Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 75



Pihak dari keluarga besar mencoba menenangkan para tamu undangan yang datang, sementara itu Alvin mencoba mendekati Yaya.


"Ya ayo bangun, jangan duduk disini," pinta Alvin seraya mencoba memegang Yaya.


"Jangan sentuh gua Vin, jauhkan tangan lo, gua gak apa-apa," jawab Yaya seraya bangun dan berdiri dari duduknya.


Setelah semua tamu tenang, acara pun kembali berjalan namun Yaya dan Alvin tetap saling membisu tanpa mencoba berbincang satu sama lain.


Tidak sampai terlalu malam acara sudah selesai semua tamu dan sebagian keluarga besar pun sudah mulai pulang meninggalkan


kedua pengantin yang masih duduk dipelaminan.


"Ya," Alvin mencoba memulai pembicaraan, namun Yaya berusaha menghindarinya dengan segera berdiri dan pergi menuju ruang ganti, yang kemudian diikuti pula oleh Alvin, mereka mengganti baju mereka dengan setelan biasa, sambil menunggu semuanya selesai Yaya duduk diruang ganti sambil mendengarkan music dari ponselnya tidak lama kemudian Alvin yang sudah selesai mengganti bajunya datang dan kembali berusaha memulai pembicaraan.


"Hey, lo pulang kemana malam ini ?" tanya Alvin.


"Asrama," jawab Yaya singkat.


"Hm, itu artinya gua juga kesana ?" tanya Alvin mencoba mengajak Yaya bercanda


namun usaha Alvin tetap tidak mendapat respon dari Yaya, ia masih terus fokus memilih lagu diponselnya.


"Maksudnya biar gak ada yang tau kalau dibalik pernikahan kita itu ada sebuah perjanjian itu saja.


Lo gak mau kan kalau sampai ada yang tau masalah ini ?


dan orang-orang nanti pasti akan bergunjing masa sudah menikah suami tidur dimana istrinya dimana hehe (tertawa hambar )" kata Alvin kembali dengan candaannya,


tapi Yaya tetap diam.


"Hey tolong bicara sedikit saja," pinta Alvin seraya menyentil-nyentil dagu Yaya, ia fikir usahanya akan berhasil ternyata salah, ia malah membuat Yaya semakin kesal.


"Lo kenapa si ?


memangnya kita pernah sedekat ini ya sebelumnya ?


sampai lo berani bersikap seperti ini !" maki Yaya seraya berdiri dari duduknya,


diikuti oleh Alvin yang juga langsung berdiri, dan kembali tersulut emosinya, ia kembali menggenggam tangan Yaya dengan kasar seperti yang biasa ia lakukan.


"Gua sudah berusaha bicara baik-baik lo masih bersikap dingin juga, sekarang gua tanya lo mau nya apa !" seru Alvin, saat Yaya mencoba membuka mulutnya untuk menjawab, Alvin kembali bicara.


"Tunggu gak usah dijawab, karena gua tau mau lo apa !


ikut gua !" seru Alvin


seraya menyeret Yaya masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobil itu cukup kencang.


"Vin mau kemana ?" tanya Yaya mulai merasa terancam.


"Gak usah banyak tanya !" jawab Alvin ketus,


tidak beberapa lama kemudian mobil itu berhenti disebuah hotel berbintang yang sangat mewah.


"Vin untuk apa lo bawa gua kesini ?


lo gak ada niat jahat lagi, kan ?" tanya Yaya dengan wajahnya yang mulai memucat,


tapi Alvin hanya tersenyum sinis, tidak menjawab pertanyaan Yaya.


Alvin keluar dari mobilnya dan kembali menyeret Yaya masuk kedalam hotel itu dan ia memesan satu kamar untuk mereka berdua malam itu, setelah kamar didapatkan Alvin membawa Yaya kesana dan melemparkan tubuh Yaya keatas kasur.


Saat Yaya hendak bangun untuk memberontak Alvin melompat keatas tempat tidur dan menindih tubuh kecil Yaya sampai membuatnya sulit untuk bergerak.


Tanpa basa-basi dan tanpa berbicara sedikitpun, Alvin mencium Yaya dari bibir sampai kelehernya cukup lama, sampai suasana semakin memanas dan perlakuan Alvin menjadi semakin kasar.


"Alvin lepas !" teriak Yaya mencoba melepaskan rangkulan tubuh Alvin yang berada diatasnya, saat ia bisa lolos dari cengkraman Alvin, Yaya langsung berdiri menghadapnya dan melayangkan tamparan kewajah Alvin.


Terlihat jelas air matanya mulai menetes dengan derasnya, Alvin yang mulai merasa bersalah dengan wajah menyesal ia berusaha menggapai tubuh Yaya untuk kembali memeluknya namun kali ini ia berusaha selembut mungkin, namun ketika Alvin mendekat, Yaya pun melangkah mundur, sikap Yaya membuatnya sangat kecewa, ditambah lagi Yaya tanpa salam berbalik dan mencoba melangkah kearah pintu keluar.


"Yaya jangan pergi !" teriak Alvin menghentikan langkah Yaya.


"Aku mohon tetap disini, aku minta maaf untuk semua yang kamu dengar hari ini, dan aku minta maaf atas perlakuan aku selama ini, terutama malam itu, aku minta maaf, aku salah," ucap Alvin yang tidak lagi menggunakan kata-kata caciannya.


Hati Yaya sedikit luluh mendengar Alvin meminta maaf padanya, ditambah lagi ia menyebutkan nama Yaya dengan sangat jelas, tapi entah apa yang membuat Yaya berat untuk menjawab permintaan maaf Alvin, sampai membuatnya tetap mengunci mulutnya sendiri.


"Yaya asal kamu tau,


Aku merasa sakit Ya, sakit saat aku bilang benci, aku sakit saat aku bilang kamu bebas menjalaninya dengan orang lain, hanya dengan membayangkannya saja bisa membuat aku gila Yaya, aku gak tau apa yang terjadi sama diriku sebenarnya, aku hanya tidak mengerti !" ucap Alvin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Vin, mungkin kamu hanya sedang lelah saja, atau setres karena terlalu banyak yang kamu fikirkan, lebih baik sekarang kamu istirahat, besok aku yakin semuanya akan kembali seperti biasa lagi, sekarang aku harus pulang," jawab Yaya mencoba menghindar dari arah pembicaraan Alvin.


"Lihat aku Yaya,


(seraya membalikan tubuh Yaya untuk melihat kearahnya)


Aku gak merasa lelah, dan aku juga gak lagi mabuk, aku sepenuhnya sadar dengan ucapanku, Ajeng benar saat dia bilang bahwa aku ini munafik karena aku selalu mengumbar kata benci sama kamu, dan aku gak mengerti maksud dia apa.


Tapi jujur Yaya saat ini pun aku juga masih belum mengerti akan perasaan ku sendiri


tapi yang jelas setiap kali kamu melangkah pergi dari hadapan ku, rasa sakit dan hancur itu sama seperti saat ibu ku pergi meninggalkanku hari itu, rasa putus asa seolah takut gak akan bisa bertemu lagi sama seperti tidak bisa bertemu ibuku selamanya," ucap Alvin seraya meneteskan air matanya dihadapan Yaya untuk pertama kalinya.


Yaya memeluk Alvin dan mengusap-usap rambut dan punggung Alvin mencoba untuk menenangkannya.


"Jangan menangis Vin, aku gak akan pergi kemana-mana, aku akan tetap disini kalau memang kamu menginginkan aku tetap disini,"ucap Yaya.


"Jangan pergi !" gumamnya dengan suara tersendat oleh tangisan .


"Udah Vin, berhenti menangis, kalau sampai ada yang tahu seorang Alvin yang terkenal galak, saat menangis seperti bayi apa kamu gak malu," goda Yaya.


Alvin menatap Yaya, dan tersenyum tipis seraya membersihkan wajahnya dari air mata.


"Hm, ok apa kamu masih mau menjelaskan tentang hal tadi sama aku Vin ?


kebetulan aku mau mendengarnya," tanya Yaya.


Alvin menggenggam jemari tangan Yaya dan membawanya untuk duduk agar lebih santai, kemudian ia memulai penjelasannya.


"Sebenarnya dari jaman kami masih ditaman kanak-kanak, sampai sekarang dia tidak pernah terlihat punya kekasih, padahal dia cantik, sampai akhirnya aku tahu saat dia mengatakannya sendiri bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku dari kami kecil. Tapi aku selalu memberikan pengertian padanya, bahwa aku sudah menganggap dia seperti adik ku sendiri, tapi dia tidak mau mengerti.


Makanya tidak heran dia selalu berusaha cukup keras untuk menjauhkan kamu dari aku,"


"Kenapa kamu berfikir seperti itu ?" tanya Yaya.


"Aku bicara bukan tanpa alasan Ya, itu semua terbukti karena setiap aku punya pacar, dia juga selalu punya cara untuk membuat kami berpisah apa-pun itu, mungkin kali ini juga sama Ajeng memanfaatkanku dengan merekam pembicaraan kami saat aku masih mencari arti perasaan ku," ucap Alvin menjelaskan.


"Maksudnya disaat kamu membenci aku begitu ?" tanya Yaya spontan.


"Hm bisa dibilang begitu juga, tapi Yaya jujur, maksud aku (menghancurkan) itu bukan berarti aku memang punya rencana untuk melakukannya malam itu, aku cuma mau kasih efek jera sama kamu bukan sampai berbuat jauh seperti ini.


Kalau masalah aku melakukannya itu murni karena aku dibawah pengaruh minuman, dan aku juga gak habis fikir kenapa bisa bangun disamping kamu hari itu," ucap Alvin menjelaskan.


"Sudah gak usah dibahas lagi masalah itu Vin, sekarang ada yang ingin aku tanya lagi, ini mengenai kesepakatan yang kalian buat, boleh tau itu tentang apa ?" tanya yaya .


"Ia kesepakatan untuk gak pernah bahas masalah perasaan Ajeng sama aku, dan perasaan aku sama kamu, tapi dia tetap bahas, dan yang membuat aku marah itu saat dia berbicara kasar tentang kamu, lalu aku memaki-maki dia dirumahnya pagi tadi, mungkin itu yang membuatnya jadi dendam dan membalas ku dengan cara ini," jelas Alvin.


"Hm, aku faham Vin, itu artinya dia takut kehilangan kamu Vin, seharusnya kamu bangga karena dia mencintai kamu sedalam itu," ucap Yaya.


"Oh ya ?


Lalu bagaimana dengan perasaan kamu sendiri ?" tanya Alvin dengan wajah serius.


Pertanyaan Alvin berhasil membuat Yaya tersipu, sementara ia tengah mencari cara untuk menyembunyikan wajah merahnya, Alvin terus menatapnya seraya menagih jawaban atas pertanyaannya.