
Karena kondisi jalan yang hancur diperkampungan itu membuat laju mobil tidak stabil, tubuh Yaya ikut terguncang, karena posisi mereka terlalu dekat membuat kepala mereka berbenturan satu sama lain, itu membuat Yaya terbangun, Yaya membuka matanya sementara ia melihat Alvin menutup matanya menghadap Yaya, saat ini posisi mereka sangat dekat, hampir tidak ada jarak.
"Vin," sapa Yaya tanpa ekspresi.
"Hm, lo sudah bangun ?
jangan salah paham, jalan kekampung lo ini sangat jelek, gua keguncang jadi makin dekat sama lo !" jawab Alvin seraya bergeser menjauh dari Yaya.
Alvin terlihat salah tingkah, sementara Yaya terus diam dan menunjukan ekspresi tidak perduli dengan apa yang Alvin katakan.
"Lo tidur seperti orang mati saja !
masa dijalan jelek seperti ini saja lo masih bisa tidur pulas, kampungan ! " ucap Alvin mencoba mencari gara-gara, agar Yaya mau bicara tidak hanya diam.
Tapi sayangnya Yaya tetap diam, dan mengunci mulutnya, sampai terdengar ponsel Yaya berdering, Alvin mencoba melihat secara diam-diam siapa yang menelphone Yaya tengah malam seperti ini.
(call)
Yaya : Hallo Fel,
.....
Yaya : Ia aku lagi dijalan pulang keasrama, kamu lagi dimana ?
.....
Yaya : Hm, kamu mau tetap menunggu aku ?
.....
Yaya : Ia sudah, sepertinya aku juga sebentar lagi sampai, kalau begitu sampai bertemu Fel.
Hanya terdengar suara Yaya tanpa tau apa yang lawan bicaranya katakan, Alvin mulai terbakar rasa penasaran dan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya .
"Siapa ?
Felix ?" tanya Alvin.
Yaya hanya mengangguk menjawab pertanyaan Alvin.
"Ya ampun dia romantis sekali ternyata, baru juga sehari tidak bertemu sudah sibuk bertanya terus, apa lagi nanti saat lo jadi istri gua, bisa-bisa gila mungkin itu orang.
kenapa lo gak nikah sama dia saja ?
bukannya dia bilang mau bertanggung jawab sama lo dan bayi lo ?
buktinya dia sampai rela nunggu lo gua ceraikan," ucap Alvin yang membuat Yaya menatap tajam kearahnya.
"Dari mana lo tau tentang ini ?
dan mau dia menunggu gua atau gak, itu sama sekali bukan urusan lo, Vin kalau memang lo keberatan lo bisa mundur dari sekarang, mumpung belum ada persiapan apa-pun !" seru Yaya.
Kata-kata Yaya membuat wajah Alvin berubah jadi sangat menyeramkan, Alvin menatap tajam kearah Yaya.
"Lo dengar baik-baik, gua gak akan pernah mundur !
sebelum gua berhasil membuat lo menderita , karena pilihan lo menikah sama gua !" ucap Alvin menggertakan giginya.
"Walapun gak menikah sama lo, gua memang sudah sangat sering menderita Vin, silahkan mau lo hancurkan segimanapun juga gua akan bertahan hanya sampai anak ini lahir," jawab Yaya.
"Ia gua faham, karena setelah anak itu lahir lo bisa bebaskan jalan sama laki-laki mana saja yang lo mau !
pada dasarnya lo memang sudah gampangan !
semoga saja anak lo gak seperti ibunya kelakuannya, " sindir Alvin.
Yaya menghela nafas panjang dan mencoba mengabaikan omongan Alvin, dia kembali memainkan ponselnya, sementara Alvin masih dengan amarahnya yang belum juga reda.
Tak lama berselang akhirnya mobil itu sampai didepan asrama Yaya.
Alvin melihat dengan jelas Felix duduk diatas motornya masih menunggu Yaya pulang.
Setelah berpamitan Yaya berjalan menghampiri Felix, dan Felix mengacak-acak rambut Yaya, disambut dengan tawa kecil Yaya dan Felix malam itu.
Pemandangan itu cukup membuat Alvin kesal ia mengerutkan keningnya, tanpa banyak berfikir Alvin turun dari mobil itu, dan menghampiri mereka kemudian menarik tangan Yaya menjauh dari Felix dan menggenggamnya dengan kasar,
Yaya dan fellix secara bersamaan melihat aneh kearah Alvin.
"Kenapa ?
kalian gak terima ?
Felix harusnya lo sadar diri dia calon istri gua, dan gua minta lo untuk mulai jaga jarak sama dia.
Dan lo, lo memang gak pernah cukup sama satu laki-laki ya ? sampai lo harus mencari perhatian dari semua laki-laki !" tanya Alvin.
"Kenapa lo diam ?
jawab gua !
lo gak cukup dengan satu laki-laki, kan ?" tanya Alvin dengan emosi yang meledak-ledak.
"Lepas sakit Vin !" seru Yaya,
akhirnya Alvin mengalah dan melepaskan genggaman tangannya.
Setelah itu tidak ingin berlama-lama dengan Alvin Yaya meminta keduanya untuk segera pergi namun Yaya hanya berbicara dengan Felix saja.
"Fel pulang sudah malam,
aku masuk dulu, sampai ketemu besok ," ucap Yaya.
"Hei, besok papa bilang kita harus foto prewedding, lo gak bisa jalan sama dia seenak lo !" ucap Alvin mencoba mengingatkan Yaya tentang siapa Alvin untuknya saat ini.
"Vin, lo gak bisa ngatur Yaya karena lo sama dia hanya sebatas pernikahan sementara," jawab Felix.
"Lo gak usah ikut campur Fel, memang lo siapa ?" tanya Alvin seraya menarik kerah baju Felix.
"Cukup !!!
Alvin apa lo gak pernah berfikir semua yang dikatakan Felix itu semuanya benar ?
gua gak mau debat sebenarnya sama lo Vin !
tapi lo terus mancing-mancing emosi gua dari tadi !
lo gak mau gua ikut campur tentang kehidupan lo, kan ?
begitu juga dengan gua !
gua juga gak mau lo ikut campur dengan hidup gua !
mau gua jalan sama siapa pun itu hak gua !
dan lo berani bertanya sama Felix tentang dia itu siapa ?
kenapa lo gak coba kasih pertanyaan itu untuk diri lo sendiri !" jawab Yaya dengan nada sedikit tinggi.
Yaya mendekati Alvin, dan melepaskan genggaman tangan Alvin dari kerah baju Felix.
"Lepaskan Felix Vin, lo gak berhak menyakiti orang-orang yang sayang sama gua !
cukup gua saja yang menderita karena ulah lo !
sebaiknya lo berhenti menyelesaikan masalah dengan uang dan tinju lo itu ! kekanak-kanakan faham lo !"
kata-kata Yaya membuat Alvin merasa kesal dan menyesal dengan apa yang ia lakukan malam ini.
"Kamu juga Fel , cepat pulang sekarang !" perintah Yaya pada Felix.
Felix menuruti perintah Yaya untuk pergi dari sana, tapi Alvin tetap berdiri dengan wajahnya yang mulai memerah menatap kearah Yaya,
tapi Yaya tetap mengacuhkannya seolah menganggap Alvin tidak pernah berdiri didepannya dan ia mulai melangkah masuk.
#Alvin .
"Aku ?
kamu ?
ungkapan itu cuma untuk Felix, kan ? " tanya Alvin dalam hatinya.
Aku mencoba memutar bola mataku agar air mataku yang dari tadi aku tahan tidak jatuh, tapi aku tidak kuat lagi menahannya, tangisku pecah saat aku mulai melangkah lagi menuju mobilku.
"Jalan pak," pintaku pada supirku.
"Mas Alvin gak apa-apa ?" tanyanya,
aku hanya menggelengkan kepalaku menjawabnya.
"Apa yang akan terjadi dimasa depanku bersama dia nanti ?
akh !!!
kenapa aku harus memikirkan masa depan sama dia ?
ini semua akan cepat berakhir saat anak itu lahir !" gumamku dalam hati.