Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 42



Setelah ia rasa sudah cukup jauh dari Alvin , Yaya mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang untuk menjemputnya.


Yaya : "ayo dong angkat Fel , aku gak mau berlama-lama disini takut Alvin mengikuti aku, " gumam Yaya sambil terus mencoba menelfon Felix.


Felix : Hallo gadis kecil, kenapa ? kamu kangen aku, ya ?


yaya : Fel, Felix bisa jemput aku gak sekarang ?


Felix : Kamu dimana ? tenang dulu Yaya.


Yaya : Aku di Rumah sakit ****** .


Felix : Kamu kenapa ? kamu sakit ? kenapa gak bilang aku ?


Yaya : Aku nggak apa-apa Fel, nanti aku cerita sama kamu, sekarang tolong jemput aku dulu.


Felix : Ok tenang dulu, aku jalan sekarang, tunggu aku gak akan lama karena gak terlalu jauh dari rumahku, tunggu sebentar.


Yaya menutup telphone itu, tapi ketika ia hendak memasukan telphone itu kedalam tasnya, ia terkejut karena tiba-tiba saja seseorang menggenggam erat tangannya.


"Mau kemana lo ?" tanya seseorang itu membuat Yaya langsung melihat kearahnya.


"Aku mau pulang Vin, bukannya kamu yang meminta aku untuk segera pergi !


sekarang apa lagi !


lepasin tangan aku Vin , kenapa kamu selalu bersikap kasar seperti ini sama aku ? " tanya Yaya.


"Gua gak akan biarin lo pulang sebelum lo jelaskan dulu semuanya,


apa maksud kata-kata lo ?


lo butuh gua, maksudnya apa ?


lo gak bisa asal balik begitu saja,


meninggalkan kata-kata lo yang gak penting itu !" bentak Alvin.


"Kalau memang kata-kata itu gak penting kenapa kamu harus minta aku untuk memperjelas.


kenapa harus repot-repot mengejar aku cuma untuk minta aku memperjelas permintaan aku yang gak penting seperti yang kamu bilang,


kenapa Vin ?" tanya Yaya memandang Alvin dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, seraya terus berusaha mencoba melepaskan genggaman Alvin.


"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain !


tinggal jawab lo butuh gua untuk apa ! susahnya apa ? tinggal jelaskan !


oh atau lo--" belum selesai Alvin bicara Yaya memotong omongan Alvin.


"Kamu mau tahu, kan ?


lepas dulu tangan aku , sakit !" pinta Yaya membentak Alvin.


"Ok gua lepas, sekarang lo jelasin !" ucap Alvin seraya melepaskan tangan Yaya.


"Aku butuh kamu buat bikin aku lupa kalau aku pernah suka sama orang yang gak punya hati seperti kamu.


Aku butuh kamu buat bikin aku membenci kamu, sama seperti kamu membenci aku selama ini.


Jujur saja Alvin, aku cape dibenci tanpa alasan yang jelas !


aku juga lelah mencintai orang yang gak akan pernah bisa mencintai aku !" jawab Yaya yang air matanya sudah tidak bisa ia tahan untuk mengalir.


Mendengar jawaban Yaya membuat Alvin kembali terdiam, Alvin tidak lagi berani menatap mata Yaya.


"Bisa ?" tanya Yaya, namun Alvin tetap bertahan dengan diamnya.


"Aku tanya apa kamu bisa !


bisa apa nggak kamu penuhi keinginan aku itu Vin ?


"Jawab Vin, kenapa kamu diam !


jawab aku Alvin !" ucap Yaya seraya menggerak-gerakan tangan Alvin meminta jawaban.


"Lo bisa diam gak !


oke, gua akan penuhi keinginan lo.


Tapi lo juga harus menepati janji lo untuk gak akan pernah memperlihatkan wajah sok lugu lo itu depan gua !" jawab Alvin memberi syarat.


Yaya menangis dan menunduk dihadapan Alvin, dari kejauhan Felix datang dan meninju wajah Alvin.


"Sialan ! " teriak Felix seraya mendaratkan tinjunya kewajah Alvin tanpa ampun.


Alvin yang terkena bogem mentah dari Felix juga tidak tinggal diam, Alvin yang tersungkur ketanah, berusaha berdiri dan membalas meninju wajah Felix.


Yaya yang melihat perkelahian mereka tidak berusaha melerai perkelahian itu, sebaliknya dia hanya menangis dan memperhatikan mereka berkelahi.


"Gua sudah berkali-kali memperingatkan lo untuk berhenti buat Yaya menangis !" ucap Felix disela perkelahian mereka.


"Apa-pun yang gua lakukan itu bukan urusan lo !" jawab Alvin.


"Ini bakal jadi urusan gua kalau yang lo sakiti itu Yaya, karena dia pacar gua !" ucap fellix memperjelas hubungannya dan Yaya.


Mendengar ucapan Felix, Alvin melepaskan kepalan tinjunya, dan menurunkan tanganny, kemudian ia menatap kearah Yaya yang tidak menyangkal kata-kata Felix, seakan Yaya membenarkan kata-kata Felix itu.


Disaat Alvin terdiam dan lengah itu menjadi kesempatan Felix untuk bisa memukul wajah Alvin lagi membuat Alvin kembali tersungkur ketanah, namun seakan kehabiasan tenaga Alvin tidak lagi mencoba melawan Felix, dia hanya memandang kearah Yaya yang tidak lagi mau menatapnya.


"Gua harap lo faham sekaran Vin !


jangan bilang gua gak pernah kasih peringatan sama lo sebelumnya tentang ini !" ancam Felix,


yang setelah itu langsung berjalan menghampiri Yaya menggenggam tangan Yaya dan membawanya pergi.


Tanpa berbalik lagi melihat keadaan Alvin , yang saat itu masih lekat melihat kearahnya. Yaya seakan tidak memperdulikannya dan langsung pergi mengikuti langkah Felix membawanya.


Setelah sudah cukup jauh dari Alvin Yaya meminta Felix untuk melepaskan tangannya.


"Cukup Fel, lepas tangan aku.


Aku bisa jalan sendiri, " pinta Yaya yang langsung berjalan mendahului Felix.


"Ya, Yaya ," panggil Felix,


tapi Yaya seolah tidak mendengarnya dan terus melanjutkan langkahnya dan tidak henti-hentinya menangis.


"Yaya tunggu !


kamu kenapa ?


apa kamu marah sama aku karena aku bilang kita pacaran ?


kenapa kamu diam Ya ?" tanya Felix.


"Aku gak apa-apa Fel, aku cuma merasa hati aku saat ini hancur benar-benar hancur, aku lelah Fel, sayang sama orang yang gak pernah anggap aku ada.


Aku cape Felix aku ingin bisa membenci dia sama seperti dia membenci aku, aku ingin berhenti saat ini juga, tapi aku gak bisa, aku harus gimana Fel, ?" ucap Yaya dengan tangisnya yang semakin lama semakin menjadi-jadi.


Felix memeluk Yaya dan mencoba merasakan rasa sakit yang sedang wanita yang ia cintai rasakan saat ini.


"Akhirnya kamu mengakui perasaan kamu sendiri.


Gak apa-apa Yaya, nangis sepuas kamu, aku gak akan minta kamu untuk berhenti menangis sat ini.


Tapi ingat besok kamu harus kembali menjadi Yaya yang aku kenal selama ini, dan aku janji aku bakal buat kamu lupa akan perasaan kamu untuknya, aku janji, " ucap Felix saat memeluk Yaya.


Pelukan itu terasa semakin erat dan erat, cukup lama Felix memeluk Yaya dan mengusap-usap rambut Yaya untuk menenangkannya.