
Setelah kelas hari itu selesai, Ocha mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi Felix.
Felix : Hallo Cha, kelas lo sudah selesai ?
Ocha : Sudah Fel, Fel lo dimana ?
Felix : Dikantin Cha, mau lo yang kesini atau kita ketemu diparkiran biar langsung jalan ?
Ocha : Diparkiran saja Fel, menghemat waktu.
Fellix : Ok, sampai ketemu diparkiran.
Setelah mereka bertemu, akhirnya Ocha dan Felix bersiap untuk mencari dimana keberadaan Yaya, karena sampai sekarang ponsel Yaya tetap tidak bisa dihubungi.
"Fel sudah dapat kabar dari Yaya ? " tanya Ocha.
"Belum Cha, lo sendiri gimana ?" tanya Felix.
"Sama Fel, bahkan sekarang ponselnya juga gak bisa dihubungi, gua bingung harus mulai cari Yaya dari mana ?
karena yang gua tau gak banyak tempat yang dia sering kunjungi, diluar kampus dia paling langsung pergi bekerja," ucap Ocha menjelaskan kebiasaan sehari-hari Yaya.
"Gimana kalau kita mulai dari rumah Alvin ?
siapa tahu saja dia langsung pergi mengajar ," usul Felix.
"Ia Fek, kita harus mencoba segala kemungkinan Fel " jawab Ocha.
Merekapun memulai pencarian mereka hari itu dirumah Alvin, sesampainya disana mereka bertemu dengan pengasuh keponakan Alvin dan mulai berbincang dan bertanya.
"Mba maaf kita temannya Yaya, dan maksud saya sama teman saya kesini mau bertanya, apa hari ini Yaya datang untuk mengajar ?" tanya Felix.
"Oh mbak Yaya, kebetulan masih belum mulai mengajar hari ini mas, karena non Avina belum sembuh total, saya dengar mulai mengajar lagi minggu depan, mas " jawab pengasuh itu.
"Hm mba tau gak setelah selesai mengajar biasanya Yaya kemana ?" tanya Ocha.
"Kurang tau mba setahu saya cuma mba Yaya selain kerja disini dia juga jadi pelayan dibar," ucap pengasuh itu memberi informasi.
"Oh gitu kalau begitu terimakasih ya mbk, maaf mengganggu waktunya," ucap Ocha.
Merekapun berpamitan dan keluar dari gerbang rumah Alvin, sebelum pergi mereka sempat berbincang dulu didepan gerbang itu.
"Fel, kalau masalah Yaya kerja dibar bahkan lo juga pasti tau, kan ?" tanya Ocha.
"Ia Cha, dan intinya pencarian kita di rumah Alvin gak menghasilkan apa-apa, semuanya sia-sia saja Cha," gumam Felix putus asa.
Disaat mereka hendak pergi dari depan rumah Alvin, mereka dikejutkan dengan suara klakson mobil, diikuti dengan turunnya si pemilik mobil dan langsung menyapa mereka dengan cara yang sangat tidak sopan.
"Heh , ngapain lo berdua kerumah gua ?
apa lo berdua fikir si miskin ada dirumah gua, ya ?" ucap Alvin.
Felix yang saat itu sudah naik diatas motornya kembali turun dan hendak menghampiri Alvin, tapi ocha menahannya.
"Fel, lo tau orang gila, kan ?
kalau orang gila itu mau ngomong apa saja itu bebas Fel.
Lo orang waras jadi gak usah meladeni orang gila seperti dia, buang-buang waktu !
mending kita teruskan cari Yaya pacar lo," ucap Ocha menyindir Alvin.
Mendengar kata-kata Ocha membuat Felix tersenyum sementara Alvin mengerutkan keningnya dan menajamkan pandangannya kearah Felix dan Ocha, karena kesal dengan sindiran-sindiran Ocha.
"Awas lo cha, berani-beraninya lo menghina gua, mau lo bilang si miskin pacar Felix atau bukan memangnya gua perduli !
gua ingin tau apa reaksi lo berdua kalau tau gua pernah tidur sama si miskin itu, haha " gumam Alvin yang saat itu terlihat sangat kesal, tapi masih bisa tertawa hambar.
Alvin kembali masuk kedalam mobilnya dan memarkirkan mobilnya didepan rumahnya,
"Hei keponakan om Avin kenapa gak mau makan sayang ?" tanya Alvin.
"Nggak mau om Avina mau disuapin sama bu guru, om bohong katanya kalau Avina sudah pulang dari rumah sakit bu guru akan datang," ucap Avina dengan bibirnya yang dimanyunkan.
"Sayang, bu gurunya lagi sibuk.
Memang Avina mau nanti saat bu guru datang terus bu guru lihat Avina sakit lagi ?
bu guru pasti sedih, Avina mau bikin bu guru sedih ?" ucap Alvin mencoba merayu Avina.
"Om Avin bohong, Avina tunggu dari pagi buktinya bu guru gak datang juga, om Avin bohong," ucap Avina mulai merajuk pada Alvin.
"Avina sayang, " Alvin mencoba merayu
Avina lagi.
"om Avin, Avina mau ketemu bu guru, Avina ingin belajar lagi sama bu guru.
Kenapa si om Avin jahatin bu guru terus, jadi bu guru nangis terus gara-gara om Avin, makanya bu guru gak mau jenguk Avina karena om Avin jahatin bu guru !" gadis kecil itu berteriak pada Alvin dan berlari kekamarnya.
Alvin melihat keponakannya berlari sambil menangis hanya gara-gara wanita yang ia benci.
"Sialan, si miskin punya apa sampai-sampai semua orang suka sama dia, bahkan Avina lebih memilih dia dari pada gua," gumam Alvin kesal.
Sementara Alvin masih disibukan oleh keponakannya yang tidak mau makan ,
Felix dan Ocha masih terus mencari dimana keberadaan Yaya, mereka mengunjungi bar tempat Yaya bekerja, tapi disanapun sia-sia saja, tidak ada yang bisa memberi kabar juga disana tentang Yaya.
Kemudian Felix dan Ocha memutuskan untuk beristirahat sebentar didekat mini market.
Ocha membelikan Felix minuman dan beberapa camilan, mereka melepas dahaga sejenak, sebelum melanjutkan mencari Yaya.
"Ini Fel buat lo, minum dulu," ucap Ocha seraya memberikan botol minum.
"Terimakasih Cha.
Cha harus kemana lagi kita cari Yaya ?
ini sudah lumayan larut Cha, orang tua lo juga pasti khawatir sama lo, lebih baik lo gua antar pulang saja, biar gua cari Yaya sendiri," ucap Felix.
"Gak apa-apa Fel, gua melakukan ini semua demi Yaya sahabat gua, santai saja gua juga sudah bilang sama ibu gua kalau malam ini gua gak balik karena mencari Yaya yang hilang," jawab Ocha mencoba membuat Felix sedikit terbantu olehnya.
"Yaya beruntung punya sahabat seperti lo Cha," gumam Felix.
"Yaya juga beruntung punya seseorang yang sangat mencintainya seperti lo Fel.
Lo yang sabar, gua yakin suatu saat Yaya pasti bisa menerima lo Fel," ucap Ocha menasehati Felix.
Felix mengangguk dan tersenyum tipis.
Disaat mereka tengah asyik berbincang ponsel Ocha tiba-tiba berdering, Ocha mengeluarkan ponselnya dan melihat siapa yang menelphonenya malam-malam begini.
Tapi Ocha terkejut karena ternyata panggilan itu dari (YAYA) orang yang sedang mereka cari-cari.
"Fel, Fel, Fel " panggil Ocha pada Felix yang saat itu dalam kondisi putus asa.
"Ia ada apa Cha ?" tanya Felix tanpa melihat kearah Ocha .
"Coba lihat dulu siapa yang menghubungi gua Fel, " pinta Ocha.
"Memangnya siapa, kenapa harus sampai seheboh i--tu," jawab Felix terbata-bata
sama dengan Ocha Felix juga terkejut, karena mereka sudah putus asa sebelumnya.
Memang benar sesuai namanya Cahaya dia selalu menerangi jalan mereka dan memberi ketenangan pada mereka berdua.