Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 24



#Author


Setelah Felix menghilang dari pandangan Yaya, dia berbalik dan terkejut melihat sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya dan menatapnya dengan penuh amarah, namun Yaya mencoba mengabaikannya dengan berjalan santai melewatinya, Yaya bersikap seolah tidak pernah melihat Alvin berdiri disana, disaat ia berjalan tepat disamping Alvin, tiba-tiba saja Alvin menghentikan langkah Yaya,


seraya berkata.


"Senang ya kerjanya diantar sama pacar ?" tanya Alvin sinis.


"Tentu saja, siapa yang tidak senang kalau kerja diantar sama pacar, apalagi pacarku sangat mendukung setiap langkah yang aku ambil, itu sangat menyenangkan !" jawab Yaya melayani sindiran Alvin.


Mendengar jawaban Yaya yang seolah tengah membenarkan kalau Felix itu adalah pacarnya membuat Alvin geram pada Yaya, tanpa terasa ia mengepalkan jemari tangannya karena menahan kesal.


"Lo kesini itu buat kerja bukan buat pacaran. ngerti gak . lagian lo harusnya sadar dibayar disini bukan buat santai-santai !


awas kalau Avina pelajarannya keganggu karena gurunya sibuk pacaran, gua bakal laporin lo orangtua gua.


Gua bakal bilang kalau kerjaan lo itu gak benar " ancam Alvin.


"Maaf ya Vin sebelumnya, mau aku diantar kesini sama siapapun itu, dan mau aku pacaran sama siapapun juga ,selama itu tidak mengganggu tugasku disini, aku fikir gak ada yang bisa melarang aku, termasuk kamu ! karena yang bayar aku bukan kamu.


Silahkan Vin kalau kamu mau mengadu, aku gak takut karena aku tahu dengan sangat jelas kalau pak Adi Wijaya adalah orang yang sangat bijak menilai sesuatu !" jawab Yaya dengan tegas.


"Lo berani ngejawab gua !


lo lihat saja, lo akan tahu kalau gua gak sekedar hanya mengancam saja, gua bakal buat lo kehilangan segalanya , termasuk harga diri lo !" gertak Alvin dengan nada penuh amarah terlihat dari wajahnya yang mulai memerah.


"Silahkan, kalaupun aku melarang kamu untuk tidak melakukannya , kamu akan tetap melakukannya, kan ?


jadi aku cuma mau bilang sama kamu, buat terus berjuang menyingkirkan aku, dan menyakiti aku.


SEMANGAT ALVIN !" tegas Yaya menjawab gertakan Alvin.


"Permisi , aku harus segera kembali kepekerjaanku , karena disini aku dibayar untuk mengajar bukan untuk meladeni rengekan anak kecil yang bisanya hanya mengadu saja ! " ucap Yaya seraya melangkah meninggalkan tempat Alvin berdiri.


Alvin tercengang mendengar jawaban Yaya, dan membiarkan Yaya pergi begitu saja.


#Alvin


"Lo lihat saja Yaya. sekarang lo sudah terlalu pintar bicara.


Bulan ini akan jadi bulan terakhir gua lihat lo ada disekitar gua," gumamku geram.


Aku kembali masuk kedalam rumah dan melihat pemandangan yang benar-benar hangat terjalin antara Yaya dan Avina.


Senyum yang selama ini gak pernah aku lihat sehangat itu sebelumnya, aku mulai merasakan hatiku mulai bergetar.


"Mas Alvin " tegur pengasuh Avina.


"Ha ?


ia mbak kenapa ?


maaf mbak Alvin ngelamun," jawabnya.


"Gak apa-apa mas ,


hanya saja saya merasa heran melihat mas Alvin berdiri dan melamun disini, kenapa tidak bergabung saja mas ? " tanya Si mbak yang melihat kearahku melihat Yaya dan Avina.


"Nggak mbak mereka sedang belajar, kan " jawabku.


"Hm gitu.


"Cantik dari mananya , gak ada cantik-cantiknya sama sekali mbak, malah muak lihatnya !


jangan pernah bilang dia cantik depan dia, karena itu akan membuatnya besar kepala !" tegas Alvin memperingatkan pengasuh Avina.


Pengasuh Avina hanya tertawa sambil menutup mulutnya, tapi entah kenapa dihatiku ada perasaan malu dan salah tingkah.


Aku kembali kekamarku dan meminta si mbak untuk kembali melanjutkan pekerjaanya.


Didalam kamar aku mencoba mengumpulkan pemikiran dan rencana-rencana diotakku untuk menyingkirkannya, tapi yang terbayang malah hal yang sangat aneh, yang membuatku tersenyum malu.


"Gua mikirnya kemana ini sebenarnya ?


gua mengharap apa dari cewe miskin itu, " aku menggaruk kepalaku walaupun itu tidak terasa gatal.


"Fokus Alvin,


lo hanya perlu fokus agar semua rencana lo bisa berjalan sesuai keinginan lo ! " gumamku menyadarkan diriku sendiri untuk kembali ketujuan awalku yaitu menyingkirkannya dari kehidupanku.


#Author


Alvin bukannya berfikir dia malah tertidur, dia terbangun saat Yaya akan berpamitan pulang.


Ayah Alvin memanggilnya dan memintanya untuk mengantarkan Yaya pulang.


"Vin antar Yaya pulang ,kasihan sudah sore kalau harus naik kendaraan umum, " perintah ayah Alvin.


"Pa dia sudah cukup besar, dia bisa pulang sendiri, !


bukannya dia sudah biasa juga balik sendiri jam segini ?


sudahlah pa gak perlu diantarlah Alvin ngantuk, " jawab Alvin memberi alasan.


"Ia pak Alvin benar, Yaya bisa pulang sendiri saja , gak apa-apa pak,


kalau begitu Yaya permisi pulang dulu pak, " ucap Yaya berpamitan pada semuanya.


"Tunggu yaya," pinta ayah Alvin.


"Kenapa disuruh berhenti lagi pa ?


Bukannya dia bilang bisa pulang sendiri, lalu kenapa juga Alvin harus repot-repot antar dia ," kata Alvin lagi.


"Papa gak mau mendengar alasan apapun Alvin, kamu harus antar yaya sampai depan pintu asramanya , atau papa ambil semua fasilitas yang kamu punya !" ancam ayah Alvin.


"Papa apa-apaan si !" gerutu Alvin.


"Cepat antar Yaya pulang sekarang Alvin !" perintah ayahnya lagi, kali ini ayah Alvin sedikit membentaknya.


Tanpa banyak basa-basi lagi Alvin langsung pergi mengantarkan Yaya sesuai perintah ayahnya.


Dia mengeluarkan motornya dan memerintahkan yaya untuk segera naik.


"Cepetan naik , ini helm lo pakai, gua gak mau melanggar lalu lintas karena lo gak pakai helm," ucap Alvin seraya melemparkan helm, yang langsung ditangkap oleh Yaya.


"Ia makasih Vin" jawab Yaya malas.


Diperjalanan mereka hanya saling mengunci mulut mereka, tidak ada yang memulai pembicaraan, Ahlvin melajukan motornya dengan kecepatan 80km/jam , dengan kecepatan Alvin mengendarai motornya Yaya tetap tidak berani berpegangan pada Alvin. Dia hanya menahan tubuhnya agar tidak memeluk Alvin saat nanti Alvin tiba-tiba menginjak rem motor itu mendadak.


Setelah beberapa menit sampailah mereka didepan asrama Yaya.