
Pagi itu seperti biasanya Yaya sudah bersiap berangkat kekampus, Yaya keluar dari asramanya dan satu hal yang selalu sama setiap harinya, yaitu Felix yang selalu sudah siap menjemputnya.
Yaya mengunci pintu kamarnya dan kemudian berjalan menghampiri Felix.
"Pagi Fel, " sapa Yaya.
"Pagi Yaya.
Hm hari ini aku ada kelas, jadi sekalian jemput kamu, hehe" ucapnya tersenyum, yang membuat cemberut Yaya menghilang.
"Gimana keadaan kamu hari ini ya ?" tanya Felix.
"Yang pasti jauh Lebih baik dari kemarin Fel," jawab Yaya dengan senyum manisnya.
"Syukurlah kalau kamu merasa lebih baik, terus tersenyum, karena kamu terlihat sangat cantik kalau kamu senyum, " puji Felix.
"Apa si Fel, ngegombal pagi-pagi, " jawab Yaya seraya memukul lengan Felix, Yaya juga mulai tersipu malu.
"Kenapa gombal ?
aku serius Yaya.
mata kamu sembab pasti semalaman kamu menghabiskan air mata kamu, ya ? ucap Felix memandang Yaya dengan wajah serius.
"Aku sudah mencoba untuk gak nangis lagi semalam, tapi air mataku keluar terus walaupun aku ingin berhenti.
Sudah ayo jalan," ajak Yaya tergesa-gesa sebelum Felix kembali bertanya hal yang lain.
Yaya memakai helm dan naik keatas motor Felix, tapi Felix tetap diam tidak menyalakan mesin motornya, itu cukup membuat Yaya bingung.
"Fel, kenapa motornya gak hidup ?
apa ada masalah dengan motornya ?" tanya Yaya bingung.
"Motor ini otomatis, dia akan jalan kalau yang dibonceng mau pegangan, karena yang bawa motor ini bukan tukang ojeg," canda Felix.
Felux !!! " teriak Yaya yang langsung mencubit perut Felix.
"Aw-aw, kenapa malah nyubit ?
aku serius makanya pegangan," pinta Felix.
"Enggak !" jawab Yaya merajuk.
Tanpa menunggu persetujuan Yaya, Felix menarik tangan Yaya dan merangkulkannya kepinggang Felix.
"Tinggal pegang gini saja apa susahnya, Yaya, "rengek Felix.
Merekapun akhirnya berangkat kekampus, Yaya tetap tidak melepaskan pegangannya , walaupun terlihat sangat kaku.
Sesampainya diparkiran kampus Ajeng menghampiri mereka.
"Yaya," sapa Ajeng.
"Ia Jeng, kenapa ?" tanya Yaya.
"Alvin mau mengadakan pesta ulang tahunnya lagi, karena yang kemarin berantakan dan lo harus datang jangan sampai nggak, " ucap Ajeng.
"Harus ?
kenapa aku harus datang ?" tanya Yaya bingung.
"Ia karena pesta kemarin berantakan itu juga karena lo, jadi lo harus datang sekarang !" tegas Ajeng.
"Jeng, apa lagi yang Alvin rencanakan untuk mempermalukan aku kali ini ?
"Gua jamin kali ini Alvin gak akan buat ulah lagi, karena dia benar-benar ingin ulang tahunnya kali ini berkesan, kasihan dia kalau sampai banyak yang gak datang, " ucap Ajeng berusaha meyakinkan Yaya dan membuatnya iba.
"Apa-pun alasannga, tapi aku tetap--" kata-kata Yaya terpotong oleh Felix yang tiba-tiba ikut bicara.
"Yaya bakal datang kepesta Alvin, tapi gua harus ikut dengannya !" jawab Felix memberi syarat.
Ajeng terdiam sejenak, menimbang-nimbang permintaan Felix.
"Kk datang saja gak jadi masalah, nanti gua yang bilang ke Alvin kalau lo juga akan hadir diacaranya," ucap Ajeng menyetujui permintaan Felix.
"Ok lo kasih tau saja dimana lokasi dia mengadakan pestanya, " ucap Felix.
"Ia, nanti gua kirim alamatnya ke Yaya, kalau gitu gua duluan," pamit Ajeng .
Ajeng pergi meninggalkan mereka berdua, Yaya yang dari tadi hanya memandang kearah Felix dengan tatapan marah sekaligus bingung.
"Jangan marah dulu Yaya, galak amat tapi tetap cantik, " goda Felix.
"Fel jangan bercanda, jelaskan sama aku apa maksud semua ini ?" tanya Yaya.
"Gak ada maksud apa-apa Yaya, aku cuma ingin membuktikan apa yang dikatakan Ajeng kalau dia berani menjamin Alvin gak akan berbuat jahat sama kamu malam ini, " jelas Felix .
"Lalu keuntungannya buat aku apa Fel ?" tanya Yaya yang semakin tidak mengerti dengan maksud dan tujuan Felix menyetujui undangan Alvin.
"Yaya, sudah kita datang saja, kamu gak usah takut, ada aku disana, Alvin berani macam-macam dia akan berhadapan sama aku, "
"Maksudnya , berantem lagi ?
pukul-pukulan lagi, bonyok-bonyok lagi gitu ? kenapa suka banget si Fel cari penyakit, sudahlah aku gak akan ikut, " ucap Yaya dengan nada sedikit marah.
"Ya, gak akan ada yang ribut nanti malam aku janji, aku bakal pakai cara halus kali ini untuk melawan Alvin," ucap Felix membuat janji.
"Nggak Fel !
aku itu sudah malas Felix berurusan sama Alvin, ngerti gak !" ucap Yaya menegaskan.
"Aku ngerti Yaya, kalau aku bilang aku mau kamu kasih aku jawaban atas pertanyaan aku semalam ,dipesta Alvin nanti malam gimana ? apa kamu keberatan ?" tanya Felix.
"Hah ?
jangan bercanda Fel, ini gak lucu !" bentak Yaya.
"Hei lihat aku, aku lagi gak bercanda, ini juga untuk melatih hati kamu, biar kamu bisa lupakan dia dan biar aku berhenti cemburu sama dia," ucap Felix.
Yaya terdiam sementara Felix memandangnya dengan tatapan memohon, yang membuat Yaya merasa ia tidak ada pilihan lain.
"Ia ok aku datang ," jawab Yaya malas ..
"Nah gitu dong, tambah cantik kamu ," goda Felix seraya mencubit pipi Yaya.
"Apa-apaan si Fel, mulai lagi.
Sudahlah aku mau masuk kelas sudah mau dimulai, kamu juga ada kelas, kan ?
jangan sampai terlambat ," ucap Yaya meninggalkan Felix.
#Felix.
"Maaf Yaya , perasaan aku sama kamu memang tulus, aku memang sayang sama kamu, tapi disisi lain aku ingin membuktikan sama Alvin kalau gak semua yang dia mau bisa dia dapat, karena aku tau Alvin gak pernah sejahat ini sama cewe mau dia miskin atau murahan.
Aku yakin itu cuma alasan Alvin menutupi perasaannya yang sebenarnya, " gumamku.
"Maaf karena aku jadikan kamu senjata untuk balas dendam atas kesalahan Alvin dimasa lalu," gumamku lagi seraya tersenyum licik.