Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 26



#Author


Yaya menutup pintu asramanya setengah membantingkannya, ia lalu berdiri lama dibalik pintu menepuk bagian dadanya yang terasa sesak ,air mata itu tidak mau berhenti membasahi pipi yaya.


#Yaya


"Sudah Yaya kenapa kamu harus menangis sampai seperti ini," gumamku menyadarkan diriku sambil menepuk-nepuk bagian dadaku.


"Kenapa masih terasa sakit, padahal sudah sangat sering aku mendengarnya menghinaku, kenapa rasanya kali ini aku kesulitan bernafas," aku merasa frustasi saat ini.


Aku merebahkan sebentar tubuhku, aku mencoba terlelap sebentar , sebelum mulai bekerja lagi, setidaknya dengan semua kesibukanku, aku bisa melupakan sedikit masalah tadi.


#Author


Yaya tertidur ditemani kesedihan dan air matanya, sementara Alvin dia juga pulang kerumahnya memikirkan apa yang baru saja terjadi diantara dia dan Yaya.


Alvin masuk kamarnya merebahkan tubuhnya , ia memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing, namun disela kepusingannya tiba-tiba dia mengingat tanggal ulang tahunnya yang sudah mulai dekat, Alvin keluar dari kamarnya dan menemui ayahnya diruang kerja ayahnya.


#Alvin


"Pa, minggu depan papa kemana ?" tanyaku tergesa-gesa.


"Kenapa kamu menanyakan itu vin , biasanya kamu gak pernah perduli papa mau kemana saja ?" tanya ayahku penasaran.


"Begini ini kalau sudah mulai lupa sama anak sendiri !


papa minggu depan itu ulang tahun Alvin,


dan inti dari omongan Alvin adalah, Alvin ingin merayakannya, dan memakai area kolam renang buat acara Alvin pa.


Jadi papa sama istri papa dari pada keganggu gimana kalau menginap dihotel dulu semalam ,ok pa ? " ucapku merayu ayah.


"Hm papa fikir kalau kamu sudah besar tidak akan lagi merayakan ulang tahun Alvin Alvin.


Yasudah silahkan saja Vin, tapi papa gak mau kalau sampai rusuh atau ada keributan, kalau sampai terjadi kamu tanggung sendiri akibatnya ! " ancam ayahku.


"Papa tenang aja, pesta kali ini akan aman terkendali pa.


Jadi intinya papa setuju, kan ? " tanya ku meyakinkan lagi jawaban ayahku.


"Ia silahkan saja Vin," jawab ayahku datar namun dengan sedikit senyum dari ujung bibirnya.


Mendengar jawaban ayah, aku melompat girang dan kembali lagi masuk kedalam kamarku.


"Semuanya sudah selesai, dimalam pesta nanti gua bakal buktikan pada diri gua sendiri dan kesemua orang kalau apa yang selama ini gua rasakan dan mengganjal diotak gua itu cuma ada rasa benci, dan bukan karena gua ada perasaan sama cewe miskin itu !" gumamku dengan sangat percaya diri.


#Yaya


Selesai membersihkan wajahku aku langsung bersiap berangkat kerja.


#Author


Malam itu berlalu dengan aktivitas mereka masing-masing. Alvin tidak datang untuk mengganggu Yaya bekerja malam itu.


Gelap hilang berganti terang, dan semua orang memulai lagi aktivitas mereka.


Begitu juga dengan Yaya, namun hari ini Yaya keluar asramanya dengan raut wajah malas, dia mengangkat wajahnya dan tersenyum manis sambil menggelengkan kepalanya melihat sosok pria tampan yang sudah siap memakaikan helm untuknya lagi, tanpa berlama-lama dia menghampiri pria tampan itu.


"Pagi, pangeran tampan, kuda putihnya mana ?" tanya Yaya menggoda Felix.


"Pagi juga tuan putri kudanya aku suruh istirahat dulu, dia lagi mempersiapkan staminanya buat membawa kita berdua kepelaminan nanti " ucap Felix menjawab candaan Yaya.


"Apa-apaan si Fel gak nyambung kam.


Ayo berangkat aku ada kelas pagi ini sebentar lagi dimulai, " ucap Yaya seraya menepuk lengan Felix,dan mereka kembali tersenyum satu sama lain.


Felix memakaikan helm yaya,


Felix juga menarik tangan yaya untuk berpegangan kepinggang Felix , yang membuat tubuh mereka tanpa jarak saat ini, Yaya sedikit dibuat canggung olehnya.


"Fel aku pegangan dipundak kamu saja boleh, kan ?" pinta Yaya.


" Memangnya aku tukang ojek ?, haha " ucap Felix merasa geli dengan pertanyaan Yaya,seraya ia menarik lagi tangan Yaya,


karena tadi Yaya mencoba melonggarkan pegangannya pada pinggang Felix.


Saat dijalan memasuki lingkungan kampus motor Felix berjalan melewati mobil Alvin, dari dalam mobil terlihat jelas Alvin melihat Yaya sangat mesra ,dan terlihat sangat bangga berpegangan pada Felix yang membuat Alvin mengerutkan keningnya.


"Dasar murahan, munafik !" gumam Alvin sambil menggelengkan kepalanya.


Tak beberapa lama merekapun parkir, Felix dan Yaya turun dari motor ,dan melepaskan helmnya.


"Fel aku sudah pernah bilang belum kalau dari asrama aku kekampus itu sangat dekat, sebenarnya gak dijemput juga gak apa-apa, " ucap Yaya saat memberikan helmnya pada Felix.


Felix memegang kedua pundak Yaya dan mendekatkan wajahnya kearah Yaya, sangat dekat sampai terlihat seperti Felix hendak mencium Yaya , dan secara pasti membuat Yaya salah tingkah, namun sepertinya Yaya salah faham dengan Felix yang mendekatkan wajahnya.


"Yaya , kamu itu sudah cukup lelah dengan semua rutinitas kamu setiap hari, aku hanya ingin berguna buat kamu walaupun hanya sedikit.


Apa-pun itu kalau itu bisa membuat beban kamu lebih ringan aku akan lakukan, " jawab Felix sangat lembut ditelinga Yaya.


Sementara dikejauhan dari dalam mobil ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka berdua, menatap dengan tatapan kesal dan geram.