, Alvin," pinta Yaya setengah merajuk.
"Yaya, tolong ini itu sudah larut malam, jarak tempuh ke kampung kamu itu cukup jauh Ya, begini saja, bagaimana kalau besok pagi aku mencarinya ?" jawab Alvin memberi solusi.
"Ah ia-ia baiklah, menyusahkan saja kamu permintaannya, aneh," protes Alvin seraya berjalan kekamar mandi untuk mencuci muka, lalu kemudian bersiap untuk pergi, Alvin pun pergi kekampung Yaya tengah malam itu bersama pak Agus hanya untuk mangga muda.
"Pak Agus, jangan lupa ambil foto saat Alvin memetik buah itu, pastikan dia mengambil buah yang muda, dan jangan lupa juga foto sama bibi tetangga biar aku yakin kalau kalian berdua tidak berbohong !" tegas Yaya.
"Baik mba," jawab pak Agus.
"Berisik !" seru Alvin.
Yaya mengantar Alvin dengan senyum puas mengembang dibibirnya.
#
Keesokan pagi nya Alvin kembali kerumahnya membawa sekantong plastik buah mangga muda yang diinginkan Yaya.
"Hai, kamu sudah pulang, apa itu ?" tanya Yaya melihat kantong plastik yang Alvin bawa.
"Ini mangga muda yang kamu minta," jawab Alvin seraya memberikan kantong plastik itu pada Yaya.
Yaya membuka kantong itu dan kembali memprotes Alvin.
"Alvin, aku cuma minta satu saja, kenapa kamu membawa sebanyak ini ?" protes Yaya.
"Iya dari pada kurang, terus aku harus balik lagi ke kampung kamu, kan jadi repot dua kali, makanya aku bawakan yang banyak biar sekalian, sudah dapatkan ? sekarang cepat makan, aku temani," perintah Alvin.
"Terimakasih ya Vin, sudah mau memenuhi keinginan aku," ucap Yaya.
Alvin hanya mengangguk dan Yaya pun mulai mencium bau mangga muda itu, lalu memasukannya kembali kedalam plastik.
Kemudian ia meminta si mba untuk membawanya kebelakang dan menyimpannya, sikap Yaya itu cukup membuat Alvin merasa kesal.
"Yaya kenapa kamu tidak memakannya ?" tanya Alvin.
"Sudah," jawab Yaya singkat.
"Sudah ?
kapan ?
jelas-jelas tadi kamu hanya mencium bau nya saja, kan ?"
"Iya, memang aku hanya ingin mencium bau nya saja," jawab Yaya dengan wajah polosnya.
"Yaya kamu benar-benar tidak bisa menghargai perjuangan orang yang rela jauh-jauh memetik buah itu sampai ke kampung, dan ketika dapat kamu hanya mencium bau nya saja !
ya ampun Yaya !" seru Alvin dengan nada kesal dan marah.
"Vin, aku gak tau kenapa hanya dengan mencium bau nya saja aku sudah merasa puas, maafkan, " jawab Yaya yang juga tidak mengerti ada apa dengannya.
Tidak ada yang bisa menjawab kebingungan keduanya, sampai ibu Alvin datang dan ikut angkat bicara baru lah mereka mulai mengerti, dan Alvin sudah tidak marah lagi.
"Tidak usah bingung, karena itu yang dinamakan fase ngidam Yaya Alvin, dan itu sangat wajar dialami oleh ibu hamil, biasanya kalau tidak sang ibu yang ngidam, ya si ayah.
Jadi Alvin kamu harus sabar menghadapi ibu hamil yang sedang berada di fase ini, di wajarkan saja permintaannya yang tidak wajar," nasehat ibu Alvin memberi tahu apa yang mereka tidak mengerti.
"Iya tapi tante permintaannya itu cukup merepotkan, Alvin tidak mengerti bagaimana lagi caranya menganggap wajar permintaannya yang tidak masuk akal," jawab Alvin.
"Iya pasti sangat merepotkan kalau kamu menjalaninya dengan marah-marah, tapi kalau kamu ikhlas semua akan baik-baik saja Vin,karena yang namanya ngidam itu pasti tidak masuk akal permintaannya, tapi mitosnya kalau permintaannya tidak dituruti nanti anaknya berliur terus, mau anak mu begitu ?" tanya ibu Alvin lagi.
"Tidak !" jawab Alvin.
"Ya sudah nanti kita bahas lagi saja masalah ngidam nya Yaya, sekarang aku mau tidur dulu, lelah dari semalam nyetir gantian sama pak Agus," pamit Alvin.
Yaya dan ibu Alvin pun menganggukan kepala mereka mengizinkan Alvin untuk kembali melanjutkan tidurnya.
Baru sebentar Alvin berbaring Yaya masuk kedalam kamar, ikut berbaring disamping Alvin dan memeluk Alvin dari belakang, seraya berkata.
"Terimakasih suami ku sayang, hari ini kamu membuat aku bangga punya kamu disamping aku," gumam Yaya disamping Alvin.
Yaya fikir Alvin sudah tidur pulas dan tidak akan mendengar apa yang ia katakan tapi diluar dugaannya, Alvin ternyata belum tidur,
ia berbalik kearah Yaya dan menjawab kata-kata Yaya.
"Sama-sama istriku, bahkan aku lebih bangga punya kamu dan bayi kita dalam hidupku, semoga papa bisa memenuhi semua keinginan mama mu yang tidak masuk akal itu ya," ucap Alvin seraya mengusap-usap perut Yaya dan menciumnya, kemudian mencium kening Yaya, Alvin memeluk Yaya ditempat tidur sampai mereka akhirnya tertidur.
Fase ngidam ini benar-benar menguji kesabaran pasangan Yaya dan Alvin, bisa atau tidak Alvin memenuhi segala keinginan Yaya yang kadang tidak masuk akal itu ?