
#Yaya
Hari ini adalah hari liburku ngajar, aku dan Ocha berencana pergi keluar dan mencari sesuatu untuk dijadikan kado ulang tahun untuk Alvin.
Seperti layaknya cewe-cewe yang lain pada umumnya kalau belanja, semua seperti mau diambil saja sama Ocha, berbeda dengan aku yang bahkan untuk bertanya harganya saja tidak berani, karena aku sadar ukuran dompetku saat ini, jadi sebisa mungkin aku hanya mencari barang yang aku rasa bermanfaat saja.
"Yaya itu dompetnya bagus, jam tangan itu juga , kaos itu ,kemejanya , jaket tang itu juga, aduh jadi bingung aku mau kasih hadiah apa untuk Alvin " oceh Ocha.
"Cha kenapa ribet banget si ?
dari pada pusing kamu mau pilih yang mana, kenapa gak kamu ambil semua saja ?" ujarku memberi pendapat.
"Yaya , aku itu bingung tau, semuanya itu lucu apa lagi kalau Alvin yang pakai aduh gantengnya itu makin bertambah maksimal, ia kan ?" tanyanya seperti cacing kepanasan seraya mencubit kedua pipiku.
Aku yang sudah mulai kehabisan kata-kata, hanya bisa menganggukan kepalaku sambil tersenyum hambar menanggapinya.
"Tapi Cha memangnya kamu gak ingat sama apa yang waktu itu pernah dia lakukan ke kamu ?
kamu dipermalukan didepan orang banyak sama dia, kamu lupa ?" tanyaku mencoba mengingatkan apa yang sudah Alvin lakukan padanya.
"Yaya , aku sudah maafkan dia kok, lagian gak betah juga bermusuhan sama orang terlalu lama, apalagi orang itu Alvin cowo tampan nomor satu dikampus, " jawaban Ocha ini sedikit membuatku geli.
Sementara dia sibuk memilih barang yang mau dia beli, aku juga mencoba mencari hadiah ku untuk Alvin, saat aku memutari tempat itu aku melihat seorang laki-laki mengeluarkan saputangan dari sakunya untuk mengelap keringat wanita disebelahnya, seketika terlintas difikiranku untuk membelikan saputangan untuk Alvin.
"Saputangan ?
ia saputangan saja , itu pasti akan berguna buat dia, " gumamku.
Akhirnya aku terus berjalan mencari toko yang menjual saputangan, aku memilih saputangan berwarna abu-abu terang, tapi saputangan itu terlalu polos dan sangat sederhana, aku berfikir lagi bagaimana caranya membuat saputangan sederhana ini jadi ada nilai seninya.
"Gimana ya caranya agar terlihat berkesan ?" gunamku bertanya pada diriku sendiri.
Setelah cukup lama berfikir akhirnya kutemukan sebuah ide yang cukup bagus menurutku.
"Kenapa gak aku coba buat bikin ukiran nama dia saja disaputangan ini.
Aku bisa menjahit sulaman tangan.
Sekarang aku membutuhkan jarum dan benang berwarna merah untuk membuat sulaman namanya.
Begitu lebih baik," gumamku sambil tersenyum puas dengan ide yang aku fikirkan.
Aku akhirnya mencari dan membeli benang berwarna merah yang aku butuhkan, setelah semua barang yang aku cari sudah kudapatkan, aku kembali mencari sahabatku Ocha, yang masih terlihat bingung menentukan apa yang dia inginkan.
Aku hanya memperhatikannya dari luar toko, melihat Ocha yang masih kebingungan membuatku tersenyum tipis dengan kelakuannya, tapi lama kelamaan aku jadi tidak tega melihatnya,akhirnya kudekati lagi dia.
"Cha udah ketemu apa yang mau kamu beli ?" tanyaku.
bantu aku Yaya, " pintanya dengan memasang wajah sedih.
"Tapi pegawai disini menyarankan buat kasih sepatu, tapi aku gak tau ukuran kaki dia berapa Yaya sedih jadinya," keluhnya.
"Hm, sebentar aku tanya sama Felix ," ucapku seraya mengeluarkan ponselku hendak menghubungi Felix.
"Yaya, ini itu sepatu untuk Alvin bukan untuk Felix gimana si !
apa hubungannya sama Felix coba ?
yang aneh-aneh saja " gerutu Ocha.
"Cha aku tahu dengan sangat jelas kalau hadiah ini untuk Alvin, aku hanya berfikir kalau badan Felix dan Alvin itu gak beda jauh dan aku rasa ukuran kaki mereka juga sama, " ujarku memberi penjelasan tentang saran yang kuberikan.
"Oh ia juga, boleh juga itu, kamu memang pintar Yaya, tapi kadang-kadang, hehe" jawabnya setelah lama mencerna kata-kataku.
Aku hanya menggelengkan kepalaku lagi mendengar omongan Ocha, tanpa banyak bicara lagi aku menghubungi Felix untuk menanyakan berapa ukuran kakinya,
setelah kudapatkan ukurannya aku memberitahukannya langsung pada Ocha.
"42 Cha , ukuran kaki Felix "ucapku memberitahunya.
"Ok Yaya , makasih sayangku, kamu memang penyelamatku, " jawabnya merayu.
Setelah selesai mencari hadiah untuk Alvin, aku dan Ocha pulang ketempat tinggal kami masing-masing.
Sesampainya diasrama aku istirahat sebentar kemudian mulai menjahit nama Alvin diujung kanan saputang itu.
Tanpa terasa aku tersenyum sambil menjahit ukiran namanya disaputangan itu,
Perasaan senang yang sulit diungkapkan ketika aku mulai menyusun satu persatu huruf namanya.
Karena terlalu serius dan bersemangat bahkan sampai suara ponselku berdering saja bisa membuatku terkejut, jarum yang aku gunakan akhirnya menusuk jari telunjukku, darahku menetes diatas saputangan itu aku mencoba membersihkannya tapi tidak bisa, tanpa kurasa air mataku jatuh membasahi saputangan itu bercampur dengan darahku.
"Kenapa aku bisa sangat ceroboh begini !
kenapa darah ini tidak bisa hilang, " gumamku sambil menangis.
"Hilang dong aku mohon, aku sudah tidak punya uang lagi untuk menggantinya dengan yang baru, " gumamku lagi.
Setelah cukup lama aku berusaha membersihkannya namun saputangan itu tetap tidak bisa bersih seperti saat masih baru, akhirnya aku menyerah, setelah cukup lama berfikir aku memutuskan untuk tetap membungkus saputangan itu, karena nama yang aku ukir disana juga sudah terjait dengan sangat cantik.
"Semoga kamu menyukainya Alvin," harapku dalam hati.