Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 68



#Yaya


"Terkadang kamu membuat aku berfikir kalau kamu itu sedang cemburu Vin, tapi itu sangat tidak mungkin, karena aku tau sebesar apa kebencian kamu sama aku, maka dari itu aku mulai melatih otak dan hatiku untuk melupakan semua Perasaanku pada kamu Vin, saat ini aku hanya akan fokus pada kehamilanku dan juga perjanjian antara aku dan ayah mu itu sayang," gumamku seraya memandangi langkah Alvin dan mengelus perutku seraya tetap memperhatikan Alvin dari jendela kamarku.


"Masa depan seperti apa yang akan aku dapatkan setelah menjadi nyonya Alvin hanya untuk sementara waktu, bahkan aku tidak berani menghayal tentang kebahagiaan jika itu dengan kamu," gumamku lagi.


Aku berfikir sampai akhirnya aku tertidur, tanpa mengganti terlebih dahulu pakaianku yang sudah aku pakai seharian.


#Author


Keesokan harinya.


Jam menunjukan pukul 10.00 siang, Yaya sudah bersiap untuk pergi, karena supir keluarga Alvin sudah siap menjemputnya.


"Kenapa yang jemput supir ?


hm memang apa yang coba aku harapkan sebenarnya ?" gumam Yaya.


Tidak berlama-lama ia mulai masuk kedalam mobil itu, pak supir mulai melajukan mobil itu menuju lokasi foto prawedding Yaya dan Alvin dilaksanakan.


Sesampainya disana, Yaya disambut oleh penata rias yang bertugas menanganinya dari mulai baju sampai dengan makeupnya.


Sementara Alvin sudah bersiap dengan kostumnya yang pertama, Alvin juga sedang dimakeup saat Yaya datang.


"Hai kakak, pasti kakak ini calon istrinya mas Alvin ya ?" tanya penata rias itu yang melihat Yaya datang.


Yaya hanya mengangguk kecil dan sedikit tersenyum padanya.


"Ayo aku makeup dulu.,


sini duduk kak, ya ampun belum pakai riasan saja sudah sangat cantik begini, apa lagi kalau sudah dirias, aduh mas Alvin gak salah pilih pastinya, " ucap penata rias.


Penata rias itu mulai mempersilahkan Yaya untuk duduk, ia duduk bersebelahan dengan Alvin, didepan meja rias mereka saling tatap melalui kaca besar didepan mereka,


suasana disana cukup tenang sebelum Alvin mulai membuka mulutnya.


"Lo telat datang !


pasti lo habis pergi sama cowo lo itu, kan ?" tanya Alvin sinis.


"Benar atau nggak, itu sama sekali bukan urusan kamu !


aku fikir kamu gak dirugikan dengan masalah ini, kan !" jawab Yaya yang mulai berani menjawab kata-kata Alvin.


Alvin menatap Yaya kesal mendengar jawabannya, dan meminta penata rias menyudahi kegiatannya.


"Sudah selesaikan mba ?


kalau sudah gua tunggu diluar,


panas gua tiba-tiba diam disini !


jangan terlalu lama mba, karena mau dirias seperti apa juga yang namanya orang jelek tetap akan jelek !" ucap Alvin seraya meninggalkan ruang rias.


Selang 30 menit dari keluarnya Alvin, Yaya sudah siap dengan gaun putih selutut dan mengembang dengan sangat cantiknya, gaun itu senada dengan jas yang dikenakan Alvin. Yaya mulai melangkah keluar dari ruang rias, semua mata tertuju padanya mereka melihat kearah ruang rias saat photographer berteriak, begitu juga dengan Alvin yang ikut memandang kagum kearahnya.


"Pengantin wanita sudah siap, semuanya ayo kita mulai sesi fotonya !" teriak sang photographer.


"Biasa saja," gumam Alvin.


Sang photographer mulai mengarahkan gaya untuk foto mereka agar terlihat bagus dan natural.


Mereka diminta untuk santai dan tidak kaku,


dengan posisi setengah berpelukan Yaya menempelkan tangannya kedada Alvin, dan Alvin merangkulkan sebelah tangannya kepinggang Yaya.


Tapi sang photographer masih tidak puas dengan foto yang ia hasilkan, karena modelnya yang sangat kaku.


"Aduh, mba mas mau cepat selesai gak fotonya ?


dan hasilnya mau bagus gak ?


tolong kerjasamanya dong !" teriak sang photographer.


Yaya dan Alvin hanya mengangguk menjawabnya, mereka mulai menjalani sesi foto itu dengan serius dan mencoba melupakan sejenak masalah diantara mereka.


Dengan posisi saling menatap dan menempelkan hidung satu sama lain, mereka terlihat sangat mesra dengan senyum kecil diujung bibir keduanya.


"Lo cantik," gumam Alvin dalam hatinya, tanpa Alvin sadari senyumnya semakin melebar saat memandang Yaya, namun senyum Yaya masih terlihat sama seperti diawal.


"Ok bagus !" teriak sang photographer.


"Sekarang pose yang terakhir, bisa agak lebih dekat sedikit, mas Alvin tolong untuk memiringkan sedikit kepalanya seperti seseorang yang hendak berciuman, dan mba Yaya bibirnya sedikit dibuka dan tersenyum sedikit saja, ok mulai !" perintah photographer itu.


Sebelum berpose Yaya dan Alvin saling diam dan tatap, terasa canggung tapi mereka harus tetap melakukannya, Alvin tidak menutup matanya begitu juga dengan Yaya, Alvin terus memandang wajah Yaya, tapi Yaya terus berpaling menghindari tatapan Alvin.


Mereka berganti kostum beberapa kali, dan Yaya selalu terlihat cantik menggunakan semua gaun yang ada, begitu juga dengan Alvin yang ketampanannya semakin terpancar dibalut dengan setelan jas yang membuatnya terlihat semakin gagah.


Ketika kostum sudah semua terpakai, dan foto yang dihasilkan sudah cukup, mereka akhirnya mengakhiri sesi pemotretan prawedding mereka siang itu.


Kemudian mereka memilih mana foto yang layak atau tidak, ketika semua proses selesai Yaya segera mengganti bajunya dan berpamitan meninggalkan lokasi.


"Tunggu !" teriak Alvin menghentikan langkah Yaya.


"Ada apa ?" jawab Yaya malas.


"Lo gak bisa tunggu sebentar lagi ?


tadi lo datang terlambat kesini dan lo sudah membuat semua orang menunggu !


tapi mana timbal baliknya ?


yang ada lo terlihat seperti orang yang gak tau diri tau gak !


memangnya lo gak bisa nahan hasrat lo untuk jalan sama Felix pacar lo itu !" ucap Alvin.


"Kemana sebenarnya arah pembicaraan lo ini Vin ?" tanya Yaya balik pada Alvin.


"Maksud gua,


gua cuma minta lo tunggu semua orang disini sampai mereka semua selesai, setelah itu baru lo boleh pergi, gak susah kan ? " tanya Alvin.


Yaya terdiam dan mulai mengeluarkan ponselnya untuk menelphone Felix dan meminta Felix untuk pergi terlebih dulu atau menunggunya.