Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 48



#Alvin


"Bukan gua yang mengunci lo digudang hari itu, tapi kenapa lo terus nuduh gua ?


gua ngakuin semua yang lo bilang kecuali mengunci lo digudang, dan ini sudah kedua kalinya lo bilang lo menyesal pernah suka sama gua.


Seharusnya gua senang karena lo akan segera membenci gua, syukurlah kalau memang lo menyesal, semoga saja dia cepat sadar kalau dia itu tidak pantas untuk gua, " gumamku berbicara sendiri.


Setelah dia sudah tak terlihat lagi olehku, aku kembali berjalan keruangan Avina, saat aku meihat banyak buah tercecer dilantai, aku terdiam sesaat sebelum memunguti buah-buah itu, entah kenapa saat memungutinya satu persatu hatiku terasa hancur, tanganku terasa bergetar, dan air mataku juga memaksa untuk menetes, aku sudah tidak tahan lagi menahannya.


aku mengeluarkan saputangan untuk mengahapus air mataku, tapi kenapa air mataku bukannya berhenti, tangisku malah semakin menjadi, karena semakin aku melihat ukiran namaku disana terasa semakin sakit dibagian dadaku.


Belum habis air mataku mengalir tiba-tiba seseorang menyapaku dari belakangku.


"Mas Alvin," sapa seseorang itu.


Aku dengan cepat menghapus air mataku dan berdiri berhadapan dengan orang itu.


"Ia dok," jawabku padanya.


"Mas Alvin sedang apa duduk dilantai ?" tanyanya.


"Nggak apa-apa dok.


Ada apa dokter ?" tanyaku.


"Begini mas Alvin, Avina tadi sudah saya periksa, keadaannya sudah membaik, nanti sore sudah boleh dibawa pulang," ucap dokter memberi kabar gembira.


"Baik dokter terimakasih," jawabku.


Karena keadaan Avina mulai membaik aku berencana membawanya pulang untuk dirawat dirumah sore ini.


Awalnya malam ini aku akan tetap melanjutkan acara ulang tahunku.


Tapi karena aku yakin dia tidak akan datang keacara itu nanti malam, jadi aku memutuskan untuk menundanya lagi,


aku mengeluarkan ponselku dan menelphone Ajeng.


Ajeng : Hallo Vin.


Alvin : Jeng , tunda acara malam ini.


Ajeng : Kenapa lagi Vin ?


Alvin : Gak apa-apa Jeng, keponakan gua baru saja keluar dari rumah sakit, gua gak mungkin meninggalkan dia.


Gua cuma minta lo buat menunda acara itu bukan membatalkannya.


Ajeng : Oh gitu, baiklah gampang Vin tinggal kita atur ulang saja.


Alvin : Makasih banyak Jeng atas bantuannya.


Setelah selesai dengan pembahasanku, aku menutup telphone dan mulai melangkah lagi masuk keruangan Avina, dan menemukan Avina sudah bangun dari tidurnya.


"Avina sayang, gimana sudah mendingan ?" tanya Alvin.


"Om Avina mau pulang om Avin.


Avina takut disuntik lagi sama dokter, sakit," ucap gadis kecil itu terdengar polos.


"ia sayang, om Avin bereskan dulu barang-barang avina, ya " jawab Alvin.


"Om Avin, bu guru gak kesini ?" tanya Avina dengan tatapan penuh harap.


"Hm bu guru ?


oh ia tadi bu guru kesini tapi Avina sedang tidur, cukup lama bu guru menunggu Avina bangun, tapi Avina tidurnya nyenyak sekali, gak bangun-bangun, jadi bu guru pulang dulu, paling besok bu guru datang menjenguk Avina dirumah.


oh ia sebentar ya sayang om Avin beres-beres dulu," jawabku mengalihkan pembicaraan.


Aku menghampirinya dan duduk disebelah Avina dan mengusap lembut kepalanya, aku mencoba menjelaskan padanya dengan baha yang ia tau, agar dia bisa mengerti maksudku.


"Avina kenapa Avina ngomongnya gitu sayang ?


om Avin sama bu guru gak pernah berantem sayang, kita cuma lagi bercanda saja," Ucapku pada Avina dengan sangat lembut.


"Terus om Avin kenapa kalau ngomong sama bu guru selalu teriak-teriak memangnya om Avin gak cape teriak-teriak begitu ?


om Avin marah ya sama bu guru ?


om Avin tau gak om bu guru sering menangis setelah dimarahi sama om Avin, Avina jadi sedih melihat bu guru menangis om, jangan buat bu guru sedih lagi ya om," ucap polos gadis kecilku.


Ucapan Avina semakin membuat hatiku merasa tertekan.


"Dia sudah berhasil merebut hati Avina , selanjutnya siapa lagi ?" gumamku dalam hati.


Tapi aku harus terus berusaha meyakinkan Avina bahwa aku tidak jahat, karena aku gak mau Avina membenciku.


"Sudah ya sayang gak usah dibahas lagi, mending kita pulang, kalau kita gak cepat-cepat pulang nanti Avina disuntik lagi sama dokter, Avina mau disuntik lagi ?" ucapku mencoba membuat Avina lupa akan pertanyaannya.


Avina yang polos hanya menggelengkan kepalanya dan mengajakku untuk segera meninggalkan rumah sakit, dan ia lupa akan pertanyaannya.


Setelah sampai dirumah, Avina dibawa kekamarnya oleh pengasuhnya,


sementara aku masuk kekamarku dan merabahkan tubuhku diatas tempat tidur, seraya memikirkan lagi apa yang sudah terjadi hari ini kata-kata Yaya dan Avina cukup membuat hatiku bimbang.


#Author


Setelah malam tiba Alvin memutuskan untuk pergi kebar untuk sedikit melepaskan beban difikirannya dengan meminum sedikit alcohol yang ia suka pesan.


Namun ketika ia melangkah keluar dari kamarnya, ayahnya memanggilnya.


"Alvin ," panggil sang ayah.


"Ia pa,


ada apa pa ?


"Mau kemana kamu ?


kamu itu baru pulang Vin," tanya ayahnya


"keluar sebentar pa, gak akan lama," jawab Alvin singkat.


"Jangan pulang terlalu larut," pinta ayahnya.


Alvin menganggukan kepalanya dan mulai melangkah pergi, tapi dia kembali lagi menemui ayahnya.


"Pa boleh minta nomer telphone guru Avina ?" tanya Alvin.


"Maksud kamu Yaya ?


buat apa vin ?


bukannya kamu kenal dekat sama dia ?


bahkan kalian sekelas, apa mungkin kamu gak punya nomornya ?" tanya ayahnya balik.


"Nggak buat apa-apa pa, cuma mau minta maaf saja," jawab Alvin memberi alasan.


"Nah begitu dong baru anak papa namanya,kenapa kamu gak keasramanya langsung saja ?" tanya ayahnya.


"Alvin lupa tepatnya pa,"


Ayah alvin memberikan nomer telphone Yaya dan juga alamat tempat tinggal yaya pada Alvin melalui pesan singkat dan dia langsung pergi keluar rumah.


Tidak tau untuk apa alamat dan nomor telphone itu mungkin Alvin mulai merencanakan sesuatu lagi untuk mengerjai Yaya, karena tidak mungkin kalau seorang Alvin mau meminta maaf pada Yaya.