Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 46



#Yaya


Sepanjang langkahku menuju kelas aku memikirkan kata-kata Felix untuk memberinya jawaban dipesta Alvin.


"Apa masuk akal kasih jawaban diacara dia,apa itu gak akan jadi opini aneh untuk semua orang nantinya ?


macam-macam saja permintaan Felix " gumamku


Saat memasuki kelas aku tidak melihat Alvin, mungkin dia masih merawat Avina, hari ini aku juga mau menjenguk Avina lagi, fikirku dalam hati.


Setelah kelasku berakhir aku cepat-cepat membereskan tasku, dan berjalan keluar, aku berniat memesan taxi online tapi sebelum sempat aku memesan ponselku terlebih dahulu berbunyi.


Yaya : Hallo Fel.


Felix : Kelas sudah selesaikan ?


aku sudah didepan.


Yaya : Hm tunggu aku kesana.


Aku menutup telphone dan memasukan ponselku kedalam tas, dan mulai berjalan menghampiri Felix yang sudah menungguku.


"Felllix dia bahkan gak pernah meninggalkanku walaupun sebentar, apa mungkin orang seperti Felix yang sebenarnya aku cari ?


tapi untuk saat ini aku belum merasakan apa-apa pada Felix, maaf Fel," gumamku dalam hati sambil terus berjalan menuju Felix .


Dari kejauhan aku melihat Felix yang rela berpana-panasan menungguku, aku sedikit tersentuh, tapi hatiku masih belum tergerak untuk bisa menerimanya.


Aku berhenti berfikir dan langsung mendekatinya.


"Fel, sudah lama ?" sapaku.


"Cukup lama untuk melihat seseorang yang dari tadi diam diujung sana dan memandangiku," Ucap Felix yang membuat aku bingung.


"Maksudnya ..?"


"Maksudnya, Kamu ngapain berhenti disana lama banget, terus sambil melihat aku lagi, kenapa ?


terpesona melihat aku kepanasan dibawah sinar matahari gini ?


aku kelihatan sexy, ya ?


kalau keringatan, hahah " goda Felix yang berhasil membuatku tersenyum malu.


"Kenapa kamu bisa tau aku diam disana tadi ?" tanyaku penasaran.


"Haha masih mau dibahas ?


insting seorang Felix ke Yaya itu kuat banget tau gak, hahah " jawabnya.


"Felix aku serius ,mau aku cubit lagi ?"


ancamku.


"Nggak-nggak ampun-ampun, tadi aku lihat dari kaca spion," jawabnya dengan tersenyum manis.


Aku membalas senyumannya, dan memintanya mengantarku kesuatu tempat,


yang aku fikir Felix tidak akan mau mengantarku .


"Fel , bisa antar aku kerumah sakit gak ?" tanyaku ragu.


"Hem, rumah sakit kemarin ?


memang siapa yang sakit ?


kemarin kamu belum jelaskan juga sama aku tentang kenapa kamu bisa ada di rumah sakit kemarin," tanyanya balik.


"Oh ia aku lupa, Avina anak didikku Fel, dia keracunan kemarin," jawabku.


"Keracunan kenapa bisa ?" tanyanya.


"Kecelakaan saja Fel," jawabku singkat.


"Oh kalau gitu ayo aku antar, aku gak mau kamu pergi kesana sendirian, karena aku yakin disana pasti ada Alvin," ucapnya.


"Ia ayo, aku gak mau kamu ribut disana , karena itu rumah sakit, bukan arena tinju, ngerti !" ucap Yaya menegaskan.


"Ia ngerti Yaya gadis kecilku, aku janji gak akan cari masalah, kalau Alvin itu gak mulai duluan," jawabnya dengan tingkahnya yang lucu.


Tanpa banyak basa-basi lagi aku dan Felix segera pergi dari kampus menuju rumah sakit.


Sepanjang jalan aku berfikir bagaimana caranya agar Felix dan Alvin tidak bertemu, karena aku gak yakin mereka tidak akan bertengkar lagi.


Sekian lama diperjalanan akhirnya merekapun sampai dirumah sakit tempat Avina dirawat. Setelah sebelumnya sudah membeli buah-buahan untuk Avina .


Didepan kamar Avina Yaya kembali terdiam dan menghentikan langkahnya.


"Ya ada apa ?


kamu kenapa diam ?


gak masuk jadi masuk ?" tanya Felix memegang pundak Yaya.


"Aku takut didalam ada Alvin Fel, aku yakin dia gak akan suka kalau lihat aku disini, " jawab Yaya dengan raut wajah sedih dan bingung.


"Yaya kamu sudah sampai disini, masa kamu gak jadi masuk ?" tanya Felix.


"Ia tapi,"


"Sudah lah Yaya, kamu kesini bukan mau cari masalah atau mau ketemu Alvin, kan ?


tujuan kamu kesini untuk melihat keadaan Avina, ia kan ?" tanya Felix lagi.


Yaya hanya terdiam dan menundukan wajahnya, yang oleh Felix diangkat lagi wajah Yaya ..


"Hei, percaya sama aku , gak akan terjadi apa-apa, aku disini sama kamu, " ucap Felix meyakinkan Yaya.


"Ayo masuk, buka pintunya," ajak Fellix lagi.


Yaya akhirnya kembali yakin akan tujuannya datang kesana berkat Felix, ia membuka pintu ruangan Avina dan benar saja didalam hanya ada Alvin yang menjaga Avina.


Alvin yang melihat kedatangan Yaya dan disusul oleh Felix dibelakangnya secara spontan berdiri dari duduknya, dan menghampiri Yaya dan Felix untuk menggiring mereka keluar.


"Ngapain lo berdua kesini ?" tanya Alvin penuh emosi.


"Vin aku kesini mau melihat keadaan Avina," jawab Yaya seraya meletakan buah-uahan yang tadi ia bawa keatas meja.


"Apa dengan lo datang kesini bawa buah-buah ini ponakan gua akan cepat sembuh gitu ?


ingat Avina sampai jadi begini semuanya gara-gara lo, dan Avina gak butuh buah ini, apa lagi lo !" bentak Alvin seraya melemparkan semua buah yang Yaya bawa sampai semua berserakan dilantai.


"ALVIN !" bentak Felix terpancing emosi.


"Fel cukup, kamu sudah janji, kan ?" ucap Yaya menghentikan Felix yang saat itu sudah melangkah menghampiri Alvin.


"Tapi ya, dia sudah keterlaluan sama kamu !


aku gak bisa diam lihat dia terus menghina kamu," ucap Felix mengkhawatirkan Yaya.


"Masalah dia sama aku Fel, bukan sama kamu, jadi aku yang akan selesaikan, " kata-kata Yaya membuat Felix langsung terdiam.


Yaya membalikan tubuhnya dan memandang lagi kearah Alvin.


"Dan kamu Alvin, sudah cukup kamu sebut semua ini gara-gara aku, coba fikir baik-baik kalau kamu gak punya niat jahat sama aku waktu itu Avina gak akan pernah jadi begini ! sudah banyak sekali perbuatan jahat kamu untuk aku kalau harus dihitung !


tapi apa aku pernah mencoba membalas walaupun satu kali ?


PERNAH GAK !!!" ucap Yaya membentak Alvin.


"Perbuatan jahat apa maksud lo ?


lo ngomong seolah-olah gua itu iblis !" jawab Alvin.


"Perlu aku ingetkan ?.


APA PERLU ALVIN !" bentak Yaya lagi.


Alvin hanya terdiam dan menatap Yaya yang terus membentaknya.


" Ok kalau begitu biar aku perjelas !


aku gak akan bahas kejahatan kecil yang kamu buat, yang akan aku bahas kejahatan yang menurutku sudah sangat keterlaluan.


Yang pertama kamu suruh orang buat mengunci aku digudang bahkan kamu suruh orang itu untuk membuang kuncinya, ingat ?" tanya Yaya mengingatkan.


"Mengunci digudang ?


lo nuduh gua !


atas dasar apa lo yakin kalau yang melakukan itu gua ! " seru Alvin marah.


"Menurut lo yang bisa melakukan hal picik seperti itu siapa lagi selain lo ?" tanya Yaya .


Alvin tidak bisa menjawab kata-kata Yaya yang sangat percaya kalau itu perbuatannya, walaupun sebenarnya dia tau siapa yang mengunci Yaya digudang hari itu tapi Alvin tidak bisa memberitahukannya kalau hanya untuk membela dirinya.