Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 56



Hari-hari berlalu terasa sangat cepat, begitu setiap harinya selama satu bulan, Yaya tidak kunjung datang untuk mengikuti kelas, yang awalnya ia hanya ingin istirahat satu minggu, Alvin juga terlihat lebih pendiam dari biasanya selama satu bulan ini.


Kelas terasa sepi untuknya karena tidak ada yang bisa dijahili olehnya atau memang ia merasa kehilangan karena Yaya tidak ada tanda-tanda akan kembali lagi.


#Alvin


"Tidak tau kenapa tapi selama satu bulan belakangan ini gua merasa ada yang kurang, tapi apa ?" tanyaku pada diriku sendiri.


Setiap kali aku melihat Ocha datang tidak tau kenapa aku berharap ada dia dibelakang Ocha, tapi setiap kali harapanku tidak sesuai kenyataan, rasanya ingin sekali aku bertanya pada Ocha dimana dia sekarang, tapi untuk apa aku menanyakan tentang dia, bukannya aku seharusnya senang kalau dia tidak ada ?


bukannya memang seperti ini yang aku mau ?


lalu apa perduliku tentangnya ?


fikiranku memintaku untuk berfikir seharusnya aku bersyukur karena dia sudah tidak ada lagi disekitarku, tapi mulutku tidak tahan untuk tetap diam tanpa tau dimana dia selama satu bulan ini.


Aku merasa sudah tidak mampu lagi untuk menahannya, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya tentangnya pada Ocha,


aku berjalan perlahan menghampiri meja Ocha.


"Heh," ucapku menyapanya.


Tapi dia tidak menghiraukan keberadaanku sama sekali, seakan dia juga tidak mendengarku bicara.


"Heh, lo dengar gak gua lagi ngomong sama lo !" teriakku yang membuat Ocha berdiri dan memaki kearahku.


"Oh lo manggil gua, gua masih punya nama ! kalau gak ada yang penting gak usah dekat-dekat, gua alergi sama orang jahat !" makinya.


"Maksud lo !


Ok terserah lo, tapi gua kesini cuma mau nanya, dimana dia ?" tanyaku.


"Dia ?


dia siapa maksud lo ?" tanya Ocha balik kepadaku.


"Tidak usah pura-pura gak tau maksud gua, lo tinggal jawab ada dimana dia !"


"Kalau yang lo maksud itu Yaya, buat apa lo mencari dia ?


ada masalah apa lagi lo sama dia ?


gatal mulut busuk lo itu kalau sehari gak menghina teman gua, apa lagi ini sudah sebulan !" maki Ocha yang sangat emosi.


"Gua bilang lo untuk jaga mulut lo !


gua nanya dia itu karena dia besok sudah harus mulai mengajar keponakan gua lagi ! jangan sampai dia seenaknya gak datang, dia itu sudah dibayar sama bokap gua, paham gak lo !" ucapku menjelaskan tujuanku yang sebenarnya hanya alasanku saja.


"Haha, sudah selesai ngomongnya ?


kalau sudah cepat pergi sana,gerah tau gak !" seru Ocha mengusirku.


Apa yang keluar dari mulut Ocha membuatku tidak puas, karena aku tidak mendapat jawaban atas pertanyaanku sama sekali.


#Author


Alvin yang mulai merasa malu dengan sikap Ocha yang terus memakinya akhirnya ia menyerah dan kembali ketempat duduknya,dengan perasaan marah Alvin mengeluarkan ponselnya untuk melihat nomor telphone Yaya, Alvin memberanikan dirinya untuk mengirim pesan kepada Yaya.


Chat :


(Lo ingat kewajiban lo sebagai guru private keponakan gua !


lo bahkan sudah dibayar lunas, jangan sampai lo gak datang besok !) isi pesan Alvin untuk Yaya.


Waktu berjalan sangat lama untuk Alvin hari itu, ia terus melihat kearah ponselnya, status pesan yang ia kirim itu telah dibaca oleh penerima, namun tidak juga ada balasan.


"Dasar cewe sial !


berani lo gak balas pesan dari gua !" gumam Alvin memaki ponselnya.


Kelas berakhir hari itu, semua anak berhamburan meninggalkan kelas, sementara Alvin masih terdiam dan melamun ditempat duduknya dan terus memandangi ponselnya yang ia letakan diatas meja menunggu balasan pesan yang ia kirim untuk Yaya,namun ia tersadar ketika Ajeng mengambil ponsel itu.


"Hey serius sekali, lagi melihat apa ?" tanya Ajeng seraya melihat apa yang dilihat Alvin diponselnya.


"Apa yang lo lakukan Jeng kembalikan sini !" pinta Alvin mulai marah.


gua cuma mau tau lo lagi melihat apa ? ternyata ada yang sedang rindu sama seseorang !"


"Bukan urusan lo Jeng !


sini kembalikan ponsel gua !" bentak Alvin.


"Cewe miskin," Ajeng membaca penerima pesan di ponsel Alvin, saat membaca nama itu Ajeng seketika menatap sinis kearah Alvin.


Saat Ajeng lengah Alvin sudah bersiap mengambil ponselnya kembali.


"Ternyata benar dugaan gua, kan ?


Apa isi pesan itu ?


kenapa lo sampai segitunya takut gua baca ?" tanya Ajeng mengerutkan keningnya.


"Gua sudah bilang ini bukan urusan lo,


gua pergi duluan," pamit Alvin.


"Vin lo mau kemana ?


lo belum jawab pertanyaan gua !


Alvin !" teriak Ajeng.


"Gua mau balik ngantuk !" jawab Alvin berteriak tanpa menghentikan langkahnya.


Saat Alvin pergi Ajeng terlihat sangat kesal dibuatnya.


"Alvin, awas kalau lo berani suka sama cewe itu, rekaman lo waktu itu akan gua kirim ke dia, haha " gumam Ajeng tertawa jahat.


Sementara diasrama Yaya membaca pesan itu dari nomor yang tidak ia kenal namun ia sudah tau kalau pesan itu dari Alvin, maka dari itu Yaya tidak ingin membalasnya karena pesan itu langsung dihapus olehnya.


"Aku sudah gak mau berurusan sama kamu lagi Vin," gumam Yaya.


Yaya meneruskan aktivitasnya memasak hari itu dan membiarkan ponselnya tergeletak diatas tempat tidurnya, saat Yaya berjalan menuju dapur terdengar pintu depan ada yang mengetuk.


(tok..tok.. tok..)


suara pintu diketuk


Yaya tidak menjawab karena dia takut itu Alvin, ia mencoba berjalan dengan perlahan seperti maling agar tidak menimbulkan suara, dan membuka sedikit tirai jendelanya, ia bernafas lega karena ternyata yang ada dibalik pintu itu adalah Ocha, setelah tau siapa yang ada diluar wajah Yaya kembali tenang, dan bergegas membukakannya pintu.


"Kenapa lama sekali buka pintunya ?


diluar itu panas tau, kalau lebih lama lagi aku sudah jadi ikan asin kali !" gerutu Ocha seraya masuk kedalam.


"Maaf maaf aku kira tadi itu--" kata-kata Yaya terhenti ia terlihat tidak mau menyebutkan nama Alvin.


"Hm, sudah jangan diterusukan lagi, aku tau siapa yang kamu maksud.


Oh ia, ngomong-ngomong soal Alvin, tadi dia nanya-nanya tentang kamu," ucap Ocha memberitahunya.


"Cha jangan bahas dia lagi, aku gak mau dengar apa-pun kalau itu tentang dia !" jawab Yaya menegaskan.


Mendengar jawaban Yaya yang sinis Ocha memutuskan untuk tidak membahas tentang Alvin.


"Oh ia Felix mana ?


gak ikut Cha ?" tanya Yaya mencoba mencairkan lagi suasana.


"Nggak Ya , dia masih ada kelas sampai sore, jadi aku tinggal saja, tapi dia nitip salam buat kamu,"


Yayya mengangguk menerima salam dari Felix untuknya.


Tapi Ocha tidak menyerah tentang pembahasannya mengenai Alvin .


"Ya, ini sudah sebulan sejak kejadian itu, langkah apa yang akan kamu ambil selanjutnya ?


dan gimana dengan mengajar keponakan Alvin ?" tanya Ocha dengan perlahan.


"Aku akan berhenti ngajar Cha, dan aku akan cari pekerjaan lain, aku sudah gak mau ada disekitar dia lagi," jawab Yaya tanpa ekspresi, seraya pergi melanjutkan masaknya lagi dan diikuti oleh Ocha.