
Kebencian Alvin yang awalnya mulai memudar terhadap Yaya, kini kembali membakar hatinya lebih panas lagi dari sebelumnya.
Alvin beranjak dari gudang itu dan kembali berjalan kekelas dengan hatinya yang masih dipenuhi amarah yang tidak tersalurkan, ditengah jalan langkahnya terhenti karena ia melihat Felix dan Yaya dihalaman parkir motor dan ia mulai mengerutkan keningnya, ia juga mengepalkan tinjunya dengan sekuat tenaga dan kembali bergumam.
"Kali ini gua gak akan pakai perasaan lagi, gua gak akan pernah kasihan lagi sama lo, gua lebih percaya sama otak gua dibanding hati gua kali ini, dan liat saja Felix lo bakal jauh lebih hancur dari apa yang lo rasain dulu, kalau memang Yaya gak bisa gua rebut dengan cara baik-baik, gua bakal rebut Yaya dengan cara gua !
lo liat apa yang bisa gua lakukan buat bikin hubungan kalian hancur, karena seorang Alvin tidak menerima penghinaan sekecil apapun itu !" gumam Alvin.
Setelah Felix dan Yaya pergi, Alvin kembali melanjutkan langkahnya kekelas.
Dikelas Alvin langsung berjalan menemui Ajeng yang tengah fokus dengan ponselnya.
"Jeng gua mau ngomong sama lo," kata Alvin sambil menarik tangan Ajeng untuk bicara diluar kelas.
"Ada apa Vin, kenapa lo kasar ?
lepas Vin," pinta Ajeng.
"Gua mau minta maaf karena tadi gua sempat bentak lo, lo masih mau bantu gua buat melanjutkan rencana-rencana yang sudah ada kan ?" ucap Alvin.
"Hah ?
lo narik gua cuma mau ngomong ini ?
kenapa ?
bukannya tadi lo marah banget sama gua , karena gua ngerjain dia, terus kenapa sekarang lo minta maaf dan minta buat tetap melanjutkan rencana ?
makin aneh saja sikap lo Vin !" tanya Ajeng curiga.
Ajeng kali ini benar-benar merasa bingung dengan sifat Alvin yang kadang berubah-ubah.
"Ia gua minta maaf Jeng, sudah jangan dibahas lagi, intinya lo masih mau gak bantu gua untuk ngerjain cewe sialan itu dan pacarnya yang sok jadi pahlawan itu ?" tanya Alvin penuh nafsu.
"Pacarnya ?
maksud lo Felix ?
Felix ada disini dia datang cuma untuk bantuin cewe itu ?" tanya Ajeng jengkel.
"Hm," jawab Alvin seraya mengangguk malas.
"Bentar Vin Handphone gua bunyi," ucap Ajeng mengalihkan sebentar pembicaraan dan mulai memainkan ponselnya.
Tidak berapalama kemudian Ajeng kembali melanjutkan lagi perbincangan mereka dan menaruh ponselnya disaku belakang celananya.
"Oh jadi maksudnya lo cemburu ?" tanya Ajeng menuduh.
"Bisa gua cemburu sama cewe miskin, gak punya otak, sok cantik dan murahan itu !
dan yang sangat-sangat buat gua muak dan benci setengah mati itu !
asal lo tau Jeng keinginan terbesar gua sekarang adalah menghancurkan hidup dia dan pacarnya yang sama-sama sampah itu !" ucap Alvin dengan nada penuh dengan kebencian.
"Oh ok santai saja ngomongnya, emosinya jangan sama gua, kapan kita mulai rencananya ?" tanya Ajeng.
"Secepatnya,
karena gua ingin cewe itu menghilang dari hidup gua untuk selamanya, dengan adanya dia disini hanya akan membawa kesialan untuk semua orang ! " jawab Alvin dengan senyum sinisnya mulai mengutarakan niatnya.
"Mereka harus membayar apa yang sudah berani mereka lakukan ke gua !
Ajeng yang mendengar umpatan Alvin hanya bisa diam dan ikut tersenyum sinis ,sambil memandang kearah Alvin yang tengah diliputi emosi, Ajeng tersenyum seakan dia merasa kalau yang akan menjadi pemenangnya tetap dia, yang akan banyak diuntungkan juga adalah dia.
"Ayo masuk kelas," ajak Alvin kemudian.
"Duluan saja Vin, gua mau nelphone orangtua gua dulu," jawab Ajeng.
Setelah Alvin masuk kedalam kelas Ajeng mulai mengeluarkan lagi ponselnya, yang dari tadi ponsel itu dalam mode rekam suara.
#Ajeng
"Haha sorry Vin, keinginan gua memang untuk mendapatkan lo, tapi gua juga harus punya senjata buat melawan lo, gua gak pernah tau,siapa tau saja suatu saat lo berubah fikiran, dan malah berbalik nyerang gua, dan kalau lo sampai berani nyerang gua, dengan begitu gua bisa tunjukkan rekaman suara lo ke Yaya, dan BOOM lo juga bakal hancur sama seperti lo menghianati gua dihari itu nanti, lihat apa yang bisa gua lakukan Vin, kalau lo berani menghianati gua, haha, " gumam Ajeng tersenyum penuh kemenangan.
#Author
Ajeng kembali masuk kekelas dan melanjutkan pelajarannya, seolah dia tidak sedang merencanakan apapun, Ajeng masuk dan belajar dengan santai.
Sementara diasrama , Yaya yang diantar Felix masih terlihat shock.
"Ya , kamu gak apa-apa, kan ?" tanya Felix seraya memegang bahu Yaya.
"Aku gak apa-apa Fel, aku cuma kaget saja dan sedikit pusing," jawab Yaya lemas.
"Apa perlu kita ke dokter dulu Ya ?" tanya Felix lagi penuh dengan kekhawatiran.
"Gak usah Fel, gak usah, aku cuma butuh istirahat sebentar, gak perlu khawatir karena aku bukan cewe manja kok, hehe " jawab Yaya mencoba tersenyum agar Felix berhenti mengkhawatirkannya.
"Kamu yakin baik-baik saja ?" tanya Felix memastikan.
"Ia Fel.
Kamu bisa pergi sekarang, aku yakin kamu juga ada kegiatan lain, kan ?" ucap Yaya meyakinkan Felix lagi.
"Gak apa-apa aku tinggal ?
atau kamu mau aku tetap disini jagain kamu ?" tanya Felix lagi.
"Gak apa-apa Fel, aku akan baik-baik saja setelah istirahat, kalau ada apa-apa aku pasti langsung hubungi kamu," ucap Yaya.
"Yasudah kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya, kamu istirahat.
Pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus langsung hubung aku ! " pinta Felix.
Yaya hanya mengangguk mengiyakan permintaan Felix .
Setelah Felix pergi Yaya masuk kedalam asramanya dan berbaring ditempat tidurnya dengan tatapan kosong ia memandang langit-langit kamarnya.
#Yaya
"Alvin, kapan kamu bisa berhenti membenci aku Vin ?
apa yang sebenarnya kamu mau dari aku ? apa benar dengan membuat aku menderita itu bisa membuat kamu bahagia ?
Alvin sepertinya hati aku sudah mulai lelah, aku salah karena pernah berharap kamu bisa merubah sikapmu ," gumamku.
"Aku harap aku bisa membencimu sama seperti saat ini kamu membenci aku Vin.
Tapi jangankan kamu, aku sendiri juga membenci diriku sendiri karena pernah berharap cinta dari orang yang seumur hidupnya tidak akan pernah mempunyai perasaan cinta untuk orang lain, " gumamku.