
3 jam sudah berlalu dan jam menunjukan pukul 02.00 dini hari, tapi belum juga ada tanda-tanda Alvin akan kembali, Alvin juga tidak memberi kabar sama sekali.
Yaya tidak bisa tidur karena suaminya belum juga kembali, padahal malam ini adalah malam pertama mereka jadi suami istri.
Yaya berdiri menghadap jendela hotel melihat kearah jalan raya, berharap ia akan melihat mobil Alvin saat dia kembali nanti, dan ia bisa bergegas mempersiapkan dirinya untuk menyambut kedatangan Alvin, Yaya tersenyum tersipu malu dengan khayalan yang ia fikirkan sendiri, ketika Yaya
sedang fokus dengan khayalannya tiba-tiba ponselnya berbunyi.
(Call Alvin)
Yaya : Hallo Vin, kamu sudah diperjalanan pulang ?
Alvin : Yaya, maaf sepertinya aku tidak kembali kehotel saat ini, soalnya Ajeng masuk Rumah sakit, dan tidak ada satupun keluarganya yang menjaganya disini, kamu tidak apa-apa, kan ?
Yaya : Hm, tentu saja aku tidak apa-apa Vin, karena itu artinya malam ini kamar ini akan jadi milikku sendiri, jadi aku tidak akan sungkan
Oh ia jaga Ajeng baik-baik Vin, tidak perlu khawatir tentang aku karena dia jauh lebih membutuhkan kamu disana, semoga dia cepat sembuh Vin.
Alvin : Ia Yaya, maafkan aku karena tidak bisa menemani kamu disana.
Yaya : Jangan difikirkan Vin, aku baik-baik saja, (menguap) Vin aku tidur dulu, sepertinya aku mengantuk.
Alvin : Baiklah Ya, selamat tidur.
Yaya : Hm.
Yaya menutup sambungan telphone nya dengan Alvin.
Ia terduduk dilantai samping tempat tidur, menyandarkan kepalanya dikedua lututnya yang ditekuk, saat ini yang ia bisa lakukan hanya lah melampiaskan amarah dan kekesalannya lewat tangisan yang cukup keras, saat Yaya tengah larut dalam kesedihannya ponselnya kembali berbunyi, kali ini ia mendapat sebuah pesan.
(chat Ajeng)
"Ajeng ?" gumam Yaya heran.
Ajeng : (mengirim pesan berisi foto Alvin yang sedang merapihkan selimut dibagian kaki Ajeng)
Yaya : Apa tujuan lo mengirim foto itu ?
Ajeng : Gua hanya ingin mengingatkan lo agar lo cepat bangun dari mimpi lo yang terlalu tinggi itu, ingat baik-baik lo itu hanya istri sementara untuk Alvin, jadi jangan pernah berharap ada malam pertama diantara kalian !.
Ajeng : Asal lo tahu Alvin itu tidak pernah menganggap lo ada !
dan sudah terbukti, Alvin tidak pernah bisa marah sama gua, buktinya walaupun gua sudah membuat keributan dipesta tadi, dia tetap saja masih perduli sama gua, bahkan dia meninggalkan lo yang jelas-jelas berstatus istrinya, demi gua ! haha.
Yaya : Jangan mengatakan hal yang bisa menunjukan kalau diri lo itu murahan dan berkepribadian ganda Jeng !
jujur kasihan gua baca pesan lo, sepertinya lo memang wanita yang sangat membutuhkan kasih sayang, hati-hati Jeng Alvin sudah berstatus suami orang, salah-salah penilaian orang lain akan buruk tentang lo !
oh ia semoga lo cepat sembuh ya ditemani sama suami gua.
Ajeng : Yaya beraninya lo menghina gua !
lo lihat saja gua akan membuat Alvin kembali membenci lo seperti dulu.
Yaya : Jangan cuma bisa mengancam Jeng, lakukan kalau memang bisa, gua tunggu pembuktian kata-kata lo !
Ajeng tidak lagi menjawab pesan Yaya,
ada rasa takut dihati Yaya, takut kalau Ajeng bukan hanya sekedar mengancam, takut Alvin kembali bersikap dingin padanya, ia larut dalam fikirannya, mungkin karena terlalu lelah akhirnya sampai membuatnya tertidur dilantai seraya memegangi ponselnya.
KEESOKAN HARINYA
dirumah sakit, Alvin berpamitan kepada Ajeng untuk pulang sebentar, tapi Alvin merasa bingung kenapa keluarga Ajeng tidak ada yang datang satu pun yang datang berkunjung dari semalam.
"Jeng, gua sebenarnya harus pulang dulu, saat keluarga lo datang, tapi kenapa dari semalam tidak ada satupun keluarga lo yang datang membesuk, dan gua heran dari semalam orang tua lo pun tidak mencoba menghubungi lo sama sekali, ada apa sebenarnya Jeng ? " tanya Alvin.
"Hm, gua tidak memberi tahu mereka Vin, gua takut mereka akan khawatir.
kenapa vin ?
kamu tidak ingin berada disini menemani aku ?" tanya Ajeng.
"Bukan begitu Jeng, lo silendiri tahu gua baru saja menikah kemarin, kalau memang gua tidak perduli sama lo kenapa juga gua harus meninggalkan istri gua, dan merawat lo disini ?" jelas Alvin.
"Istri ?
sejak kapan lo mengakui dia sebagai istri lo Vin ?" tanya Ajeng kesal.
"Tidak usah dibahas Jeng, gua harus pergi sekarang !
karena dari kemarin gua belum pulang menemui keluarga gua dan menjelaskan masalah yang kemarin lo buat !
sebaiknya lo hubungi keluarga lo untuk menjaga lo disini, cepat sembuh Jeng, gua permisi," pamit Alvin yang langsung melangkah pergi keluar dari ruangan Ajeng.
"Ternyata lo benar-benar sudah berubah Alvin, mata lo sudah ketutup sama dia, tapi jangan panggil gua Ajeng kalau gua gak bisa menghancurkan hubungan kalian dan mendapatkan lo lagi," gumam Ajeng dalam hati.
(Call Yaya)
Yaya : Hallo Vin.
Alvin : Kamu dimana Ya ?
Yaya : Aku sudah dirumah kamu Vin, aku sudah menjelaskan pada ayah mu kalau kamu ada urusan sebentar dikampus dan sebelum pergi tadi kamu mengantarkan aku dulu kesini.
Lalu bagaimana keadaan Ajeng ?
apa dia sudah lebih baik Vin ?
Alvin : Ajeng baik-baik saja Ya.
Terimakasih ya kamu sudah mau melindungi aku dari amarah papa, saat ini aku juga tengah diperjalanan pulang.
Yaya : Ia Vin, hati-hati dijalan.
Setelah telphone terputus Alvin meningkatkan kecepatan mobilnya dan
tidak sampai 30 menit dia sudah sampai didepan rumahnya.
Alvin berjalan masuk dan melihat semua orang (keluarga Alvin dan Yaya ) sedang berkumpul dimeja makan.
"Alvin datang kemari kamu jagoan papa !" teriak ayah Alvin memanggilnya layaknya ke anak kecil.
Alvin pun melangkah kemeja makan dan duduk didekat ayahnya.
"Terimakasih sudah kasih papa menantu yang sangat baik dan pintar masak, ya" ucap ayahnya memuji Yaya.
Alvin memandang Yaya dan tersenyum hangat.
"Kamu mau makan ?" tanya Yaya pada Alvin.
"Ia beri aku makan, tidak adil kalau papa saja yang merasakan masakan istri ku, Yaya seharusnya sebelum kamu memasak untuk mereka, suami mu dulu lah yang harus mencicipinya, kalau begini aku jadi cemburu," goda Alvin yang membuat semua orang dimeja makan itu tertawa,
Yaya pun terlihat tersipu malu dibuatnya.
Setelah selesai makan Alvin melihat wajah Yaya muram, berbeda dengan tadi saat banyak orang dimeja makan, Alvin mendekati Yaya dan mengajaknya masuk kekamar agar mereka bisa bicara secara pribadi.
"Ya ikut aku sebentar, ayo kita bicara," ajak Alvin.
Yaya menuruti Alvin dan mengikuti kemana langkah Alvin pergi, setelah didalam Alvin mengunci kamarnya dan mengajak Yaya duduk lalu memulai pembicaraan diantara mereka.
"Kamu kenapa ?
apa yang mengganggu fikiran mu ?
tadi saat makan bersama wajah kamu tidak muram seperti sekarang ini ?
apa kamu merasa lelah karena memasak atau ada masalah lain ?" tanya Alvin yang merasa ada yang tidak beres dengan sifat Yaya yang tiba-tiba saja berubah.
"Aku gak apa-apa Vin, semua baik-baik saja,
oh ia kamu mau kerumah sakit lagi jam berapa ?" tanya Yaya mengalihkan pembicaraan.
"Oh jadi ini karena aku kerumah sakit ?"tanya Alvin menebak.
"Tidak Vin, aku hanya bertanya," jawab Yaya.
"Hm, aku tidak akan kerumah sakit lagi kalau kamu meminta aku untuk tidak pergi," ucap Alvin.
"Kenapa seperti itu ?
pergi saja Vin, aku baik-baik saja, kasihan dia sendiri tidak ada yang merawatnya, bukankah kamu bilang keluarganya tidak ada yang membesuknya ?" ucap Yaya memberi izin pada Alvin dengan nada datar.
"Ok kalau begitu aku pergi sekarang, kamu yang memintanya, jangan jadikan itu alasan !
!
oh aku tau kamu risih kalau terus-terusan bersama aku ?
baiklah Yaya aku bisa mengerti, permisi !" pamit Alvin kesal.
Alvin berdiri dan melangkah pergi, tapi ketika Alvin akan membuka pintu kamar itu Yaya memanggil Alvin kembali untuk menghentikannya.
"Alvin tunggu !" teriak Yaya, setelah Alvin berhenti dan diam ditempatnya Yaya berlari dan memeluk tubuh Alvin dari belakang.
"Boleh tidak Vin kalau aku menjadi seseorang yang egois satu kali saja ?
kalau memang boleh, aku ingin kamu tidak pergi lagi untuk Ajeng, tidak untuk sekarang,dan tidak juga untuk nanti, boleh tidak kalau aku bersikap seperti itu ?" tanya Yaya.
Alvin tersenyum mendengar pertanyaan Yaya, yang terus memeluknya dengan erat dari belakang, pertanyaan Yaya terdengar lucu ditelinga Alvin, sampai membuatnya tertawa kecil, namun pertanyaan Yaya itu juga terasa menyenangkan untuk hatinya .