Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 35



Setelah cukup lama akhirnya kamipun sampai didepan asramaku.


"Fel , makasih banyak untuk malam ini ,dan maaf selalu melibatkan kamu dalam setiap masalah aku," ucapku dengan sangat menyesal.


"Yaya apa-pun itu kalau tentang kamu, aku akan selalu melakukannya dengan tulus, dan selalu berada didepan untuk membantu kamu, kamu bisa minta bantuan apa-pun sama aku , aku usahakan aku selalu ada buat kamu Yaya, " jawab Felix seraya menggenggam tanganku.


Felix mencoba mendekatkan wajahnya kewajahku sama seperti yang tadi kulakukan dipesta Alvin, mungkin dia mau menciumku lagi kali ini, tanpa fikir panjang aku menghindarkan wajahku darinya.


"Fel maaf , sudah malam, aku harus masuk sekarang besok aku ada kelas pagi.


Sekali lagi makasih sudah antar aku pulang Fel," ucapku berpamitan dengannya sambil tersenyum hambar.


#Author


Setelah berpamitan Yaya turun dari mobil Felix, menutup pintu dan melambaikan tangannya saat Felix pergi.


Kemudian Yaya melangkahkan kakinya masuk asramanya dengan langkah putus asa, mungkin dia masih memikirkan nasib ulang tahun Alvin yang hancur berantakan.


Malam itu bisa dibilang jadi malam terburuk untuknya dan Alvin, seandainya saja keduanya bisa sedikit menahan emosi mungkin tidak akan sampai seperti ini jadinya.


Malam itu sangat cepat berlalu, waktu aktivitas pagi akan segera dimulai , Yaya sudah bersiap untuk berangkat kekampus.


Tidak seperti biasanya pagi itu Felix tidak membunyikan klaksonnya, melainkan dia hanya menunggu dengan tenang didepan asrama Yaya .


Yaya menghampiri Felix yang terlihat tersenyum dari kejauhan ia pun juga berusaha untuk tersenyum membalas senyuman Felix.


"Jemput lagi ?" tanya Yaya dengan senyum menyindir.


"Gak boleh ?" tanya Felix balik Ke Yaya.


"Fel, " Yaya tersenyum sembari melotot.


"Aku cuma mau kamu tau Yaya kalau kamu itu prioritas keduaku, karena yang pertama adalah mamaku ," jawab Felix dengan serius.


"Ayo naik, nanti telat nangis dibelakang gedung lagi, repot nyarinya , haha" ledek Felix.


"Kapan aku pernah nangis karna telat Fel ?


aku gak pernah telat ! " protes Yaya sembari mencubit perut Felix.


"Ia ia ampun Yaya, kebiasaan kamu cubit-cubit aku, nanti dicubit balik gak mau !" ucap Felix.


Yaya menaikan bahunya dan tersenyum,


merekapun berangkat kekampus naik motor Felix , setelah sampai Felix langsung berpamitan pergi.


"Belajar yang benar , jangan malas-malas nanti dicium, haha" nasehat Felix


yaya mengerutkan keningnya saat Felix mengacak-acak rambutnya, Felix bersikap seolah ia dan Yaya benar-benar menjalin hubungan.


"Felix berantakan," protes Yaya.


"Manyun terus, tapi gak apa-apa kamu lucu soalnya, hehe" godanya.


"Apaan si pergi sana !" jawab Yaya pura-pura marah.


"Ok aku pamit ya," ucap Felix berpamitan.


"Pamit ?


mau kemana ?


kok gak parkir ?


memangnya kamu gak ada kelas hari ini ?" tanya Yaya panjang.


"Wow, santai mbak satu-satu nanyanya.


Ini nanya apa lagi introgasi, berasa jadi pacar yang sesungguhnya,hahah " jawab Felix bercanda.


"Serius Fel !" Yaya mulai geram , dan hendak mencubitnya lagi.


"Eh tunggu dulu, sudah jangan dicubit mulu akunya, sebenarnya hari ini aku gak ada kelas,cuma sengaja saja ingin antar kamu kekampus, " jawabnya sambil tersenyum.


Jawaban Felix membuat Yaya terdiam.


"Seperhatian dan seperduli ini kamu sama aku Fel, aku belum tentu bisa membalas semua perhatian yang kamu kasih ini," gumam Yaya dalam hati.


"Hei, diam saja kenapa ?


terpesona ya ?" tanya Felix menyombongkan dirinya.


hm Fel," panggil Yaya lagi.


"Hm," jawab Felix melirik Yaya.


"Jangan terlalu baik sama aku ya.


Aku takut salah mengartikan kebaikan kamu ," kata Yaya dengan nada memohon.


"Hei sini aku bisikin, kamu mau mengartikan tentang kebaikan aku seperti apa-pun dan gimana juga terserah kamu.


Karena aku gak pernah merasa dirugikan sama sekali memberi kamu perhatian," jawab Felix masih dengan senyum manisnya.


"Hm, makasih Felix," jawabku sambil mengangguk pelan.


"Gak usah mikir macam-macam Yaya.


Yasudah aku pulang, kamu baik-baik belajarnya," pesab Felix kembali menasehati Yaya.


Setelah Felix pergi meninggalkan Yaya,


Yaya tetap berdiri di tempatnya tidak mencoba beranjak sedikitpun, sambil melihat Felix sampai benar-benar tidak terlihat lagi.


#Yaya


"Bukan itu sebenarnya maksud aku bilang jangan terlalu baik sama aku, Fel.


Aku hanya gak mau kamu terluka kalau seandainya kamu benar-benar punya perasaan lebih sama aku, karena aku sendiri saja gak tau sebenarnya perasaanku untuk siapa, tapi aku akan tetap mencoba membuka hati aku buat kamu, dulu aku suka sama kamu Fel, tapi tidak tau kenapa akhir-akhir ini aku mulai ragu," gumamku dalam hati.


Aku berjalan seraya terus berfikir membuatku sampai kelas tak terasa.


Saat masuk aku melihat Alvin sudah duduk ditempatnya, dimeja paling belakang dan didepan meja Alvin itu adalah mejaku,


tapi aku tidak mau duduk disitu, aku menghampiri Rini yang duduk dimeja paling depan dan memintanya bertukar tempat.


"Rin bisa tukar gak duduknya ?" tanyaku pada Rini.


"Kenapa ?" tanya Rini lagi.


"Hm gak apa-apa, cuma telingaku agak sakit akhir-akhir ini, aku takut kalau dibelakang gak terlalu terdengar," ucapku membuat alasan pada Rini.


"Oh gitu, boleh deh, " jawab Rini setuju.


"Makasih banyak ya Rin," ucapku sambil tersenyum.


Sementara Rini langsung pindah kemejaku, aku juga segera duduk ditempatnya.


#AUthor


Avin memandang kesal kearah Yaya, sepanjang pelajaran berlangsung Alvin tidak pernah sekalipun mencoba tidak menatap Yaya , mungkin ia berharap Yaya akan melihatnya, sikap Alvin ini membuat Ajeng merasa kesal.


#Ajeng


"Apa-apaan si Alvin !


awas aja lo Yaya " gumamku dalam hati.


Aku mendekati Yaya dan membisikannya sesuatu.


"Ya, tadi lo disuruh ke gudang belakang kampus sekarang ambil alat peraga, mau dipakai siang ini, untuk praktek," bisikku pelan.


"Oh yasudah aku ajak Ocha dulu," jawabnya.


"Eh gak usah lo sendiri saja, Ocha lagi serius belajar itu kasihan," ucapku meyakinkannya.


"Hm ia deh ," jawabnya.


Yaya langsung pergi ketempat yang aku sebutkan.


"Dasar ****," gumamku tertawa jahat.


#Author


Ajeng mengikuti langkah Yaya kegudang yang berada lumayan jauh dari ruang kelas,


setelah Yaya sampai digudang Ajeng mengunci pintu gudang itu, dan kembali kekelas tanpa memperdulikan Yaya yang berteriak minta pertolongan.


"MAMPUS !" gumam Ajeng seraya membuang kunci gudang itu.