
Yaya hanya bisa bersantai sebentar sebelum dia harus kembali pergi lagi untuk bekerja dirumah Alvin jam 2 siang ini.
"Sekarang pekerjaan ini terasa menjadi beban, sebenarnya karena pasti aku akan selalu bertemu Alvin.
Tapu semoga saja hari ini dia gak ada dirumah, jadi aku aman, " doa Yaya sebelum berangkat kerja.
Sampai dirumah Alvin ternyata diluar dugaannya, Alvin malah sudah pulang dan duduk menggambar bersama avina,
ia mencoba memperhatikan dulu keakraban antara paman dan keponakanya itu dari kejauhan, sebelum akhirnya ia mendekati mereka.
"Gak pernah nyangka ternyata kamu bisa sehangat itu juga Vin, aku kira es batu seperti kamu gak akan pernah bisa tersenyum, " gumam Yaya yang sektika buyar , karena ternyata Avina melihatnya sedang melamun dibalik pintu, lalu kemudian Avina berteriak memanggil namaYaya.
"BU GURU YAYA !" teriak Avina
yang membuat Alvin juga ikut melirik kearah Yaya dan melihat Yaya dengan pandangan sinis dan dengan alisnya naik keatas.
"Bu guru ayo sini ikut gambar sama Avina dan om Avin, om Avin pintar gambarnya bi guru," jelas gadis itu sambil menarik tangan Yaya mendekat.
"Avina , nanti kalau sudah besar jangan suka ngintipin orang, ya.
Nanti Avina bintitan matanya, terus dosa juga," ucap Alvin menasehati Avina, tapi matanya memandang kearah Yaya , dan kata-katanya itu penuh dengan sindiran untuk Yaya.
Yaya berpura-pura tidak melihat dan mendengarnya.
Dia mencoba mengalihkan perhatiannya pada buku pelajaran yang akan dipelajari oleh Avina saat ini.
"Avina sayang , kita mulai pelajarannya saja ayo, " ajak Yaya pada Avina dan tidak memperdulikan kata-kata Alvin.
"Bu guru, Avina lagi gambar sama om Avin, nanti saja belajarnya," jawab Avina setengah merajuk.
"Oh gitu, coba sini bu guru lihat, memangnya Avina lagi gambar apa ?" tanya Yaya mencoba mencairkan suasana hati Avina.
Kemudian Avina memberikan buku gambar itu untuk dilihat oleh Yaya.
Sementara Alvin hanya duduk disofa dengan senyum sinisnya , mata Alvin terus menilai setiap gerak-gerik yang Yaya lakukan.
"Wah bagus ya gambarnya,
ini ada gambar 3 orang, pasti gambar anak kecil yang cantik ini Avina, kan ?
lalu ini gambar wanita dewasa sama pria dewasabya pasti gambar mama papa, ya ?" puji Yaya pada gambar Avina.
"ini bukan mama papa tante, yang ini itu om Avin, yang ini Avina ,dan yang ini bu guru Yaya," jawab Avina menjelaskan siapa yang sedang dia gambar.
Mendengar penjelasan Avina, Yaya yang tadinya tersenyum melihat gambar itu,tiba-tiba saja senyumnya menghilang dari bibirnya, dan berganti kekesalan tapi Yaya tidak mungkin marah pada anak kecil yang tidak tau apa-apa, tidak hanya Yaya Alvin juga dibuat salah tingkah mendengar jawaban Avina.
Alvin terus memperhatikan Yaya yang bersikap biasa saja.
"Avina, harusnya wanita dewasanya itu tante Ajeng, kan ?
karena om Avin sukanya sama tante Ajeng, " jawab Alvin yang tiba-tiba saja mulai membuka mulutnya, dan membuat Yaya semakin berpura-pura seolah tidak pernah mendengarnya.
"Hm om Avin memangnya suka itu apa ?" tanya Avina polos.
"Hm suka itu seperti om Avin yang sayang sama Avina, jadi om Avin gak mau terpisahkan, gitu sayang" jawab Alvin bingung
yang membuat Yaya tersenyum kecil mendengar jawaban polos dari seorang Alvin.
"Kenapa lo ketawa ?
memang lo kira gua lagi ngelawak !" bentak Alvin ke Yaya.
Yaya hanya diam, tanpa berani melihat kedalam mata Alvin.
"Om Avin kenapa marah-marah sama bu guru ?
om Avin tapi Avina ingun gambar bu guru bukan tante Ajeng, kenapa sukanya gak sama bu guru saja om ?" tanya Avina dengan polos.
"Avina sayang, kamu belum cukup dewasa buat tau apa itu artinya suka.
Dan Avina juga gak bisa minta hati seseorang untuk berpindah dengan mudah, karena seseorang harus menemukan pasangannya yang sederajat ,dan dari keluarga terpandang . nanti kalau Avina sudah cukup dewasa Avina pasti akan mengerti," jawab Yaya sangat dewasa.
#Alvin
"Jawaban itu seketika membuatku merasa terjatuh sampai titik paling rendah, aku tau dia menasehati Avina agar tidak memikirkan dulu arti kata suka, tapi aku merasa dia sedang menamparku dengan sindirannya," gumamku dalam hati.
Sementara Avina melanjutkan gambarnya , aku menarik tangan Yaya untuk ikut denganku.
#Author
Alvin melepaskan tubuh Yaya kearah tembok dekat kolam renang, dan memegang kedua tangan Yaya dengan satu tangannya, lalu tangan satunya lagi menekan dengan keras didagu Yaya.
"Alvin lepaskan,
mau kamu apa ?" tanya Yaya penasaran dengan sikap Alvin yang kasar.
"Apa maksud lo kasih jawaban begitu sama Avina ?
lo nyindir gua ?
berani sekali lo !" bentak Alvin.
"Memangnya apa yang salah dengan jawabanku tadi Vin ?" Yaya membalikan pertanyaan.
"Memang benarkan seseorang tidak bisa meminta orang lain untuk pindah kehati yang lain , apa lagi meminta seseorang untuk sekali saja bersikap baik pada orang yang dibenci, apa lagi tersenyum untuknya, gak bisa, kan ?,
karena perbuatan baik dan senyum yang tulus itu asalnya dari hati, bukan dari permintaan seseorang ?" ucap Yaya.
Sementara Alvin hanya terdiam mendengar ucapan Yaya, Alvin memandang kedalam mata Yaya, namun Yaya mencoba menghindarinya, yang langsung ditahan dengan tangan Alvin agar Yaya tetap menghadap kearahnya.
"DIAM !
lo bisa diam gak !
jangan minta gua buat lebih kasar lagi sama lo !" ancam Alvin.
"Lihat mata gua !" pinta Alvin.
Tapi Yaya terus mengarahkan pandangannya kearah lain, seperti orang yang sedang mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Lo dengar gak, gua bilang lihat gua !
lihat mata gua cewe sialan !" bentak Alvin dengan sangat kasar.
Mendengar lvin bicara kasar padanya, Yaya langsung melihat kedalam mata Alvin mencoba untuk tidak berkedip sampai air matanya benar-benar menetes ketangan Alvin yang masih memegang dagunya.
"Puas !
apa lagi yang kamu mau aku lakukan sekarang ?
apa lagi ?" tanya Yaya.
Alvin memandang mata itu tanpa berkedip. kemudian ia mencoba mendekatkan wajahnya kewajah Yaya, Alvin berusaha mencium Yaya, dan dia berhasil Yaya tidak lagi menolak ciuman Alvin.
Setelah melepaskan ciumannya, Alvin kembali berbisik ketelinga Yaya.
"Sesuai dugaan gua, cewe murahan, dicium sama orang yang bukan siapa-siapanya hanya bisa pasrah, " bisik Alvin dan tersenyum sinis.
"Plaak" Yaya mendorong Alvin dan menamparnya .
"Fikirkan baik-baik Vin, kenapa aku hanya diam saat kamu cium ," ucap Yaya penuh teka-teki dan langsung pergi meninggalkan Alvin.