Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 59



Alvin terus mencari dimana istri ayahnya berada, sampai akhirnya ia menemukannya didapur dan tanpa berlama-lama ia langsung menghampiri ibu sambungnya itu.


"Tante, gua mau nanya," ucap Alvin seraya berjalan mendekati ibu Adi.


"Alvin kamu sudah pulang ?


mau makan dulu atau gimana ?


mama sudah siapkan makan siang untuk kita semua," jawab ibu Adi dengan sangat ramah seraya tetap melakukan aktivitasnya.


"Gak usah pura-pura baik tante, lagi pula gua juga sudah makan !


gua cuma mau nanya kenapa guru private Avina baru lagi ?


dan kemana guru yang sebelumnya ?" tanya Alvin.


"Oh masalah itu,


ia tadi pagi-pagi setelah Alvin berangkat kuliah Yaya datang kerumah, dia minta maaf karena dia sudah tidak bisa mengajar Avina lagi, karena dia ada sedikit masalah pribadi yang harus dia selesaikan katanya.


Mama sudah coba melarang dia, tapi dia tetap bersikeras untuk tetap keluar dari pekerjaannya.


Mama gak bisa terus menahan dia Vin," jelas ibu Adi.


"Kenapa bisa begitu ?


gak bisa gitu dong tan, papa sudah bayar dia sampai beberapa bulan kedepan, kan ?


, lalu kenapa dia bisa seenaknya gitu keluar,


gua gak terima, dia harus tetap mengajari Avina !" seru Alvin.


"Vin dengar mama dulu, semua uang yang papa kasih untuk membayar Yaya itu sudah di kembalikan tadi semuanya sama Yaya, jadi kita sudah tidak berhak meminta dia untuk tetap jadi guru Avina, dan lagi dia itu anak yang bertanggung jawab, dia gak mau kita kerepotan mencari penggantinya jadi sebelum berhenti kerja dia sudah sekalian mencarikan guru pengganti untuk Avina," jawab ibu Adi memberi penjelasan.


Alvin terdiam tetap dengan amarahnya yang sudah siap meledak.


Akhirnya tanpa pamit pada ibu Adi, Alvin pergi kekamarnya.


Saat berada dikamarnya Alvin melemparkan tasnya kelantai dan membuang barang-barang diatas meja dengan sangat marah.


"Aah !!!" teriak Alvin.


Alvin terlihat seperti orang yang sedang frustasi, ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menelphone Yaya.


Setelah tiga kali mencoba ,tapi Yaya tetap tidak mengangkat telphone itu.


Kali ini yang ia lemparkan adalah ponselnya.


"Lo kemana sebenarnya !


kenapa lo berani membuat gua mencari dan menunggu lo !


bahkan lo gak angkat telphone dari gua, Dasar cewe miskin Sialan !


Akh !!!


lo gak bisa bersikap begini sama gua," ucap Alvin kembali berteriak dan terus memaki.


Sementara itu diasramanya Yaya terus memandangi panggilan masuk diponselnya, ia tidak ingin mengangkatnya sama sekali.


"Ngapain kamu terus-terusan telphone aku Vin, kalau aku angkat yang ada kamu cuma bisa menyakiti hati aku saja,


dan lagi aku juga sudah tidak mau berurusan sama kamu lagi Vin," gumam Yaya.


Sore itu berlalu dengan emosi Alvin yang tidak terlampiaskan, dan dengan perasaannya yang tidak jelas.


#Yaya.


Ini hari pertama aku masuk lagi ,setelah satu bulan aku tidak mengikutin kelas.


"Hari ini pasti aku bertemu Alvin, aku harus menyiapkan mental untuk menghadapinya, aku juga harus berusaha untuk tetap tenang dan menahan emosiku, lalu mencoba mengabaikan dia,


ia aku harus bisa dan pasti bisa," gumamku.


Setelah selesai bersiap, aku keluar dari asramaku hari ini aku ingin pergi dengan berjalan kaki kekampus, jadi aku meminta Felix untuk tidak menjemputku.


Serasa menghirup udara kebebasan karena selama satu bulan ini tidak ada yang berteriak kearahku yang akan membuat telingaku sakit.


Cukup lama aku berjalan akhirnya aku tiba didepan kampus, disana sudah berdiri dua orang yang menyayangiku dan selalu mendukung apa-pun yang aku lakukan, aku menghampiri mereka dan menyapa mereka dengan senyumku.


"Selamat datang kembali tuan putriku yang cantik, senyum kamu pagi ini membuat hati kang Felix meleleh, " goda Felix.


"Huh mulai lo menggoda Yaya mulu, lo lihat itu pipinya jadi warna ungu, haha," sindir Ocha.


Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua yang sangat menurutku itu lucu.


"Tapi benar kata Felix Ya, kamu cantik kalau sedang senyum, jadi jangan lagi buang-buang air mata kamu untuk sesuatu yang gak penting," ucap Ocha seraya merangkul bahuku


aku mengangguk menyetujui kata-kata Felix dan Ocha.


"Cepat masuk sana, nanti kalian telat," Felix mengingatkan kami untuk cepat masuk.


"Oh ia,


Fel kita duluan ya kalau begitu, " pamit Ocha dan aku pada Felix.


Aku dan Ocha mulai berjalan menuju kelas kami, tapi saat sampai didepan kelas langkah kakiku terhenti ketika aku melihat Alvin, kaki dan badanku gemetar jantungku seakan sudah siap untuk melompat, karena aku melihat Alvin dari luar kelas.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku belum siap bertemu dengan dia ternyat, " gumamku dalam hati .


lamunanku tersadar saat Ocha menyapaku.


"Ya, kenapa kamu berhenti ?" tanya Ocha.


Aku tidak menjawab pertanyaan Ocha karena pandanganku masih fokus kearah orang yang sedang aku coba untuk hindari, Ocha melihat kearah sudut pandangku.


"Hm (ocha menghela nafas panjang )


Yaya, kenapa ?


kamu ragu untuk masuk ?


ingat sakitnya kamu karena perbuatan dia, ingat niat kamu untuk mengabaikannya," ucapan Ocha itu sudah cukup mengingatkanku akan kesalahannya padaku selama ini.


Aku mengangguk dan mulai melangkah masuk kekelas.


"Ya ayo duduk disini," ajak Ocha, mejaku kali ini sangat jauh dari meja Alvin, dari ujung keujung jaraknya, aku berusaha untuk tidak melihat kearahnya sedikitpun, dari sudut mataku aku melihat dia sedang menatap kearahku.


"Jangan lihat dia Yaya, jangan, ingat niat kamu Yaya," gumamku dalam hati.


"Ya, Alvin dari tadi melihat kearah kamu terus," bisik Ocha.


"Biarkan saja Cha, aku sudah tidak perduli, dan gak mau tau lagi tentang dia, dan masalahnya sama aku selama ini," jawabku.


"Aku cuma takut dia punya niat jahat lagi sama kamu Yaya," ucap Ocha mengkhawatirkan Yaya.


Aku hanya tersenyum dan mencoba meyakinkan Ocha, karena walaupun dia terus menyakiti aku, aku gak akan kenapa-kenapa.


"Cha, dia gak akan bisa menyakiti aku lagi, percaya sama aku," jawabku mencoba terus membuat Ocha sahabatku berhenti mengkhawatirkanku.