Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 23



#Author


Alvin yang saat itu masih tertidur pulas dikamarnya, mencoba meraih ponselnya karena dari tadi ponselnya itu terus berdering membuatnya kesal.


#Alvin


Alvin : Hm (aku menjawab telphone dengan nada malas.)


Ajeng : Vin lo udah baca pesan yang gua kirim belum ?


Alvin : Pesan apa Jeng, lo tau gak ini itu hari libur, waktunya gua buat tenang dan bisa gak lo biarin gua santai sehari saja.


Ajeng : Lo bakal senang kalau sudah lihat foto yang gua kirim, karena ini semua tentang Yaya dan Felix , dan ternyata omongan lo dipesta itu benar adanya Vin.


Alvin : Maksud lo ? kata-kata gua yang mana ?


Ajeng : Barusan gua dengar sendiri yaya mengakui kalau dia dan Felix itu memang benar pacaran, dan wow seperti kata lo Vin mereka memang sangat cocok banget bersama, kalau lo gak percaya buka foto yang gua kirim.


Kata-kata Ajeng membuatku langsung bangun dari tidurku dan duduk disisi ranjangku, lidahku terasa kelu, aku tidak mencoba untuk menjawab lagi omongan Ajeng , karena aku sudah tidak punya jawaban apapun saat ini, yang jelas aku hanya merasa bingung, ditengah lamunanku aku kembali tersadar karena Ajeng yang terus menerus memanggilku.


Ajeng : Vin lo masih dengar gua nggak, Vin, hallo , ALVIN ! (ajeng teriak membuat kupingku sakit.)


Alvin : Ha ia Jeng kenapa tadi kenapa ?


Ajeng : Lo gak nyimak gua ngomong apa ya Vin dari tadi ?


Alvin : Nggak Jeng maaf, gua masih ngantuk banget soalnya, jadi gua merem lagi barusan , sudah dulu ya Jeng, gua mau lanjutin tidur.


Ajeng : Ya sudahlah, lo baca aja pesan gua kalau begitu.


Alvin : ia. (Seraya mematikan telphone.)


Sesuai perintah Ajeng aku mulai membuka isi pesan darinya, itu adalah foto dua orang yang sedang berjalan dan bergandengan tangan. "Apa benar ini Yaya dan Felix ?" gumamku.


Gambar itu cukup membuatku geram sekakigus ragu ,tapi juga bingung.


"Kalau memang benar itu mereka apa hubungannya sama gua,


gua gak suka sama cewe miskin, kampungan, dan murahan itu, nggak mungkin juga.


Gua hanya harus terus memikirkan cara agar dia gak berani muncul lagi didepan muka gua , tapi gimana caranya ," gumamku.


Gua terus berfikir memutar otak sampai akhirnya kutemukan cara yang cukup berani.


"Rayu papa buat putusin beasiswanya,


ia benar begitu saja !


tapi gua gak yakin papa setuju dengan permintaan gua, soalnya yang gua lihat papa sepertinya menyukai cewe itu !


atau permalukan dia nanti diacara ulang tahun gua saja !


nanti dia akan malu dan akhirnya gak punya muka lagi buat kekampus atau buat kerja, ia ia , gua bakal lakuin rencana gua itu satu persatu, Ajeng dan yangblain harus bantu gua, " gumamku sambil menyunggingkan bibirku.


#Author


Alvin turun dari kamarnya dan menemui ayahnya yang tengah makan siang dirumah bersama ibu tirinya.


"Siang juga Vin.


Tumben kamu mau duduk disini bareng papa , ada apa ?" tanya ayah Alvin.


"Nggak ada apa-apa pa, cuma ada yang mau alvin tanyain sama papa ," jawabnya.


"Mau tanya apa Vin , tanya saja " jawab ayahnya mempersilahkannya untuk bertanya.


"Pa kalau seandainya seseorang beasiswanya dicabut, biasanya karena faktor apa pa ?" tanyanya serius.


"Hm kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti ini Vin, ada apa sebenarnya ?" tanya ayahnya lebih penasaran lagi.


"Gak apa-apa pa, Alvin cuma ingin tau saja , siapa tau Alvin suatu saat bisa dapat beasiswa S2 jadi Alvin bisa mempertahankan itu gitu maksudnya gitu pa," jawabnya gugup.


"Oh begitu, papa hanya merasa aneh saja tumben sekali kamu berfikiran tentang beasiswa.


Jadi begini yang terpenting tetap harus bisa mempertahankan prestasi , " jawab sang ayah dengan sangat singkat.


"Hanya itu saja pa ?" tanyanya yang merasa jawaban itu terlalu mudah.


"ia ada faktor lain juga yang bisa menyebabkan dicabutnya beasiswa. namun yang paling penting adalah prestasi ," jawab ayahnya lagi.


"Ok pa terimakasih banyak," ucapnya seraya pergi meninggalkan meja makan.


Dia keluar rumah menghirup udara diluar. Duduk diteras sambil memainkan ponselnya , tidak lama kemudian terdengar suara motor memasuki halaman rumahnya.


Karena penasaran Alvin melihat siapa yang datang, namun ketika tahu itu adalah Yaya dan Felix , Alvin menatap mereka dengan tatapan ingin menerkam.


Yaya turun dari motor, Felix mencoba melepaskan helm yang dipakai Yaya , dan merapihkan rambut Yaya.l yang kusut karena helm. Pandangan Felix pun tertuju pada Alvin yang dari tadi memperhatikan mereka.


"Tatapan panas" gumam Felix dalam hati lalu Felix tersenyum.


"Fel kenapa kamu senyum-senyum begitu ?" tanya Yaya penasaran.


"Gak ada apa-apa Yaya," jawabnya masih tersenyum.


"Bohong, pasti ada sesuatu dimuka aku ya ?" tanya Yaya lagi sambil meraba-raba wajahnya sendiri.


"Hei aku bilang gak ada apa-apa dimuka kamu , aku senyum karena aku senang hari ini bisa jalan sama kamu, dan buat kamu ketawa lepas seperti tadi " kata Felix sambil mengacak-acak vony Yaya.


"Jangan diacak-acak.


Hm Bisa saja kamu Fel , eh tapi makasih ya buat hari ini , aku senang banget," ucap Yaya dengan senyum manis mengembang dibibirnya.


"Ia sama-sama.


Oh ia lain kali mau jalan lagi gak ?" tanya Felix.


"Hm, boleh," jawab Yaya singkat.


"Yes,


ya sudah kalau begitu aku permisi pulang dulu, kamu semangat kerjanya," ucap Felix berpamitan.


Felix pun akhirnya pergi dari halaman rumah Alvin, sementara Yaya masih terus berdiri ditempatnya melihat Felix sampai tak terlihat lagi olehnya, Alvin pun masih terus menatap kesal pada Yaya yang masih saja berdiri disana melihat Felix pergi.