Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 63



Sementara itu Felix terus mengikuti mereka dari kejauhan tanpa diketahui oleh Yaya dan Ocha.


Setelah sampai diasrama, Ocha dan Yaya bergegas masuk kedalam,


yang tidak lama dari mereka masuk Felix juga sudah berada didepan asrama Yaya tanpa mereka berdua sadari Felix sudah siap menguping apa yang akan mereka bicarakan.


"Cepat masuk kekamar mandi Yaya !


ini barangnya, dan tadi kata penjualnya petunjuknya ada diketerangan didalamnya, coba ikuti saja karena aku juga tidak terlalu faham, " ucap Ocha menjelaskan.


Yaya mengangguk dan mulai masuk kekamar mandi, ia mengikuti semua petunjuk yang tertulis disana, setelah selesai dengan tegang dan takut Yaya menutup matanya, seraya mulutnya tidak henti-hentinya berdoa agar hasil tes itu negative.


Setelah dirasa cukup Yaya mulai membuka matanya, dan ternyata hasil tes itu menunjukan dua garis merah, saat itu juga Yaya merasa tidak ingin hidup lagi, tubuhnya lemas ia terdiam sejenak dan terus memandang dua garis merah yang ditunjukan alat tes kehamilan itu, Yaya terus menggelengkan kepalanya, seakan ia tidak mau percaya pada apa yang sedang ia lihat saat ini.


"Akh !!! " Teriak Yaya, dari dalam kamar mandi yang membuat Ocha terkejut dan langsung berlari kekamar mandi, melihat Yaya duduk dibawah shower yang menyala dan membasahi tubuh kecil Yaya.


Tanpa banyak bertanya Ocha seakan mengerti kenapa Yaya menangis dibawah shower, ia langsung memeluk sahabatnya itu.


Sementara diluar Felix juga mendengar Yaya berteriak, tapi dia mencoba menahan keinginannya untuk masuk.


"Cha, ini bohong, kan ?


ini gak benar cha !


kita harus beli alat lain !" seru Yaya seraya menunjukan hasil tes itu.


Ocha menggelengkan kepalanya tanpa menjawab Yaya, dia terus memeluk Yaya yang terus berteriak histeris dan menangis bersama Yaya.


"Ya ayo masuk kedalam !


kita keringkan dulu tubuh kamu, kalau begini kamu bisa sakit," ucap Ocha.


"Aku gak perduli Cha, bahkan aku mau mati saja !


gak ada gunanya lagi aku hidup Cha !


masa depan aku sekarang benar-benar hancur !


Alvin lo jahat, gua benci sama lo Alvin !" teriak Yaya.


"Ia Yaya, aku faham sama apa yang kamu rasakan sekarang ini !


tapi Ayo kita masuk dulu," ajak Ocha lagi seraya memapah Yaya kedalam dan mengeringkan tubuh Yaya.


Yaya duduk diujung tempat tidurnya dengan terus menggenggam hasil tes kehamilan itu, ia masih tetap melamun menangis dengan pandangan mata kosong, sampai Ocha kembali memulai pembicaraan.


"Yaya kamu harus beritahu Alvin apa yang terjadi sama kamu !


kamu gak bisa menanggung masalah ini sendirian !" ucap Ocha .


"Jangan Cha !


nggak perlu, dia gak harus tau masalah ini," jawab Yaya datar dan masih dengan pandangan kosongnya.


"Kenapa Yaya ?


apa yang kamu fikirkan sebenarnya ?


Alvin itu harus tanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan !" ucap Ocha mulai kehabisan kesabarannya dan mulai berteriak pada Yaya yang mulai terlihat bodoh.


"Terus sekarang mau kamu apa Yaya ?


kamu mau nanggung masalah ini sendiri ? jangan gila Yaya ! " maki Ocha pada Yaya.


Yaya hanya menggelengkan kepalanya dan sikap Yaya benar-benar membuat Ocha geram.


"Yaya sadar Ya, kamu itu sedang hamil dan itu anak Alvin, ini bukan masalah kecil lagi Yaya, fikirkan baik-baik !


Alvin harus tetap bertanggung jawab untuk semua ini !


dia harus tau apa yang terjadi !" ucapan Ocha terhenti saat ada yang tiba-tiba masuk kedalam asrama Yaya secara paksa, yang secara otomatis membuat Yaya dan Ocha terkejut, ternyata dia adalah Felix orang yang dari tadi mengikuti mereka.


"APA ?


HAMIL !!!" teriak Felix seraya berjalan kearah Yaya yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Fel gimana bisa lo ada disini ?" tanya Ocha kesal.


kecurigaan gua terbukti, kan !" ucap Felix seraya menunjuk kearah Yaya dan Ocha.


"Dan kamu Yaya !


kalau sudah begini kamu kira aku bakal tetap diam ?


dan tetap membiarkan orang seperti Alvin terus berkeliaran diluar sana tanpa tau apa kesalahan yang sudah dia perbuat !


JAWAB GUA YAYA !!!" tanpa sadar Felix membentak Yaya.


"Fel," ocha memanggil Felix dan menggelengkan kepala kearah Felix dengan maksud meminta Felix untuk tidak kasar pada Yaya saat ini.


"Apa Cha !


gua sudah gak bisa sabar lagi dengan masalah seperti ini Cha !


dia terus membela Alvin, karena sejahat apa-pun Alvin sama dia, dia gak pernah membiarkan gua kasih pelajaran yang setimpal untuk Alvin, ternyata karena ini ? karena lo sudah tidur sama dia, kan ?


ia kan !!!


YAYA LO PUNYA MULUT GAK !!!


KENAPA LO GAK JAWAB GUA !!!


berhenti menangis !


lo kira dengan lo nangis masalah ini akan selesai ?


lo kira dengan lo tetap diam itu akan merubah semuanya !!!" Felix kembali berteriak terlihat jelas mata Felix mulai berkaca-kaca saat ini.


"CUKUP FELIX !!!" teriak Ocha.


"Ini juga bukan keinginan Yaya !


asal lo tau malam itu Alvin datang keasrama dengan kondisi mabuk parah, Yaya tidak pernah ingin mempersilahkannya masuk namun Alvin terus berteriak agar Yaya membukakannya pintu, karena Yaya gak ingin suara Alvin mengganggu semua tetangganya akhirnya dia membukakannya pintu, dan lo tau apa yang terjadi setelah itu ?


dia memaksa Yaya melakukannya !" teriak Ocha kesal.


"Sialan !!!" maki Felix.


"Kalian berdua sudah cukup !


pergi !


aku ingin sendiri !" teriak Yaya.


Felix yang baru mendengar cerita apa yang terjadi sebenarnya, dia langsung mendekati Yaya dan berusaha meraih tangan Yaya, namun Yaya mengalihkan pandangannya dan membelakangi Felix.


"Ya maafkan aku, aku gak tau kejadian yang sebenarnya.


Aku hanya--" kata-kata Felix terpotong oleh Yaya yang terus meminta mereka untuk pergi.


"Kalian pergi saja !" pinta Yaya datar.


"Tapi Ya !" protes Felix.


"PERGI !!!" Yaya kembali berteriak.


Ocha mendekati Felix memegang tangannya dan membawanya keluar.


"Fel ayo pergi, biarkan dia sendiri dulu.


aku akan tetap disini menemani dia.


Jangan khawatir," ucap Ocha.


"Cha, kali ini gua gak bisa menuruti keinginan Yaya untuk tidak memberitahu Alvin tentang masalah ini !" gumam Felix dengan nada bicaranya penuh kebencian.


"Fel gua gak larang lo untuk itu, karena gua sependapat sama lo, gua percayakan masalah ini sama lo Fel, " kata Ocha menyetujui rencana Felix untuk memberitahu Alvin.


"Gua pergi Cha tolong jaga Yaya," pinta Felix seraya melangkahkan kakinya pergi. Sementara Ocha menjawabnya dengan hanya mengangguk.


Felix akhirnya pergi dari asrama Yaya, dengan perasaan hancur dan air mata yang terus berjatuhan Felix melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, tujuan utama Felix saat ini adalah rumah Alvin, dia harus membuat Alvin berlutut didepan Yaya dan meminta maaf pada Yaya atas apa yang sudah dia lakukan padanya.