
Keesokan harinya tiba saatnya kedua belah pihak keluarga untuk saling bertemu, keluarga Alvin datang kekampung orang tua Yaya untuk menyampaikan niat mereka meminang Yaya, sedangkan Yaya sendiri sudah berada disana terlebih dahulu.
Saat keluarga Alvin sampai disambut dengan baik oleh keluarga besar Yaya yang belum mengetahui masalah yang sebenarnya.
Mereka duduk bersama mendiskusikan bagaimana baiknya tanggal pernikahan Alvin dan Yaya, mereka duduk tidak terlalu jauh saat itu, hanya ada beberapa orang yang membatasi mereka.
Setelah semua keluarga menyetujuinya sudah diputuskan mereka akan menikah 10 hari setelah pertemuan itu dilaksanakan.
Ditengah perbincangan berlangsung Yaya terus melihat ponselnya sepertinya Yaya sedang berkirim pesan dengan seseorang. Alvin terus memperhatikannya dengan rasa penasaran.
Tak lama kemudian Yaya dipanggil oleh ibunya untuk menyiapkan jamuan tambahan untuk para tamu yang menghadiri pertemuan.
Alvin menggunakan kesempatan itu untuk mengambil ponsel Yaya yang ia tergeletak ditempatnya duduk tadi, Alvin membawanya keluar dari rumah Yaya.
"Gua penasaran lo kirim pesan sama siapa kenapa lo harus seserius itu !" gumam Alvin seraya mengutak-atik ponsel Yaya, ketika ia tengah asik memeriksa ponsel Yaya tiba-tiba saja ada pesan masuk saat Alvin tengah mencari-cari aplikasi pesan diponsel Yaya, ia membuka pesan masuk baru itu, dan ternyata itu dari Felix, ia membaca pesan itu dari awal agar ia bisa tau apa yang sedang mereka bahas.
Chat :
Felix : Yaya, aku dengar dari Ocha, hari ini Alvin dan keluarganya datang menemui keluarga kamu, apa itu benar ?
Yaya : Benar Fel, mereka sedang berdiskusi sekarang.
Felix : Maaf Yaya, bukan ini sebenarnya tujuanku memberi tahu keluarga Alvin tentang keadaan kamu, aku hanya kasihan sama calon anak kamu.
yaya : Gak apa-apa Fel, harusnya aku berterimakasih karena berkat kamu, anak aku akan tetap punya ayah walaupun ayahnya masih belum mau mengakuinya.
Felix : Yaya, sebenarnya aku bisa jadi ayah untuk anak kamu, aku bisa menyayangi dia seperti anak aku sendiri, jadi kamu gak harus melakukan ini.
Kenapa kamu rela menikah sama orang yang membenci kamu Yaya ?
dan kamu sadar gak, kalau kamu akan hidup dibawah tekanan dia untuk waktu yang tidak sebentar ?
Yaya : Felix aku sayang sama kamu, karena rasa sayang itu, aku gak mau membuat kamu bertanggung jawab atas apa yang tidak kamu lakukan.
Fel, percaya sama aku, kamu berhak mendapatkan wanita yang terbaik, tapi itu bukan aku.
kita berdoa saja Sesemoga Alvin bisa menerima anaknya, walaupun dia tidak bisa menerima aku.
Felix : Tapi aku cuma mencintai kamu Yaya, aku janji setelah Alvin nanti menceraikan kamu, aku akan merebut hati kamu lagi, aku masih belum menyerah untuk itu Yaya.
Alvin terdiam senyumnya kini menghilang dari wajahnya yang tampan, ia menggenggam kuat ponsel Yaya setelah ia membaca isi pesan Felix yang bahkan rela bertanggung jawab walaupun itu bukan perbuatannya, dan sedikit demi sedikit ia mulai mengetahui kebenarannya walaupun ia belum yakin sepenuhnya.
"Ternyata gua salah paham selama ini," gumam Alvin.
"Tapi Felix, jangan harap lo bisa mendapatkan apa yang sudah menjadi milik gua !" gumamnya lagi.
Ditengah lamunannya Alvin dikejutkan oleh Yaya yang tiba-tiba datang dan merebut ponselnya dari tangan Alvin.
"Kenapa ponsel gua ada di lo Vin ?" tanya Yaya.
"Hm, Tadi itu lo simpan sembarangan, gua takut dibawa orang, jadi gua bawa saja," jawab Alvin salah tingkah.
Yaya menggelengkan kepalanya dan menghindar dari Alvin,
"Nak Alvin," panggil suara itu.
ternyata itu adalah ibu dari Yaya.
Alvin menyambut tangannya dan mencium tangan ibu Yaya.
"Ia bu," jawab Alvin tidak kalah lembutnya.
"Ibu sudah tau semuanya apa yang terjadi sama nak Alvin dan Yaya,
Yaya sudah bercerita tentang kebaikan nak Alvin selama ini pada Yaya.
Nak Yaya itu gadis yang baik, dia sangat pintar, dan juga mandiri, dia tidak pernah menyusahkan ibu dan bapak, dari SMP dia sudah mulai mencari uang untuk pendidikannya sendiri, dia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun selama ini, makanya ibu takut setelah dia kuliah dan bertemu laki-laki di kota dia akan dimanfaatkan karena kepolosannya, tapi kekhawatiran ibu sudah tidak perlu lagi, karena ibu yakin nak Alvin pasti bisa menjaga dan membimbing Yaya dengan baik, seperti apa yang diceritakan oleh Yaya," ucap ibu Yaya yang membuat Alvin merasa malu dengan tingkahnya yang berbanding terbalik dengan apa yang diceritakan Yaya kepada ibunya, Alvin hanya bisa menjawab sekenanya saja.
"Ia bu, Alvin akan berusaha menjaga Yaya dan membimbingnya," jawab Alvin.
"Terimaksih nak Alvin untuk tidak melihat Yaya dari materinya," ucap ibu Yaya.
"Ia bu," jawabnya singkat.
Setelah selesai berbincang ibu Yaya dan Alvin kembali masuk kedalam dan bergabung dengan yang lain, tak lama kemudian disusul dengan kedatangan Yaya.
Semua orang dipertemuan itu menyantap hidangan yang telah disediakan, kecuali Yaya.
Alvin tidak melepaskan pandangannya dari Yaya sedikitpun, Yaya yang terlihat menahan rasa mual, bagai suami siaga Alvin langsung berdiri dan menghampiri Yaya.
"Lo kenapa ?" tanya Alvin dengan nada rendah setengah berbisik.
"Gak apa-apa, cuma sedikit pusing," jawab Yaya datar, yang membuat Alvin kembali kesifat aslinya.
"Lo harus tahan, jangan minta perhatian dari semua orang, atau lo ingin keluarga besar lo semua tau kalau lo itu sebenarnya sedang hamil !" ucap Alvin.
Yaya menatap tajam kearah Alvin yang seketika membuat Alvin juga terdiam, dan akhirnya ia kembali ketempatnya duduk semula.
Setelah semuanya selesai, hasil diskusi sudah didapatkan, pertemuan itu akhirnya dibubarkan.
Semua orang kembali kerumah mereka masing-masing, begitu juga Yaya dan keluarga Alvin yang ikut berpamitan untuk kembali lagi kekota, karena esok hari harus beraktifitas lagi seperti biasa.
Karena tidak ada kendaraan lain, mau tidak mau Yaya naik mobil yang sama dengan Alvin , mereka berdua duduk dikursi belakang,
malam itu sepanjang perjalanan suasana dalam mobil itu hening karena tidak ada yang memulai pembicaraan.
Alvin memandang kearah Yaya, yang tertidur pulas dengan kepalanya menempel dikaca jendela mobil, Alvin menyelipkan tangannya untuk menahan kepala Yaya agar tidak terbentur kaca.
Tanpa mencoba berpaling Alvin terus memandangi wajah Yaya yang terlihat sangat lelah, dan banyak beban.
"Apa aku penyebab semua lelah dan beban yang kamu fikirkan Yaya ?" gumam Alvin dalam hatinya.
Alvin tidak pernah memandang wajah Yaya sampai lama seperti ini sebelumnya.
Kini hanya perlu menunggu waktu sampai Alvin benar-benar sadar kalau yang ia rasakan itu perasaan sayang, bukan sekedar rasa kasihan.