Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 62



Ocha berfikir untuk mengejar Yaya, tapi ia harus membuat alasan apa pada Felix yang saat itu terlihat sangat khawatir tapi tidak mungkin mengejar Yaya kekamar mandi karena dia laki-laki,


Ocha mencoba memulai pembicaraannya.


"Hm, Fel aku mau mengejar Yaya dulu, takutnya dia kenapa-kenapa," ucap Ocha.


"Ia Cha sebaiknya kamu periksa dia, cepat Cha," jawab Felix spontan tanpa berfikir macam-macam.


Setelah Ocha pergi Felix mulai merasa semua tampak aneh.


"Tadi Yaya baik-baik saja, kenapa sekarang tiba-tiba mual ?


apa benar dia hanya masuk angin ?


atau jangan-jangang !


tapi itu tidak mungkin, aduh Felix lo mikirnya kemana !


mana mungkin Yaya seperti itu ! " gumam Felix marah pada dirinya sendiri karena berfikir yang tidak-tidak pada Yaya.


sementara itu Yaya yang sudah sampai terlebih dahulu kekamar mandi mulai memuntahkan semua isi perutnya.


Setelah selesai ia membuka pintu kamar mandi dan dikejutkan dengan kedatangan Ocha yang sedari tadi menunggunya diluar.


Ocha menarik tangan Yaya, dan mengajaknya berbicara ditempat yang sepi.


"Ya, kamu kenapa ?" tanya Ocha penasaran.


"Aku gak tau Cha, dari kemarin aku memang merasa tidak enak badan, aku fikir itu hanya sakit biasa, aku mual tapi gak muntah, cuma tadi pas aku lihat kamu makan baso, rasa mual itu semakin menjadi-jadi, dan aku akhirnya bisa memuntahkannya sampai isi perutku terasa habis, tapi mual aku masih belum hilang sama sekali," jawab Yaya menjelaskan.


Ocha semakin merasa ada yang tidak beres dengan kondisi sahabatnya, mau bertanya secara sangat pribadi Ocha takut Yaya tersinggung, tapi ini juga demi kebaikan Yaya sendiri.


"Yaya apa kamu sudah datang bulan ?" tanya Ocha mulai serius.


Pertanyaan Ocha membuat Yaya tersentak dan membelalakan matanya kearah Ocha.


Yaya mulai tampak setres.


"Tanggal berapa sekarang Cha ?" tanya Yaya dengan bibir dan suaranya yang mulai bergetar.


"Sekarang tanggal 15 ya, kenapa ?" jawab Ocha tidak kalah khawatirnya.


"HAH ?"


Yaya menggelengkan kepalanya, dan menatap sedih kearah Ocha tanpa sanggup berkata apa-pun, sikap Yaya semakin membuat Ocha tidak sabar ingin tahu ada apa sebenarnya ? dan apa sebenarnya yang sedang difikirkan Yaya, tapi air mata Yaya seolah menjawab semua pertanyaan Ocha, Ocha sangat faham dengan apa yang ditakutkan oleh Yaya, tapi Ocha merasa tetap harus bertanya untuk memastikan kebenarannya.


"Ada apa Yay ?


kenapa kamu terkejut ?


dan kenapa kamu tiba-tiba menangis ? ngomong Yaya ngomong !


kalau kamu terus-terusan menangis aku gak ngerti !" ucap Ocha seraya mengguncang-guncangkan tubuh Yaya, dan dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Cha harusnya tanggal 8 !" jawab Yaya penuh teka-teki.


"HAH ?


kamu gak salah hitung, kan ?


coba ingat-ingat lagi harusnya tanggal berapa kamu datang bulan ?


jangan buat aku takut Yaya ?" tanya Ocha.


"Aku gak mungkin salah Cha, ini sudah seminggu dari tanggal 8, Cha aku harus gimana sekarang ?


aku takut Cha !" tanya Yaya gemetar tidak berhenti menangis dan terus menghentak-hentakan kakinya.


"Cha jawab aku, aku harus gimana Cha ?


aku harus gimana sekarang ?" Yaya kembali bertanya pada Ocha berulang-ulang.


Ocha sedari tadi sibuk mondar-mandir dengan wajah bingung didepan Yaya.


"Diam dulu Ya, aku lagi mikir !" jawab Ocha membentak Yaya, yang membuat Yaya langsung tertunduk dan menghentikan pertanyaannya tapi dia tidak berhenti menangis.


"Maaf Yaya maaf, aku gak bermaksud bentak kamu, aku hanya sedang pusing," ucap Ocha seraya memeluk Yaya.


"Nggak apa-apa Cha, tapi aku lebih pusing," jawab Yaya mempererat pelukannya.


Ocha melepaskan pelukannya dan melihat wajah Yaya, dengan setengah berbisik Ocha berkata.


"Ya, ayo kita beli alat tes kehamilan," ajak Ocha tiba-tiba.


Yaya terkejut dan menggelengkan kepalanya tanpa bicara satu patah katapun.


kamu harus tau apa yang terjadi sama tubuh kamu sendiri !" ucap Ocha memberinya nasehat.


"Tapi Cha," jawab Yaya ragu.


"Gak ada kata tapi untuk masalah ini Yaya ! yang begini gak bisa ditunda lagi !


dengar aku Yaya, apa-pun yang terjadi aku tetap akan berada disamping kamu !


jadi kamu gak perlu takut dengan apa-pun hasilnya, sekarang ayo kita pulang," ajak Ocha.


Mereka kembali kekantin untuk membawa tas mereka, tapi disana masih ada Felix yang dari tadi masih menunggu mereka kembali.


Yaya menghentikan langkahnya begitu juga dengan Ocha.


"Cha, disana masih ada Felix ?


kita harus ngomong apa, biar dia gak curiga ?" tanya Yaya yang kebingungan.


"Sudah ayo jalan, aku yang akan jawab semua pertanyannya.


Kamu hapus air mata kamu agar dia gak curiga, dan yakin Yaya, semuanya akan baik-baik saja," ucap Ocha mencoba terus meyakinkan Yaya.


Yaya menghela nafas panjang dan menghapus air matanya, ia mulai berjalan lagi disamping Ocha.


Sesampainya mereka didepan meja tempat tadi mereka makan, Felix langsung bertanya seolah ia sedang mengintrogasi Yaya dan Ocha.


"Kalian dari mana saja ?


kenapa kalian lama sekali ?


dan kamu gak apa-apa,kan ?


gimana perasaan kamu sekarang ?


kamu baik-baik saja, kan ?


ada apa dengan kalian berdua ?


wajah kalian berdua terlihat tegang ?


ada apa sebenarnya ?" tanya Felix.


"Fel maaf kita belum bisa jawab semua pertanyaan lo, yang perlu lo tau saat ini Yaya baik-baik saja.


Kita ada keperluan yang mendesak, kalau begitu kita pergi duluan, ya.


Maaf ya Fel," ucap Ocha seraya membawa tasnya dan menarik Yaya untuk segera pergi bersamanya.


"Hey, kalian belum jawab pertanyaan aku yang lain ?


kalian mau kemana ?


YAYA !


OCHA !" teriak Felix memanggil Yaya dan Ocha yang sudah berlalu pergi meninggalkan dia.


"Ada apa ini sebenarnya ?


apa yang sebenarnya sedang mereka tutupi dari gua ?" gumam Felix


dia terdiam sambil terus berfikir dan akhirnya dia menemukan cara untuk menjawab semua rasa penasarannya.


"Gua nggak bisa diam saja seperti ini ! sementara tanda tanya dikepala gua sangat besar dan sangat mengganggu !


gua harus ikuti kemana mereka pergi !" gumam Felix lagi.


Sementara itu Yaya dan Ocha bergegas menuju tempat yang menjual alat tes kehamilan yang mereka butuhkan.


Sesampainya disana Ocha memakai topi dan masker wajah untuk menutupi mukanya, sementara Yaya dia hanya duduk diam menunggu dimobil.


Felix yang mengikuti mereka dari kejauhan merasa semakin ada yang aneh setelah mengetahui mereka berada disana.


"Kenapa mereka berhenti dan masuk kesana ? apa yang sebenarnya mereka cari ?" gumam Felix.


Tidak terlalu lama kemudian Ocha keluar dari dalam apotek itu dan masuk lagi kedalam mobilnya.


"Gimana Cha ?" tanya Yaya tidak sabaran.


"Tenang Ya, aku sudah dapat alat itu, aku beli alat tes yang tidak harus dipakai saat pagi hari, jadi kita bisa mengetahuinya sekarang diasrama kamu !" jawab Ocha memberikan penjelasan pada pemula seperti Yaya.


Dengan wajah tegang, dan hati tidak tenang Yaya memperhatikan jalan sambil melamun, fikirannya mulai menerka-nerka kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi padanya setelah ini.