Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 73 "PERNIKAHAN"



Setelah 10 hari berlalu dan semua persiapan sudah sempurna, kini akhirnya tiba juga dihari H pernikahan Alvin dan Yaya, acara akan dimulai pukul 10.00 pagi, semua keluarga besar Alvin dan juga keluarga besar Yaya sudah siap dan berkumpul digedung tempat acara akan diselenggarakan, para tamu undangan pun sebagian sudah banyak yang datang memenuhi gedung itu, namun Alvin si pengantin pria belum terlihat juga batang hidungnya, sementara acara 30 menit lagi sudah akan dimulai.


Ayah Alvin seperti orang yang kebakaran jenggot mencari dimana keberadaan anaknya, rasa malu pada keluarga besar Yaya mulai memenuhi fikirannya.


"Ma, Alvin mana ?


ini acara sudah akan dimulai !


semua orang sudah datang, tapi dia belum kelihatan juga batang hidungnya !


kemana sebenarnya anak itu ?" tanya ayah Alvin pada istrinya.


"Mama juga gak tau pa, tadi kata si mbak Alvin sudah berangkat lebih dulu pagi-pagi sekali, mama kira dia langsung kesini," jawab istrinya.


Yaya yang melihat calon mertuanya seperti orang kebingungan akhirnya mendekati mereka.


"Om, tante, ada apa ?" tanya Yaya.


"Yaya Alvin belum datang juga, tante sama om sudah mencoba untuk menghubungi semua teman-teman Alvin yang belum hadir, tapi mereka gak ada yang tau Alvin dimana , tolong maafkan anak itu Yaya," jelas ibu Alvin.


"Tidak apa-apa tante,


Kita masih punya waktu 20 menit lagi sebelum acara dimulai, mungkin dia terjebak macet, Yaya yakin sebentar lagi Alvin akan sampai, kita sabar saja menunggunya," ucap Yaya mencoba berfikir positif untuk menenangkan orangtua Alvin dan juga dirinya sendiri.


Ibu dan ayah Alvin hanya tersenyum mendengar jawaban Yaya yang terdengar sangat sabar dan tenang.


"Om tante, Yaya permisi dulu mau menemui dulu teman-teman yang sudah hadir," ucap Yaya berpamitan.


Yaya pun melangkahkan kakinya, tapi bukan untuk menemui teman-temannya melainkan dia memilih keluar dari gedung itu dan menunggu kedatangan Alvin.


"Vin ada apa sebenarnya ?


ada dimana kamu ?" gumam Yaya dengan wajah panik yang terlihat khawatir,


namun Yaya berfikir untuk mencoba menelphone ponsel Alvin yang selama ini tidak pernah ia lakukan.


(Call)


"Vin angkat Vin angkat,


kamu dimana," gumam Yaya.


Ajeng : Hallo, Alvin tidak akan pernah bisa kesana, jadi jangan bermimpi lo bisa menikah dengan Alvin, cewe miskin !


(Ternyata yang angkat telphone Alvin itu adalah Ajeng)


Yaya : Ajeng ! tolong jangan bersikap seperti anak kecil, lo tau siapa yang akan dirugikan nantinya, lo bertindak seperti ini kira-kira lo tau gak apa yang akan ayah Alvin lakukan terhadap Alvin, Jeng ?


kalau lo memang perduli sama Alvin tolong biarkan dia datang kesini dan menuruti permintaan ayahnya, dan lo hanya perlu bersabar karena lo sendiri pun tau pernikahan ini cuma 9bulan Jeng !


setelah itu lo bisa memiliki dia sesuka hati lo !


Ajeng : Kalian berdua jangan coba mempermainkan gua !


gua tau Alvin dengan sangat jelas, gua kenal dia jauh lebih lama dibandingkan sama lo, dia itu gak pernah membenci lo Yaya, dia itu bohong soal perasaannya, dia bohong sama gua !


apa lo senang sekarang !


Selesai berbicara tiba-tiba suara Ajeng tidak terdengar lagi karena ada seseorang yang mencoba merebut ponsel itu.


"Ajeng kembalikan ponsel gua Jeng !


lo jangan bersikap seperti ini !


kita sudah sepakat tentang ini Jeng !"


suara Alvin terdengar jelas oleh Yaya dari saluran telpone yang belum ditutup Ajeng.


"Tapi lo bohong Alvin !


lo bilang benci, ternyata kenyataannya berbeda !


lo selalu nolak gua karena alasan lo sudah menganggap gua seperti adik lo sendiri,


cuma lo coba jadi orang munafik dengan terus berpura-pura benci sama dia !" Ajeng memaki Alvin dengan nada tinggi.


"Cukup Jeng, kita bisa bahas ini nanti setelah acara gua selesai !


lo tunggu dirumah lo, acara selesai gua langsung kembali lagi kesini !" ucap Alvin mencoba kembali meyakinkan Ajeng yang terus tidak bisa menerima pernikahan Alvin.


Mendengar janji yang Alvin ucapkan akhirnya Ajeng pun melemah hatinya dan mengizinkan Alvin untuk pergi melanjutkan pernikahannya dengan Yaya.


Alvin : hallo.


Yaya : Ia.


Alvin : Gua kesana sekarang, tolong lo ulur waktu sebentar.


Yaya : Ia.


Terdengar suara nafas Alvin yang memburu, seperti orang yang sedang berlari lalu tidak lama Alvin menutup telpone itu.


Sementara Yaya tetap tidak beranjak dari tempat tadi dia berdiri, dia masih menunggu Alvin dengan gelisah, ia terus melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukan pukul 10.10, pihak keluarga dan para tamu undangan sudah mulai menanyakan kapan acara akan dimulai.


jam 10.25 akhirnya Alvin pun sampai dengan wajah penuh keringat, dengan suara tersendat-sendat Alvin mulai bicara.


"Yaya, Maaf aku telat," ucap Alvin yang membuat Yaya terkejut karena seorang Alvin bisa mengucapkan kata aku dan juga maaf.


"Tumben lo panggil nama gua dengan benar ? lo kesambet apa dijalan ?" tanya Yaya yang merasa aneh.


"gak usah dibahas, ini sudah telatkan !


ayo masuk !" ajak Alvin sinis


membuat Yaya tersenyum sangat tipis diujung bibirnya.


Semua orang berkumpul disatu tempat memperhatikan Yaya dan Alvin mengucap janji setia mereka sebagai pasangan suami istri.


"Saya berjanji akan selalu membuat istri saya bahagia, menyayanginya, mencintainya dan menjaganya sampai nanti," Alvin mengucapkan sumpah dan janji pernikahannya yang terdengar sangat lancar dan lantang.


"Saya berjanji akan selalu mendampingi suami saya, dalam kondisi apa-pun, berbakti dan selalu mencintainya, sampai nanti,"


ucap Yaya dia terdengar gelagapan karena suaranya diselingi dengan tangisan.


Setelah bertukar cincin dan semua proses selesai Yaya mengangkat tangan Alvin dan mencium punggung tangannya, begitu juga dengan Alvin yang mencium kening Yaya, kali ini ciuman Alvin terasa tulus dan tatapan mata Alvin terlihat sangat hangat.


"Vin, terimakasih," ucap Yaya setengah berbisik.


"Terimakasih untuk apa ?" tanya Alvin.


"Terimakasih karena hari ini lo bisa bersikap sangat natural sampai semua orang tidak ada yang curiga kalau kita sedang bersandiwara," ucap Yaya yang membuat Alvin kesal seketika.


"Gak usah dibahas !" gumam Alvin.


"Vin kalau memang lo harus pergi menemui Ajeng, gak apa-apa, nanti gua yang membuat alasan untuk kalau ada orang yang mencari lo, " ucap Yaya.


"Lo ngusir gua diacara gua sendiri, Hah !" seru Alvin sedikit tersinggung.


"Nggak gitu Vin gua fikir Ajeng lebih membutuhkan lo," jawab Yaya.


"Itu bukan urusan lo, dan lagi Ajeng bukan siapa-siapa untuk gua," jelas Alvin.


"Kenapa lo memberi tau gua kalau kalian gak ada hubungan ?


gua gak nanya Vin," Yaya mencoba mengajak Alvin sedikit bercanda agar tidak terlalu serius.


"Diam Yaya," pinta Alvin namun kali ini dia meminta dengan sangat baik.


Alvin menggenggam tangan Yaya dan menciumnya.


"Bisa gak hari ini saja kita lupakan masalah kita sebelumnya, hanya hari ini," pinta Alvin lagi.


Yaya tersenyum malu dan mengangguk pelan menyetujui permintaan Alvin yang sebenarnya Yaya juga dengan senang hati melakukannya.