Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 64



Tak butuh waktu lama untuk Felix sampai dirumah Alvin.


Felix membunyikan klakson motornya secara berulang-ulang kali, satpam rumah Alvin akhirnya membukakan gerbang untuk Felix.


"Alvin ada pak ?" tanya Felix.


"Ada didalam mas," jawab satpam itu.


Felix masuk dan memarkirkan motornya kemudian melangkahkan kakinya kedalam rumah Alvin.


Felix terus berteriak memanggil nama Alvin, sementara diruang tamu ada ayah Alvin dan ibu sambungnya sedang berbincang dengan santai.


"ALVIN !


ALVIN !


keluar lo !!!" teriak Felix.


"Siapa kamu ?


dan ada apa kamu berteriak-teriak dirumah saya ?" tanya ayah Alvin.


"Maaf pak, saya kemari ingin bertemu dengan Alvin anak bapak !" jawab Felix tegas.


"Ada masalah apa ?" tanya ayah Alvin lagi.


"Saya hanya ingin bicara dengan Alvin sebentar saja pak !" jawab Felix.


"Baiklah, ma tolong panggilkan Alvin," ayah Alvin meminta ibunya memanggil Alvin.


"Kalau saya boleh tau, ada apa sebenarnya ? kenapa kamu terlihat sangat emosi ?" tanya ayah Alvin mulai penasaran.


"Sebentar lagi bapak akan tau seperti apa kelakuan putra bapak dibelakang bapak selama ini," ucap Felix menjelaskan.


Ayah Alvin terdiam mendengar kata-kata Felix yang cukup tegas, tidak beberapa saat kemudian Alvin datang menghampiri mereka.


"Kenapa pa ?" tanya Alvin.


"Felix ?


ngapain lo kesini ?


memang kita sedekat itu ya sampai lo berani datang kerumah gua ?" tanya Alvin, diselingi dengan senyum nyinyirnya.


Tanpa menunggu lama lagi dan tidak ingin banyak basa-basi, Felix berdiri dari duduknya dan mendaratkan tinjunya kewajah Alvin.


"Felix !


ada apa sama lo ?


kenapa setiap lo ketemu gua lo selalu mukul gua ?


pa kenapa papa diam saja lihat Alvin dipukul orang !


mending papa telphone polisi buat tangkap orang bar-bar seperti dia ini !"


pinta Alvin pada ayahnya.


"Silahkan lapor polisi, sekalian gua juga mau tau hukuman apa yang cocok untuk orang yang memperkosa seorang gadis sampai gadis itu hamil !" teriak Felix memberitahukan niatnya.


Kata-kata fellix, membuat Alvin terperanjat kaget begitu juga dengan ayah dan ibu Alvin.


"Maksudnya bagaimana ?" tanya ayah Alvin pada Felix, karena saat ini Alvin terlihat diam tanpa kata.


"Anak bapak ini Alvin Putra Adi Wijaya, dia melakukan hal memalukan dengan memaksa Yaya untuk tidur sama dia, disaat dia mabuk, dan sekarang Yaya hamil.


Yaya minta saya untuk tidak memberitahu keluarga ini dan juga Alvin, tapi apa jadinya menurut bapak Adi yang terhormat kalau seorang penjahat dibiarkan berkeliaran tanpa bertanggung jawab atas dosa yang dia lakukan ?" tanya Felix.


Seperti dilemparkan kotoran diwajahnya Ayah Alvin memandang marah kearah Alvin, ia mendekati Alvin dan menampar wajah Alvin berkali-kali.


"Alvin papa bahkan tidak pernah mengajarkan kamu untuk berprilaku tidak sopan pada wanita !


sekarang papa tanya sama kamu, apa yang seharusnya kamu lakukan sebagai seorang laki-laki kalau sudah begini kejadiannya !" tanya ayahnya.


"Pa, papa tolong jangan suruh Alvin untuk menikahi dia pa.


Mendengar jawaban Alvin membuat ayah Alvin semakin naik darah, ia tidak menyangka anaknya bisa punya fikiran seperti itu.


"Alvin !!!


pergi minta maaf sama Yaya sekarang, dan katakan sama Yaya kalau kamu akan segera menikahi dia secepatnya !" pinta ayahnya.


"Tapi pa," Alvin mencoba membantah ayahnya.


"Kalau kamu masih mau nama kamu ada di dalam daftar ahli waris saya, maka saya minta kamu untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan ! " ancam ayah Alvin.


Alvin sudah tidak bisa lagi membantah keinginan ayahnya.


"Terimakasih banyak pak atas kerja samanya, saya permisi !" ucap Felix berpamitan, seraya memberikan senyum sinis kearah Alvin.


Setelah Felix pergi, ayah Alvin berbincang empat mata dengan Alvin.


"Alvin kapan kamu akan menemui Yaya ?" tanya ayah Alvin.


"Alvin gak tau pa," jawab alvin malas.


"Ok papa akan hubungi orang tua Yaya terlebih dahulu dan meminta restu untuk kamu ! " ayah Alvin meminta untuk menemaninnya menemui keluarga Yaya.


"Pa, kenapa harus menikah ? dan ketemu orang tuanya ?


papa belum tentu itu benar anak Alvin pa, " ucap Alvin.


"Memang kamu punya pilihan lain selain menikahi wanita yang kamu hamili ? "


"Tapi pa belum pasti juga kan dia hamil anak aku !


bisa jadi dia cuma menjadikan aku kambing hitam dia saja,kan !" seru Alvin dengan emosi.


Ayah Alvin hanya menggelengkan kepalanya, kemudian pergi meninggalkan Alvin, seakan ia tidak mau mendengar pembelaan darinya.Alvin terdiam, saat ayahnya meninggalkannya dan mulai berfikiran negative.


"Seperti dugaan gua, rencana lo sudah kebaca Yaya !


lo lihat saja gua bakal pastikan hidup lo saat jadi nyonya Alvin gak akan pernah bahagia, dan lo gak akan mendapatkan sepeserpun dari kekayaan ayah gua !" gumam Alvin.


Setelah cukup lama terdiam , Alvin mencoba menghubungi Yaya lagi, tapi Yaya selalu menolak panggilan dari Alvin. Ini membuat Alvin menjadi semakin kesal, ia mengambil kunci mobilnya dan langsung ia mengarahkan mobil itu keasrama Yaya.


Tak beberapa lama Alvin sampai didepan asrama Yaya.


Alvin mengetuk daun pintu dengan sangat kencang.


"ia sebentar, " saut Ocha dari dalam.


"Mungkin itu Felix Ya, aku buka dulu pintunya ,kamu tidur saja lagi," ucap Ocha.


Yaya mengangguk dan kembali berbaring tidur ditempat tidurnya, Yaya terlihat lelah dan mulai memejamkan matanya.


Setelah Yaya tidur, Ocha berjalan membuka pintu, saat pintu dibuka betapa terkejutnya Ocha ternyata orang yang ada dibalik pintu itu adalah Alvin.


Alvin memandang Ocha dengan wajah yang sangat menyeramkan.


"Mau apa lo kesini ?" tanya Ocha sinis.


"Gua mau melihat keadaan orang yang lagi hamil dan katanya itu anak gua, mana dia ?" tanya Alvin.


"Mending lo pergi saja Vin !


gua mohon, kasihan Yaya dia dari tadi banyak menangis dan berfikir," pinta Ocha.


"Lo kira gua perduli !


dia itu udah berani fitnah gua !" seru Alvin.


"Fitnah apa maksudnya Vin ?" tanya Ocha kesal.


"Dia itu tidur sama cowo lain juga pastinya, tapi kenapa dia cuma nuduh gua !"


Alvin tetap yakin pada pendiriannya kalau yang berhubungan dengan Yaya itu bukan cuma dirinya.