
"Angkat Cha angkat !" seru Felix.
Ocha mengangguk dan segera mengangkat telphone dari sahabatnya itu.
Ocha : Hallo, Yaya kamu dimana ?
aku sama Felix sangat mengkhawatirkan keadaan kamu, kamu gak angkat telphone kita dan--
(Kata kata ocha tiba-tiba berhenti karena mendengar suara Yaya menangis ditelphone itu )
Yaya : (Suara tangis )
Ocha : Ya, kamu gak apa-apa, kan ?
kenapa kamu nangis Ya ?
ada apa ?
kamu dimana kita kesana sekarang !
Yaya : Ocha, (suara tangis tertahan)
Ocha : Ia kamu dimana Yaya, tolong jangan buat kita tambah khawatir sama kamu.
Yaya : Aku diasrama Cha.
Ocha : Ok, tunggu sebentar lagi aku sama Felix sampai disana.
Ocha mematikan sambungan telphonenya dengan Yaya dan meminta Felix melajukan motornya menuju asrama Yaya.
Setelah sekian lama dijalan akhirnya mereka sampai didepan asrama Yaya.
Ocha yang tanpa menunggu Felix memarkirkan motor dia langsung berlari dan mengetuk pintu asrama Yaya.
"Yaya buka pintunya, ini aku Ocha.
Buka pintunya Yaya," pinta Ocha.
Dari dalam terdengar suara langkah kaki berat, butuh waktu cukup lama untuk Yaya membukakan pintu untuk teman-temannya, itu semakin membuat Ocha dan Felix curiga.
Saat pintu terbuka mereka masuk kedalam, kamar itu gelap hanya ada cahaya dari fentilasi jendela ,semua tirai jendela ditutup lampu juga dimatikan bantal guling dan alas kasur berserakan dilantai, meja belajarpun bersih karena semua peralatan belajar ada dilantai.
Ocha mencoba menghidupkan lampu tapi Yaya melarangnya.
"Biarkan tetap gelap Cha, jangan dihidupkan," pinta Yaya.
Ocha mengangguk dan berlari menghampiri Yaya yang tengah duduk menekuk lututnya disamping ranjang.
Ocha memegang bahu dan menggenggam jari tangan Yaya, ia memulai pembicaraannya dengan Yaya.
"Yaya kamu kenapa ?
apa yang terjadi disini ya ?" tanya Ocha.
Pandangan Yaya mengarah pada Felix yang tengah berdiri melihatnya dengan pandangan khawatir, dan kembali mengalihkan pandangannya ke Ocha.
"Cha, aku mau ngomong sama kamu berdua, bisa, kan ?" pinta Yaya dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar.
Ocha mengangguk setuju, dan kembali berdiri menghampiri Felix, lalu membawanya keluar.
"Fel, Yaya bikang dia cuma mau ngomong sama gua. Lo gak apa-apa kalau nunggu diluar 0?" tanya Ocha.
"Nggak apa-apa Cha, Yaya pasti lebih butuh lo buat temen bicaranya, karena kalian sama sama cewe, gua bisa mengerti.
Yang paling penting sekarang gua tau gimana keadaan dia, yasudah Cha gua tunggu diluar, cepat masuk jangan biarkan Yaya menunggu lama," jawab Felix.
Ocha mengantarkan Felix keluar, dan mengunci pintu kamar itu, lalu kembali kesamping Yaya.
"Ya, kamu bisa cerita semuanya sekarang, ada apa sebenarnya ?
kenapa kamu sampai seperti ini ?" tanya Ocha lagi.
Yaya belum menjawab apapun bahkan Yaya belum mencoba membuka mulutnya tapi air matanya terjatuh mengenai tangan Ocha yang masih menggenggam jari tangan Yaya, air mata itu mewakili kesedihan dan kesakitannya.
"Ya, ayo ngomong sesuatu, kalau kamu gak ngomong apa-apa aku jadi bingung Ya.
Aku harus gimana, agar kamu bisa berhenti menangis ?" tanya Ocha,
Yaya memeluk Ocha, yang seketika langsung menghentikan Ocha berbicara,
dan Ocha juga membalas pelukan Yaya, Ocha bisa merasakan detak jantung Yaya yang tidak beraturan sampai akhirnya Yaya mulai membuka mulutnya.
"Alvin Cha , Alvin," gumam Yaya suaranya terdengar sangat lirih dan masih diiringi dengan tangisnya yang tak pernah berhenti.
dia buat ulah apa lagi sama kamu ?"
"Alvin dia, dia--
Dia Renggut masa depan aku Cha, !" ucap Yaya yang saat itu tangisnya mulai pecah dipelukan Ocha.
Ocha yang mendengarnyapun ikut tersentak terkejut dan menangis bersama Yaya, Ocha menambah erat pelukannya, seakan Ocha ingin membagi rasa sakit dan hancur yang sedang sahabatnya rasakan saat ini.
"ALVIN !!! " gumam Ocha geram.
"Dia jahat Cha,
dia jahat ,
dia hancurkan hidup aku, aku harus gimana sekarang ?
aku benci sama dia !
aku gak mau lagi melihat dia Cha !
aku benci Alvin, aku benci dia !" seru Yaya penuh amarah.
"Ya ampun ymYaya, maafin aku, aku gak tau kalau keadaan kamu separah ini, aku janji mulai sekarang Alvin gak akan pernah berani menyentuh kamu lagi bahkan seujung kuku kamu.
Aku gak akan biarkan, dan aku yakin Felix juga pasti akan mejaga kamu dari Alvin," ujar Ocha .
Yaya secara tiba-tiba melepaskan pelukannya dan melihat kearah Ocha dengan tatapan memohon dan menggelengkan kepalanya.
"Nggak Cha,
kamu gak boleh kasih tau siapapun tentang ini !
kamu gak boleh lakukan itu Cha aku percaya sama kamu.
Karena orang-orang pasti hanya akan menjadikan aku bahan gosip," pinta Yaya sambil terus menggelengkan kepalanya memohon pada Ocha.
"Ok Ya, aku ngerti.
Aku janji gak akan ada yang tau tentang ini, tenang ya.
Aku gak akan kasih tau siapapun termasuk Felix ," ucap Ocha berusaha menenangkan Yaya yang ketika itu hampir histeris.
Ocha kembali memeluk Yaya yang masih terus menangis, sesekali Ocha mengelus punggung Yaya dan mengusap rambutnya.
"Sekarang apa yang mau kamu lakukan ?" tanya Ocha kemudian.
"Aku gak tau aku harus apa, tapi sekarang ini aku takut sama pandangan orang-orang.
Aku takut mereka semua tau apa yang terjadi sama aku Cha.
Apa aku berhenti kuliah saja ?
ia sepertinya aku memang harus berhenti kuliah,
ia kan Cha ?" tanyanya.
Ocha menggelengkan kepalanya karena ia tidak setuju dengan apa yang diucapkan Yaya .
"Ya, kamu bodoh kalau kamu berfikiran seperti itu !
kamu gak boleh melepaskan impian kamu sendiri.
Kamu kuliah karena kamu ingin punya masa depan yang cerah, kan ?" tanya Ocha.
"Cha, apa kamu fikir orang seperti aku masih layak membicarakan tentang masa depan ?
bahkan memikirkan hari besok saja, aku sudah gak pantas Cha !" seru Yaya.
"Dan satu lagi ,kamu tau kita sekelas sama orang jahat itu, sekarang apa kamu fikir aku bisa menjalani semuanya ?" tanya Yaya.
"Ya, percaya sama aku, selama apa yang dilakukan Alvin ke kamu, gak membuat kamu hamil, aku masih bisa jamin masa depan kamu akan baik-baik saja !" ujar Ocha.
Mendengar kata-kata Ocha sedikit membuat Yaya kembali berfikir positif, dan mencoba mengurungkan niatnya untuk berhenti kuliah.
"Kamu bisa istirahat dulu selama satu minggu ini, sambil menenangkan hati dan fikiran kamu.
Aku akan bantu buat izin kamu, kamu gak usah memikirkan apa-apa Ya, "
Yaya mengangguk dan mengiyakan kata-kata Ocha.