Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 43



"Haha pacar dia bilang ?


jadi selama ini mereka benar-benar pacaran !


mereka pasangan yang sangat lucu ternyata ! mau coba main-main sama gua sepertinya, atau hanya ingin pamer !


mereka pikir gua akan cemburu dengan hubungan mereka ?


hahah masa ia gua cemburu sama orang-orang gak penting seperti mereka " gumam Alvin lirih.


Mulutnya tertawa tapi matanya tidak bisa menutupi rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Sesekali ia menyeka air matanya yang terus mengalir.


Perasaan yang menurutnya sangat tidak jelas tapi entah kenapa terasa sakit ,sangat sakit saat Felix bilang kalau mereka pacaran dan Yaya sama sekali tidak mencoba menyangkalnya.


Alvin berusaha untuk tenang dengan menepuk dadanya yang terasa sesak sampai membuatnya kesulitan untuk bernafas.


"Nggak, nggak gua gak boleh begini, gua gak mau sampai terjebak sama cewe itu, karena gua gak mau seperti papa yang bisa ditipu sama wanita miskin, dan murahan seperti dia , gua bukan papa yang mudah terpengaruh sama mulut manis cewe miskin itu, gua yakin dia punya niat jelek tentang ini semua , lo hanya perlu fokus dengan tujuan awal lo Alvin ! " gumamnya meyakinkan dirinya untuk tidak menghiraukan tentang Yaya.


Namun Alvin tetap bertekad untuk mengabulkan keinginan Yaya.


"Gua bakal turuti apa mau lo, gua bakal buat lo benci sama gua, sampai lo gak mau lagi lihat muka gua, bahkan untuk menyebut nama gua pun gua jamin lo gak akan sudi lagi ! dengan begitu kehidupan gua yang damai akan kembali lagi," gumamnya disela tangisnya, ia masih bitsa tertawa .


Sementara itu diperjalanan pulang Yaya dan Felix tidak bicara satu patah katapun, sampai akhirnya mereka sampai didepan asrama Yaya, ia turum dan tanpa ingin basa-basi lagi ia langsung berpamitan untuk masuk kedalam asramanya.


"Fell makasih untuk bantuan kamu hari ini, terimakasih juga sudah mau jemput aku, dan maaf sudah membuat kamu ribut sama Alvin," ucap Yaya dengan lesu,


Felix juga memandang Yaya dengan mata sendu.


"Yaya tunggu sebentar, " Felix menahan Yaya dan kembali menggenggam tangannya.


"Ada apa Fel ?" tanyanya.


"Aku mau tanya satu hal, apa kamu memberi tahu dia tentang perasaan kamu untuknya ?" tanya Felix.


"Nggak Fel , aku cuma minta dia untuk membuat aku benci sama dia dan buat aku lupa kalau aku pernah punya hati sama dia, apa aku salah Fel minta hal itu sama dia ?" tanya Yaya.


"Hm itu sama saja kamu memberitahu dia.Aku gak tau itu salah atau nggak, tapi yang jelas aku tau kamu bicara begitu karena kamu sudah tidak sanggup menghadapi sikap Alvin yang sudah keterlaluan sama kamu, semua orang sepertinya kalau ada diposisi kamu saat ini juga pasti akan melakukan hal yang sama," jawab Felix membenarkan sikap yang Yaya ambil.


"Apa mungkin dia bisa memenuhi semua itu Fel, aku takut aku benar-benar membenci dia Fel ?" tanya Yaya yang mulai merasa bimbang.


"Yaya m, sudah cukup kamu sakit karena dia , aku gak akan pernah ikhlas melihat kamu terus gak dianggap sama Alvin, dia harus tahu kalau kamu itu berharga Yaya.


Jadi aku minta kamu untuk berhenti mengharap dia bisa merubah sikapnya, dan satu hal lagi Yaya harusnya dari dulu aku katakan masalah ini.


Ya, boleh gak aku minta sesuatu ?" tanya Felix.


"Ya, bisa gak kamu kasih aku kesempatan buat coba menghapus Alvin dari hati kamu ?" pinta Felix.


"Maksudnya Fel ? " tanyanya ingin memperjelas permintaan Felix.


"Ia maksud aku, aku hanya ingin kesempatan yang sama seperti yang kamu kasih sama Alvin.


Jadi bisa gak kamu kasih aku kesempatan buat memiliki kamu.


Yaya aku sayang sama kamu, dan jujur walaupun aku lihat Alvin sering menjahati kamu , tapi gak tau kenapa aku itu cemburu sama Alvin ,karena dia selalu bisa dapat perhatian dari kamu," ungkap Felix.


"Fel, ku--" belum selesai Yaya dengan kata-katanya, Felix menghentikannya dan berpamitan pergi seolah dia tidak mau mendengar jawabanku yang tergesa-gesa.


"Hm lebih baik aku pulang dulu, kamu istirahat saja, " pamitnya terburu-buru.


"Fel, " panggil Yaya lagi, ia ingin memberi jawaban ke Felix tapi dia selalu memotong omongan Yaya.


"Yaya , gak usah dijawab sekarang, aku minta kamu untuk mempertimbangkan terlebih dulu tentang aku, aku tau aku egois kalau aku bilang ingin miliki kamu diposisi hati kamu sedang hancur karena orang lain, kesannya seperti aku sedang memanfaatkan keadaan, ia kan ?


tapi asal kamu tau Yaya aku benar-benar tulus, aku benar-benar ingin menjaga kamu dari orang-orang seperti Alvin," ungkap Felix.


"Fel, maafin aku ya.


Aku janji akan mempertimbangkan semuanya," ucapku penuh sesal.


"Ia gak apa-apa Yaya.


Hm kalau begitu aku pamit, semoga tidur kamu nyenyak, dan jangan banyak memikirkan hal-hal yang gak penting, malam ini aku biarkan kamu dengan kesedihan kamu, tapi besok aku gak mau lihat kamu sedih lagi seperti ini, " ucap Felix.


Yaya mengangguk menyetujui ucapan Felix padanya, dia mengusap rambut Yaya sebelum ia pergi meninggalkan Yaya.


Setelah Felix pergi Yaya melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam asramanya,


Yaya berfikir untuk menerima Felix saja, ia berfikir dengan begitu mungkin dia bisa melupakan perasaannya pada Alvin, tapi ia merasa keputusan ini sangat berat.


"Yaya , kamu mengaharapkan apa lagi sebenarnya dari Alvin ?


Dia adalah orang yang gak pernah menganggap kamu ada, dia orang yang selalu menghina kamu, dia orang yang selalu menganggap kamu murahan, tapi kenapa kamu masih bodoh menyimpan perasaan kamu buat dia, dan diam-diam berharap suatu saat dia akan merubah sikapnya untukmu, kenapa kamu bodoh Yaya," gumamnya berbicara dengan dirinya sendiri seraya melihat bayangan dirinya didalam cermin.


Tanpa ia sadari air matanya kembali menetes lagi, ia merasa menyesal dengan perasaannya sendiri.


"ia benar aku harus berhenti, aku harus mulai mencoba membuka hati aku untuk Felix.


Felix orang baik dia selalu menjagaku melindungiku, dan ia juga selalu menghiburku disaat aku benar-benar jatuh , dia benar aku harus bangkit dan mulai melupakan Alvin, " gumamnya lagi sambil menghapus air matanya dan mencoba tersenyum menatap bayangannya , aku harus yakin dengan pilihanku.