Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 50



Setelah merenggut masa depan Yaya, Alvin menjatuhkan tubuhnya kekasur dan tertidur dengan sangat pulas tidak sadar dengan apa yang sudah ia lakukan, ia membiarkan Yaya dengan perasaan hancurnya.


Sementara Alvin tidur Yaya terus menangis dan menangis, malam itu air mata Yaya tidak bisa berhenti membasahi pipinya, rasa sakit itu membuat Yaya membenci dirinya sendiri yang tidak punya daya untuk melawan.


Yaya menatap wajah Alvin yang saat itu sedang tertidur sangat pulas.


"Vin, kenapa harus begini ?" gumam Yaya dengan suara lirih.


"Kenapa kamu lakukan ini sama aku Alvin, apa lagi sekarang yang kamu rencanakan Vin," Yaya terus bertanya pada Alvin yang tertidur.


Yaya memunguti satu persatu bajunya yang berserakan dilantai dan seger berlari kekamar mandi, untuk membasahi tubuhnya dibawah shower.


"Yaya apa yang kamu lakukan Yaya !


kamu kotor sekarang !


kamu benar-benar sudah tidak punya harga diri, aku harus gimana sekarang, apa yang bisa aku lakukan setelah ini untuk menghadapi dia.


Demi apa-pun Alvin kamu benar-benar jahat," Yaya berteriak sangat kencang dibawah shower yang terus membasahi tubuhnya.


Cukup lama Yaya duduk diam dibawah shower yang terus membasahinya, dinginnya air tengah malam itu tidak mampu menghapus kesedihan dihatinya.


Ketika ia mulai merasa apa yang ia lakukan ini percuma akhirnya ia memutuskan untuk menyudahinya, dan memakai kembali baju tidur yang ia pakai tadi.


Tanpa beranjak dari kamar mandi, Yaya berdiri didepan cermin dan memandangi bayangan dirinya sendiri didalam cermin itu.


Air matanya masih terus mengalir tanpa henti, perasaan hancur kehilangan segalanya didirinya seakan menguasai otak dan fikirannya, menangis terasa percuma, menyalahkan diri sendiri juga percuma saja, tapi apa lagi yang bisa dia lakukan kecuali menangis dan menyesali semua yang sudah terjadi.


"Setelah ini apa lagi yang harus aku lakukan untuk melanjutkan hidupku ?" tanyanya pada bayangannya dicermin.


"Mulai dari malam ini apa aku masih sanggup hidup dan menghadapi semuanya,


gimana kalau sampai ada yang tau tentang semua ini ?


gimana caranya menghadapi hujatan mereka nantinya," gumamnya lirih.


"Air !" teriak Alvin dari kamar Yaya.


Yaya yang tengah larut dalam kesedihannya itu kembali tersadar, dan langsung berlari membawakan Alvin air minum.


"Ayo diminum Vin, bangun minum dulu airnya," ucap Yaya seraya membantu Alvin untuk minum.


Setelah Alvin selesai minum ia kembali tidur, Yaya menyelimuti tubuh Alvin, namun saat Yaya menarik selimut itu, ia melihat ada darah dialas kasur itu, Yaya bergegas mengambil tisu dan membersihkan bercak darah itu,


tapi percuma saja darah dikain itu tidak akan bersih hanya dengan tisu.


Akhirnya Yaya menyerah, ia merasa tidak lagi punya kekuatan untuk tetap terjaga malam itu, ia akhirnya juga mencoba untuk tidur dan berusaha melupakan sejenak beban difikirannya, Yaya berbaring disamping Alvin tapi dengan membelakanginya.


Yaya dan Alvin tertidur pulas malam itu, tapi saat pagi tiba Alvin terbangun lebih dulu, ia


terkejut melihat dirinya bukan berada dikamarnya dan yang membuatnya lebih terkejut lagi, karena ia mendapati tubuhnya tidak memakai sehelai benangpun, pandangannya beralih pada seseorang disampingnya yang sedang tidur membelakanginya


Alvin berdiri menyingkapkan selimutnya matanya tertuju pada bercak darah segar dialas kasur itu, Alvin membelalakan matanya ia tidak yakin dengan apa yang terjadi semalam, ia tidak bisa mengingat apa-pun , sambil berfikir ia mencari dimana pakaiannya, setelah dapat ia langsung memakainya.


selesai memakai bajunya, ia membangunkan Yaya yang sedang tertidur disampingnya.


"Heh bangun lo !" teriak Alvin seraya menarik tangan Yaya dengan sangat kasar.


Yaya yang sudah terbangun dari semenjak Alvin memakai bajunya itupun langsung duduk diatas tempat tidurnya dan menundukan kepalanya dihadapan Alvin yang berdiri didepannya.


"Lihat gua !


gua lagi ngomong sama lo !


jangan gak sopan seperti itu !" maki Alvin.


"Katakan saja Vin gua dengar," jawab Yaya datar.


"Ok terserah lo, gua gak perduli mau lo melihat gua atau nggak, yang penting sekarang gua mau nanya sama lo, kenapa gua bisa ada disini ?


kenapa gua gak pakai baju sama sekali ? dan kenapa lo bisa tidur disamping gua !


apa yang terjadi semalam ! " tanya Alvin dengan amarahnya.


"Vin--" jawab Yaya terpotong oleh Alvin.


"Oh gua tau, lo pasti sengaja menjebak gua, kan ?


biar gua tidur sama lo ?


terus lo berpura-pura kalau lo hamil dan minta tanggung jawab dari gua setelah itu lo bisa mendapatkan semua yang lo mau begitu ! jangan harap !


ternyata lo lebih murahan dari apa yang gua fikir, gak nyangka cara lo ini benar-benar berani !" makian dan hinaan Alvin semakin menjadi.


Kata-katanya itu membuat Yaya tidak tahan lagi, Yaya berdiri dan menampar wajah Alvin dengan sangat kuat.


"Jaga kata-kata lo Vin !


sebelum lo salahin gua, kenapa gak lo coba tanya saja dulu sama diri lo sendiri, kenapa bisa lo ada diasrama gua ?


dan kenapa bisa sampai lo gak pakai apa-apa ! memang sebelum lo sadar lo ada disini, ada dimana lo sebelumnya !" tanya Yaya mencoba mengingatkan Alvin.


"Dan satu lagi Vin, Felix juga orang kaya, kalau memang gua berniat mencari harta kenapa gua gak melakukannya dengan Felix saja, yang sudah jelas-jelas dia mencintai gua, kenapa juga gua harus melakukannya sama iblis seperti lo !" bentak Yaya.


Alvin terdiam dan mencoba mengartikan kata-kata Yaya, tapi sebelum Alvin mendapatkan jawaban dari fikirannya Yaya sudah memintanya untuk pergi.


"Pergi Vin !" Pinta Yaya dengan kasar.


"Kenapa lo minta gua pergi ?


apa setelah ini lo akan melakukannya dengan Felix ?


jadi lo takut kalau Felix tau lo bekas gua ? sudahlah akui saja kalau lo itu memang lagi berusaha menjebak gua !


lo mau nampar gua berkali-kali juga gak akan merubah pandangan gua jadi lebih baik !" ucap Alvin.


"GUA BILANG LO PERGI !!!


gua gak mau liat muka lo lagi !


gua benci, gua benci sama lo Alvin !


pergi !" bentak Yaya dengan nada tinggi dan air matanya yang terus membanjiri pipinya Yaya meminta Alvin untuk pergi meninggalkannya.


Alvin terdiam mendengar Yaya yang berkali-kali menyebut kata benci padanya, Alvin keluar dari asrama Yaya dengan perasaan tak menentu dan diikuti dengan Yaya yang langsung membanting pintu dan menguncinya.