
Yaya terus berlari dan berlari menjauh dari Alvin namun langkah kakinya kembali terhenti ketika Ajeng menghalangi jalannya.
"Maaf Jeng gua mau lewat !" ucap Yaya.
"Kenapa nangis ?
kasihan sekali ?
sakit ya ?
mendengar Alvin bicara kalau perasaannya sama lo itu cuma sekedar rasa kasihan, dan dia mau menikahi lo juga karena terpaksa ?
jadi gua harap lo gak besar kepala Alvin mau menikahi lo, karena lo sudah dengar sendirikan alasannya kenapa ?
lo nikmati saja nanti status lo jadi putri untuk waktu 9 bulan !
karena setelah itu lo dan anak lo yang gak jelas siapa bapaknya itu akan segera ditendang dari keluarga Alvin !" ucap Ajeng diselingi dengan tawa jahatnya.
Mendengar ucapan Ajeng yang sudah sangat keterlaluan, secara spontan Yaya menggerakan tangannya dan menampar wajah Ajeng.
"Sebaiknya lo tutup mulut, kalau gak tau apa-apa !
dan gak usah bicara seenaknya !" bentak Yaya.
"CUKUP !" teriak Alvin dari kejauhan yang melihat jelas Yaya menampar Ajeng dan bergegas menghampiri mereka.
"Kenapa lo berani menampar Ajeng !
masalah ini tentang kita, gak ada hubungannya sama Ajeng, jadi lo gak usah melibatkan dia !" maki Alvin.
"Kalau begitu minta dia untuk menjaga mulut kotornya !
kalau dia masih gak bisa menjaga mulutnya , gua bisa lakukan lebih dari sekedar hanya menamparnya !
dan satu lagi, sebaiknya lo juga ajarkan pacar lo ini untuk menjaga sikapnya dan jangan ikut campur urusan orang !" ucap Yaya,
setelah selesai bicara Yaya kembali melangkahkan kakinya menjauhi mereka.
"Hei !" teriak Alvin yang hendak mengejar Yaya lagi tapi Ajeng menahannya.
"Vin sudah gak usah dikejar, disini saja temani gua," pinta Ajeng dengan wajah memelas.
"Jeng, lo juga harusnya gak bersikap seperti itu sama dia Jeng,"
"Kenapa ?
lo marah sama gua ?" tanya Ajeng.
"Nggak gitu Jeng,
ya sudahlah gak usah dibahas," jawab Alvin malas.
Seakan tidak ada pilihan lain Alvin hanya menuruti permintaan Ajeng dan tetap membiarkan Yaya pergi dengan kemarahannya.
Yaya kembali kekelas dan duduk disebelah Ocha, ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dengannya.
"Selamat pagi Cha," sapa Yaya.
"Yaya kamu dari mana saja ?
dan mata kamu kenapa ?
menangis lagi ?" tanya Ocha penasaran.
Namun Yaya hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Yaya, sudah kamu gak boleh setres, jangan egois Yaya, fikirkan juga dia," ucap Ocha memberinya nasehat seraya menyentuh perut Yaya, sekali lagi Yaya hanya menjawab dengan anggukan kecil.
"Berhenti membuat diri kamu sendiri dalam masalah, dan sebaiknya jauhi hal yang bisa mengganggu fikiran dan ketenangan kamu, "
"iya Ocha " jawab Yaya sambil tersenyum manis.
Alvin menatap tajam kearah Yaya yang sudah tampak baik-baik saja, tapi Yaya hanya melihat Alvin sebentar dan kembali mengabaikannya lalu berbincang lagi dengan Ocha.
Melihat sikap Yaya yang semakin acuh Alvin mengeluarkan ponselnya dan mengirimi Yaya pesan.
(chat)
Alvin : Hari ini papa nyuruh kita pergi ke butik untuk melihat-lihat baju pengantin, lo mau pergi sama gua, atau pergi sendiri ?
_.._______..______.._
Seperti biasa tidak ada balasan dari Yaya, tapi Alvin melihat Yaya tengah memainkan ponselnya, hal itu cukup membuat
Alvin semakin merasa kesal.
Jam pelajaran habis, ini waktunya semua anak berhamburan meninggalkan kelas, begitu juga dengan Yaya dan Ocha yang tampak sangat terburu-buru.
"Cha temani aku cari gaun pengantin, ya" ajak Yaya.
"Wah, boleh Yaya, aku yakin kamu pasti cantik saat pakai gaun pengantin dan Felix harus melihat itu,
apa Alvin juga akan pergi kesana ?" tanya Ocha.
"Ia dia juga kesana, cuma sepertinya aku ingin pergi sama kamu dan Felix daja Cha gak mau sama dia," ucap Yaya.
"Apa kamu sudah bilang sama Alvin ?" tanya Ocha.
"Belum, tapi tadi aku sudah telphone ibu nya untuk memberi tau dia kalau aku akan pergi dengan kalian," jawab Yaya.
"Kenapa kamu gak mengirimi dia pesan langsung saja Yaya ?" tanya Ocha.
"Sudahlah Cha, cukup berurusan sama dia didunia nyata saja, tidak perlu lewat ponsel, aku sudah terlalu pusing," jawab Yaya malas.
"Haha, dia seperti benalu ya, mengganggu," jawab Ocha dengan tertawa santai.
Yaya mengangguk kecil, lalu mereka pergi menemui Felix terlebih dahulu, sebelum pergi menuju butik tempat yang ditentukan oleh keluarga Alvin, setelah sampai
Yaya mencoba semua gaun yang sudah dipilihkan oleh keluarga Alvin, disaat Yaya sedang difiting room untuk mencoba gaun pengantinnya, Alvin datang dan dia tidak sendiri, dia membawa Ajeng datang bersamanya.
"Hai ada teman-teman si miskin juga ternyata,
lagi nungguin siapa ?
oh, aku tebak ya, hm pasti kalian lagi menunggu itik buruk rupa berubah jadi angsa ya ?
haha, mimpi !
cewe jelek tetap akan jelek mau dipakaikan baju semewah apa-pun itu !" sindir Ajeng pada Felix dan Ocha.
"Hai nenek sihir yang mulutnya gak bisa dijaga dan gak pernah disekolahkan !
mau gua sobek apa itu mulut lo !" maki Ocha.
Mendengar keributan Alvin dan Felix berusaha memisahkan Ocha dan Ajeng yang tengah perang mulut, setelah pertengkaran reda kini giliran Alvin dan Felix yang saling melempar tatapan tajam, dan saat mereka tengah saling menatap Yaya keluar dari fiting room dan berdiri tepat didepan mereka, secara spontan keduanya melihat kearah Yaya, mereka terdiam mematung melihat Yaya yang sangat cantik dibalut dengan gaun putih yang tidak terlalu terbuka bagian atasnya, gaun itu mengembang dan panjangnya menyapu lantai,
seharusnya Yaya meminta pendapat pada Alvin selaku calon suaminya, tapi mulutnya terasa berat untuk menyebutkan nama Alvin dan akhirnya ia meminta Felix untuk memberinya saran dan penilaian.
"Fel, gimana ?" tanya Yaya, Felix melempar senyumnya yang juga dibalas senyum oleh Yaya dan membuatnya terlihat semakin cantik.
Alvin terkejut mendengar Yaya yang malah meminta pendapat pada Felix bukan padanya, ia menatap tajam kearah Yaya, alvin merasa kali ini Yaya benar-benar sudah sangat keterlaluan karena tidak menganggapnya ada.
"Baru kali ini gua merasa gak dianggap !" gumam Alvin dalam hati sambil mendengarkan jawaban yang akan diberikan Felix.
"Kamu cantik, sangat cantik, gaun itu sangat cocok dipakai sama kamu Yaya, " jawab Felix masih terpesona oleh keindahan didepan matanya.
"Makasih Fel," ucap Yaya,
Yaya memandang kearah Alvin, berharap Alvin ikut mengomentari gaun yang ia pakai, tapi alih-alih memperhatikannya ternyata Alvin malah menatap sinis kearah Yaya lalu pergi tanpa meninggalkan komentar apa-pun.