Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 61



"Ya kenapa kamu harus bawa aku pergi ? kenapa kamu gak pernah biarkan aku untuk memberi dia pelajaran ?


apa kamu masih menyimpan rasa untuk dia ! makanya walaupun terus selalu disakiti kamu tetap saja membela dia ?" tanya Felix mulai kesal.


"Fel jangan salah faham dulu, sekarang aku tanya sama kamu, memangnya sudah berapa kali kamu memberi dia pelajaran ?


dan apa ada sedikit saja perubahan dari semua itu ?


nggak ada, kan !


yang ada hanya semakin kamu mencoba membalas dia, dia akan semakin membenci aku, jadi pelajaran yang kamu beri ke dia selama ini sia-sia saja, kan ?


sudahlah Fel sekarang ini, mau kamu atau aku kita hanya perlu jaga jarak saja dari dia,


dan masalah perasaan aku sama dia, itu biar jadi urusan aku.


Kamu gak perlu ikut campur, karena itu bukan urusan kamu ! " ucap Yaya menegaskan.


Felix terperanjat mendengar kata-kata Yaya, Yaya memang benar ini bukan urusannya,


Felix sadar dia sudah terlalu dalam ikut campur dengan urusan Yaya dan Alvin, walaupun maksud dan tujuannya itu baik agar Yaya tidak lagi disakiti oleh Alvin, dan


Felix melakukan itu semua karena Felix juga ada rasa pada Yaya, dan lagi Felix tidak mau melihat Yaya terus-menerus merasa sedih.


"Ya, apa kamu marah ?


maaf Yaya, aku memang salah, seharusnya aku gak bicara pakai nada tinggi tadi sama kamu, dan seharusnya aku gak pernah ikut campur dalam urusan kamu dan Alvin,


tapi asal kamu tau Yaya, aku melakukan ini semuanya karena aku juga punya rasa sayang untuk kamu, aku perduli sama kamu Yaya, jadi tolong pertimbangkan juga perasaan aku Yaya, dan berhenti melihat hanya kearah dia saja, tolong lihat kearah aku juga, sekali saja, aku mohon," ucap Felix seraya memegang kedua tangan Yaya.


Yaya terdiam memandang Felix, dia bergumam dalam hatinya.


"Aku bukan gak mau mempertimbangkan perasaan kamu Fel, aku begini karena aku merasa gak pantas untuk orang sebaik kamu, kamu lebih pantas mendapatkan orang yang sepadan dengan kamu," gumam Uaya dalam hatinya.


"Nggak Fel, kamu sama sekali gak bersalah, hanya saja aku gak mau kamu terus-terusan ribut sama orang seperti Alvin, karena sampai kapan juga dia gak akan pernah berubah, karena itu memang sudah wataknya.


Dan masalah perasaan kamu sama aku, maaf sekali karena untuk saat ini aku masih belum bisa menerima perasaan kamu Fel, aku gak mau nantinya aku hanya menjadikan kamu pelarian atau pelampiasan.


Intinya untuk saat ini aku cuma minta kamu untuk coba jaga emosi kamu, saat berhadapan dengan Alvin," jawab Yaya mencoba menjelaskan semua yang ia rasakan.


"Ia aku ngerti Ya, Aku juga minta maaf karena terlalu banyak merepotkan kamu selama ini, dan maaf kalau aku juga sempat kasar sama kamu," ucap Yaya.


Felix mengangguk seolah menerima semua penjelasan yang Yaya berikan padanya, tapi hatinya tetap tidak bisa menerima kalau dia harus tetap diam saja jika Alvin terus menyakiti orang yang ia sayang.


"Aku tidak bisa janji untuk tetap diam !" gumam Felix dalam hati.


Felix dan Yaya akhirnya kembali meneruskan langkahnya kekantin menemui Ocha disana, sesampainya pada Ocha mereka berdua sama-sama menekuk wajah mereka tanpa mencoba memulai pembicaraan satu sama lain.


kenapa wajah kalian seperti baju belum di setrika ?


dilipat-lipat gitu ?


apa ada yang aku gak tau ?" tanya Ocha.


Yaya tersenyum pada Ocha sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya.


"Nggak ada hal yang gak kamu tahu saudari Ocha, kita baik-baik saja, benarkan Fel ?" ucap Yaya seraya mencubit tangan Felix secara diam-diam tanpa diketahui oleh Ocha, cubitan Yaya mampu membuat Felix mengikuti kata-kata Yaya.


"Haha, ia benar Cha, gak ada apa-apa, cuma hari ini sedikit panas saja cuacanya, jadi lebih enak untuk diam," jawab Felix membenarkan kata-kata Yaya.


Ocha mengangguk membenarkan kata-kata dua sahabatnya,akan tetapi wajah Felix belum sepenuhnya ceria, unek-unek difikirannya belum seluruhnya tersampaikan,


tapi dia harus tetap berpura-pura baik-baik saja didepan Yaya dan Ocha.


kemudian Felix memulai lagi pembicaraannya.


"Cha lo sudah pesan makanan ?" tanya Felix.


"Sudah Fel, tinggal lo sama Yaya, mau pesan apa ?" tanya Ocha.


"Hm Yaya kamu mau makan apa biar aku pesankan sekalian ?" tanya Felix.


"Nggak perlu Fel, aku masih belum lapar, " jawab Yaya , yang kemudian menunduk kembali melihat keponselnya.


Ada perasaan bersalah dihati Felix pada Yaya, begitu juga dengan Yaya, ia juga merasa bersalah pada Felix, hanya saja mereka bingung harus berbicara bagai mana, dan mulai dari mana.


Saat semuanya hening kemudian datanglah makanan yang sudah Ocha pesan, Yaya memesan semangkuk baso kuah, dan menawarkannya pada Yaya dan juga Felix.


"Yaya Felix ayo makan," ajak Ocha.


Yaya yang tadinya menunduk seketika langsung melihat kearah Ocha yang menawarinya makanan, tapi saat Yaya melihat Ocha memakan baso itu, tiba-tiba Yaya merasa mual ingin muntah.


"Ya kamu kenapa ?" tanya Felix khawatir.


"Ia Ya kamu kenapa ?" Ocha juga mengulangi pertanyaan Felix.


"Nggak tau ini, aku tiba-tiba mual, perutku gak enak, mungkin aku masuk angin.


Aku permisi kekamar mandi dulu," pamit Yaya yang langsung berlari kekamar mandi, tangan kanannya membekap mulutnya agar tidak muntah dijalan, sedangkan tangannya yang kiri memegang kuat perutnya.


Ocha yang mengetahui semua apa yang terjadi pada Yaya mulai merasa curiga dengan mualnya Yaya yang secara tiba-tiba.